Selasa, 24 November 2015

Sesudah Kesulitan

Sore ini hujan. Ketika ibu kos saya wafat beberapa tahun yang lalu, teman-teman kos yg nasrani menyanyikan lagu seperti pelangi sehabis hujan. Kurang lebih maknanya setelah dukacita, Tuhan akan hadirkan sukacita. Meski bukan nasrani, saya juga percaya itu. Dalam Quran surat Al Insyirah, Allah mengatakan : "..sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.."

Dua bulan yg lalu, saya nyaris jadi korban penipuan di sebuah situs online dating. Saya memutuskan untuk mendaftar di situs itu setelah mulai merasa tidak aman dengan kelajangan saya.

Sebelumnya, saya baik-baik saja dengan status lajang, hingga saya mendapat gangguan dari orang-orang yang tidak saya harapkan.

Saya berkenalan dengan seorang pria di situs itu dan segalanya berjalan sangat normal. terlalu normal untuk dicurigai.

Ketika tau saya menjadi target penipuan, saya patah hati juga, cukup dalam ternyata meski kemudian ia juga sembuh dengan cepat. Pria itu menyenangkan dan terlalu menyenangkan meski untuk berbicara dan berkirim pesan padanya saya merasa seperti sedang tes bahasa inggris:)

Itu patah hati kelima saya di tahun ini. Sebelumnya saya putus dengan pasangan saya di awal tahun, gagal berangkat kursus ke eropa, dua kali aplikasi beasiswa saya gagal dan kemudian patah hati dengan pria yg bahkan belum pernah saya temui

minggu lalu saya kemudian mendapat kabar kalo skor test bahasa inggris saya akhirnya mencukupi utk bs melamar untuk beberapa beasiswa

Dan teman tempat menangis saya bilang, 
"aku pikir, pasti ada kontribusi pria itu pada kemampuan bahasa inggrismu"

dan saya kemudian juga berpikir begitu..

Ah, janjiNya memang tak pernah salah

Senin, 09 November 2015

Tentang Rejeki..

Kalau dipikir-pikir, rejeki Allah itu memang ga bertepi

barusan dapat telpon dari adik sepupu yg mengabarkan kalo dia diterima di PLN setelah dua tahun menganggur. 

Kakaknya dosen honorer di STAIN di kota mereka dan sedang menempuh S2 agar bs diangkat jd dosen tetap. Adiknya yg no 4 lulus tahun ini di brawijaya dan adiknya no 3 baru lulus kuliah. dan adiknya yg bungsu baru sma 

Bapaknya mereka bekerja sebagai penyuluh pertanian yang akan segera pensiun dengan pangkat tertinggi 3a

dan tepat di masa-masa kebutuhan keuangan keluarga mereka sedang memuncak dan pada saat itulah rejeki sepupu saya datang. Bukan pada saat yg diinginkan mereka tapi pada saat yang dibutuhkan. 

Diujung telpon sepupu saya itu bilang : 

"Kalau temannya bapak bertanya anaknya sudah kerja atau belum, beliau sekarang sudah bisa menjawabnya dengan bahagia."

Alhamdulillah
Tidak ada yg sia-sia dari usaha dan doa
Allah tidak pernah tidur

Jumat, 30 Oktober 2015

Doa Ibu

Habis telponan sejam lebih ke kampung dan berbicara panjang dengan ibu saya. Baru kali ini saya bisa bicara sambil ngakak-ngakak segitu lama dengan beliau.

Ibu saya biasanya menghabiskan waktu ditelpon dengan ceramah, nasehat dan lebih seringnya komplain ini itu kepada anaknya. 

Malam ini sebelum telepon ditutup, saya meminta beliau untuk mendoakan agar rencana sekolah saya secepatnya terealisasi dan urusan terkait itu dilancarkan. 

Setelah telepon ditutup, saya tak berhenti tersenyum. Lama kemudian saya teringat bahwa sebandel-bandelnya saya dan segitu seringnya saya dan ibu saya berantem karena berbeda pendapat, ekspektasi dan keinginan, jika ada hal-hal besar yg akan saya lalui, beliau tetap jadi orang no satu yg saya mintain doanya

karena saya tahu, 
Siapa saya hari ini, karena doa beliau agar saya kuliah di jurusan akuntansi di kota saya

Dan saya juga tahu bahwa kesempatan, pertolongan dan kemudahan yg sering saya terima kebanyakan asalnya dari doa beliau

Sudah berbicara dengan ibumu hari ini?


Senin, 26 Oktober 2015

Or maybe its just my own expectation...


Setelah tamat kuliah, bekerja dan kemudian menikah, how do we expect our relationship with some old friends? How do we want them to be? Do we want them to stay same as we know them on high school or college? 

Seorang teman kuliah yang minggu ini berada di Jakarta bercerita bahwa dia baru saja bertemu teman-teman kuliah kami dulu disana. Teman saya itu pergi ke Jakarta karena urusan pekerjaan dan beberapa teman di Jakarta sibuk mengajak berjumpa. Sayapun ditelepon oleh mereka ditengah kemacetan.  

I wish I were there at that time since I miss being around them

Sampai kemudian sorenya saya mendapatkan pesan di bbm bertubi-tubi dari si teman itu, bercerita tentang pertemuan mereka hari itu. Tentang teman kami yang sekarang jadi orang yang berbeda sejak tinggal di Jakarta, terutama gaya hidupnya. Tiba-tiba kehidupan kami-kami di daerah terasa sangat kuno dan biasa sehingga ia merasa out of our old friend’s league. Hmm.. saya sendiri jadi berpikir ulang untuk bertemu mereka saat ke Jakarta bulan depan. 

lalu saya jadi teringat postingannya kang adhitya mulya yang syarat hidup dan yang hedonic treadmill dan kemudian membuat saya berpikir, apa memang perubahan kemampuan finansial serta pencapaian hidup akan otomatis merubah hidup, atau  kita merubah diri kita karena kemampuan finansial  kita meningkat dan pencapaian hidup kita banyak?

Dan kemudian pertanyaan ini berujung pada pertanyaan pada diri sendiri: 

"Apakah teman saya ini masih orang yang sama dengan yang dulu biasa saya ajak naik bis untuk makan bakso di warung pinggir jalan di kota kami?"
“Ataukah ia mungkin orang yang sama dengan kelas yang berbeda?”

Saya sungguh tidak masalah dengan teman-teman saya yang suka membeli barang mahal. Saya tahu bahwa mereka mampu untuk itu dan lagipula itu uang mereka sendiri. Tapi,  saya juga paham dengan apa yang dirasakan teman saya tadi, bahwa pembicaraan reuni yang isinya tentang kemampuan; baik itu membeli barang, mencapai yang terbaik dalam pekerjaan, fasilitas terbaik yang sudah pernah kita coba are no longer fun anymore, terutama jika orang yang kita temui adalah teman lama yang kita kenal dulunya biasa saja dan karena itulah kita berteman dengannya, karena ia biasa saja. 

Or maybe its just my own expectation having the same old friends...
Karena sebenarnya yang kita rindukan dari teman-teman lama itu adalah obrolan yang membebaskan kita dari tuntutan yang kita terima di masa sekarang dan bisa dengan senang hati menertawakan keluguan, kebodohan kita di masa silam. 

Mungkin sebagian orang perlu membuktikan kepada banyak orang siapa dirinya sekarang, but to your old best friends, you don't need to do that.You can feel insecure to other people's achievement but trust me, when you around your best old friends, you will not need to feel that. Your old friends weren’t deal with who you are today, they already engaged with you long time ago, before you became very important person in your office, before your wore your expensive clothes. So, it supposed to be okay for them if your life not run well, also its not that important to them how much money you earned from your successful business. To them, as long as you are happy, they will be happy too. 

Because for these people, all you need to be is just be the old same you because some people just love their friends as they ever known them..








Minggu, 25 Oktober 2015

Cengeng

Tadi siang, saya berbalas-balasan pesan melalui aplikasi whatsap dengan seseorang yg sudah saya anggap seperti abang saya sendiri. Disitu saya menulis tentang keinginan saya untuk menikah dan meminta dia untuk mencarikan, jika ada pria dari kalangan pergaulannya yang ia kira mungkin akan cocok dengan saya. Saya kemudian bercerita tentang hal-hal yang membuat saya belakangan ini merasa tidak nyaman dengan status lajang saya. Salah satunya adalah gangguan dari pria-pria yang tidak lajang disekitar saya.

Kemudian ia menulis :

"Semoga niat baikmu berkeluarga segera diijabah ya. Aku doakan"

Dan saya membalasnya dengan ucapan terima kasih dengan airmata bercucuran. Untung saja ia tidak tahu. Isi pesan yang tidak seberapa panjang itu menguatkan saya dan memberikan dukungan yang saya perlukan meskipun mungkin abang itu belum tentu bisa mencarikan yang tepat untuk saya.

Dua minggu yang lalu, dengan hanya satu kalimat ditelepon yang saya sampaikan ke Ibu saya bahwa seseorang tidak jadi datang, pembicaraan berikutnya beralih menjadi tangis sesegukan, baik itu saya ataupun ibu saya dan semakin deras airmata saya mengalir ketika telpon berpindah dan ada suara bapak saya berbicara diujung sana 

"Bapak percaya kalau kamu bisa mengandalkan dirimu sendiri dan ini tidak seberapa untuk kamu lewati"


Ternyata belakangan ini saya memang lebih cengeng dari biasanya 
Mungkin karena faktor usia:)

Jumat, 16 Oktober 2015

Asisten Rumah Tangga

Sudah hampir tiga minggu saya hidup tanpa asisten rumah tangga.  Sudah tiga minggu itu pula saya tidak menerima pesanan cake pisang, brownies dan tidak berminat lagi membuat tuna rica-rica in jar. Selama itu, rumah kontrakan saya yang sepetak tidak selalu mengkilatt. Kadang ia rapi tapi lebih sering berantakan. 

Asisten saya, Sila, mengalami penyumbatan di ginjalnya sehingga harus di operasi. operasi tersebut mengharuskannya untuk istirahat total. Lucunya, dua minggu sebelum ia diketahui harus menjalani operasi, saya baru saja berbicara dengannya tentang rencana saya untuk mengurusi sekolah yang artinya akan mengurangi fokus saya pada bisnis kecil-kecilan saya. Setelah terdiam beberapa saat, sila memberitahu saya bahwa ia juga ingin mengurangi jam bekerja karena ingin menambah anak.

Hari pertama Sila selesai di operasi, saya datang menjenguknya dan berbicara tentang izin istirahat sampai ia sanggup bekerja kembali. Tapi kemudian ia memberitahu saya bahwa ia mungkin tidak akan kembali bekerja dengan saya. Saya hanya mengangguk-angguk saja.

Hari-hari berikutnya saya kemudian menyadari bahwa Sila dan anaknya Icha, yang selalu ikut saat dia bekerja sudah menjadi keluarga baru bagi saya. Rasanya ada sesuatu yang kosong di hati setiap jam 9 pagi menjelang dia motor merahnya tidak kunjung datang. Saya tiba-tiba merasa sendiri (lagi)

 Tiba-tiba saya merasa patah hati. Mungkin lebih tepatnya kehilangan. Bukan hanya kehilangan teman dan saudara tapi juga kehilangan perhatian, ada yang mempedulikan dan ada yang mengurusi. Tiba-tiba semuanya bukan lagi sekedar masalah apakah kamar saya rapi atau tidak, piring saya sudah dicuci atau belum, rumah saya beraroma kue atau tidak sekarang.

Akhirnya saya jadi tahu mengapa teman-teman saya yang ibu-ibu ribut sekali kalau ART mereka berhenti. Selain jadi semakin repot, saya yakin mereka pasti juga merasa kehilangan seperti saya. 

Tapi berhentinya Sila terus terang juga mengubah hari-hari saya

Sekarang saya jarang  tidur lagi setelah sholat subuh dan memilih untuk beres-beres rumah, menyapu atau mencuci piring. Karena terbiasa pulang ke rumah yang sudah rapi dan tertata, maka mau tidak mau sekarang standar kerapian saya ikut meningkat. saya semakin bisa menghargai hal-hal kecil yang biasa dilakukan Silla untuk saya karena sekarang saya harus melakukannya sendirian.

Pengeluaran bulanan saya berkurang tapi pengeluaran untuk laundry bertambah :)

Dan harusnya, 
Saya sudah bisa mulai untuk menata urusan dan prioritas pribadi saya 
 

Senin, 12 Oktober 2015

Just A Sentimental Lecturer

Akhir minggu ini saya merasa seperti dibawa kembali ke masa-masa awal karier saya sebagai dosen. Pertama karena salah satu mahasiswa saya menikah dan saya ikut jadi panitianya. Mahasiswa saya yang ini berada di angkatan pertama mahasiswa yang saya ajar. Jarak umur saya dengan mereka hanya 8 tahun saja, hamoir seumuran dengan Laras, Bembi, Ajeng, Kristin atau Afifah adik kos saya dulu. Di pestanya, saya kembali bertemu dengan teman-teman dekatnya yang juga amat dekat dengan saya. Rasanya seperti ruang kelas dipindahkan ke gedung tempat pesta berlangsung

Lalu keesokan harinya saya bertemu dengan para mantan mahasiswa saya diangkatan ketiga yang saya ajar di kampus yang sekarang di acara ospek jurusan. Mereka datang mewakili alumni untuk berbagi dengan adik-adik kelas tentang kuliah dan prospek kerjanya.

Hampir semua mahasiswa saya tersebut sudah mengalami transformasi kedewasaan. Yang pria terlihat makin mapan dengan jenggot dan kumis tipis. Kesejahteraan juga tak bisa dibohongi dari pipi dan perut mereka:). Sementara yang perempuan makin anggun, matang dan cantik, meski ada yang masih saja tidak bisa menghilangkan sisi-sisi ketomboian mereka. 

Mereka bertemu saya dengan berbagai cerita baru. Ada yang baru masuk kerja, ada yang sudah akan pindah kerja. Ada yang sedang pedekate, ada yang melamar dan ada yang baru saja putus cinta. Ada yang masih bertahan dengan orang lama setelah berkali-kali putus sambung, ada yang move on dari cerita lama dan ada yang masih sibuk mencari kemana harus menambatkan hati

Tapi tetap ada satu hal yang tidak berubah
Bagi mereka, saya masih tetap Ibu dosennya mereka
Yang mereka kenalkan kemana-mana sebagai dosen mereka 
meski ruang kelas sudah lama kami tinggalkan
dan sebagian selalu mengulang kalau mereka rindu berada di kelas saya
Yang tetap saja dipanggilnya Ibu bukan kakak, mba atau uni
Yang tetap saja dicium tangannya meski seragam kami sama
Dan belakangan makin santer godain saya dengan nanyain kapan saya menikah

Rasanya, 
Melihat mereka terbang tinggi dan hidup saat ini dengan cerita yang lebih baik dari sebelumnya 
dan bahkan dengan cerita yang jauh lebih baik dari cerita ibu dosennya 
saya hanya bisa menggumam dalam haru
Saya beruntung bisa jadi bagian dari itu

Dan pekerjaan ini
bernilai lebih banyak daripada gajinya sendiri
karena hal-hal yang tidak bisa diukur dengan uang

Dear Students, 
Its not you who lucky being my students
Its actually me, the luckiest woman whose opportunity being your teacher

*menghapus air mata*
I'm just a sentimental lecturer

Yang udah berkunjung ke sini ..