Tampilkan postingan dengan label life lesson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life lesson. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

Tentang Cara

Terus terang saya suka bingung jika berhadapan dan berbicara tentang bagaimana cara seseorang melakukan sesuatu atau cara seseorang memperlakukan orang lain. Selama hampir empat tahun berada di kota Pekanbaru dan bertemu orang-orang baru, saya tak pernah berhenti berdecak dan manggut-manggut, antara kagum dan heran dengan dua hal diatas. Tapi bukan berarti semua hal tentang kota ini buruk. Ada sisi baik yang juga saya temukan satu persatu. lagipula saya tidak ingin berbicara tentang love hate relationship saya dengan kota ini.:)

Kembali soal kebingungan dengan CARA. Saya jujur saja suka bingung kalo berada dibelakang sebuah mobil bagus nan mentereng yang tiba-tiba jendelanya terbuka dan ada tangan yg menjulur keluar membuang sampah.. Duh!. satu buah sampah yg dipegang tidak akan membuat mobil bagusnya jadi mendadak jelek kan ya? lagipula, masa siy mobil sebagus itu ga punya tong sampah?

Masalah mobil bagus yang tidak punya tong sampah atau mungkin tepatnya ga punya keinginan untuk membuang sampah pada tempatnya hanyalah salah satu hal yang membuat saya geleng-geleng kepala di sepanjang jalan raya kota ini. Hal lainnya? banyak. Contohnya adalah cara orang-orang menggunakan lampu sign kendaraannya. Belok kemana pasang lampu sign kemana, bahkan pasang lampu sign tapi ga belok-belok dan sebaliknya. Alhasil, saya pernah kehilangan gigi depan gara-gara lampu sign yang tak berujung.

Saya juga suka bingung dengan cara banyak orang mencocokkan acara dengan kostum yang mereka kenakan. tiga tahun lalu, saya pernah nonton konser soundrenalin di lapangan luas banget. Yang datang sama pasangannya pada pake gaun dan sepatunya kalo bukan wedges ya high heels. Hello?  jarak dari parkirannya ke venuenya hampir 1 km lo..dan acaranya sampai lewat tengah malam.  Ya gapapa siy  tampil begitu biar cantik, asal pas pulangnya ga pake kedinginan karena acara baru selesai tengah malam dan ga merengek-rengek dengan muka cemberut karena harus menenteng sepatu dan ga mungkin digendong pacar.

Kadang banyak orang merasa dengan tampil beda akan membuat mereka terlihat sangat menonjol diantara banyak orang. Iya siy..Kadang-kadang aja tapinya. Seringnya malah engga tuh. 
Lha kebayang ga siy kalau kita kebanyakan sinar tidak akan membuat kita langsung berkilau, seringnya malah membuat orang silau. Makanya perhiasan emas dibungkus di kotak bludru polos bukan di kotak yang berkilauan juga. karena perhiasan berkilau membutuhkan latar yang gelap untuk membuatnya outstanding. 

Begitu juga hakikatnya dengan manusia

Ada banyak cara yang bisa kita pilih untuk berkilau; baik secara fisik ataupun secara kepribadian. Kalo soal fisik ga usah bingunglah. Ada banyak produk kecantikan dan salon yang bisa menyulap segala kekurangan kita menjadi tidak tampak dalam sekejap mata. Yang penting siy punya duit aja untuk membayarnya..

Bagaimana dengan personality? 
Seorang teman baik pernah bilang: 
"If you are good enough, You don't need to find the spotlight..the spotlight will find you".
Kadang kita, termasuk saya terlalu berusaha siy ya untuk "terlihat". padahal aslinya, jika memang pantas disorot, bahkan tanpa perlu ngapa-ngapain kita pasti akan tetap terlihat. Hanya saja, banyak sekali diantara kita, termasuk saya yang berusaha banget untuk mengesankan orang lain; entah itu dengan benda ataupun dengan kata-kata. Padahal lagi, seringkali orang yg ingin dibuat terkesan itu bahkan tidak mengetahui bahwa kita ada.



Lagi-lagi kita harus kembali pada persoalan cara. Ada banyak cara untuk membuat diri kita berkilau dan terlihat, namun sesungguhnya ada lebih banyak cara untuk menikmati hidup daripada sibuk berpusing-pusing hanya untuk sekedar memikirkan cara-cara diatas:)

Sabtu, 28 Desember 2013

Canggung

Belakangan saya banyak berpikir, bahwa sebenarnya kita menuruni sifat-sifat dan karakteristik tertentu dari orang tua kita masing-masing..suka ataupun tidak suka. Dari papa, saya menuruni sifat beliau yang supel dan pandai berbicara serta berkomunikasi dengan banyak orang. Sedangkan dari mama, saya menuruni sifat skeptis, banyak pertimbangan dan canggung. Sungguh perpaduan yang aneh.

Awalnya saya tidak pernah berpikir bahwa saya menuruni sifat canggung yang dimiliki oleh mama. Saya masih merasa bahwa saya termasuk orang yang mudah beradaptasi dengan siapa saja. Tapi ternyata tidak begitu adanya. Kecanggungan pertama yang saya rasakan adalah ketika berhadapan dengan rekan rekan kerja pertama saya yang orang jawa semua. Menjadi satu-satunya orang sumatra pada saat itu, yang tidak menguasai bahasa jawa pula membuat saya kehilangan semangat saya ketika berada di kantor. Saya bingung bagaimana harus masuk kedalam percakapan teman-teman saya itu. Saya tidak tahu bagaimana caranya bisa ikut lucu dan tertawa ditengah obrolan yang tidak saya pahami. Dan kemudian yang terjadi adalah saya kehilangan senyum selama 3 bulan dan baru bisa memperbaiki semuanya setelahnya

Belakangan ini saya merasa kecanggungan saya menjadi-jadi. Terutama ketika saya berada di grup komunitas yang saya ikuti. saya merasa lost in translation. banyak hal yang tidak saya pahami dan tidak dipahami teman-teman saya tentang diri saya ini. Saya seringkali salah menanggapi sesuatu, sering menjelaskan hal yang tidak perlu dijelaskan, terlalu formal, garing dan banyak hal lain yang membuat saya sebenarnya ingin menyembunyikan diri saya kedalam cangkang untuk sementara waktu. Saya berusaha tertawa normal ketika ada yang lucu sementara hati dan kepala saya sibuk berpikir mengapa saya tidak bisa tertawa lepas dengan mereka.

Ternyata lingkungan pekerjaan dan keseharian saya sebagai dosen membuat saya terbiasa memulai sesuatu dengan formal dan itu juga terbawa dan cara berkomunikasi saya dengan orang sekitar. Kehidupan saya yang lekat dengan penilaian banyak orang, membuat saya tidak bisa untuk tidak berhenti menerka-nerka apa yang dipikirkan orang tentang saya. Keberadaan saya sebagai anak tengah acap kali membuat saya menjadi peragu dalam mengambil langkah..kombinasi inilah yang membuat semua kecanggungan terasa semakin menjadi-jadi..


Bukan salah mereka saya kira..tapi mungkin saya perlu penyesuaian lebih lama. Tapi kecanggungan ini juga yang membuat saya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini dan kembali membuat saya ingin menarik diri dan bersembunyi dalam goa saya...mudah-mudahan semua akan segera berlalu siring berjalannya waktu..semoga

Kamis, 28 Februari 2013

Merantau


Tujuh tahun yang lalu saya mulai pertualangan perdana saya menetap di negeri seberang, kota yang menjadi impian saya sejak lama. Bukan perjalanan pertama saya tapi menjadi pertama kalinya bagi saya memindahkan hidup  ke sebuah tempat sangat-sangat baru dan asing. Pertualangan perdana itu diberi nama merantau. 

Merantau bagi saya yang berdarah minang merupakan hal yang biasa. Provinsi tempat saya dilahirkan dan dibesarkan; Sumatera Barat- bukanlah provinsi kaya, begitupun kota Padang, tempat saya dan keluarga berdomisili hanya sebuah kota biasa yang kebetulan besar karena menjadi ibukota provinsi. Tidak ada minyak bumi yang ditambang disana, hanya pernah ada batubara, itupun bekas galiannya sudah dijadikan objek wisata. Tidak ada hasil alam dari perut bumi yang bisa menjadi magnet yang membuat banyak orang berleha-leha sepanjang hari. begitupun tidak banyak orang yang bertanam sawit atau karet, kalaupun ada, mungkin lebih banyak perusahaan minyak sawit yang memilikinya daripada orang per orang. maka ada banyak orang yang akhirnya memilih meninggalkan kampung halamannya; mungkin mereka bosan dengan cocok tanam, mungkin mereka bosan dengan ritme hidup yang begitu-begitu saja sehingga butuh tantangan baru dan memaksa mereka keluar dari rumah, dari kampung dan dari kawasan aman mereka.

Orang minang biasanya merantau untuk dua hal; mencari penghidupan yang lebih layak atau menuntut ilmu. mereka yang mencari penghidupan yang lebih layak kemudian akan menjelma menjadi pedagang kecil hingga saudagar; yang berjualan barang-barang seribu tiga hingga yang berjualan barang sejuta satu. mulai dari beras hingga yang menjadi nasi. Oleh karena itulah orang minang diluar sana dianggap sangat jeli melihat peluang; hanya dengan melihat perempatan dan tanah kosong saja, mereka sudah bisa menebak seberapa potensial kawasan itu jika dijadikan rumah makan atau lapak untuk berjualan. Mereka yang menuntut ilmu, biasanya mendatangi kota-kota pelajar utama di pulau jawa, Memulai impian ketika kendaraan yang mengakut mereka mulai berjalan menuju kota tujuan. Berharap menjadi penerus cendikiawan-cendikiawan minang yang tersohor atau setidaknya pulang menjadi alim ulam dan cadiak pandai tampek batanyo. 
Sedangkan saya, menjadi perantauan dengan tujuan kedua dan dengan syarat dan ketentuan tertentu kadang berubah menjadi perantauan dengan tujuan pertama :) Jika Dompet masih tebal, saya akan fokus jadi perantauan yang menuntut ilmu, jika dompet mulai menipis, maka saya bisa berjualan apa saja :)

Merantau sebenarnya tidak menjanjikan hal-hal yang melulu manis, ia bahkan lebih banyak menyodorkan kepahitan. Di rantau, ada banyak makanan yang tidak biasa di lidah, sedangkan makanan dari daerah asal harganya menipiskan kantongs. Ada banyak orang yang kita tidak mengerti bahasanya, yang membuat kita sulit tertawa ketika mereka tertawa didekat kita karena takut kitalah yang menjadi objek tertawaan. Ada masa ketika uang menipis sementara tanggal muda masih lama, ada masa ketika kita sakit dan tidak ada yang merawat dan lainnya. tapi pahitnya merantau itulah yang sebenarnya yang mengajarkan bahwa sebenarnya kita terlalu sering melewatkan hal-hal manis dalam hidup kita masing-masing karena terlalu mudah didapat. Ya, sebut saja makanan yang sehari-hari dihiudangkan oleh ibu di rumah, yang seringkali terlihat membosankan sehingga jajanan biasa diluar sana terlihat seribu kali lebih menarik

Selain mengajarkan banyak hal seperti yang saya sebutkan diatas, merantau bagi saya benar-benar pintu yang mempertemukan saya dengan banyak orang orang baru yang mengisi hidup saya pengganti kerabat dan teman yang saya tinggalkan di daerah lama. Meskipun tidak ada yang benar-benar persis seperti mereka, tapi merantau membuat saya memiliki banyak orang tua baru; almarhum pakde dan bude penjaga kosan tempat saya tinggal, ibu yoshua langganan pijit saya, orang tua dari teman-teman kos saya, bapak endro-supir di kantor saya yang lama, dosen pembimbing saya hingga bapak-bapak dan ibu-ibu yang tinggal di gang yang sama dengan tempat saya tinggal. Beliau-beliau itulah yang mengobati kerinduan saya akan mama dan papa saat saya jauh dari rumah. Begitupun saya bagi mereka kadang menjadi pengganti bagi anak-anak mereka yang sudah keluar dari rumah. Di rantau juga saya menemukan saudara-saudara baru, yang kemudian menjadi tak kalah dekat, bahkan jauh lebih dekat daripada saudara saya sendiri; kakak kos saya kak deni, teman milis mb yuni, mas ardian, mb dian, teman-teman kantor yang usianya diatas saya atau adik-adik kos yang menjadikan saya sebagai kakak mereka. Dan yang paling banyak yang saya dapatkan dari merantau adalah teman-teman baru. Meskipun teknologi berkembang sangat pesat, tapi saya pikir, tanpa merantau saya tidak akan pernah terhubung dengan mereka yang hingga hari ini menjadi teman-teman baik saya. Karena kami keluar dari rumah kami masing-masinglah maka kami saling bertemu,bertegur sapa hingga kemudian menjadi kawan. 

Empat tahun kemudian saya kembali memindahkan hidup saya ke tempat baru, kali ini lebih dekat ke rumah. Kota perantauan saya yang pertama sebenarnya terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan, tetapi saya tidak akan mendapatkan banyak hal dan kesempatan baru dalam karir saya jika tetap bersikeras tinggal disana. Untuk pekerjaan yang saya pilih, saya hanya akan menjadi ikan kecil di kolam yang besar, hampir tak terlihat. kota tujuan merantau saya yang baru tidak semenyenangkan kota sebelumnya bagi saya. proses adaptasinya cukup berat karena saya berhadapana dengan ritem, pola dan pemikiran yang bertolak belakang dengan kota sebelumnya. beberapa waktu diawal merantau, saya kesepian, merasa tidak ada orang-orang yang saya inginkan berada disekitar saya. Kehidupan saya kembali monoton, tidak sama seperti di kota yang lama yang penuh dengan aktivitas dan pertemanan. 

Hingga suatu ajakan menjelalah objek wisata di provinsi ini muncul di facebook saya hampir dua tahun yang lalu. Saya berpikir, mungkin inilah saatnya saya mencari teman-teman baru, kerabat-kerabat baru pengganti mereka yang saya tinggalkan disana. Pagi itu, ketika pintu mobil yang berhenti di depan kontrakan saya dibuka, saat itulah saya tahu, bahwa saya menemukan teman baru, kerabat baru dalam perantauan baru saya. Perjalanan pertama saya di daerah baru benar-benar membuktikan bahwa teman dan kerabat itu ada dimana-mana, sepanjang kita juga tidak berdiam diri menunggu saja. Tak masalah siapa yang menyodorkan tangan terlebih dahulu untuk memulai berkenalan, tak masalah siapa yang akan menyambutnya. kadang mungkin kita harus memulainya terlebih dahulu, kadang orang lain. Yang penting adalah setelahnya, setelah jabat tangan usai, setelah nama disebutkan, jika setelahnya senyum terkembang, maka ia atau mereka mungkin orang baru yang akan menjadi teman dan kerabat baru kita.


perjalanan pertama- Siak 140511 dan teman baru berikutnya dalam hidup saya; Romel(baju merah-abu2) , Atiek dan Arka (baju hitam)


Pada akhirnya, meskipun saya masih harus terus beradaptasi, meskipun teman datang dan pergi, tapi merantau adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya, keputusan terbaik yang merubah cara saya memandang banyak hal. Ia memberikan saya kesempatan untuk menikmati hal-hal baru, berkenalan dengan hal-hal baru atau bahkan belajar menyukai hal-hal, tempat-tempat, makanan serta karakter orang yang tadinya tidak saya sukai

“Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah, kan kau dapatkan pengganti kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang"

- Syair Imaam Syafi’i tentang Merantau


Yang udah berkunjung ke sini ..