Memiliki toko kue, meski tidak ada bentuk tokonya dan masih dalam taraf bertumbuh mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah belajar mengelola orang lain. Sebagai pemasak tunggal, saya biasanya cukup berhati-hati bahkan sangat berhati-hati untuk bisa mempercayai orang lain ikut memasak bersama saya. Hingga saya bertemu silla, tetangga yang kemudian menjadi asisten saya di hesbronz factory.
Awalnya, saya meminta Silla untuk membantu saya beres-beres rumah dan mencuci peralatan masak dan menimbang bahan-bahan. Bagian itulah yang seringkali akan menghabiskan waktu dan tenaga dalam memasak, sementara sayapun masih harus ke kampus dan mengajar. Sebelum bergabung jadi asisten, saya sudah pernah mengajarkan silla membuat kue yang saya jual. Namun tiap kali ia ingin membuatnya kembali, ia selalu datang ke rumah, alasannya ga pede.
Akhirnya kesempatan pertama untuk silla membuat kue sendiri datang juga. Saat itu saya ada kelas dan tiba-tiba ada pesanan yang harus dibuat. Sayapun meminta silla untuk membuatnya. Awalnya dia menolak, lagi-lagi karena ga pede. Alasan berikutnya adalah takut dengan kompor gas dan berikutnya lagi takut gagal.
Saya bilang ke dia, lakukan saja sebaik yang dia bisa. kalo ada apa-apa dia bisa kontak saya. Alhamdulillah kue pertama ga buruk sama sekali. Tapi sesekali ada juga siy sedikit gosong, memarut keju mozarella utk bronis dan kaget sendiri karena kejunya gosong:).
Tapi sekarang, saya bisa dengan lega meninggalkan rumah hanya dengan bekal selembar kertas yang ditempel dengan magnit dipintu kulkas berisi daftar pesanan hari ini. Saya hanya perlu memastikan bahan-bahan lengkap dan tabung gas tidak kosong. Selebihnya, dia bisa melakukan lebih dari yang pernah saya bayangkan. Kemudian saya mengetahui bahwa secara psikologis, dia akan grogi
membuat kue jika saya ada di rumah. Jadi saya lebih memilih untuk berada
di kampus saat pembuatan kue:)
Mempekerjakan seorang asisten itu bukan berarti membuat orang yang
membayarnya memiliki posisi lebih tinggi berlipat-lipat. saya melihatnya
sebagai simbiosis mutualisme yang perlu dijaga dengan baik. Hal yang
saya pelajari adalah bagaimana memanusiakan asisten saya. Bagaimana
menegur jika ia salah, memuji jika benar, mengetahui apa yang ia suka,
apa yang membuat ia akan menjadi suntuk dan tidak fokus. Dengan begitu,
mudah-mudahan ia tidak merasa sedang bekerja setiap harinya.
Jika dulu Silla bekerja di rumah saya 15 hari seminggu dengan gaji 400 rb, bulan ini, ia menerima gaji hampir dua kali lipatnya. Saya tidak akan lupa matanya yang berkaca-kaca saat gaji pertama saya serahkan ke tangannya. Pada saat itu saya tahu, bahwa saya tidak hanya memiliki asisten yang menyenangkan, tapi sekaligus saudara baru di rantau. Ia membereskan rumah saya seperti rumahnya, membuat kue seperti standar saya, bahkan memunculkan ide baru dan kadang memberi saya makan siang atau makanan apa saja yang ia buat di rumahnya.
JIka suatu hari nanti toko kami jadi besar, maka Silla adalah orang pertama yang akan menjadi pimpinan ketiga setelah saya dan patner saya. semoga begitu jadinya.. amin
I owe her much, so does my hesbronz factory
“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.” ― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky --
Tampilkan postingan dengan label business. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label business. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Oktober 2013
Minggu, 20 Oktober 2013
Mimpi Besar itu Bernama Hesbronz Factory
Selain menjadi wartawan, cita-cita yang sempat saya pendam itu adalah menjadi seorang koki alias juru masak. kecintaan saya terhadap dunia memasak sebesar kecintaan saya pada dunia menulis. Meskipun pada akhirnya tidak satupun dari memasak dan menulis menjadi karir, namun saya tetap sesekali menjadikannya sebagai pekerjaan yang menyenangkan.
Saya mulai belajar memasak sejak kelas tiga SD, itupun hanya dari hal-hal sederhana saja seperti memasak nasi dan menggoreng telur. Berikutnya saya dipaksa belajar untuk menggiling cabe. Sebagai orang minang, menu keseharian keluarga kami tidak lepas dari balado dan untuk menghasilkan balado yang enak, saya harus bisa menggiling sendiri cabenya. Pengalaman pertama menggiling cabe menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebelah tangan saya memegang es sementara sebelahnya memegang anak batu lado-istilah untuk batu yang lebih kecil. Walhasil, seharian tangan saya kepanasan.
Ketika duduk dibangku SMP, saya sudah bisa menggantikan mama untuk membuat lauk sederhana dan ketika SMA, saya sudah memegang kendali dapur untuk 40 orang teman saya di acara buka bersama, homestay hingga kemping. Dibangku kuliah, saya mulai mendapatkan uang dari kemampuan masak saya, dari terima katering harian kecil-kecilan, jualan lauk pauk di RS tempat mama saya dinas hingga menerima pesanan katering skala menengah untuk buka bersama hingga acara lamaran. Memasak bagi saya kemudian menjadi hal yang menakjubkan dan menyenangkan.
Meskipun memiliki frekuensi yang cukup tinggi dalam menerima pesanan makanan, tapi saya belum pernah begitu serius ingin memiliki bisnis atau usaha dibidang ini. Pun ketika setiap lebaran saya menerima cukup banyak pesanan kue, saya masih menganggapnya sebagai ladang usaha musiman semata.
Hingga suatu hari teman akrab saya berangkat umroh dan menyusul teman dekat saya satunya berangkat ke tanah suci. Umroh dan kue memang memiliki hubungan yang sangat jauh tapi umrohlah yang menjadi alasan mengapa saya akhirnya berpikir ulang tentang pemanfaatan kemampuan saya dalam memasak dan menjadikannya sesuatu yang bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain.
Intinya saya ingin berangkat umroh seperti halnya teman saya itu. Lebih jauh lagi, saya ingin berangkat umroh dengan kedua orang tua saya. Bapak dan ibu saya belum pernah menginjak tanah suci, namun beliau berdua sudah menabungkan uangnya sedikit demi sedikit di bank agar bisa berangkat haji beberapa tahun lagi. tapi saya tahu bahwa beliau ingin sekali pergi umroh sebelum kesempatan hajinya datang. Sayangnya, hingga diusia beliau berdua saat ini-60 dan 56 tahun, kesempatan itu belum datang juga . Ditambah lagi beberapa waktu yang lalu bapak saya mengalami kegagalan dalam usahanya dan ibu saya memasuki usia pensiun sementara kami masih memiliki dua orang adik yang masih sekolah. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadi alasan mengapa saya kemudian memulai untuk membuat usaha makanan dengan skala serius, naik beberapa tingkat dari sebelumnya; yang hanya menerima pesanan sesekali saja kapan saya bisa dan mau.
Dan sebuah mimpi besar bernama hesbronz factory dimulai dibulan Juni, melalui satu akun twitter @hesbronzfactory. Dari situ saya mulai belajar mengelola toko kue virtual saya.Dengan dukungan pesanan dari teman-teman dekat saya, yang memfoloow akun tersebut, me RT jika ada postingan produk dan me mention akun tersebut setelah membeli, membuat saya makin bersemangat. Setelah selesai membuat satu akun baru bernama @hesbronzfactory itu dibuat, hidup saya tidak lagi sama. Setelah kampus usai, saya kembali ke dapur. Perlahan tapi pasti, jam bersenang-senang dan ngumpul dengan teman-teman jauh berkurang. Saya harus menghemat lebih banyak energi.
Tapi saya tidak keberatan, beberapa teman akrab saya yang keberatan, mereka kehilangan saya sepertinya.
Setiap keputusan yang saya ambil pasti ada konsekuensinya
Sekarang hesbronzfactory sedang belajar merangkak. Saya menemukan asisten yang pas yang tinggalnya disebelah rumah dan alhamdulilah bisa dipercaya untuk mulai mengerjakan pesanan dan mendapatkan ahli marketing andal yang kemudian bergabung menjadi patner saya. Slow but sure, mimpi melihat orang-orang berlalu lalang di bandara dengan kantong bertulis hesbronz factory ditangan mereka mulai terasa dekat
Saya mulai belajar memasak sejak kelas tiga SD, itupun hanya dari hal-hal sederhana saja seperti memasak nasi dan menggoreng telur. Berikutnya saya dipaksa belajar untuk menggiling cabe. Sebagai orang minang, menu keseharian keluarga kami tidak lepas dari balado dan untuk menghasilkan balado yang enak, saya harus bisa menggiling sendiri cabenya. Pengalaman pertama menggiling cabe menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebelah tangan saya memegang es sementara sebelahnya memegang anak batu lado-istilah untuk batu yang lebih kecil. Walhasil, seharian tangan saya kepanasan.
Ketika duduk dibangku SMP, saya sudah bisa menggantikan mama untuk membuat lauk sederhana dan ketika SMA, saya sudah memegang kendali dapur untuk 40 orang teman saya di acara buka bersama, homestay hingga kemping. Dibangku kuliah, saya mulai mendapatkan uang dari kemampuan masak saya, dari terima katering harian kecil-kecilan, jualan lauk pauk di RS tempat mama saya dinas hingga menerima pesanan katering skala menengah untuk buka bersama hingga acara lamaran. Memasak bagi saya kemudian menjadi hal yang menakjubkan dan menyenangkan.
Meskipun memiliki frekuensi yang cukup tinggi dalam menerima pesanan makanan, tapi saya belum pernah begitu serius ingin memiliki bisnis atau usaha dibidang ini. Pun ketika setiap lebaran saya menerima cukup banyak pesanan kue, saya masih menganggapnya sebagai ladang usaha musiman semata.
Hingga suatu hari teman akrab saya berangkat umroh dan menyusul teman dekat saya satunya berangkat ke tanah suci. Umroh dan kue memang memiliki hubungan yang sangat jauh tapi umrohlah yang menjadi alasan mengapa saya akhirnya berpikir ulang tentang pemanfaatan kemampuan saya dalam memasak dan menjadikannya sesuatu yang bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain.
Intinya saya ingin berangkat umroh seperti halnya teman saya itu. Lebih jauh lagi, saya ingin berangkat umroh dengan kedua orang tua saya. Bapak dan ibu saya belum pernah menginjak tanah suci, namun beliau berdua sudah menabungkan uangnya sedikit demi sedikit di bank agar bisa berangkat haji beberapa tahun lagi. tapi saya tahu bahwa beliau ingin sekali pergi umroh sebelum kesempatan hajinya datang. Sayangnya, hingga diusia beliau berdua saat ini-60 dan 56 tahun, kesempatan itu belum datang juga . Ditambah lagi beberapa waktu yang lalu bapak saya mengalami kegagalan dalam usahanya dan ibu saya memasuki usia pensiun sementara kami masih memiliki dua orang adik yang masih sekolah. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadi alasan mengapa saya kemudian memulai untuk membuat usaha makanan dengan skala serius, naik beberapa tingkat dari sebelumnya; yang hanya menerima pesanan sesekali saja kapan saya bisa dan mau.
Dan sebuah mimpi besar bernama hesbronz factory dimulai dibulan Juni, melalui satu akun twitter @hesbronzfactory. Dari situ saya mulai belajar mengelola toko kue virtual saya.Dengan dukungan pesanan dari teman-teman dekat saya, yang memfoloow akun tersebut, me RT jika ada postingan produk dan me mention akun tersebut setelah membeli, membuat saya makin bersemangat. Setelah selesai membuat satu akun baru bernama @hesbronzfactory itu dibuat, hidup saya tidak lagi sama. Setelah kampus usai, saya kembali ke dapur. Perlahan tapi pasti, jam bersenang-senang dan ngumpul dengan teman-teman jauh berkurang. Saya harus menghemat lebih banyak energi.
Tapi saya tidak keberatan, beberapa teman akrab saya yang keberatan, mereka kehilangan saya sepertinya.
Setiap keputusan yang saya ambil pasti ada konsekuensinya
Sekarang hesbronzfactory sedang belajar merangkak. Saya menemukan asisten yang pas yang tinggalnya disebelah rumah dan alhamdulilah bisa dipercaya untuk mulai mengerjakan pesanan dan mendapatkan ahli marketing andal yang kemudian bergabung menjadi patner saya. Slow but sure, mimpi melihat orang-orang berlalu lalang di bandara dengan kantong bertulis hesbronz factory ditangan mereka mulai terasa dekat
Langganan:
Postingan (Atom)