Tampilkan postingan dengan label patah hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patah hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2013

Bisa Di Adu

Ditengah menjamurnya acara pencarian bakat untuk para penyanyi di TV, saya jatuh cinta pada acara The Voice Indonesia yang disiarkan di Indoesiar. Acara pencarian bakat ini mencari para penyanyi yang diseleksi melalui tahapan blind audition. Blind audition ini mempersilahkan para peserta untuk bernyanyi didepan juri yang duduk di kursi-kursi yang membelakangi mereka. Mengapa para jurinya tidak bisa melihat langsung si peserta menyanyi didepan mereka? Saya pikir karena manusia itu makhluk visual, yang lebih gampang terpengaruh pada apa yang dilihat mata daripada yang didengarkan telinga. Itulah yang selama ini terjadi pada acara-acara sejenis. Mereka yang terpilih seringkali karena dianggap menjual, meskipun suaranya malah tidak menjual sama sekali. Dengan adanya blind audition ini, para juri (sepertinya) diharapkan untuk benar-benar bisa menilai suara daripada tampilannya.

Hidup kadang-kadang aneh ya, begitu juga dengan orang-orang yang berada disekitar kita. Ah, saya benci sebenarnya jika harus menulis tentang ini. Tapi saya tidak pernah benar-benar merasa sekecewa ini dengan situasi saya saat ini. Jika diibaratkan, saya ini penyanyi yang sering ikut audisi acara pencarian bakat tapi berkali-kali juga ditolak karena dianggap tidak menjual. Bukankah yang perlu dari seorang penyanyi itu suaranya? kalo tampilannya kurang menjual, tinggal dipoles tho?.

Seperti mereka yang berusaha menunjukkan apa yang mereka miliki kepada orang-orang diluar sana, saya juga sudah berusaha membangun diri saya dengan sebaik-baiknya hanya agar saya bisa dinilai secara lengkap dan utuh, tidak sepotong-sepotong. Bahwa saya, dengan badan saya yang sebesar ini bukanlah orang tidak bisa mengerjakan apa-apa, bahwa saya dengan ukuran tubuh saya ini memiliki pekerjaan yang bagus, bahwa saya, bukan orang pemalas yang kerjanya hanya makan dan tidur saja sehingga kemudian hasilnya badan saya sebesar ini. Tapi sayang, saya lebih sering kecewa, mungkin karena saya berharap pada manusia, bukan pencipta manusia.

Sebenarnya bukan kali ini saja saya ditolak karena masalah fisik. terlalu sering malah. Tapi yang terjadi kali ini terasa jauh lebih menyakitkan bagi saya.Mungkin karena saya sudah bosan ditolak atau mungkin karena penolakan itu terjadi setelah semua proses berjalan cukup jauh dan semua orang yang terlibat didalamnya mengetahui siapa saya sedari awal. Saya tidak suka jika orang lain melebih-lebihkan cerita tentang saya, saya maunya mereka melihat saya sendiri dengan mata kepala mereka, berkenalan dan kemudian berinteraksi dengan saya, setelah itu, silahkan nilai saya, dengan objektif dan terbuka. Sayangnya, banyak orang yang mematikan kesempatan saya, bahkan sebelum saya sempat melangkah, seperti mereka-mereka yang bertarung di acara pencarian bakat di televisi, yang bahkan baru satu bait lagu saja dinyanyikan sudah dihentikan. Bisa saja suara khasnya akan terdengar pada saat refrain, tapi sayang kita tidak cukup sabar menantinya. 

Ah, Kadang saya cuma tak habis pikir, betapa mudahnya seseorang merendahkan orang lain hanya karena ia badannya besar, hanya karena kulitnya tidak putih padahal ia sendiri melihat langsung bagaimana mereka membangun hidup setiap hari.  Begitu mudahnya orang mematikan kesempatan orang lain hanya karena mereka tidak memiliki spesifikasi fisik seperti yang dimiliki oleh rata-rata orang. padahal ada banyak orang yang tidak tahu bahwa mereka selama ini menyembunyikan kedukaan mereka dibalik senyuman tipis saat kesempatan itu hilang, karena saat itu sebenarnya mereka kehilangan peluang untuk membuktikan bahwa apa yang orang-orang itu pikirkan tidaklah sepenuhnya benar. Bahkan jauh lebih sering salah.

Bilang saja saya terlalu sensitif dan saya akan bilang bahwa anda benar. Tapi cobalah sekali-sekali berjalan dengan memakai sepatu yang biasa kami pakai, laluilah jalanan yang biasa kami lewati, lihatlah kehidupan sebagaimana kami selama ini melihatnya dan rasakan juga bagaimana selama ini bagaimana orang-orang diluar sana memperlakukan kami. Dan setelah itu kalian akan tahu, bahwa semua kata-kata motivasi yang menyuruh kami untuk menegakkan dagu dan mengangkat kepala dan tidak mempedulikan omongan orang itu nol besar.

" Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri
Cintaku yang sejati

Namun tak kau lihat terkadang malaikat

Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya"


-malaikat juga tahu-Dee Lestari





Senin, 25 Januari 2010

hujan dan impian itu...


hujan deras dan saya terjebak di kampus bersama teman-teman
tapi kampus kami cukup nyaman untuk berteduh dan dibuka hampir dua puluh empat jam, yang penting bawa bekal dan tahan kalo sepi.

sebenarnya saya sangat menyukai hujan..tapi saya tidak suka kalo terlalu lama terjebak di kampus. bisa mati gaya. fesbuk dah habis dibolak-balik, imel dah baca semua, dan sudah tidak ada lagi yang bisa diajak ngobrol, kalopun ada hanya sekedar basa basi.

selama dua tahun belakangan ini, setiap kali hujan turun setiap kali itu pula hati saya perih..meskipun hujan selalu menyenangkan, bagi saya hujan menyimpan cerita
sedih..

Dua tahun yang lalu seorang pria pernah menawarkan impian indah dikala hujan
sebenarnya impian indah itu hanya hal yang sederhana saja..
di kala hujan turun, kami akan menghabiskan waktu berdua bercengkrama memandangi hujan di teras rumah kami di jogja, dengan dua cangkir teh hangat dan sepiring gorengan sebagai temannya. Hujan deras di sore hari, dua cangkir teh dan sepiring gorengan dan berbagai cerita untuk dibagi..sungguh sederhana..hanya sesederhana itu..

Dan ternyata...
impian sederhana itu hanya sekedar impian..
berlalu bersama bulir hujan di hari-hari berikutnya..
tidak pernah bisa kembali ataupun diwujudkan...

diluar hujan masih turun dengan derasnya...
dua tahun telah berlalu namun mimpi itu tak kunjung berlalu..

Gambar diambil disini

Selasa, 05 Januari 2010

tujuh hari dalam seminggu

Hey,
Postingan pertama niy di 2010...
mudah-mudahan makin rajin nulis, seperti si debi yang rajin banget nulis tentang kehidupan barunya belakangan ini. huh, jadi iri..kehidupan baru pasti punya banyak cerita baru..*dasar manusia ga bisa bersyukur.

Tapi, siapa bilang hidup saya ga punya cerita juga..
hari ini saya sudah bisa tertawa lagi karena satu cerita. Mungkin bukan hari ini secara penuh, soalnya saya memulai pagi dengan air mata dan kepasrahan tingkat tinggi akan nasib thesis saya...thesis oh thesis..

Sore ini saya baru mengetahui dengan pasti kalo pria yang selama ini wajahnya mengalihkan dunianya saya itu berbeda dengan yang selalu saya bayangkan dalam pikiran saya. Yang ada dalam pikiran saya, dia bernama X, temannya teman kos saya, statusnya complicated. sedangkan yang sebenarnya, pria ini bernama Y, bukan temannya teman kos saya dan statusnya Happy husband. Kesamaannya hanyalah mereka berdua kuliah di tempat yang sama..di gedung yang sama dengan yang saya datangi setiap harinya.

Pertama kali saya melihatnya, saya langsung mengklaim dia sebagai pria pujaan hati. Semua semakin menguat ketika beberapa kali ketika sholat zuhur, saya melihat dia menjadi imam..deuuuuhhh serasanya dia adalah imam pribadi saya...rasanya saya ingin mencium tangannya setelah sholat usai..rasanyaaaa..huhuuuhuuu

Mungkin saya jatuh cinta pada pandangan pertama..
Dia memiliki semua yang saya inginkan dari seorang pria; alim, pintar dan gagah
Pria itu menjadi salah satu penyemangat saya kalau ke kampus..
dia telah membuat status fesbuk saya penuh dengan komentar..
dan membuat tujuh hari dalam seminggu saya menjadi lebih berwarna..

Tapi ternyata
Pria itu hanya boleh di lihat tapi ga boleh di dekati....


Ha ha ..whateverlah
yang penting akhirnya saya bisa tertawa lagi..meskipun menertawai diri sendiri

Yang udah berkunjung ke sini ..