Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

Tentang Cara

Terus terang saya suka bingung jika berhadapan dan berbicara tentang bagaimana cara seseorang melakukan sesuatu atau cara seseorang memperlakukan orang lain. Selama hampir empat tahun berada di kota Pekanbaru dan bertemu orang-orang baru, saya tak pernah berhenti berdecak dan manggut-manggut, antara kagum dan heran dengan dua hal diatas. Tapi bukan berarti semua hal tentang kota ini buruk. Ada sisi baik yang juga saya temukan satu persatu. lagipula saya tidak ingin berbicara tentang love hate relationship saya dengan kota ini.:)

Kembali soal kebingungan dengan CARA. Saya jujur saja suka bingung kalo berada dibelakang sebuah mobil bagus nan mentereng yang tiba-tiba jendelanya terbuka dan ada tangan yg menjulur keluar membuang sampah.. Duh!. satu buah sampah yg dipegang tidak akan membuat mobil bagusnya jadi mendadak jelek kan ya? lagipula, masa siy mobil sebagus itu ga punya tong sampah?

Masalah mobil bagus yang tidak punya tong sampah atau mungkin tepatnya ga punya keinginan untuk membuang sampah pada tempatnya hanyalah salah satu hal yang membuat saya geleng-geleng kepala di sepanjang jalan raya kota ini. Hal lainnya? banyak. Contohnya adalah cara orang-orang menggunakan lampu sign kendaraannya. Belok kemana pasang lampu sign kemana, bahkan pasang lampu sign tapi ga belok-belok dan sebaliknya. Alhasil, saya pernah kehilangan gigi depan gara-gara lampu sign yang tak berujung.

Saya juga suka bingung dengan cara banyak orang mencocokkan acara dengan kostum yang mereka kenakan. tiga tahun lalu, saya pernah nonton konser soundrenalin di lapangan luas banget. Yang datang sama pasangannya pada pake gaun dan sepatunya kalo bukan wedges ya high heels. Hello?  jarak dari parkirannya ke venuenya hampir 1 km lo..dan acaranya sampai lewat tengah malam.  Ya gapapa siy  tampil begitu biar cantik, asal pas pulangnya ga pake kedinginan karena acara baru selesai tengah malam dan ga merengek-rengek dengan muka cemberut karena harus menenteng sepatu dan ga mungkin digendong pacar.

Kadang banyak orang merasa dengan tampil beda akan membuat mereka terlihat sangat menonjol diantara banyak orang. Iya siy..Kadang-kadang aja tapinya. Seringnya malah engga tuh. 
Lha kebayang ga siy kalau kita kebanyakan sinar tidak akan membuat kita langsung berkilau, seringnya malah membuat orang silau. Makanya perhiasan emas dibungkus di kotak bludru polos bukan di kotak yang berkilauan juga. karena perhiasan berkilau membutuhkan latar yang gelap untuk membuatnya outstanding. 

Begitu juga hakikatnya dengan manusia

Ada banyak cara yang bisa kita pilih untuk berkilau; baik secara fisik ataupun secara kepribadian. Kalo soal fisik ga usah bingunglah. Ada banyak produk kecantikan dan salon yang bisa menyulap segala kekurangan kita menjadi tidak tampak dalam sekejap mata. Yang penting siy punya duit aja untuk membayarnya..

Bagaimana dengan personality? 
Seorang teman baik pernah bilang: 
"If you are good enough, You don't need to find the spotlight..the spotlight will find you".
Kadang kita, termasuk saya terlalu berusaha siy ya untuk "terlihat". padahal aslinya, jika memang pantas disorot, bahkan tanpa perlu ngapa-ngapain kita pasti akan tetap terlihat. Hanya saja, banyak sekali diantara kita, termasuk saya yang berusaha banget untuk mengesankan orang lain; entah itu dengan benda ataupun dengan kata-kata. Padahal lagi, seringkali orang yg ingin dibuat terkesan itu bahkan tidak mengetahui bahwa kita ada.



Lagi-lagi kita harus kembali pada persoalan cara. Ada banyak cara untuk membuat diri kita berkilau dan terlihat, namun sesungguhnya ada lebih banyak cara untuk menikmati hidup daripada sibuk berpusing-pusing hanya untuk sekedar memikirkan cara-cara diatas:)

Sabtu, 28 Desember 2013

Pria VS Wanita

Saya bertemu dengan seorang pria yang mengatakan kepada saya bahwa ia jatuh hati pada saya. Saya berkenalan hanya empat hari sebelum kami bertemu dan hanya berbicara satu jam saja. Selebihnya, hidup saya sangat naik turun setelahnya. Pria ini, senang menguji saya, menguji hati saya untuknya. Saya dan dia berbeda kasta, jika kata itu boleh dipergunakan untuk menggambarkan perbedaan kami; dalam apa saja; pendidikan, pekerjaan hingga cara bertutur kata. Saya tidak keberatan sebenarnya, begitupun dirinya tapi sekitar kamilah yang membuat segalanya menjadi begitu berat.

Saudara saya mengatakan bahwa harga diri seorang pria terletak pada isi dompetnya. Jika dompetnya tebal, maka meskipun yang lainnya biasa saja, maka ia akan selalu percaya diri. Sedangkan saya percaya bahwa harga diri seorang pria harusnya tetap berada di hati dan pikirannya saja. Jikalah boleh kita berandai-andai, jika saja saya dan pria itu menikah, maka kasta, dompet, pendidikan, dllnya seharusnya tidak akan pernah muncul lagi dan mengganggu kami.

Saya belum menikah, dan tentu saja belum berpengalaman sama sekali soal pernikahan, tapi satu hal yang saya yakini, bahwa laki-laki adalah imamnya perempuan jika mereka sudah di sahkan dalam ijab kabul nanti. Jika diibaratkan dalam sebuah mobil, maka yang laki-laki adalah supirnya dan perempuan bisa jadi penumpang, navigator atau mungkin jadi supir pengganti. Artinya, sepanjang perjalanan ia bergantung sepenuhnya kemanapun sang supir mengarahkan mobilnya. Sesekali, jika mobil yang dibawa berjalan terlalu kencang, maka sebagai penumpang ia berhak menggingatkan. Jika bertindak sebagai navigator, ia akan mengingatkan si supir untuk waspada terhadap gangguan yang ada di kiri dan kanan kendaraan mereka, membantu membaca peta dan mencari petunjuk arah atau turun bertanya kepada penduduk sekitar jika mereka tersesat. Dan tentu saja ia harus memiliki kekuatan dan kemampuan yang sedikit menyamai supir utama jika harus menjadi supir pengganti.

Dengan begitu panjang perumpamaan yang saya buat untuk menggambarkan hubungan pria dan wanita dalam pernikahan, tidak serta merta membuat pria ini begitu saja mempercayai bahwa saya tidak akan melecehkannya seperti yang dilakukan banyak wanita yang berpendidikan dan berpenghasilan lebih tinggi daripada di pria. Begitu ia tidak bisa menutupi caranya menunjukkan rasa egonya terhadap saya.

Entah bagaimana seharusnya..
tapi mungkin saja saya dan dia dipertemukan hanya untuk belajar terlebih dahulu bagaimana mengenal karakter lawan jenis dengan baik sebelum memutuskan untuk membawanya ke jenjang yang lebih serius

dari postingan lama yang akhirnya selesai juga:)

Canggung

Belakangan saya banyak berpikir, bahwa sebenarnya kita menuruni sifat-sifat dan karakteristik tertentu dari orang tua kita masing-masing..suka ataupun tidak suka. Dari papa, saya menuruni sifat beliau yang supel dan pandai berbicara serta berkomunikasi dengan banyak orang. Sedangkan dari mama, saya menuruni sifat skeptis, banyak pertimbangan dan canggung. Sungguh perpaduan yang aneh.

Awalnya saya tidak pernah berpikir bahwa saya menuruni sifat canggung yang dimiliki oleh mama. Saya masih merasa bahwa saya termasuk orang yang mudah beradaptasi dengan siapa saja. Tapi ternyata tidak begitu adanya. Kecanggungan pertama yang saya rasakan adalah ketika berhadapan dengan rekan rekan kerja pertama saya yang orang jawa semua. Menjadi satu-satunya orang sumatra pada saat itu, yang tidak menguasai bahasa jawa pula membuat saya kehilangan semangat saya ketika berada di kantor. Saya bingung bagaimana harus masuk kedalam percakapan teman-teman saya itu. Saya tidak tahu bagaimana caranya bisa ikut lucu dan tertawa ditengah obrolan yang tidak saya pahami. Dan kemudian yang terjadi adalah saya kehilangan senyum selama 3 bulan dan baru bisa memperbaiki semuanya setelahnya

Belakangan ini saya merasa kecanggungan saya menjadi-jadi. Terutama ketika saya berada di grup komunitas yang saya ikuti. saya merasa lost in translation. banyak hal yang tidak saya pahami dan tidak dipahami teman-teman saya tentang diri saya ini. Saya seringkali salah menanggapi sesuatu, sering menjelaskan hal yang tidak perlu dijelaskan, terlalu formal, garing dan banyak hal lain yang membuat saya sebenarnya ingin menyembunyikan diri saya kedalam cangkang untuk sementara waktu. Saya berusaha tertawa normal ketika ada yang lucu sementara hati dan kepala saya sibuk berpikir mengapa saya tidak bisa tertawa lepas dengan mereka.

Ternyata lingkungan pekerjaan dan keseharian saya sebagai dosen membuat saya terbiasa memulai sesuatu dengan formal dan itu juga terbawa dan cara berkomunikasi saya dengan orang sekitar. Kehidupan saya yang lekat dengan penilaian banyak orang, membuat saya tidak bisa untuk tidak berhenti menerka-nerka apa yang dipikirkan orang tentang saya. Keberadaan saya sebagai anak tengah acap kali membuat saya menjadi peragu dalam mengambil langkah..kombinasi inilah yang membuat semua kecanggungan terasa semakin menjadi-jadi..


Bukan salah mereka saya kira..tapi mungkin saya perlu penyesuaian lebih lama. Tapi kecanggungan ini juga yang membuat saya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini dan kembali membuat saya ingin menarik diri dan bersembunyi dalam goa saya...mudah-mudahan semua akan segera berlalu siring berjalannya waktu..semoga

Senin, 21 Oktober 2013

Cerita Dari Balik Dapur-Silla

Memiliki toko kue, meski tidak ada bentuk tokonya dan masih dalam taraf bertumbuh mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah belajar mengelola orang lain. Sebagai pemasak tunggal, saya biasanya cukup berhati-hati bahkan sangat berhati-hati untuk bisa mempercayai orang lain ikut memasak bersama saya. Hingga saya bertemu silla, tetangga yang kemudian menjadi asisten saya di hesbronz factory.

Awalnya, saya meminta Silla untuk membantu saya beres-beres rumah dan mencuci peralatan masak dan menimbang bahan-bahan. Bagian itulah yang seringkali akan menghabiskan waktu dan tenaga dalam  memasak, sementara sayapun masih harus ke kampus dan mengajar. Sebelum bergabung jadi asisten, saya sudah pernah mengajarkan silla membuat kue yang saya jual. Namun tiap kali ia ingin membuatnya kembali, ia selalu datang ke rumah, alasannya ga pede.

Akhirnya kesempatan pertama untuk silla membuat kue sendiri datang juga. Saat itu saya ada kelas dan tiba-tiba ada pesanan yang harus dibuat. Sayapun meminta silla untuk membuatnya. Awalnya dia menolak, lagi-lagi karena ga pede. Alasan berikutnya adalah takut dengan kompor gas dan berikutnya lagi takut gagal.
Saya bilang ke dia, lakukan saja sebaik yang dia bisa. kalo ada apa-apa dia bisa kontak saya. Alhamdulillah kue pertama ga buruk sama sekali. Tapi sesekali ada juga siy sedikit gosong, memarut keju mozarella utk bronis dan kaget sendiri karena kejunya gosong:).

Tapi sekarang, saya bisa dengan lega meninggalkan rumah hanya dengan bekal selembar kertas yang ditempel dengan magnit dipintu kulkas berisi daftar pesanan hari ini. Saya hanya perlu memastikan bahan-bahan lengkap dan tabung gas tidak kosong. Selebihnya, dia bisa melakukan lebih dari yang pernah saya bayangkan. Kemudian saya mengetahui bahwa secara psikologis, dia akan grogi membuat kue jika saya ada di rumah. Jadi saya lebih memilih untuk berada di kampus saat pembuatan kue:)

Mempekerjakan seorang asisten itu bukan berarti membuat orang yang membayarnya memiliki posisi lebih tinggi berlipat-lipat. saya melihatnya sebagai simbiosis mutualisme yang perlu dijaga dengan baik. Hal yang saya pelajari adalah bagaimana memanusiakan asisten saya. Bagaimana menegur jika ia salah, memuji jika benar, mengetahui apa yang ia suka, apa yang membuat ia akan menjadi suntuk dan tidak fokus. Dengan begitu, mudah-mudahan ia tidak merasa sedang bekerja setiap harinya. 

Jika dulu Silla bekerja di rumah saya 15 hari seminggu dengan gaji 400 rb, bulan ini, ia menerima gaji hampir dua kali lipatnya. Saya tidak akan lupa matanya yang berkaca-kaca saat gaji pertama saya serahkan ke tangannya. Pada saat itu saya tahu, bahwa saya tidak hanya memiliki asisten yang menyenangkan, tapi sekaligus saudara baru di rantau. Ia membereskan rumah saya seperti rumahnya, membuat kue seperti standar saya, bahkan memunculkan ide baru dan kadang memberi saya makan siang atau makanan apa saja yang ia buat di rumahnya.

JIka suatu hari nanti toko kami jadi besar, maka Silla adalah orang pertama yang akan menjadi pimpinan ketiga setelah saya dan patner saya. semoga begitu jadinya.. amin
I owe her much, so does my hesbronz factory



Minggu, 20 Oktober 2013

Mimpi Besar itu Bernama Hesbronz Factory

Selain menjadi wartawan, cita-cita yang sempat saya pendam itu adalah menjadi seorang koki alias juru masak. kecintaan saya terhadap dunia memasak sebesar kecintaan saya pada dunia menulis. Meskipun pada akhirnya tidak satupun dari memasak dan menulis menjadi karir, namun saya tetap sesekali menjadikannya sebagai pekerjaan yang menyenangkan.
Saya mulai belajar memasak sejak kelas tiga SD, itupun hanya dari hal-hal sederhana saja seperti memasak nasi dan menggoreng telur. Berikutnya saya dipaksa belajar untuk menggiling cabe. Sebagai orang minang, menu keseharian keluarga kami tidak lepas dari balado dan untuk menghasilkan balado yang enak, saya harus bisa menggiling sendiri cabenya. Pengalaman pertama menggiling cabe menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebelah tangan saya memegang es sementara sebelahnya memegang anak batu lado-istilah untuk batu yang lebih kecil. Walhasil, seharian tangan saya kepanasan.

Ketika duduk dibangku SMP, saya sudah bisa menggantikan mama untuk membuat lauk sederhana dan ketika SMA, saya sudah memegang kendali dapur untuk 40 orang teman saya di acara buka bersama, homestay hingga kemping. Dibangku kuliah, saya mulai mendapatkan uang dari kemampuan masak saya, dari terima katering harian kecil-kecilan, jualan lauk pauk di RS tempat mama saya dinas hingga menerima pesanan katering skala menengah untuk buka bersama hingga acara lamaran. Memasak bagi saya kemudian menjadi hal yang menakjubkan dan menyenangkan.

Meskipun memiliki frekuensi yang cukup tinggi dalam menerima pesanan makanan, tapi saya belum pernah begitu serius ingin memiliki bisnis atau usaha dibidang ini. Pun ketika setiap lebaran saya menerima cukup banyak pesanan kue, saya masih menganggapnya sebagai ladang usaha musiman semata.

Hingga suatu hari teman akrab saya berangkat umroh dan menyusul teman dekat saya satunya berangkat ke tanah suci. Umroh dan kue memang memiliki hubungan yang sangat jauh tapi umrohlah yang menjadi alasan mengapa saya akhirnya berpikir ulang tentang pemanfaatan kemampuan saya dalam memasak dan menjadikannya sesuatu yang bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain.

Intinya saya ingin berangkat umroh seperti halnya teman saya itu. Lebih jauh lagi, saya ingin berangkat umroh dengan kedua orang tua saya. Bapak dan ibu saya belum pernah menginjak tanah suci, namun beliau berdua sudah menabungkan uangnya sedikit demi sedikit di bank agar bisa berangkat haji beberapa tahun lagi. tapi saya tahu bahwa beliau ingin sekali pergi umroh sebelum kesempatan hajinya datang. Sayangnya, hingga diusia beliau berdua saat ini-60 dan 56 tahun, kesempatan itu belum datang juga . Ditambah lagi beberapa waktu yang lalu bapak saya mengalami kegagalan dalam usahanya dan ibu saya memasuki usia pensiun sementara kami masih memiliki dua orang adik yang masih sekolah. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadi alasan mengapa saya kemudian memulai untuk membuat usaha makanan dengan skala serius, naik beberapa tingkat dari sebelumnya; yang hanya menerima pesanan sesekali saja kapan saya bisa dan mau.

Dan sebuah mimpi besar bernama hesbronz factory dimulai dibulan Juni, melalui satu akun twitter @hesbronzfactory. Dari situ saya mulai belajar mengelola toko kue virtual saya.Dengan dukungan pesanan dari teman-teman dekat saya, yang memfoloow akun tersebut, me RT jika ada postingan produk dan me mention akun tersebut setelah membeli, membuat saya makin bersemangat. Setelah selesai membuat satu akun baru bernama @hesbronzfactory itu dibuat, hidup saya tidak lagi sama. Setelah kampus usai, saya kembali ke dapur. Perlahan tapi pasti, jam bersenang-senang dan ngumpul dengan teman-teman jauh berkurang. Saya harus menghemat lebih banyak energi.

Tapi saya tidak keberatan, beberapa teman akrab saya yang keberatan, mereka kehilangan saya sepertinya.
Setiap keputusan yang saya ambil pasti ada konsekuensinya

Sekarang hesbronzfactory sedang belajar merangkak. Saya menemukan asisten yang pas yang tinggalnya disebelah rumah dan alhamdulilah bisa dipercaya untuk mulai mengerjakan pesanan dan mendapatkan ahli marketing andal yang kemudian bergabung menjadi patner saya. Slow but sure, mimpi melihat orang-orang berlalu lalang di bandara dengan kantong bertulis hesbronz factory ditangan mereka mulai terasa dekat

Senin, 04 Maret 2013

Bisa Di Adu

Ditengah menjamurnya acara pencarian bakat untuk para penyanyi di TV, saya jatuh cinta pada acara The Voice Indonesia yang disiarkan di Indoesiar. Acara pencarian bakat ini mencari para penyanyi yang diseleksi melalui tahapan blind audition. Blind audition ini mempersilahkan para peserta untuk bernyanyi didepan juri yang duduk di kursi-kursi yang membelakangi mereka. Mengapa para jurinya tidak bisa melihat langsung si peserta menyanyi didepan mereka? Saya pikir karena manusia itu makhluk visual, yang lebih gampang terpengaruh pada apa yang dilihat mata daripada yang didengarkan telinga. Itulah yang selama ini terjadi pada acara-acara sejenis. Mereka yang terpilih seringkali karena dianggap menjual, meskipun suaranya malah tidak menjual sama sekali. Dengan adanya blind audition ini, para juri (sepertinya) diharapkan untuk benar-benar bisa menilai suara daripada tampilannya.

Hidup kadang-kadang aneh ya, begitu juga dengan orang-orang yang berada disekitar kita. Ah, saya benci sebenarnya jika harus menulis tentang ini. Tapi saya tidak pernah benar-benar merasa sekecewa ini dengan situasi saya saat ini. Jika diibaratkan, saya ini penyanyi yang sering ikut audisi acara pencarian bakat tapi berkali-kali juga ditolak karena dianggap tidak menjual. Bukankah yang perlu dari seorang penyanyi itu suaranya? kalo tampilannya kurang menjual, tinggal dipoles tho?.

Seperti mereka yang berusaha menunjukkan apa yang mereka miliki kepada orang-orang diluar sana, saya juga sudah berusaha membangun diri saya dengan sebaik-baiknya hanya agar saya bisa dinilai secara lengkap dan utuh, tidak sepotong-sepotong. Bahwa saya, dengan badan saya yang sebesar ini bukanlah orang tidak bisa mengerjakan apa-apa, bahwa saya dengan ukuran tubuh saya ini memiliki pekerjaan yang bagus, bahwa saya, bukan orang pemalas yang kerjanya hanya makan dan tidur saja sehingga kemudian hasilnya badan saya sebesar ini. Tapi sayang, saya lebih sering kecewa, mungkin karena saya berharap pada manusia, bukan pencipta manusia.

Sebenarnya bukan kali ini saja saya ditolak karena masalah fisik. terlalu sering malah. Tapi yang terjadi kali ini terasa jauh lebih menyakitkan bagi saya.Mungkin karena saya sudah bosan ditolak atau mungkin karena penolakan itu terjadi setelah semua proses berjalan cukup jauh dan semua orang yang terlibat didalamnya mengetahui siapa saya sedari awal. Saya tidak suka jika orang lain melebih-lebihkan cerita tentang saya, saya maunya mereka melihat saya sendiri dengan mata kepala mereka, berkenalan dan kemudian berinteraksi dengan saya, setelah itu, silahkan nilai saya, dengan objektif dan terbuka. Sayangnya, banyak orang yang mematikan kesempatan saya, bahkan sebelum saya sempat melangkah, seperti mereka-mereka yang bertarung di acara pencarian bakat di televisi, yang bahkan baru satu bait lagu saja dinyanyikan sudah dihentikan. Bisa saja suara khasnya akan terdengar pada saat refrain, tapi sayang kita tidak cukup sabar menantinya. 

Ah, Kadang saya cuma tak habis pikir, betapa mudahnya seseorang merendahkan orang lain hanya karena ia badannya besar, hanya karena kulitnya tidak putih padahal ia sendiri melihat langsung bagaimana mereka membangun hidup setiap hari.  Begitu mudahnya orang mematikan kesempatan orang lain hanya karena mereka tidak memiliki spesifikasi fisik seperti yang dimiliki oleh rata-rata orang. padahal ada banyak orang yang tidak tahu bahwa mereka selama ini menyembunyikan kedukaan mereka dibalik senyuman tipis saat kesempatan itu hilang, karena saat itu sebenarnya mereka kehilangan peluang untuk membuktikan bahwa apa yang orang-orang itu pikirkan tidaklah sepenuhnya benar. Bahkan jauh lebih sering salah.

Bilang saja saya terlalu sensitif dan saya akan bilang bahwa anda benar. Tapi cobalah sekali-sekali berjalan dengan memakai sepatu yang biasa kami pakai, laluilah jalanan yang biasa kami lewati, lihatlah kehidupan sebagaimana kami selama ini melihatnya dan rasakan juga bagaimana selama ini bagaimana orang-orang diluar sana memperlakukan kami. Dan setelah itu kalian akan tahu, bahwa semua kata-kata motivasi yang menyuruh kami untuk menegakkan dagu dan mengangkat kepala dan tidak mempedulikan omongan orang itu nol besar.

" Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri
Cintaku yang sejati

Namun tak kau lihat terkadang malaikat

Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya"


-malaikat juga tahu-Dee Lestari





Kamis, 28 Februari 2013

Merantau


Tujuh tahun yang lalu saya mulai pertualangan perdana saya menetap di negeri seberang, kota yang menjadi impian saya sejak lama. Bukan perjalanan pertama saya tapi menjadi pertama kalinya bagi saya memindahkan hidup  ke sebuah tempat sangat-sangat baru dan asing. Pertualangan perdana itu diberi nama merantau. 

Merantau bagi saya yang berdarah minang merupakan hal yang biasa. Provinsi tempat saya dilahirkan dan dibesarkan; Sumatera Barat- bukanlah provinsi kaya, begitupun kota Padang, tempat saya dan keluarga berdomisili hanya sebuah kota biasa yang kebetulan besar karena menjadi ibukota provinsi. Tidak ada minyak bumi yang ditambang disana, hanya pernah ada batubara, itupun bekas galiannya sudah dijadikan objek wisata. Tidak ada hasil alam dari perut bumi yang bisa menjadi magnet yang membuat banyak orang berleha-leha sepanjang hari. begitupun tidak banyak orang yang bertanam sawit atau karet, kalaupun ada, mungkin lebih banyak perusahaan minyak sawit yang memilikinya daripada orang per orang. maka ada banyak orang yang akhirnya memilih meninggalkan kampung halamannya; mungkin mereka bosan dengan cocok tanam, mungkin mereka bosan dengan ritme hidup yang begitu-begitu saja sehingga butuh tantangan baru dan memaksa mereka keluar dari rumah, dari kampung dan dari kawasan aman mereka.

Orang minang biasanya merantau untuk dua hal; mencari penghidupan yang lebih layak atau menuntut ilmu. mereka yang mencari penghidupan yang lebih layak kemudian akan menjelma menjadi pedagang kecil hingga saudagar; yang berjualan barang-barang seribu tiga hingga yang berjualan barang sejuta satu. mulai dari beras hingga yang menjadi nasi. Oleh karena itulah orang minang diluar sana dianggap sangat jeli melihat peluang; hanya dengan melihat perempatan dan tanah kosong saja, mereka sudah bisa menebak seberapa potensial kawasan itu jika dijadikan rumah makan atau lapak untuk berjualan. Mereka yang menuntut ilmu, biasanya mendatangi kota-kota pelajar utama di pulau jawa, Memulai impian ketika kendaraan yang mengakut mereka mulai berjalan menuju kota tujuan. Berharap menjadi penerus cendikiawan-cendikiawan minang yang tersohor atau setidaknya pulang menjadi alim ulam dan cadiak pandai tampek batanyo. 
Sedangkan saya, menjadi perantauan dengan tujuan kedua dan dengan syarat dan ketentuan tertentu kadang berubah menjadi perantauan dengan tujuan pertama :) Jika Dompet masih tebal, saya akan fokus jadi perantauan yang menuntut ilmu, jika dompet mulai menipis, maka saya bisa berjualan apa saja :)

Merantau sebenarnya tidak menjanjikan hal-hal yang melulu manis, ia bahkan lebih banyak menyodorkan kepahitan. Di rantau, ada banyak makanan yang tidak biasa di lidah, sedangkan makanan dari daerah asal harganya menipiskan kantongs. Ada banyak orang yang kita tidak mengerti bahasanya, yang membuat kita sulit tertawa ketika mereka tertawa didekat kita karena takut kitalah yang menjadi objek tertawaan. Ada masa ketika uang menipis sementara tanggal muda masih lama, ada masa ketika kita sakit dan tidak ada yang merawat dan lainnya. tapi pahitnya merantau itulah yang sebenarnya yang mengajarkan bahwa sebenarnya kita terlalu sering melewatkan hal-hal manis dalam hidup kita masing-masing karena terlalu mudah didapat. Ya, sebut saja makanan yang sehari-hari dihiudangkan oleh ibu di rumah, yang seringkali terlihat membosankan sehingga jajanan biasa diluar sana terlihat seribu kali lebih menarik

Selain mengajarkan banyak hal seperti yang saya sebutkan diatas, merantau bagi saya benar-benar pintu yang mempertemukan saya dengan banyak orang orang baru yang mengisi hidup saya pengganti kerabat dan teman yang saya tinggalkan di daerah lama. Meskipun tidak ada yang benar-benar persis seperti mereka, tapi merantau membuat saya memiliki banyak orang tua baru; almarhum pakde dan bude penjaga kosan tempat saya tinggal, ibu yoshua langganan pijit saya, orang tua dari teman-teman kos saya, bapak endro-supir di kantor saya yang lama, dosen pembimbing saya hingga bapak-bapak dan ibu-ibu yang tinggal di gang yang sama dengan tempat saya tinggal. Beliau-beliau itulah yang mengobati kerinduan saya akan mama dan papa saat saya jauh dari rumah. Begitupun saya bagi mereka kadang menjadi pengganti bagi anak-anak mereka yang sudah keluar dari rumah. Di rantau juga saya menemukan saudara-saudara baru, yang kemudian menjadi tak kalah dekat, bahkan jauh lebih dekat daripada saudara saya sendiri; kakak kos saya kak deni, teman milis mb yuni, mas ardian, mb dian, teman-teman kantor yang usianya diatas saya atau adik-adik kos yang menjadikan saya sebagai kakak mereka. Dan yang paling banyak yang saya dapatkan dari merantau adalah teman-teman baru. Meskipun teknologi berkembang sangat pesat, tapi saya pikir, tanpa merantau saya tidak akan pernah terhubung dengan mereka yang hingga hari ini menjadi teman-teman baik saya. Karena kami keluar dari rumah kami masing-masinglah maka kami saling bertemu,bertegur sapa hingga kemudian menjadi kawan. 

Empat tahun kemudian saya kembali memindahkan hidup saya ke tempat baru, kali ini lebih dekat ke rumah. Kota perantauan saya yang pertama sebenarnya terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan, tetapi saya tidak akan mendapatkan banyak hal dan kesempatan baru dalam karir saya jika tetap bersikeras tinggal disana. Untuk pekerjaan yang saya pilih, saya hanya akan menjadi ikan kecil di kolam yang besar, hampir tak terlihat. kota tujuan merantau saya yang baru tidak semenyenangkan kota sebelumnya bagi saya. proses adaptasinya cukup berat karena saya berhadapana dengan ritem, pola dan pemikiran yang bertolak belakang dengan kota sebelumnya. beberapa waktu diawal merantau, saya kesepian, merasa tidak ada orang-orang yang saya inginkan berada disekitar saya. Kehidupan saya kembali monoton, tidak sama seperti di kota yang lama yang penuh dengan aktivitas dan pertemanan. 

Hingga suatu ajakan menjelalah objek wisata di provinsi ini muncul di facebook saya hampir dua tahun yang lalu. Saya berpikir, mungkin inilah saatnya saya mencari teman-teman baru, kerabat-kerabat baru pengganti mereka yang saya tinggalkan disana. Pagi itu, ketika pintu mobil yang berhenti di depan kontrakan saya dibuka, saat itulah saya tahu, bahwa saya menemukan teman baru, kerabat baru dalam perantauan baru saya. Perjalanan pertama saya di daerah baru benar-benar membuktikan bahwa teman dan kerabat itu ada dimana-mana, sepanjang kita juga tidak berdiam diri menunggu saja. Tak masalah siapa yang menyodorkan tangan terlebih dahulu untuk memulai berkenalan, tak masalah siapa yang akan menyambutnya. kadang mungkin kita harus memulainya terlebih dahulu, kadang orang lain. Yang penting adalah setelahnya, setelah jabat tangan usai, setelah nama disebutkan, jika setelahnya senyum terkembang, maka ia atau mereka mungkin orang baru yang akan menjadi teman dan kerabat baru kita.


perjalanan pertama- Siak 140511 dan teman baru berikutnya dalam hidup saya; Romel(baju merah-abu2) , Atiek dan Arka (baju hitam)


Pada akhirnya, meskipun saya masih harus terus beradaptasi, meskipun teman datang dan pergi, tapi merantau adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya, keputusan terbaik yang merubah cara saya memandang banyak hal. Ia memberikan saya kesempatan untuk menikmati hal-hal baru, berkenalan dengan hal-hal baru atau bahkan belajar menyukai hal-hal, tempat-tempat, makanan serta karakter orang yang tadinya tidak saya sukai

“Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah, kan kau dapatkan pengganti kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang"

- Syair Imaam Syafi’i tentang Merantau


Yang udah berkunjung ke sini ..