Senin, 26 Mei 2014

Tentang Cara

Terus terang saya suka bingung jika berhadapan dan berbicara tentang bagaimana cara seseorang melakukan sesuatu atau cara seseorang memperlakukan orang lain. Selama hampir empat tahun berada di kota Pekanbaru dan bertemu orang-orang baru, saya tak pernah berhenti berdecak dan manggut-manggut, antara kagum dan heran dengan dua hal diatas. Tapi bukan berarti semua hal tentang kota ini buruk. Ada sisi baik yang juga saya temukan satu persatu. lagipula saya tidak ingin berbicara tentang love hate relationship saya dengan kota ini.:)

Kembali soal kebingungan dengan CARA. Saya jujur saja suka bingung kalo berada dibelakang sebuah mobil bagus nan mentereng yang tiba-tiba jendelanya terbuka dan ada tangan yg menjulur keluar membuang sampah.. Duh!. satu buah sampah yg dipegang tidak akan membuat mobil bagusnya jadi mendadak jelek kan ya? lagipula, masa siy mobil sebagus itu ga punya tong sampah?

Masalah mobil bagus yang tidak punya tong sampah atau mungkin tepatnya ga punya keinginan untuk membuang sampah pada tempatnya hanyalah salah satu hal yang membuat saya geleng-geleng kepala di sepanjang jalan raya kota ini. Hal lainnya? banyak. Contohnya adalah cara orang-orang menggunakan lampu sign kendaraannya. Belok kemana pasang lampu sign kemana, bahkan pasang lampu sign tapi ga belok-belok dan sebaliknya. Alhasil, saya pernah kehilangan gigi depan gara-gara lampu sign yang tak berujung.

Saya juga suka bingung dengan cara banyak orang mencocokkan acara dengan kostum yang mereka kenakan. tiga tahun lalu, saya pernah nonton konser soundrenalin di lapangan luas banget. Yang datang sama pasangannya pada pake gaun dan sepatunya kalo bukan wedges ya high heels. Hello?  jarak dari parkirannya ke venuenya hampir 1 km lo..dan acaranya sampai lewat tengah malam.  Ya gapapa siy  tampil begitu biar cantik, asal pas pulangnya ga pake kedinginan karena acara baru selesai tengah malam dan ga merengek-rengek dengan muka cemberut karena harus menenteng sepatu dan ga mungkin digendong pacar.

Kadang banyak orang merasa dengan tampil beda akan membuat mereka terlihat sangat menonjol diantara banyak orang. Iya siy..Kadang-kadang aja tapinya. Seringnya malah engga tuh. 
Lha kebayang ga siy kalau kita kebanyakan sinar tidak akan membuat kita langsung berkilau, seringnya malah membuat orang silau. Makanya perhiasan emas dibungkus di kotak bludru polos bukan di kotak yang berkilauan juga. karena perhiasan berkilau membutuhkan latar yang gelap untuk membuatnya outstanding. 

Begitu juga hakikatnya dengan manusia

Ada banyak cara yang bisa kita pilih untuk berkilau; baik secara fisik ataupun secara kepribadian. Kalo soal fisik ga usah bingunglah. Ada banyak produk kecantikan dan salon yang bisa menyulap segala kekurangan kita menjadi tidak tampak dalam sekejap mata. Yang penting siy punya duit aja untuk membayarnya..

Bagaimana dengan personality? 
Seorang teman baik pernah bilang: 
"If you are good enough, You don't need to find the spotlight..the spotlight will find you".
Kadang kita, termasuk saya terlalu berusaha siy ya untuk "terlihat". padahal aslinya, jika memang pantas disorot, bahkan tanpa perlu ngapa-ngapain kita pasti akan tetap terlihat. Hanya saja, banyak sekali diantara kita, termasuk saya yang berusaha banget untuk mengesankan orang lain; entah itu dengan benda ataupun dengan kata-kata. Padahal lagi, seringkali orang yg ingin dibuat terkesan itu bahkan tidak mengetahui bahwa kita ada.



Lagi-lagi kita harus kembali pada persoalan cara. Ada banyak cara untuk membuat diri kita berkilau dan terlihat, namun sesungguhnya ada lebih banyak cara untuk menikmati hidup daripada sibuk berpusing-pusing hanya untuk sekedar memikirkan cara-cara diatas:)

Rabu, 14 Mei 2014

Being Rich or Feeling Rich??

quotesloveandlife.com/wp-content/uploads/2012/03/money-quotes-if-you-want-to-feel-rich.png

Dua malam yang lalu, dalam pembicaraan panjang dengan Vetra, teman baik saya, saya baru benar-benar merasakan bahwa pekerjaan tertentu akan diasosiasikan dengan besaran gaji tertentu dan besarnya gaji tersebut, selain berbanding lurus dengan pengeluaran juga mempengaruhi cara pandang kita harga dan nilai dari suatu barang. Bekerja sebagai dosen, membuat banyak orang berpikir bahwa saya memiliki gaji yang besar karena untuk bisa menjadi dosen, seseorang harus menamatkan sekolah minimum di level magister. Analoginya, biaya yang dikeluarkan untuk sekolah hingga ke menjadi seorang master tidak sedikit sehingga mereka yang bekerja dengan persyaratan pendidikan yang tinggi seharusnya dibayar tinggi juga. Analoginya siy tidak salah, tapi tidak benar juga kalau kasusnya di negara ini.

Gaji pokok untuk PNS golongan 3b seperti saya hanya berada di range 2-3 juta dan dengan berbagai tunjangan mentok di range 3-4 jt:). Kaget? ya begitulah. Kebanyakan orang berpikir bahwa gaji PNS itu akan sama di semua departemen dan daerah. Jadi kalau orang lain taunya gaji PNS dari kementrian keuangan itu segitu besar, maka mereka akan berpikir bahwa semua PNS gajinya segitu, apalagi setelah adanya kebijakan remunerasi diberbagai departemen. Dan bahkan teman baik saya itu baru tahu kemaren kalau ternyata gaji temannya yang dosen pns di kampus negeri Pekanbaru ini sangat jauh dari yang ia duga. Dan ia tidak bisa menutupi keterkejutannya. Saya pikir tadinya ia tau range gaji saja dan sebaliknya, ia berpikir bahwa range gaji saya seperti yang ia pikirkan selama ini. Ya kurang lebihnya setara dengan penghasilannya para pegawai pajak:). Itupun juga tidak sengaja saat kami berbincang tentang opsi pekerjaan sebagai dosen untuk adiknya yang baru lulus.

Ia makin shock, tepatnya ga enakan karena baru saja membahas keinginannya untuk nonton jazz gunung di wiken ini untuk yang kedua kalinya. Eventnya siy keren bangetlah yang ga keren itu harga paket nontonnya yang lebih dari 1 juta. Jumlah yang sangat tidak santai bagi saya, terutama untuk hal yang sudah pernah dilakukan. Sesekali kita perlu untuk tidak memikirkan besaran nilai uang yang dihabiskan untuk suatu keinginan atau petualangan. saya dan Atiek, teman saya yang lain tidak akan protes dengan jumlah uang yang kami keluarkan untuk membeli pengalaman akan makanan, tempat istirahat yang nyaman ketika bepergian atau alat-alat dapur dan sebaliknya akan sangat perhitungan untuk barang-barang yang bersifat fancy, dan hanya memutuskan untuk membeli barang tersebut kalau ada diskon yang signifikan. Hal yang sama juga sering berlaku untuk barang-barang lainnya dan berharap bisa dapat tiket ke daerah-daerah yang ingin saya kunjungi dengan harga promo. Sesederhana itu saja bagi saya sebenarnya. Lagipula, secara ekonomi, hal yang berulang itu kepuasannya akan menurun sementara biaya yang akan kita keluarkan tetap. Gara-gara pembicaraan soal gaji tersebut, vetra jadi berkali-kali minta maaf atas ketidaksopanan dan kesombongannya bicara tentang banyak hal yang punya nilai uang dan saya bolak balik bilang bahwa saya tidak apa-apa karena saya tahu bahwa dia tidak tahu dan dia tidak punya maksud untuk pamer dan sombong, setidaknya untuk saya. Coz, we've been friends for years..and a friend doesnt always need to explain everything

Bukan masalah bahwa Vetra adalah teman baik saya yang membuat saya merasa bahwa ia perlu dimaafkan atas sikap tapi karena memang tidak ada yang perlu dipermasalahkan untuk itu. Saya sudah menemaninya jatuh bangun mendapatkan pekerjaan hingga hari ini ia berada di posisi bagus di perusahaan yang bagus pula. Saya tahu bahwa yang ia punya adalah apa yang pantas ia dapatkan. Perbedaan jumlah gaji yang diterima oleh tiap pekerjaan tentu juga disebabkan oleh beban dari masing-masing pekerjaan tersebut. Pekerjaannya mengurusi keberadaan mobil tangki dan kapal tanker diseluruh Indonesia setiap saat bahkan hari libur sekalipun dengan ritme dan beban yang berat mestilah berbayar mahal. Sedangkan pekerjaan saya ini, meski ada tumpukan kerja akhir semester, penelitian yang menunggu dan pengabdian masyarakat yang harus dilakukan diantara urusan kampus yang tak kenal waktu, saya masih bisa mengatur jam kerjanya sedemikian rupa, bisa pulang dan bobok-bobok ciang dulu kalo ada jeda antar kelas, bisa menunda dan mengganti kelas kalau ada halangan:). Dan yang paling penting adalah dia tidak pernah merendahkan saya karena uang meskipun ada banyak orang yang suka merendahkan orang lain hanya karena mereka tidak memiliki sesuatu yang material dan semoga selalu begitu.

Namun, saya tidak pernah memungkiri bahwa sayapun seringkali tidak bisa menutupi kecemburuan saya terhadap apa yang bisa ia miliki yang juga ingin saya miliki. Begitupun hal-hal bersifat material lain yang bisa didapatkan orang lain dengan mudah. Saya juga suka mengeluhkan melihat banyak orang dengan gampangnya memperoleh barang-barang yang ia inginkan meskipun tidak selalu ia butuhkan sementara ketika kehilangan barang-barang penting saya kemaren, saya harus pontang panting mencari uang dan pinjaman untuk mendapatkannya lagi.Dan jika itu terjadi, maka saya akan sibuk beradai-andai kalau saja saya terlahir dari keluarga kaya, atau pekerjaan dengan gaji besar atau minimal punya pasangan kaya sehingga saya tidak perlu susah memikirkan kebutuhan saya.

Tapi apa iya ukuran kaya selalu pada jumlah uang yang kita punya disaku, di dompet atau bahkan di rekening bank? Atau apa iya gadget yang kita pakai, kendaraan yang kita punya dan barang yang melekat di tubuh ini merepresentasikan itu semua?

Pada Vetra saya berbicara bahwa saya memang tidak memiliki banyak uang tapi hidup saya tidak mengenaskan. Saya masih bisa bepergiaan seperti dirinya meskipun dengan berbagai keberuntungan, seperti paper yang diterima dan dipresentasikan di sebuah kota baru, atau dapat tiket promo atau malah dibayari penuh oleh orang lain. Sayapun tidak punya aset tidak bergerak yang membanggakan berupa rumah, kendaraan, investasi yang nilainya mencengangkan, setelah tiga tahun bekerja, saya hanya punya kaplingan tanah cicilan yang lokasinya somewhere over the rainbow, motor second yang kemudian hilang pula, kebutuhan ngajar yang juga dicicil dan kemudian hilang juga, ac second di kamar untuk kota yang Pekanbaru yang panas ini. But I do I really dont mind of that. Bagi saya kekayaan tak bergerak saya juga banyak, berupa pengalaman yang saya dapat dari perjalanan-perjalanan yang menguras isi tabungan dan memperkaya hati. Jika ini soal kekayaan dengan yang harus dikonversikan dengan nilai uang, saya pikir saya masih cukup kaya Tapi ukuran kaya saya kali ini adalah saya sudah bisa membayar orang lain untuk bekerja dengan saya. Setiap menyerahkan gaji pada Silla, assiten saya diawal bulan, saat itulah saya merasa bahwa uang saya yang tak seberapa itu bisa memperbaiki kehidupan satu keluarga lain; Silla, suami dan anaknya.

Well, People say that Money can buy you a clothes not a style, A bed not a sleep..and etc
Tapi ada juga yang bilang bahwa orang-orang yang suka berkata bahwa money cant everything biasanya memang tidak punya banyak uang.

So, which one are you?

Rabu, 30 April 2014

Kibot and Many Happy Faces


Itu tweet saya dua hari yang lalu. Sudah beberapa hari sebelumnya saya merasa agak drop. sesudahnya saya langsung mendapatkan balasan ini : 

Apr 28 jaga kesehatanmu ya mbak hes..jangan capek-capek *peluk*"

dan ada beberapa twit berbalas-balasanyang kemudian terjadi antara saya dan kibot, mulai dari konser Kahitna di malam sebelumnya yang membuat saya kangen mantan hingga soal jodoh dan soulmate. bales-balesan twit malam itu di akhiri dengan ini :


duh bot, apalah jadinya aku kalo malam ini ga dihibur kamu? thanks a lot ya buddy *kecup*

hahahahah yaampun mbak hes..thats what brother are for :) *peluk*"
many happiness in return ya bot..as you always make me and many people happy:)"

thank you mbak hes..you too mbak semoga kebahagiaan slalu sama-sama kamu yaaaa :)"

Aslinya saya tidak kenal Kibot. kami hanya pernah berada di satu area yang sama di salatiga selama tiga hari. Namun selama tiga hari itupun, saya belum pernah sekalipun berjabatan tangan dengannya. Jabat tangan kami malah terjadi lewat twitter setelah acara tiga hari itu usai. Itupun gara-gara balas-balasan twit yang ga usai sehari semalam antara saya, yani dan tari yang tak lain adalah teman kibot di Bekasi. 

Dunia pertemanan itu lucu ya. Kadang kita tak pernah bertemu langsung dengan orangnya tapi merasa amat dekat dan sebaliknya orang yang dekat secara posisi dekat dengan kita belum tentu sedekat itu hatinya. Saya patut berterima kasih pada penemu jaringan pertemanan virtual yang diciptakan lewat teknologi. Mereka telah mampu menjembatani berbagai hal yang terpisahkan oleh jarak dan waktu; mulai dari pekerjaan, pertemanan hingga hubungan setingkat perjodohan. Kehadiran banyak aku yang memungkinkan kita berinteraksi dengan banyak orang seperti twitter telah mampu menghadirkan banyak orang disekitar disekeliling kita tanpa harus berpindah tempat. Kita bisa ngobrol lewat barisan kata yang diketikkan, bahkan bisa memeluk dan mencium seseorang hanya dengan sederet kaliamt yang diberi ikon bintang.Untuk orang yang masih hidup sendiri seperti saya, mendapatkan sapaan, pujian ataupun semangat dari orang lain merupakan hal yang menyenangkan. Meski sendiri di kamar, saya selalu merasa seperti sedang berbincang dengan banyak orang. meskipun hanya virtual dan sapaannya hanya berupa tulisan..

Namun tentu saja masih ada hal yang tidak selalu mampu dihadirkan utuh oleh teknologi. Biasanya hal ini berhubungan dengan kontak hati. Meskipun juga ada banyak gerakan yang melibatkan hati dipermudah oleh teknologi, seperti penggalangan dana kemanusiaan dan lain-lainnya yang begitu mudah digerakkan didunia maya, tapi tetap saja untuk bisa dekat dengan seseorang, kita perlu koneksi hati. Tidak semua orang akan mengerti maksud sebuah tulisan yang tidak bernada sehingga hanya sedikit diantaranya yang kemudian akan tersentuh. Dan orang yang memiliki kemampuan untuk menyentuh hati orang lain meski hanya lewat beberapa baris kalimat itu seperti secara istimewa dikirimkan Tuhan ke Bumi. Ia dihadirkan untuk membuat orang lain selalu tersenyum, mengurai dan mengobati luka dengan cara yang teramat halus sehingga tidakada sakit yang terasa. Ia hadir mengusir sepi sehingga dengannya dunia menjadi penuh warna dan ceria, meskipun saat yang bersamaan hatinya juga sedang dirundung luka dan sepi.
Dan Kibot adalah satu diantaranya. Dalam beberapa waktu saya mengenal dia, tidak terhitung berapa kali ia menguraikan senyum di wajah saja. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa setiap kali kami mengobrol ditwitter, maka setiap kali itu pula ia memenuhi rongga hati saya dengan rasa bahagia lewat senyum, tawa lepas dan sesekali hal yang mengharukan. 

Saya dan Kibot terpisah pulau, tapi kami tidak terpisah jauh sebenarnya. Jarak tidak begitu berarti ketika ada yang menemani kita melewati hari paling berat sekalipun..Dan saya merasa beruntung.. Menjadi salah satu diantara orang yang selalu ia hibur hatinya, meski hanya dengan satu dua kalimat pendek..seperti 
"that's what brother are for mb hes.."

Dear Kibot, 
Thank U for creating smile in my face many times..like you always do in many people face
may it return to u in many ways:)
love you buddy..

Hesty

Minggu, 27 April 2014

Tentang Ambisi dan Target Hidup


Mengenal beberapa orang baru membuat saya semakin mengenal diri saya sendiri. Tapi ini tidak berlaku untuk semua hal kok, hanya beberapa, terutama terkait cara saya menikmati hidup.

Teman-teman terdekat saya seringkali gemes melihat cara saya menjalani sesuatu yang seringkali tanpa perencanaan dan target. Saya memang tipikal let it flow or enjoying thing as it is atau bahasa kerennya mengalir saja. Dan setelah saya amat-amati, dari banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, rata-rata terjadi tanpa diperkirakan dan direncanakan sebelumnya meskipun beberapa diantaranya pernah masuk dalam daftar keinginan saya. Satu-satunya mapping yg pernah saya buat tentang sebuah keinginan hanyalah dream map di kelas tiga pijar waktu LLD 2014 Akber kemaren. Selain tanpa rencana, saya suka bingung kalo ditanyain akan menjadi apa saya 5 atau 10 tahun dari sekarang. Saya juga suka bingung kalo ditanyain target hidup saya apa. Seringkali saya akan menjawab dengan jawaban yang terlalu luas, seperti menjadi istri yang baik, atau dosen yang baik dan sejenisnya tanpa ambisi dan target. Semua dibuat semampu saya saja atau mungkin tepatnya, sejauh mana saya ingin membuktikan kemampuan saya.
Sepertinya saya memang tidak dikaruniai dengan kelebihan bernama ambisi yang bisa menuntun saya menjalankan sesuatu dengan target-target yang jelas. Hanya beberapa hal tertentu saja yang saya lakukan dengan penuh perencanaan, sisanya saya lebih suka bermain wait and the see.what will be happened. Jikapun direncanakan dengan baik, maka saya pastikan hanya beberapa yang sesuai dengan perencanaan awal, sisanya ya tergantung kemana hidup akan membawa rencana itu. Dan seringkali saya tidak berhasil memaksa diri saya untuk memperbaiki rencana yang sudah jauh menyimpang itu. Alih alih menariknya kembali ke jalur semula, saya lebih memilih untuk menunggu kejutan apa yang menanti dibalik rencana itu. Lebih lucu lagi, melihat sifat saya yang lempeng ini, banyak orang yang kemudian malah menjadikan saya objek dari ambisi dan obsesi mereka. Mulai dari ambisi orang tua yang ingin melihat anaknya kurus hingga ambisi untuk memberntuk karakter tertentu karena melihat potensi yang saya punya. Tapi ya lagi-lagi saya mesti bilang, hanya sebagian yang berhasil, lebih sering siy gagal :).

Bukan hal yang bagus sebenarnya. Orang bilang hidup tanpa ambisi itu ibarat burung tanpa sayap, yang akan membatasi jelajah kita kata sebagian orang. Selain itu, ambisi akan menjadi jejak penentu kesuksesan seseorang karena orang yang menjalani hidupnya dengan ambisi akan mampu mencapai apa yang tidak dicapai oleh banyak orang. Hanya saja banyak orang yang salah kaprah menggunakan kata ambisi ini. Sebagian orang menggunakan kata-kata ini untuk membuat dirinya terlihat dan menutupi kesempatan orang lain. Sebagian menghalalkan segala cara agar apa yang ia inginkan tercapai meskipun pada saat bersamaan juga akan melukai orang lain. Jika ini menyangkut ambisi bersama, banyak orang yang kemudian menjadikannya sampul bagi ambisi pribadi yang kebetulan melibatkan orang lain untuk mencapainya. It's ok actually, siapa tau malah bisa menjadi pencapaian bersama, sayangnya banyak yang suka lupa bertanya dan menyamakan langkah terlebih dahulu agar kecepatan kaki menjadi sama ketika berjalan dan melupakan jasa orang lain ketika ia tercapai. 

Meskipun bukan hal yang benar-benar bagus, tapi menjadi orang yang hidupnya mengalir seperti saya tidak sepenuhnya buruk.  Setidaknya saya lebih mudah menerima kegagalan dan jarang berhubungan dengan stress jika tidak berhasil mencapai sesuatu. Saya malah akan stress jika dipaksa untuk mengikuti keinginan dan ambisi orang lain meski itu sukses. Soal pekerjaan misalnya, saya sudah mengikuti 7 kali tes pegawai negri dari berbagai departemen sebelum lulus di tes terakhir dan menjadi dosen. Dua tes diantaranya saya ikuti berturut-beturut dan masih saja tidak lulus. Sedih siy pastinya tapi ya paling cuma perlu sehari dua hari saja untuk meratap:), setelahnya saya malah jadi bisa belajar apa saja yang perlu dipersiapkan kalo mau tes lagi. Nothing to loose does work on me in proper way, dalam pengertian always do my best and let God do the rest. Waktu ditinggal menikah oleh pacar yang sudah 3 tahun membina hubungan, saya memang patah hati setengah mati. Waktu yg saya butuhkan untuk sembuh juga tidak bisa dibilang sebentar, hampir 1/2 masa pacaran kami. Tapi alhamdulillah saya tidak sampai dirawat di rumah sakit karena mogok makan. Padahal lumayan bangetlah kalo bisa mogok makan, setidaknya saya jadi lebih kurus. tapi ternyata engga tuh, sampe hari ini saya masih tetap saja besar:)

Mungkin inilah yang dimaksud dengan keseimbangan hidup, bahwa Tuhan menciptakan kita beserta karakter yang kita bawa untuk membuat perpaduan yang sempurna untuk melengkapi kehidupan banyak orang dan sebaliknya. Bahwa orang yang ambisius disekitar saya mengajarkan saya bahwa ada banyak hal penting dalam hidup perlu dikejar dan sebagian (atau mungkin semua?) membutuhkan perencanaan. Jika orang lain akan punya back up plan, maka saya mungkin akan menyarankan no back up plan or get lost untuk setiap rencana yang gagal..Karena orang yang lempeng dan mengalir seperti saya juga sebenarnya memberikan banyak pelajaran, bahwa apapun bisa terjadi pada hal yang kita rencanakan dan mungkin itu artinya kita hanya perlu menikmati saja semua yang terjadi. :)




Rabu, 23 April 2014

A Sibling's Journey Wish

Dear Mbok Venus,

Jika ada pertanyaan kuis yang berhadiah jalan-jalan bersama satu orang sahabat ke suatu tempat saya pasti bingung memilihnya. Saya punya beberapa sahabat dekat yang semuanya memberikan kontribusi penting dalam kehidupan saya, mulai dari jaman putih abu-abu hingga sekarang mereka sudah punya anak dua atau satu. Dulu, saya dan sahabat-sahabat saya di Asrama putri 70 selalu berandai-andai bahwa suatu hari nanti kami akan melakukan perjalanan seperti yang dilakukan oleh Carrie, Samantha, Charlotte dan Miranda dalam Sex and The City. Memiliki banyak teman perempuan sebaya disekeliling untuk tetap tertawa dan bahagia ketika umur semakin menua merupakan berkah yang luar biasa. Namun ternyata tetap sulit untuk mewujudkan perjalanan bersama mengingat dua diantaranya sudah menikah dan punya anak dan yang lainnya meski masih lajang tapi jam terbang amat padat. Jadi yaa, boro-boro ke Dubai,  untuk napak tilas kembali ke Jogja bersama-sama saja terlihat amat mustahil. 

Tadinya saya berharap boleh memilih lebih dari satu orang untuk diajak ke Resort World Sentosa jika memenangkan kuis ini, karena jujur Mbok, saya punya tiga kandidat yang kesemuanya punya peranan sangat penting dalam hidup saya hari ini, melebihi sekedar teman baik. Mereka selalu ada setiap fase kehidupan yang saya alami, mulai dari yang paling manis hingga paling pahit sekalipun. Tidak terhitung banyaknya kebaikan yang pernah saya terima dari mereka sehingga saya pikir inilah kesempatan untuk membalasnya. 

Hidup benar-benar soal pilihan ya Mbok, dan memilih satu diantara mereka bukan hal yang mudah bagi saya. Saya semakin bingung mau menulis apa di blog ini agar bisa mendapatkan kesempatan ini hingga dua hari yang lalu saya menerima pesan dari adik saya di Depok yang mengabari bahwa ia baru saja mendapatkan beasiswa dari ikatan alumni dari tempatnya kuliah saat ini. Saya sangat bahagia mbok, mengingat bahwa kami sekeluarga baru saja melewati masa sulit. Saya membalas pesannya dan menulis bahwa ia bisa bepergian ke satu tempat yang diinginkan selama masa kuliahnya dengan menabung dari uang beasiswa itu, syukur-syukur bisa mengajak saya:).  

Pesan singkat dari adik saya malam itu mengingatkan saya pada tweet Mbok dua tahun yg lalu tentang siapa yang terakhir kali menjadi teman perjalanan saya dan kemana tujuan kami. Saya membalas tweet itudan menjawab bahwa saya bersama adik saya itu sedang bertualang di Jakarta sambil menunggu jadwal pendafatran ulangnya sebagai mahasiswa baru di kampus UI Depok keluar. Waktu twit saya dibalas dan diritwit oleh mbok, saya kegirangan. Norak ya? biarin ah. twet yang direply atau di ritwit oleh selebtwit pada masa itu adalah prestasi mbok.  

my next journey;s mate

Tapi bukan twitmu Mbok yang ingin saya bahas tapi isi cerita dan teman perjalanan saya kala itu. Perjalanan keliling Jakarta waktu itu merupakan perjalanan pertama kami berdua sekaligus perjalanan pertama bersama saudara tanpa orang tua yang pernah dilakukan dilakukan dikeluarga kami Mbok. Soalnya kami berlima bersaudara nyaris tidak pernah bepergian bersama dan lebih sering memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu dan perjalanan bersama teman-teman kami selama ini.

Sebenarnya perjalanan kami di Jakarta tidak heboh kok Mbok, hanya turun naik komuter line saja untuk mengetahui beberapa jalur dan tempat penting di Jakarta. Sisanya kami dengan noraknya keluar masuk supermarket lucu membeli salad yang buah dan sayurannya belum pernah kami temui sebelumnya, mengunjungi pasar, mencoba makanan-makanan baru dan sisanya membeli kebutuhan kuliahnya. Tapi ternyata perjalanan tersebut menjadi salah satu perjalanan paling menyenangkan yang pernah saya punya. Tidak menyangka bahwa adik kecil saya yang keras kepala itu bisa menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Mungkin karena kami hanya pergi berdua dan saat itu ia dan saya harus bekerja sama memutuskan banyak hal tentang masa depannya. Selain itu Mbok, perjalanan itu juga membuat kami lebih sering berbicara satu sama lain seperti teman dan kakak adik. Moment yang sering kami lewatkan saat berada di rumah karena masing-masing kami sibuk dengan gadget dan dunia kami masing-masing.

Setelah perjalanan sederhana itu, hampir disetiap musim maskapai pesawat melakukan promo tiket, ia selalu sibuk mengirimkan informasi harga tiket pesawat dari Pekanbaru ke Jakarta dan sibuk bertanya kapan saya akan ke Jakarta. Sesekali ia juga bertanya dan mengajak saya untuk bisa pergi liburan bareng saya kemana saja di Indonesia. Sejak saat itu, saya berniat dalam hati untuk mengusahakan minimal satu kali dalam setahun mengunjunginya ke Depok hanya untuk menikmati our time as siblings yang mungkin luput kami nikmati dulu semasa kami tinggal serumah

Dear Mbok Venus, 
Saya mungkin masih bisa menyusun jadwal untuk mengunjungi teman-teman terbaik saya atau membuatkan janji dan bersama-sama menabung untuk bisa menjelmakan impian kami untuk melakukan perjalanan ala Sex And The City atau ala Arisan 2 anytime I want. Tapi kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu bersama saudara sendiri jauh lebih susah diwujudkan. Selain jarak Pekanbaru dan Depok yang cukup jauh, jadwal libur kampusnya dan jadwal libur kampus saya tidak pernah sama. Hanya ketika lebaranlah waktu kami bersama menjadi cukup panjang, itupun akan diselingi dengan urusan pribadi masing-masing

Orang yang akan saya ajak tentunya adik saya itu Mbok. Namanya Nahlia dan ia biasa dipanggil Ade. Tahun ini umurnya 20 tahun dan saya 32 tahun. ia mahasiswi semester 4 di FH UI. Beasiswa yang ia raih itu Mbok, merupakan pembuktiannya kepada saya dan kakak-kakaknya yang lain bahwa ia bertanggungjawab terhadap pilihan kuliahnya meskipun bukan pilihan utamanya. Saya tidak terlalu pandai mengatakan perasaan saya kepada saudara-saudara saya dan kami memang tidak terlalu biasa melakukannya. Kami 5 beradik dari keluarga minang yang tidak terbiasa mengatakan rindu, sayang dan kebanggaan kami pada satu sama lain secara langsung. saya memilih untuk mengatakan lewat tulisan di blog saya yang seringkali mereka tidak baca. maka  kesempatan untuk melakukan perjalanan dan menikmati hidup di Resort World Sentosa ini merupakan cara saya untuk mengatakan kepadanya bahwa saya bangga dengan semua kerja keras yang telah ia lakukan untuk membuat kami sekeluarga terutama saya, kakaknya bangga.

Dont worry much about apa yang akan kami nikmati disana Mbok. It will be our next precious time as siblings. Jika saya dan Ade bisa sangat girang dan norak saat menikmati perjalanan naik turun komuter line Depok- Jakarta, keluar masuk tempat-tempat yang tidak pernah kami coba selama di Jakarta, maka bisa kebayang kan Mbok, betapa noraknya kami nanti disana?. Kami pasti akan sangat sangat menikmati semua yang tersedia di Resort World Sentosa Mbok kecuali kolam renang yang cukup dalam, karena kami berdua tidak bisa berenang:)

Terima Kasih Sayembaranya Mbok..
Terima Kasih sudah boleh berbagi cerita dan mimpi


Love 
Hesty 

 


Kamis, 10 April 2014

Maybe I do change..But, who doesn't?

Selesai makan siang dan duduk didepan laptop. Siang ini saya tidak punya jadwal mengajar di kampus, jadi masih bisa menikmati jam santai di rumah sebelum absen sore. Sebuah pesan masuk di bbm saya, dari seorang teman kuliah. 

"sty, pernah kontak dengan teman kita si X ga belakangan ini?"
"udah ga pernah, tiap ditelpon g pernah diangkat. pdhal sebelum menikah dia ga gitu. 
People do change ya? "
' Yup, people change and so do their friends" 

Pembicaraan yang sudah lama tidak terjadi diantara teman lama. Setelah pindah ke Pekanbaru kemudian disusul dengan kepindahan orang tua saya ke Padang Panjang, praktis saya semakin jarang ke Padang. Waktu libur yang bisa saya gunakan utk pulang secara normal itu hanyalah setiap weekend. Dengan lama perjalanan menuju sumbar yg bersikar 5-8 jam, saya memiliki pilihan terbatas. Jika saya memutuskan untuk pulang ke Padang Panjang, maka saya tidak akan ke Padang dan sebaliknya. 

Setiap kali pulang ke Padang Panjang, maka saya akan mengambil alih pekerjaan rumah yg biasa dikerjakan ibu saya. Mulai dari beres-beres rumah hingga memasak. maklum, sejak pensiun dan memutuskan utk bertani di kampung, Bapak dan ibu saya tidak terlalu mengurusi rumah, masakpun hanya secukupnya utk berdua. Menu makanan berkisar dari telor dadar atau asam padeh. Sesekali beliau berdua makan diluar atau beli nasi bungkus satu berdua. Jadi ketika ada anaknya yg pulang, ritme normal dari rumah kami mulai teras. Rumah yg dibersihkan, piring yang dicuci dan makanan yg dimasak sesaat sebelum dimakan. Kalau saya memutuskan ke Padang, maka itu waktunya saya main bersama ponakan dan adik bungsu, menemani kakak saya belanja bahan risoles ke pasar atau sekedar ngajak ponakan mampir ke swalayan untuk membeli jajanan yang mereka inginkan. Sisanya ya..leyeh-leyeh saja:)

Saya semakin jarang bertemu teman-teman saya yang berada di padang ketika pulang. Dulu, ada teman saya yang suka ngajakin kumpul kalo ada yg pulang ke padang, sekarang iapun sudah pindah ke Jakarta. Pun, hampir semua teman saya di Padang sudah menikah dan punya anak. Membuat janji bertemu dengan yang sudah menikah sama sulitnya dengan membuat janji untuk bertemu dosen pembimbing dulu. Kalo temen saya perempuan, maka alasan anak bisa jadi yg utama. Jika yang satu bisa, maka yg lain susah dan begitu seterusnya. Kalau janjian dengan teman laki-laki yang sudah menikah akan lebih sulit lagi. Bisa-bisa menjadi sasaran kecemburuan istrinya, meski istrinya kenal sekalipun. 

Pertemanan antar daerah kini semakin mudah dengan adanya fasilitas grup chat dari ponsel pintar yang beredar di pasaran. tadinya saya berpikir bahwa grup pertemanan mobile akan mengeratkan hubungan kami semua dimana saja dan kapan saja. tapi ternyata tidak. Yang ada kami tumbuh jadi orang dewasa yg absurd. Ditambah lagi bahasa tulisan yang ga kenal nada, perasaan bahwa semua teman memahami karakter temannya dan satu persatu mulai saling membanggakan pencapaian mereka. Kami semua akhirnya terperangkap dalam lingkaran atas nama teman tapi tidak pernah merasakan perasaan yang sama saat kami berjumpa dan berteman beberapa tahun yang lalu. 

Ternyata jadi orang dewasa itu susah ya..karena setiap pencapaian hidup orang dewasa membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Bisa selesai S2 misalnya, membuat saya memulai karir jauh lebih lambat dari kebanyakan teman. Sementara itu teman saya yang menikah lebih dulu dari kami semua akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga dan melepaskan kesempatan untuk menjadi wanita karir agar ia bisa melihat anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan setiap pencapaian itu juga menuntut perubahan dari orangnya..


People do change..

Satu orang teman baik yang baru saja menikah akhir tahun lalu menjadi contoh dari pembicaraan kami siang ini. Ia, biasanya jarang tidak mengangkat telepon dari saya dan kawan-kawan dan sering juga menelpon kami hanya sekedar untuk bercerita. Sejak menikah, tidak satu kalipun telepon saya diangkat. Saya berpikir ia sibuk atau mungkin tidak enak dengan istrinya. Tapi setelah mendapatkan konfirmasi hari ini, saya jadi tau bahwa yang tidak diangkat teleponnya oleh kawan saya ini bukan hanya telepon saya, tapi hampir semua telepon dari kami, teman2 akrabnya yang perempuan. Saya kangen bisa berbicara dan saling memotivasi tapi mungkin ia juga ingin menjaga perasaan pasangannya. Saya kehilangan teman baik lagi..dulu, ketika teman baik saya yg lain memutuskan menikah, saya sangat mendukungnya. Tapi setelahnya, ia tidak pernah menghubungi saya lagi. Sesekali saya berhasil berbicara dengannya dan itupun hanya beberapa menit. Ia bilang, istrinya tidak bisa menerima semua pertemanannya dengan wanita..dan saya mengerti. 

Pun ternyata dianggap berubah oleh kebanyakan teman saya. Jarang mengangkat telpon dan membalas sms. Saya mengakuinya. Soalnya yang komplain itu teman-teman saya yang menjadi ibu rumah tangga atau baru memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Seringkali mereka menelpon dan sms saat saya sedang mengajar yang artinya hp dalam posisi silent. Dan seringnya ketika ditelepon balik, mereka yang sedang sibuk mengurus anak, menyiapkan makan suami atau mau pergi dengan keluarganya. 

It feels so funny seeing people complaint about things change in friendship while they actually didn't try to maintain their friendship when they have chance to do that.. 

Dulu, saya suka sekali menghabiskan waktu dan pulsa untuk menghubungi teman-teman saya, sekedar ber hahahihi, bergosip ringan atau bahkan menjadi teman curhat. Tapi seringkali juga saya mendapatkan jawaban kalau mereka lagi sibuk dengan kerjaan, lagi sibuk dengan suami, lagi sibuk dengan apa saja..then I slowly stop to ask how are them now..Dan ketika itu terjadi pada saya dan beberapa teman yang kemudian berhenti bertanya kabar, kami dianggap berubah. Saya tidak menyalahkan teman-teman saya yang berubah pun saya juga keberatan untuk disalahkan. Saat mereka ingin bicara saya justru sedang hectic dari satu kelas ke kelas yang lain.. dan giliran saya yang akan bicara, mereka malah sedang sibuk bercengkrama dengan suami/istri dan anak..

Maybe I do change.. but, who doesn't?
Well, Every people has their own limit..


Jadi, Ga usah komplain sering-seringlah tentang kehidupan setelah tamat kuliah atau setelah memutuskan untuk menikah. Ada banyak orang yang sebenarnya sibuk menyesuaikan diri dengan kondisi bahwa orang-orang disekitarnya berubah dan ia harus menerimanya, suka atau tidak suka. Dan yang paling pahit adalah..teman-teman kitapun berubah..bahkan yang paling dekat sekalipun. Setelah semua pencapaian dalam hidup melalui sekolah, pekerjaan dan rumah tangga, ada banyak prioritas yang bergeser. Dulunya semua teman di lingkaran kita adalah yang utama. Ia bisa saja menjadi prioritas cadangan. Setelah menikah misalnya, karena satu orang baru akan menjadi prioritas utama yang bisa menggantikan semua circle yang ada.

That what we called life..

Saya bilang ke teman saya itu bahwa mungkin kita memang harus memilih siapa yang akan berada di lingkaran hidup kita saat ini. Jadi jangan sedih jika tidak terpilih untuk menjadi bagian dari lingkaran hidupnya orang lain..

dan selalu saja banyak hal yang menjadi begitu mudah untuk dikatakan..
padahal saya sendiri tahu, bahwa ketika itu terjadi, saya pun tidak mudah menghadapainya

but at least..
I've tried:)

Rabu, 26 Maret 2014

Ketika Mimpi-Mimpi Diaminkan.. Cerita dari LLD 2014 Akademi Berbagi

Our Dream Board- Photo by Gallant YP

Pernahkan membayangkan sebelumnya bahwa suatu hari anda akan berada di suatu meja dengan 5 orang tidak pernah anda kenal sebelumnya dan kemudian mereka menjadi orang pertama yang mengaminkan mimpi yang anda tulis hari itu? Saya tidak pernah. Namun kemudian saya merasa beruntung sekali bisa mengalaminya. Siang itu, Ada 7 orang di meja yang sama dengan saya dan ada 190 an orang lainnya di meja lain yang berbeda yang bergantian membacakan mimpi mereka dan pada saat bersamaan ada beratus kali kata Amin terucap di udara. Seakan mimpi dan nyata itu sejengkal adanya..

Hari ini saya melihat postingan Yani di twitter tentang keinginannya untuk berkeliling Indonesia.Tweet ini ia buat untuk membalas tweet sebuah akun pencarian harga tiket pesawat yang mempromosikan keindahan Indonesia.  Saya kemudian membalas tweet tersebut dan mengingatkan Yani bahwa kami pernah mengaminkannya mimpinya untuk berjalan-jalan keliling Indonesia dan Dunia bersama kedua orang tuanya disuatu sesi bermimpi dikelas tiga pijar hampir 3 minggu yang lalu di salatiga. Saya terharu menuliskannya dan dia mungkin juga begitu. 

Saya dan Yani berkenalan disebuah meja yang bertuliskan nama kami dan enam orang lainnya sebagai satu kelompok dalam sebuah kelas tentang pengembangan diri sendiri yan
g dibawakan oleh orang-orang hebat pencapaian kerjanya sangat luar biasa di perusahaan riset kelas dunia. Hari itu, ada tiga sesi yang kami pelajari, mulai dari mengenal diri sendiri, bermimpi hingga memetakan perjalanan pencapaian mimpi tersebut. Sesi tersebut merupakan sesi hari kedua dari rangkaian 3 hari peningkatan kualitas saya dan 190an orang lainnya yang tergabung sebagai relawan dalam komunitas akademi berbagi yang tersebar di 34 kota diseluruh Indonesia. Acara tiga hari untuk masa depan yang lebih baik ini disebut dengan Local Leaders Day (LLD). Akademi Berbagi sendiri merupakan komunitas berbagi pengetahuan yang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan berbagai ilmu tanpa terikat ruang kelas dan waktu bahkan biaya. Saya sendiri bergabung di akademi berbagi Pekanbaru, yang baru berdiri September 2013 yang lalu.

Semua sesi disampaikan dengan sangat baik dan sangat menyenangkan. Tidak terbayangkan oleh saya berapa yang harus saya bayar jika saya mengikuti training semacam itu. Namun sesi yang paling saya berkesan bagi saya adalah sesi bermimpi. Ini bukan cerita tentang mimpi yang saya tulis, tapi cerita tentang dengan siapa mimpi tersebut saya bagi. 

Awalnya, masing-masing kami diminta untuk menceritakan mimpi kami kepada teman sebelah, yang selama acara disebut patner. Patner saya kemudian akan menuliskan mimpi yang diceritakan dan bergantian pula saya akan menuliskan mimpi Afif-patner saya selama hari itu. Setelah daftar mimpi tersebut selesai, kami kemudian diminta untuk bergantian membacakannya ke teman teman satu kelompok. Ada delapan orang yang bergantian membacakan mimpinya.

Hampir semua kami bermimpi untuk membahagiakan orang tua; entah dengan cara menghajikan, mengajak jalan-jalan atau membelikan rumah. Ada mimpi untuk berjalan-jalan keliling Indonesia bahkan ke luar negri, baik sendiri ataupun bersama orang tuanya . Ada yang bermimpi untuk mendirikan sekolah gratis bernuansa alam, ada yang ingin meraih piala oscar dan ada yang bercita-cita untuk sekolah lagi keluar negri seperti saya. Saya dan dua perempuan lainnya di kelompok itu juga menuliskan mimpi tentang finding our own Mr. Right and live happily ever after:). 

Tanpa disadari, ada banyak mipi yang serupa, ada banyak impian yang saya pkir hanya mimpi pribadi yang ternyata juga dimiliki oleh orang lain. Rasanya seperti menemukan teman bermimpi. Saat pembacaan mimpi tentang orang tua merupakan bagian paling emosional. Ada yang terbata-bata membacakannya dan ada pula yang membacakannya sambil menangis. Dan mata sayapun juga berkaca-kaca dan tak lama kemudian ikut menangis. Bagi sebagian orang mimpi itu bersifat pribadi, tidak untuk dipublikasikan. tapi hari itu, saya tidak menyesal membacakan mimpi-mimpi pribadi saya, begitupun saya rasa dengan semua orang yang ada di ruangan itu. Disetiap meja, saat setiap mimpi dibacakan, ada tujuh suara yang secara bersamaan dan terus menerus melafazkan amin.  Sampai kemudian kami sudah tidak lagi mengetahui mimpi siapa yang barusan kami aminkan. 

Siang itu saya tidak berhenti merinding.

Rasanya mimpi saya menjadi dekat dan mudah hanya karena dukungan 5 orang yang baru saya kenal hari itu lewat sepotong kata yang terdiri dari empat huruf AMIN.Tapi empat huruf dalam satu kata itu saya tahu persis diucapkan dengan tulus, bahkan sebagian ditambahkan dengan doa dan kata-kata penyemangat. Itulah yang membuat saya rasanya menyesal hanya menuliskan 7 saja mimpi yang saya punya. Saya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak lagi dukungan dan doa yang tulus untuk mimpi yang saya punya.

Lagi-lagi saya merasa beruntung telah menjadi satu dari 199 orang yang berkesempatan untuk diperbaiki kualitasnya. Dan saya merasa sangat jauh lebih beruntung karena saya bisa berbagi mimpi dengan teman-teman baru..meskipun saya tidak pernah mengenal mereka secara dekat sebelumnya.

Hari itu, saya dengan senang hati ikut mengaminkan sekian ratus mimpi yang terucap karena saya tahu bahwa ada beratus orang juga yang mengaminkan mimpi saya meski tidak semua pernah mendengarkannya.


Yang udah berkunjung ke sini ..