Saya bertemu dengan seorang pria yang mengatakan kepada saya bahwa ia jatuh hati pada saya. Saya berkenalan hanya empat hari sebelum kami bertemu dan hanya berbicara satu jam saja. Selebihnya, hidup saya sangat naik turun setelahnya. Pria ini, senang menguji saya, menguji hati saya untuknya. Saya dan dia berbeda kasta, jika kata itu boleh dipergunakan untuk menggambarkan perbedaan kami; dalam apa saja; pendidikan, pekerjaan hingga cara bertutur kata. Saya tidak keberatan sebenarnya, begitupun dirinya tapi sekitar kamilah yang membuat segalanya menjadi begitu berat.
Saudara saya mengatakan bahwa harga diri seorang pria terletak pada isi dompetnya. Jika dompetnya tebal, maka meskipun yang lainnya biasa saja, maka ia akan selalu percaya diri. Sedangkan saya percaya bahwa harga diri seorang pria harusnya tetap berada di hati dan pikirannya saja. Jikalah boleh kita berandai-andai, jika saja saya dan pria itu menikah, maka kasta, dompet, pendidikan, dllnya seharusnya tidak akan pernah muncul lagi dan mengganggu kami.
Saya belum menikah, dan tentu saja belum berpengalaman sama sekali soal pernikahan, tapi satu hal yang saya yakini, bahwa laki-laki adalah imamnya perempuan jika mereka sudah di sahkan dalam ijab kabul nanti. Jika diibaratkan dalam sebuah mobil, maka yang laki-laki adalah supirnya dan perempuan bisa jadi penumpang, navigator atau mungkin jadi supir pengganti. Artinya, sepanjang perjalanan ia bergantung sepenuhnya kemanapun sang supir mengarahkan mobilnya. Sesekali, jika mobil yang dibawa berjalan terlalu kencang, maka sebagai penumpang ia berhak menggingatkan. Jika bertindak sebagai navigator, ia akan mengingatkan si supir untuk waspada terhadap gangguan yang ada di kiri dan kanan kendaraan mereka, membantu membaca peta dan mencari petunjuk arah atau turun bertanya kepada penduduk sekitar jika mereka tersesat. Dan tentu saja ia harus memiliki kekuatan dan kemampuan yang sedikit menyamai supir utama jika harus menjadi supir pengganti.
Dengan begitu panjang perumpamaan yang saya buat untuk menggambarkan hubungan pria dan wanita dalam pernikahan, tidak serta merta membuat pria ini begitu saja mempercayai bahwa saya tidak akan melecehkannya seperti yang dilakukan banyak wanita yang berpendidikan dan berpenghasilan lebih tinggi daripada di pria. Begitu ia tidak bisa menutupi caranya menunjukkan rasa egonya terhadap saya.
Entah bagaimana seharusnya..
tapi mungkin saja saya dan dia dipertemukan hanya untuk belajar terlebih dahulu bagaimana mengenal karakter lawan jenis dengan baik sebelum memutuskan untuk membawanya ke jenjang yang lebih serius
dari postingan lama yang akhirnya selesai juga:)
“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.” ― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky --
Sabtu, 28 Desember 2013
Canggung
Belakangan saya banyak berpikir, bahwa sebenarnya kita menuruni sifat-sifat dan karakteristik tertentu dari orang tua kita masing-masing..suka ataupun tidak suka. Dari papa, saya menuruni sifat beliau yang supel dan pandai berbicara serta berkomunikasi dengan banyak orang. Sedangkan dari mama, saya menuruni sifat skeptis, banyak pertimbangan dan canggung. Sungguh perpaduan yang aneh.
Awalnya saya tidak pernah berpikir bahwa saya menuruni sifat canggung yang dimiliki oleh mama. Saya masih merasa bahwa saya termasuk orang yang mudah beradaptasi dengan siapa saja. Tapi ternyata tidak begitu adanya. Kecanggungan pertama yang saya rasakan adalah ketika berhadapan dengan rekan rekan kerja pertama saya yang orang jawa semua. Menjadi satu-satunya orang sumatra pada saat itu, yang tidak menguasai bahasa jawa pula membuat saya kehilangan semangat saya ketika berada di kantor. Saya bingung bagaimana harus masuk kedalam percakapan teman-teman saya itu. Saya tidak tahu bagaimana caranya bisa ikut lucu dan tertawa ditengah obrolan yang tidak saya pahami. Dan kemudian yang terjadi adalah saya kehilangan senyum selama 3 bulan dan baru bisa memperbaiki semuanya setelahnya
Belakangan ini saya merasa kecanggungan saya menjadi-jadi. Terutama ketika saya berada di grup komunitas yang saya ikuti. saya merasa lost in translation. banyak hal yang tidak saya pahami dan tidak dipahami teman-teman saya tentang diri saya ini. Saya seringkali salah menanggapi sesuatu, sering menjelaskan hal yang tidak perlu dijelaskan, terlalu formal, garing dan banyak hal lain yang membuat saya sebenarnya ingin menyembunyikan diri saya kedalam cangkang untuk sementara waktu. Saya berusaha tertawa normal ketika ada yang lucu sementara hati dan kepala saya sibuk berpikir mengapa saya tidak bisa tertawa lepas dengan mereka.
Ternyata lingkungan pekerjaan dan keseharian saya sebagai dosen membuat saya terbiasa memulai sesuatu dengan formal dan itu juga terbawa dan cara berkomunikasi saya dengan orang sekitar. Kehidupan saya yang lekat dengan penilaian banyak orang, membuat saya tidak bisa untuk tidak berhenti menerka-nerka apa yang dipikirkan orang tentang saya. Keberadaan saya sebagai anak tengah acap kali membuat saya menjadi peragu dalam mengambil langkah..kombinasi inilah yang membuat semua kecanggungan terasa semakin menjadi-jadi..
Bukan salah mereka saya kira..tapi mungkin saya perlu penyesuaian lebih lama. Tapi kecanggungan ini juga yang membuat saya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini dan kembali membuat saya ingin menarik diri dan bersembunyi dalam goa saya...mudah-mudahan semua akan segera berlalu siring berjalannya waktu..semoga
Awalnya saya tidak pernah berpikir bahwa saya menuruni sifat canggung yang dimiliki oleh mama. Saya masih merasa bahwa saya termasuk orang yang mudah beradaptasi dengan siapa saja. Tapi ternyata tidak begitu adanya. Kecanggungan pertama yang saya rasakan adalah ketika berhadapan dengan rekan rekan kerja pertama saya yang orang jawa semua. Menjadi satu-satunya orang sumatra pada saat itu, yang tidak menguasai bahasa jawa pula membuat saya kehilangan semangat saya ketika berada di kantor. Saya bingung bagaimana harus masuk kedalam percakapan teman-teman saya itu. Saya tidak tahu bagaimana caranya bisa ikut lucu dan tertawa ditengah obrolan yang tidak saya pahami. Dan kemudian yang terjadi adalah saya kehilangan senyum selama 3 bulan dan baru bisa memperbaiki semuanya setelahnya
Belakangan ini saya merasa kecanggungan saya menjadi-jadi. Terutama ketika saya berada di grup komunitas yang saya ikuti. saya merasa lost in translation. banyak hal yang tidak saya pahami dan tidak dipahami teman-teman saya tentang diri saya ini. Saya seringkali salah menanggapi sesuatu, sering menjelaskan hal yang tidak perlu dijelaskan, terlalu formal, garing dan banyak hal lain yang membuat saya sebenarnya ingin menyembunyikan diri saya kedalam cangkang untuk sementara waktu. Saya berusaha tertawa normal ketika ada yang lucu sementara hati dan kepala saya sibuk berpikir mengapa saya tidak bisa tertawa lepas dengan mereka.
Ternyata lingkungan pekerjaan dan keseharian saya sebagai dosen membuat saya terbiasa memulai sesuatu dengan formal dan itu juga terbawa dan cara berkomunikasi saya dengan orang sekitar. Kehidupan saya yang lekat dengan penilaian banyak orang, membuat saya tidak bisa untuk tidak berhenti menerka-nerka apa yang dipikirkan orang tentang saya. Keberadaan saya sebagai anak tengah acap kali membuat saya menjadi peragu dalam mengambil langkah..kombinasi inilah yang membuat semua kecanggungan terasa semakin menjadi-jadi..
Bukan salah mereka saya kira..tapi mungkin saya perlu penyesuaian lebih lama. Tapi kecanggungan ini juga yang membuat saya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini dan kembali membuat saya ingin menarik diri dan bersembunyi dalam goa saya...mudah-mudahan semua akan segera berlalu siring berjalannya waktu..semoga
Jumat, 27 Desember 2013
Unplanned your plan - Kuala Lumpur trip prologue
Plan A : go with your itinerary, stay in a comfort place, reach many hots spots as many as you want
Plan B : Unplanned your plan
Bulan lalu, saya seharusnya terbang ke Thailand untuk mempresentasikan paper saya yang diterima pada sebuah konferensi internasional tapi apa daya, hingga dua hari sebelum hari H surat izin keberangkatan saya dinas ke thailand tak kunjung ada kabarnya dari Sekretariat Negara. Sementara itu, jika dipaksakan, maka keberangkatan saya itu akan kecil kemungkinan didanai atau jika didanaipun, ada kemungkinan dana itu harus dikembalikan. Sedih sih, apalagi saya sudah terlanjur memesan tiket pekanbaru- kualalumpur terlebih dahulu untuk mengantisipasi mahalnya harga tiket.
Tapi ya sudahlah..
semakin dipikirin malah nanti semakin kesal. Awalnya, saya bermaksud untuk sekalian melakukan long trip pekanbaru-kualalampur-bangkok-kualalumpur-singapore setelah presentasi usai. Mumpung punya perjalanan ke bangkok dan sebagiannya akan dibayari dan mumpung paspor saya sudah jadi dan mumpung pertama kalinya ke luar negri dan ke negara yang bisa disambung-sambungkan perjalanannnya...
Dan kenyataannya..
saya batal ke bangkok sementara itu tiket Pekanbaru-KL yang saya pesan memiliki range terbang 10 hari. sungguh membingungkan. perjalanan 10 hari di suatu negara yang belum pernah saya datangi tentu saja akan membutuhkan biaya yang panjang dan memotong waktu ngajar saya untuk sementara waktu. Ditengah kebingungan itu, saya memutuskan untuk kembali mengecek harga tiket ke KL dari pekanbaru di antara tanggal pemesanan tiket saya sebelumnya dan ternyata harganya hanya IDR 120 rb saja...hmmm
Jadilah awal november kemaren saya akhirnya memakai pasport saya untuk pertama kalinya. Ternyata perjalanan ke luar negeri dan sendiri pula itu bikin senewen. Saya bolak balik bertanya kepada teman-teman saya yang sudah wara wiri ke Kuala lumpur untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan hasilnya malah saya stress sendiri. Stress karena saya malah jadi ketakutan sendiri membayangkan berada ditempat asing diluar Indonesia, sendiri pula. Masa keberangkatan saya yang jatuh setelah liburan usai, membuat saya tidak punya teman perjalanan. Tapi tiket sudah dipesan dan pasport sudah dibuat.. lalu kenapa tidak kita nikmati saja rencana ini?
Dan setelah malam sebelumnya demam dan paginya masih harus ke kampus ngantairn laporan, Rabu siang (07/11) saya sudah duduk manis di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim menunggu pesawat yang akan membawa saya ke tujuan. Gabungan antara rasa takut dan terlalu bersemangat menjadi satu. Saya datang ke counter check-in dan masuk ruang tunggu seakan saya belum pernah terbang sebelumnya. takut salah, takut ada yang berbeda dan lain-lain..but we will never know until we have really tried:)
Then, Kuala Lumpur Here I come:)
| My First Backpack Only Trip |
| Kuala Lumpur dari Udara Boarding pass dengan cap imigrasi |
Senin, 16 Desember 2013
Dear Atiek..
There is an end to all things..no matter how much we want to hold on to them
- unknown-
- unknown-
Saya tidak suka perpisahan, semanis apapun ia dikemas. Beberapa bulan terakhir ini satu persatu teman saya di komunitas jalan-jalan kami angkat kaki dari Pekanbaru dan beberapa kali pula saya menjadi pembawa acara perpisahan mereka. No matter how bad your friend is, still there will be one hole created in your heart when he/she leave. Sebenarnya, pengalaman saya ketika menjadi anak kos di jogja telah memaksa saya untuk membiasakan diri dengan perpisahan, karena pada akhirnya setiap orang harus melanjutkan hidupnya masing-masing meskipun dengan jarak yang berjauhan dan bukan dengan orang yang sama. Tapi semuanya dimentahkan kembali ketika saya datang ke kota ini. Di kota ini saya bertemu dengan banyak teman-teman yang juga merantau seperti saya, tidak punya teman dan kemudian menjalin pertemanan dari ketiadaan itu..dari persamaan nasib dan pikiran.
Akan tetapi, perkenalan kami dan kemudian menyusul perkenalan denganteman-teman saya yang lain di komunitas jalan-jalan kami, menjadi awal saya untuk melihat bahwa kota ini tidak seburuk yang dibayangkan.
Sayapun tidak tahu mengapa kami bisa berteman sedemikan dekat. Padahal saya dan dia sangat berbeda sifat dan karakter..
Ia suka saos sambal sementara saya sukanya saos tomat
ia akan memakan ampela dan saya akan memakan hati
saya suka tahu ia sukanya tempe
saya formal dan dia casual
saya berhati lembek dan dia to do point
Tapi sebenarnya kami sama saja..terlihat sangat tangguh tapi sebenarnya juga amat rapuh
ia suka lagu-lagu cadas tapi sebaliknya, hatinya terlalu mudah tersentuh
kami suka nonton film Indonesia terbaru di bioskop
kami suka ke pasar tradisional, membeli ikan dan kemudian memasaknya
Ia dan saya lebih suka ke supermarket belanja harian daripada mengitari mall
Kami akhirnya menjadi penjelajah kuliner di kota ini, penongkrong nomaden dari kafe satu ke yang lainnya
Tidak keberatan membayar mahal untuk makanan asal enak dan akan keberatan membayar mahal untuk pakaian dan lain-lain.
Saya sensitif dan ia cengeng, bahkan lebih cengeng dari saya, mudah menangis oleh hal-hal yang tidak terbayangkan oleh saya sebelumya, ia menangis mendengar rekaman suara teman kami bernyanyi untuk
anaknya, ketika membaca postingan ttg kerasnya kehidupan di jakarta dan
bahkan menangis karena postingan seorang teman ttg keberangkatannya
bulan depan..
Tuhan mengirim seseorang dalam kehidupan kita untuk alasan tertentu. Dan Tuhan mengirimkan Athiek di hidup saya agar saya bisa belajar untuk membangun banyak hal baik dalam diri saya yang seringkali tidak saya sadari. ia, melihat lebih banyak dari yang saya lihat. Atiek mengajari saya untuk lebih galak dan tegas karena ia tahu saya orangnya ga tegaan sehingga gampang dimanfaatkan. Ia mengajari saya berbagi tanpa harus menghitung-hitung kapan semuanya akan kembali
Ia datang untuk menjadi orang yang mengatakan bahwa saya bisa melakukan sesuatu lebih dari yang saya bayangkan tanpa banyak kata-kata
Ia melindungi saya dari omongan-omongan yang tidak ingin saya dengar
menghormati pilihan saya atas sebuah hubungan, meskipun dengan orang sama sekali tidak ia sukai meskipun dengan orang yang salah dan meskipun tanpa masa depan
Ia menyediakan kamarnya dan memabgi kasurnya yang tidak besar itu untuk ditiduri bersama saya jika saya kemalaman agar saya tidak merasa sendiri dan kesepiian
Tidak pernah keberatan dengan berteman dengan saya yang besar ini karena ia bisa berlindung dibalik tubuh saya dari angin ketika kami berkendara dengan motor.
with her, i learn that as long as my friend happy, i'll happy coz so does her.
Tiga tahun yang terlalu sebentar..dan saya gamang..
saya terlalu terbiasa dengannya..
tanpa
perlu dikatakan, ia sudah tahu bagaimana membaca saya, mengerti kapan
harus bicara kapan harus diam dan kapan harus mengerasi saya yang
hatinya lembek ini..
Ia mengatakan apa yang saya tidak bisa katakan,
menjadi
orang yang berulangkali mengatakan pada saya bahwa saya tidak boleh
menilai diri saya terlalu rendah dan menilai orang lain terlalu tinggi
menjadi tempat bercerita untuk rahasia saya yang paling besar sekalipun tanpa perlu takut rahasia itu akan diceritakan kepada orang lain
Jika saja saya boleh memilih, saya ingin ia selamanya di Pekanbaru saja..bahu membahu dengan saya dan teman-teman lain membangun akademi berbagi yang baru kami rintis..Menjadi pintu yang saya ketuk ketika saya lelah atau ketika saya bersemangat, teman pergi sarapan hingga makan malam saya ke tempat yg selalu membuat kami bingung untuk menentukannya.. Jika boleh, saya tidak ingin ia pergi, karena saya tidak tahu apa jadinya pekanbaru dan saya tanpa dia. Tapi saya ingat ketika ia bercerita bahwa alasan kepindahannya adalah agar lebih dekat dengan rumah, dengan ibunya yang sudah mulai menua, agar ada keluarga yang menjaga ketika ia sakit..dan kemudian saya menyadari betapa egoisnya saya menahannya disini hanya agar saya selalu ada teman..
Dear Atiek,
I hate seeing how time flies and counting the days till you really have to go
I cant wondering how hard the future will be without u here with me
That how much i thank you for standing beside me for years..
Accepting me for whoever I am
Listening my story again and again
giving me hug when it is needed
giving me support when I'm weak
Being proud for every single achievement that i made
For being more a bestiest, a sister and a family
for uncountable things that i cant mention one by one along our three years friendship
wishing for years more to go
still, you can count on me as long as you want
no matter how far the distance will be
growing old together, sharing our life story till our own eyes cant clearly see
Dear Atiek,
Thank you for a very wonderful 3 years that we've spent together..
surely, I'll be missing every single thing that we used to do together
but dont worry, I'll be fine..and so do u
So, see u again dear..
Someday, when Air Asia have a flight promo to Makasar, I'll be there:) Minggu, 27 Oktober 2013
Akademi Berbagi Pekanbaru - Ketika Mimpi Tidak Lagi Sekedar Mimpi
“To find your highest level of success, you must be willing to help others become successful.”
[Author Unknown]
Tahun 2010, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki ke kota Pekanbaru
ini hingga di tahun ketiga saya tinggal disini, saya masih sering
mengutuk cara berpikir orang-orang disekitar saya serta cara mereka
menilai dan memperlakukan orang lain. Selain itu, saya masih sering
terkaget-kaget mengetahui bahwa ada banyak hal diluar sana yang tidak
diketahui oleh mahasiswa saya dan mereka tenang-tenang saja sementara
saya gregetan setengah mati. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan sedemikian pesat, namun sebagian orang tidak mengetahui cara untuk menambah ilmu mereka dan sebagiannya lagi memilih untuk masa bodoh saja.
Hingga saya dan Athiek bertemu dengan seorang teman baru (lagi). Teman baru saya ini adalah teman dari Rendra, Rendra sendiri saya kenal karena saya berteman dengan Athiek. Pertemanan memang memang pada akhirnya akan membawa kita ke pertemanan baru. Teman baru saya ini orang Pekanbaru yang lama di Jakarta dan kemudian pulang lagi ke Pekanbaru. Tentu saja, seperti halnya saya orang Sumatra yang pernah di Jawa dan kembali ke Sumatra, ia membawa kegelisahan dan kegeraman yang sama melihat kota yang berpotensi besar dan kaya secara sumber daya alam tapi tidak punya greget, sementara dibelahan lain bumi Indonesia sudah mulai bergerak lebih cepat sementara disini ya slow motion aja. Jangankan teman baru saya itu, saya aja yang bukan orang sini gregetaannya setengah mati melihat ada banyak potensi yang bisa digerakkan tapi kemudian ya dianggurin begitu saja :(.
Dari kegelisahan itulah, teman baru saya ini kemudian mengajak kami; saya, Athiek dan Rendra untuk melakukan sesuatu untuk kota yang telah menjadi tempat kami hidup dan mencari rezeki. Sesuatu gerakan kecil yang merupakan percabangan dari gerakan besar yang sudah berdiri diberbagai kota di Indonesia dan beberapa diantaranya berada di Sumatra; seperti Jambi, Medan hingga Labuhan Batu bernama Akademi Berbagi. Akademi berbagi sendiri menurut saya merupakan gerakan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan terutama yang aplikatif dan bermanfaat bagi banyak orang. Ia merupakan penjelmaan sekolah dalam bentuk yang lebih fleksibel. Fleksibel dalam hal waktu, tempat dan peserta namun tetap mengikuti kaidah seharusnya sebuah kelas; memiliki kurikulum, pengelola dan pengajar.
Pada saat itu, memiliki mimpi bahwa gerakan ini akan hadir di Pekanbaru seperti mimpi yang menjelma menjadi nyata. Why dream comes true?. Di tahun 2011, saya sudah mengenal gerakan akademi berbagi ini dan bahkan pernah melamar menjadi kepala sekolah agar Pekanbaru bisa punya kelas serupa. Keinginan ini dimulai dari pertama kali saya melihat ada banyak postingan
tentang kelas berbagi pengetahuan yang diprakarsai oleh akun @akademiberbagi dan @pasarsapi bersliweran di linimasa akun twitter
saya. Tiba-tiba saya merasa cemburu. Cemburu karena tidak ada gerakan serupa di kota ini pada saat itu sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru, seperti yang didapatkan oleh teman-teman saya di Jawa sana. Dengan berbekal kecemburuan itulah saya kemudian melamar menjadi kepala sekolah untuk akademi berbagi pekanbaru namun saya tidak berhasil memulainya karena tidak menemukan patner yang cocok.
Bagi saya, pertemuan pertama kami; saya, Athiek, Rendra dan teman baru saya itu di pertengahan tahun ini disebuah cafe seperti menarik saya kepada sebuah mimpi yang sempat dibangun dan kemudian ditenggelamkan karena saya tidak mampu membangunnya sendiri. Tiba-tiba saya merasa bahwa memiliki sebuah kelas beragi di kota ini tidaklah mustahil lagi karena ada empat orang dengan pemikiran yang sama, ingin membangun pekanbaru, bergabung didalamnya. Begitulah, meeting demi meeting selepas jam kerja, chatting di grup whattsap atau imel menjadi langkah-langkah kecil dari sebuah langkah besar bernama Akademi Berbagi Pekanbaru. dimulai dari sebuah akun twitter bernama @akberpekanbaru, kami mulai menjalin mimpi agar belajar menjadi menyenangkan dan mudah bagi semua orang yang ingin belajar tanpa harus tersekat oleh, waktu, usia, tempat dan biaya.
Bulan lalu (26/10), seiring dibukanya kelas perdana kami, dan sabtu kemaren (26/11) setelah kelas kedua berlangsung, keyakinan saya makin menguat, bahwa ternyata tidak harus selalu berada dipusat informasi untuk bisa melakukan banyak hal dan tidak selalu harus berada di Jawa untuk bisa memperoleh kesempatan yang sama seperti yang didapatkan orang lain. Sebaliknya, justru karena tidak berada dipusat informasi seperti di jawa saya dan teman-teman di akademi berbagi pekanbaru bisa menciptakan kesempatan yang sama bagi banyak orang.
Senin, 21 Oktober 2013
Cerita Dari Balik Dapur-Silla
Memiliki toko kue, meski tidak ada bentuk tokonya dan masih dalam taraf bertumbuh mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah belajar mengelola orang lain. Sebagai pemasak tunggal, saya biasanya cukup berhati-hati bahkan sangat berhati-hati untuk bisa mempercayai orang lain ikut memasak bersama saya. Hingga saya bertemu silla, tetangga yang kemudian menjadi asisten saya di hesbronz factory.
Awalnya, saya meminta Silla untuk membantu saya beres-beres rumah dan mencuci peralatan masak dan menimbang bahan-bahan. Bagian itulah yang seringkali akan menghabiskan waktu dan tenaga dalam memasak, sementara sayapun masih harus ke kampus dan mengajar. Sebelum bergabung jadi asisten, saya sudah pernah mengajarkan silla membuat kue yang saya jual. Namun tiap kali ia ingin membuatnya kembali, ia selalu datang ke rumah, alasannya ga pede.
Akhirnya kesempatan pertama untuk silla membuat kue sendiri datang juga. Saat itu saya ada kelas dan tiba-tiba ada pesanan yang harus dibuat. Sayapun meminta silla untuk membuatnya. Awalnya dia menolak, lagi-lagi karena ga pede. Alasan berikutnya adalah takut dengan kompor gas dan berikutnya lagi takut gagal.
Saya bilang ke dia, lakukan saja sebaik yang dia bisa. kalo ada apa-apa dia bisa kontak saya. Alhamdulillah kue pertama ga buruk sama sekali. Tapi sesekali ada juga siy sedikit gosong, memarut keju mozarella utk bronis dan kaget sendiri karena kejunya gosong:).
Tapi sekarang, saya bisa dengan lega meninggalkan rumah hanya dengan bekal selembar kertas yang ditempel dengan magnit dipintu kulkas berisi daftar pesanan hari ini. Saya hanya perlu memastikan bahan-bahan lengkap dan tabung gas tidak kosong. Selebihnya, dia bisa melakukan lebih dari yang pernah saya bayangkan. Kemudian saya mengetahui bahwa secara psikologis, dia akan grogi membuat kue jika saya ada di rumah. Jadi saya lebih memilih untuk berada di kampus saat pembuatan kue:)
Mempekerjakan seorang asisten itu bukan berarti membuat orang yang membayarnya memiliki posisi lebih tinggi berlipat-lipat. saya melihatnya sebagai simbiosis mutualisme yang perlu dijaga dengan baik. Hal yang saya pelajari adalah bagaimana memanusiakan asisten saya. Bagaimana menegur jika ia salah, memuji jika benar, mengetahui apa yang ia suka, apa yang membuat ia akan menjadi suntuk dan tidak fokus. Dengan begitu, mudah-mudahan ia tidak merasa sedang bekerja setiap harinya.
Jika dulu Silla bekerja di rumah saya 15 hari seminggu dengan gaji 400 rb, bulan ini, ia menerima gaji hampir dua kali lipatnya. Saya tidak akan lupa matanya yang berkaca-kaca saat gaji pertama saya serahkan ke tangannya. Pada saat itu saya tahu, bahwa saya tidak hanya memiliki asisten yang menyenangkan, tapi sekaligus saudara baru di rantau. Ia membereskan rumah saya seperti rumahnya, membuat kue seperti standar saya, bahkan memunculkan ide baru dan kadang memberi saya makan siang atau makanan apa saja yang ia buat di rumahnya.
JIka suatu hari nanti toko kami jadi besar, maka Silla adalah orang pertama yang akan menjadi pimpinan ketiga setelah saya dan patner saya. semoga begitu jadinya.. amin
I owe her much, so does my hesbronz factory
Awalnya, saya meminta Silla untuk membantu saya beres-beres rumah dan mencuci peralatan masak dan menimbang bahan-bahan. Bagian itulah yang seringkali akan menghabiskan waktu dan tenaga dalam memasak, sementara sayapun masih harus ke kampus dan mengajar. Sebelum bergabung jadi asisten, saya sudah pernah mengajarkan silla membuat kue yang saya jual. Namun tiap kali ia ingin membuatnya kembali, ia selalu datang ke rumah, alasannya ga pede.
Akhirnya kesempatan pertama untuk silla membuat kue sendiri datang juga. Saat itu saya ada kelas dan tiba-tiba ada pesanan yang harus dibuat. Sayapun meminta silla untuk membuatnya. Awalnya dia menolak, lagi-lagi karena ga pede. Alasan berikutnya adalah takut dengan kompor gas dan berikutnya lagi takut gagal.
Saya bilang ke dia, lakukan saja sebaik yang dia bisa. kalo ada apa-apa dia bisa kontak saya. Alhamdulillah kue pertama ga buruk sama sekali. Tapi sesekali ada juga siy sedikit gosong, memarut keju mozarella utk bronis dan kaget sendiri karena kejunya gosong:).
Tapi sekarang, saya bisa dengan lega meninggalkan rumah hanya dengan bekal selembar kertas yang ditempel dengan magnit dipintu kulkas berisi daftar pesanan hari ini. Saya hanya perlu memastikan bahan-bahan lengkap dan tabung gas tidak kosong. Selebihnya, dia bisa melakukan lebih dari yang pernah saya bayangkan. Kemudian saya mengetahui bahwa secara psikologis, dia akan grogi membuat kue jika saya ada di rumah. Jadi saya lebih memilih untuk berada di kampus saat pembuatan kue:)
Mempekerjakan seorang asisten itu bukan berarti membuat orang yang membayarnya memiliki posisi lebih tinggi berlipat-lipat. saya melihatnya sebagai simbiosis mutualisme yang perlu dijaga dengan baik. Hal yang saya pelajari adalah bagaimana memanusiakan asisten saya. Bagaimana menegur jika ia salah, memuji jika benar, mengetahui apa yang ia suka, apa yang membuat ia akan menjadi suntuk dan tidak fokus. Dengan begitu, mudah-mudahan ia tidak merasa sedang bekerja setiap harinya.
Jika dulu Silla bekerja di rumah saya 15 hari seminggu dengan gaji 400 rb, bulan ini, ia menerima gaji hampir dua kali lipatnya. Saya tidak akan lupa matanya yang berkaca-kaca saat gaji pertama saya serahkan ke tangannya. Pada saat itu saya tahu, bahwa saya tidak hanya memiliki asisten yang menyenangkan, tapi sekaligus saudara baru di rantau. Ia membereskan rumah saya seperti rumahnya, membuat kue seperti standar saya, bahkan memunculkan ide baru dan kadang memberi saya makan siang atau makanan apa saja yang ia buat di rumahnya.
JIka suatu hari nanti toko kami jadi besar, maka Silla adalah orang pertama yang akan menjadi pimpinan ketiga setelah saya dan patner saya. semoga begitu jadinya.. amin
I owe her much, so does my hesbronz factory
Minggu, 20 Oktober 2013
Mimpi Besar itu Bernama Hesbronz Factory
Selain menjadi wartawan, cita-cita yang sempat saya pendam itu adalah menjadi seorang koki alias juru masak. kecintaan saya terhadap dunia memasak sebesar kecintaan saya pada dunia menulis. Meskipun pada akhirnya tidak satupun dari memasak dan menulis menjadi karir, namun saya tetap sesekali menjadikannya sebagai pekerjaan yang menyenangkan.
Saya mulai belajar memasak sejak kelas tiga SD, itupun hanya dari hal-hal sederhana saja seperti memasak nasi dan menggoreng telur. Berikutnya saya dipaksa belajar untuk menggiling cabe. Sebagai orang minang, menu keseharian keluarga kami tidak lepas dari balado dan untuk menghasilkan balado yang enak, saya harus bisa menggiling sendiri cabenya. Pengalaman pertama menggiling cabe menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebelah tangan saya memegang es sementara sebelahnya memegang anak batu lado-istilah untuk batu yang lebih kecil. Walhasil, seharian tangan saya kepanasan.
Ketika duduk dibangku SMP, saya sudah bisa menggantikan mama untuk membuat lauk sederhana dan ketika SMA, saya sudah memegang kendali dapur untuk 40 orang teman saya di acara buka bersama, homestay hingga kemping. Dibangku kuliah, saya mulai mendapatkan uang dari kemampuan masak saya, dari terima katering harian kecil-kecilan, jualan lauk pauk di RS tempat mama saya dinas hingga menerima pesanan katering skala menengah untuk buka bersama hingga acara lamaran. Memasak bagi saya kemudian menjadi hal yang menakjubkan dan menyenangkan.
Meskipun memiliki frekuensi yang cukup tinggi dalam menerima pesanan makanan, tapi saya belum pernah begitu serius ingin memiliki bisnis atau usaha dibidang ini. Pun ketika setiap lebaran saya menerima cukup banyak pesanan kue, saya masih menganggapnya sebagai ladang usaha musiman semata.
Hingga suatu hari teman akrab saya berangkat umroh dan menyusul teman dekat saya satunya berangkat ke tanah suci. Umroh dan kue memang memiliki hubungan yang sangat jauh tapi umrohlah yang menjadi alasan mengapa saya akhirnya berpikir ulang tentang pemanfaatan kemampuan saya dalam memasak dan menjadikannya sesuatu yang bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain.
Intinya saya ingin berangkat umroh seperti halnya teman saya itu. Lebih jauh lagi, saya ingin berangkat umroh dengan kedua orang tua saya. Bapak dan ibu saya belum pernah menginjak tanah suci, namun beliau berdua sudah menabungkan uangnya sedikit demi sedikit di bank agar bisa berangkat haji beberapa tahun lagi. tapi saya tahu bahwa beliau ingin sekali pergi umroh sebelum kesempatan hajinya datang. Sayangnya, hingga diusia beliau berdua saat ini-60 dan 56 tahun, kesempatan itu belum datang juga . Ditambah lagi beberapa waktu yang lalu bapak saya mengalami kegagalan dalam usahanya dan ibu saya memasuki usia pensiun sementara kami masih memiliki dua orang adik yang masih sekolah. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadi alasan mengapa saya kemudian memulai untuk membuat usaha makanan dengan skala serius, naik beberapa tingkat dari sebelumnya; yang hanya menerima pesanan sesekali saja kapan saya bisa dan mau.
Dan sebuah mimpi besar bernama hesbronz factory dimulai dibulan Juni, melalui satu akun twitter @hesbronzfactory. Dari situ saya mulai belajar mengelola toko kue virtual saya.Dengan dukungan pesanan dari teman-teman dekat saya, yang memfoloow akun tersebut, me RT jika ada postingan produk dan me mention akun tersebut setelah membeli, membuat saya makin bersemangat. Setelah selesai membuat satu akun baru bernama @hesbronzfactory itu dibuat, hidup saya tidak lagi sama. Setelah kampus usai, saya kembali ke dapur. Perlahan tapi pasti, jam bersenang-senang dan ngumpul dengan teman-teman jauh berkurang. Saya harus menghemat lebih banyak energi.
Tapi saya tidak keberatan, beberapa teman akrab saya yang keberatan, mereka kehilangan saya sepertinya.
Setiap keputusan yang saya ambil pasti ada konsekuensinya
Sekarang hesbronzfactory sedang belajar merangkak. Saya menemukan asisten yang pas yang tinggalnya disebelah rumah dan alhamdulilah bisa dipercaya untuk mulai mengerjakan pesanan dan mendapatkan ahli marketing andal yang kemudian bergabung menjadi patner saya. Slow but sure, mimpi melihat orang-orang berlalu lalang di bandara dengan kantong bertulis hesbronz factory ditangan mereka mulai terasa dekat
Saya mulai belajar memasak sejak kelas tiga SD, itupun hanya dari hal-hal sederhana saja seperti memasak nasi dan menggoreng telur. Berikutnya saya dipaksa belajar untuk menggiling cabe. Sebagai orang minang, menu keseharian keluarga kami tidak lepas dari balado dan untuk menghasilkan balado yang enak, saya harus bisa menggiling sendiri cabenya. Pengalaman pertama menggiling cabe menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebelah tangan saya memegang es sementara sebelahnya memegang anak batu lado-istilah untuk batu yang lebih kecil. Walhasil, seharian tangan saya kepanasan.
Ketika duduk dibangku SMP, saya sudah bisa menggantikan mama untuk membuat lauk sederhana dan ketika SMA, saya sudah memegang kendali dapur untuk 40 orang teman saya di acara buka bersama, homestay hingga kemping. Dibangku kuliah, saya mulai mendapatkan uang dari kemampuan masak saya, dari terima katering harian kecil-kecilan, jualan lauk pauk di RS tempat mama saya dinas hingga menerima pesanan katering skala menengah untuk buka bersama hingga acara lamaran. Memasak bagi saya kemudian menjadi hal yang menakjubkan dan menyenangkan.
Meskipun memiliki frekuensi yang cukup tinggi dalam menerima pesanan makanan, tapi saya belum pernah begitu serius ingin memiliki bisnis atau usaha dibidang ini. Pun ketika setiap lebaran saya menerima cukup banyak pesanan kue, saya masih menganggapnya sebagai ladang usaha musiman semata.
Hingga suatu hari teman akrab saya berangkat umroh dan menyusul teman dekat saya satunya berangkat ke tanah suci. Umroh dan kue memang memiliki hubungan yang sangat jauh tapi umrohlah yang menjadi alasan mengapa saya akhirnya berpikir ulang tentang pemanfaatan kemampuan saya dalam memasak dan menjadikannya sesuatu yang bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain.
Intinya saya ingin berangkat umroh seperti halnya teman saya itu. Lebih jauh lagi, saya ingin berangkat umroh dengan kedua orang tua saya. Bapak dan ibu saya belum pernah menginjak tanah suci, namun beliau berdua sudah menabungkan uangnya sedikit demi sedikit di bank agar bisa berangkat haji beberapa tahun lagi. tapi saya tahu bahwa beliau ingin sekali pergi umroh sebelum kesempatan hajinya datang. Sayangnya, hingga diusia beliau berdua saat ini-60 dan 56 tahun, kesempatan itu belum datang juga . Ditambah lagi beberapa waktu yang lalu bapak saya mengalami kegagalan dalam usahanya dan ibu saya memasuki usia pensiun sementara kami masih memiliki dua orang adik yang masih sekolah. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadi alasan mengapa saya kemudian memulai untuk membuat usaha makanan dengan skala serius, naik beberapa tingkat dari sebelumnya; yang hanya menerima pesanan sesekali saja kapan saya bisa dan mau.
Dan sebuah mimpi besar bernama hesbronz factory dimulai dibulan Juni, melalui satu akun twitter @hesbronzfactory. Dari situ saya mulai belajar mengelola toko kue virtual saya.Dengan dukungan pesanan dari teman-teman dekat saya, yang memfoloow akun tersebut, me RT jika ada postingan produk dan me mention akun tersebut setelah membeli, membuat saya makin bersemangat. Setelah selesai membuat satu akun baru bernama @hesbronzfactory itu dibuat, hidup saya tidak lagi sama. Setelah kampus usai, saya kembali ke dapur. Perlahan tapi pasti, jam bersenang-senang dan ngumpul dengan teman-teman jauh berkurang. Saya harus menghemat lebih banyak energi.
Tapi saya tidak keberatan, beberapa teman akrab saya yang keberatan, mereka kehilangan saya sepertinya.
Setiap keputusan yang saya ambil pasti ada konsekuensinya
Sekarang hesbronzfactory sedang belajar merangkak. Saya menemukan asisten yang pas yang tinggalnya disebelah rumah dan alhamdulilah bisa dipercaya untuk mulai mengerjakan pesanan dan mendapatkan ahli marketing andal yang kemudian bergabung menjadi patner saya. Slow but sure, mimpi melihat orang-orang berlalu lalang di bandara dengan kantong bertulis hesbronz factory ditangan mereka mulai terasa dekat
Langganan:
Postingan (Atom)

