Kamis, 28 Februari 2013

Merantau


Tujuh tahun yang lalu saya mulai pertualangan perdana saya menetap di negeri seberang, kota yang menjadi impian saya sejak lama. Bukan perjalanan pertama saya tapi menjadi pertama kalinya bagi saya memindahkan hidup  ke sebuah tempat sangat-sangat baru dan asing. Pertualangan perdana itu diberi nama merantau. 

Merantau bagi saya yang berdarah minang merupakan hal yang biasa. Provinsi tempat saya dilahirkan dan dibesarkan; Sumatera Barat- bukanlah provinsi kaya, begitupun kota Padang, tempat saya dan keluarga berdomisili hanya sebuah kota biasa yang kebetulan besar karena menjadi ibukota provinsi. Tidak ada minyak bumi yang ditambang disana, hanya pernah ada batubara, itupun bekas galiannya sudah dijadikan objek wisata. Tidak ada hasil alam dari perut bumi yang bisa menjadi magnet yang membuat banyak orang berleha-leha sepanjang hari. begitupun tidak banyak orang yang bertanam sawit atau karet, kalaupun ada, mungkin lebih banyak perusahaan minyak sawit yang memilikinya daripada orang per orang. maka ada banyak orang yang akhirnya memilih meninggalkan kampung halamannya; mungkin mereka bosan dengan cocok tanam, mungkin mereka bosan dengan ritme hidup yang begitu-begitu saja sehingga butuh tantangan baru dan memaksa mereka keluar dari rumah, dari kampung dan dari kawasan aman mereka.

Orang minang biasanya merantau untuk dua hal; mencari penghidupan yang lebih layak atau menuntut ilmu. mereka yang mencari penghidupan yang lebih layak kemudian akan menjelma menjadi pedagang kecil hingga saudagar; yang berjualan barang-barang seribu tiga hingga yang berjualan barang sejuta satu. mulai dari beras hingga yang menjadi nasi. Oleh karena itulah orang minang diluar sana dianggap sangat jeli melihat peluang; hanya dengan melihat perempatan dan tanah kosong saja, mereka sudah bisa menebak seberapa potensial kawasan itu jika dijadikan rumah makan atau lapak untuk berjualan. Mereka yang menuntut ilmu, biasanya mendatangi kota-kota pelajar utama di pulau jawa, Memulai impian ketika kendaraan yang mengakut mereka mulai berjalan menuju kota tujuan. Berharap menjadi penerus cendikiawan-cendikiawan minang yang tersohor atau setidaknya pulang menjadi alim ulam dan cadiak pandai tampek batanyo. 
Sedangkan saya, menjadi perantauan dengan tujuan kedua dan dengan syarat dan ketentuan tertentu kadang berubah menjadi perantauan dengan tujuan pertama :) Jika Dompet masih tebal, saya akan fokus jadi perantauan yang menuntut ilmu, jika dompet mulai menipis, maka saya bisa berjualan apa saja :)

Merantau sebenarnya tidak menjanjikan hal-hal yang melulu manis, ia bahkan lebih banyak menyodorkan kepahitan. Di rantau, ada banyak makanan yang tidak biasa di lidah, sedangkan makanan dari daerah asal harganya menipiskan kantongs. Ada banyak orang yang kita tidak mengerti bahasanya, yang membuat kita sulit tertawa ketika mereka tertawa didekat kita karena takut kitalah yang menjadi objek tertawaan. Ada masa ketika uang menipis sementara tanggal muda masih lama, ada masa ketika kita sakit dan tidak ada yang merawat dan lainnya. tapi pahitnya merantau itulah yang sebenarnya yang mengajarkan bahwa sebenarnya kita terlalu sering melewatkan hal-hal manis dalam hidup kita masing-masing karena terlalu mudah didapat. Ya, sebut saja makanan yang sehari-hari dihiudangkan oleh ibu di rumah, yang seringkali terlihat membosankan sehingga jajanan biasa diluar sana terlihat seribu kali lebih menarik

Selain mengajarkan banyak hal seperti yang saya sebutkan diatas, merantau bagi saya benar-benar pintu yang mempertemukan saya dengan banyak orang orang baru yang mengisi hidup saya pengganti kerabat dan teman yang saya tinggalkan di daerah lama. Meskipun tidak ada yang benar-benar persis seperti mereka, tapi merantau membuat saya memiliki banyak orang tua baru; almarhum pakde dan bude penjaga kosan tempat saya tinggal, ibu yoshua langganan pijit saya, orang tua dari teman-teman kos saya, bapak endro-supir di kantor saya yang lama, dosen pembimbing saya hingga bapak-bapak dan ibu-ibu yang tinggal di gang yang sama dengan tempat saya tinggal. Beliau-beliau itulah yang mengobati kerinduan saya akan mama dan papa saat saya jauh dari rumah. Begitupun saya bagi mereka kadang menjadi pengganti bagi anak-anak mereka yang sudah keluar dari rumah. Di rantau juga saya menemukan saudara-saudara baru, yang kemudian menjadi tak kalah dekat, bahkan jauh lebih dekat daripada saudara saya sendiri; kakak kos saya kak deni, teman milis mb yuni, mas ardian, mb dian, teman-teman kantor yang usianya diatas saya atau adik-adik kos yang menjadikan saya sebagai kakak mereka. Dan yang paling banyak yang saya dapatkan dari merantau adalah teman-teman baru. Meskipun teknologi berkembang sangat pesat, tapi saya pikir, tanpa merantau saya tidak akan pernah terhubung dengan mereka yang hingga hari ini menjadi teman-teman baik saya. Karena kami keluar dari rumah kami masing-masinglah maka kami saling bertemu,bertegur sapa hingga kemudian menjadi kawan. 

Empat tahun kemudian saya kembali memindahkan hidup saya ke tempat baru, kali ini lebih dekat ke rumah. Kota perantauan saya yang pertama sebenarnya terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan, tetapi saya tidak akan mendapatkan banyak hal dan kesempatan baru dalam karir saya jika tetap bersikeras tinggal disana. Untuk pekerjaan yang saya pilih, saya hanya akan menjadi ikan kecil di kolam yang besar, hampir tak terlihat. kota tujuan merantau saya yang baru tidak semenyenangkan kota sebelumnya bagi saya. proses adaptasinya cukup berat karena saya berhadapana dengan ritem, pola dan pemikiran yang bertolak belakang dengan kota sebelumnya. beberapa waktu diawal merantau, saya kesepian, merasa tidak ada orang-orang yang saya inginkan berada disekitar saya. Kehidupan saya kembali monoton, tidak sama seperti di kota yang lama yang penuh dengan aktivitas dan pertemanan. 

Hingga suatu ajakan menjelalah objek wisata di provinsi ini muncul di facebook saya hampir dua tahun yang lalu. Saya berpikir, mungkin inilah saatnya saya mencari teman-teman baru, kerabat-kerabat baru pengganti mereka yang saya tinggalkan disana. Pagi itu, ketika pintu mobil yang berhenti di depan kontrakan saya dibuka, saat itulah saya tahu, bahwa saya menemukan teman baru, kerabat baru dalam perantauan baru saya. Perjalanan pertama saya di daerah baru benar-benar membuktikan bahwa teman dan kerabat itu ada dimana-mana, sepanjang kita juga tidak berdiam diri menunggu saja. Tak masalah siapa yang menyodorkan tangan terlebih dahulu untuk memulai berkenalan, tak masalah siapa yang akan menyambutnya. kadang mungkin kita harus memulainya terlebih dahulu, kadang orang lain. Yang penting adalah setelahnya, setelah jabat tangan usai, setelah nama disebutkan, jika setelahnya senyum terkembang, maka ia atau mereka mungkin orang baru yang akan menjadi teman dan kerabat baru kita.


perjalanan pertama- Siak 140511 dan teman baru berikutnya dalam hidup saya; Romel(baju merah-abu2) , Atiek dan Arka (baju hitam)


Pada akhirnya, meskipun saya masih harus terus beradaptasi, meskipun teman datang dan pergi, tapi merantau adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya, keputusan terbaik yang merubah cara saya memandang banyak hal. Ia memberikan saya kesempatan untuk menikmati hal-hal baru, berkenalan dengan hal-hal baru atau bahkan belajar menyukai hal-hal, tempat-tempat, makanan serta karakter orang yang tadinya tidak saya sukai

“Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah, kan kau dapatkan pengganti kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang"

- Syair Imaam Syafi’i tentang Merantau


Rabu, 14 November 2012

Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada...

Beberapa waktu saya memutuskan menjauhkan diri dari dunia maya..terlalu banyak kegalauan yang timbul dari kehidupan maya saya. Mungkin karena dunia maya penuh dengan pencitraan atau saya sendiri yang tidak pernah mencoba untuk tampil biasa saja. Temasn saya bilang social media itu tempat buat bersenang-senang, jadi jangan terlalu dipikirin, jangan terlalu dimasukin ke hati.

Tapi memang dasarnya saya orang yang sulit. Tidak pernah membiarkan sesuatu masuk dan keluar saja lewat mata dan telinga tanpa singgah lama di hati. Hingga kemaren saya membaca tweetnya ustad Yusuf mansur tentang hal-hal kecil. Satu tweet yang cukup menampar saya. Beliau menulisnya begini :

" 41. Jangan pernah bawa ke ati urusan apapun... Dibawa santai, kalem, rileks..."

Belakangan, saya mengikuti akun-akun para ulama, yang kemudian memberikan banyak doktrin-doktrin tentang surga dan neraka...tentang amal dan dosa dan hal-hal lain tentang kehidupan agama saya. Dan Tiba-tiba saja saya merasa banyak hal yang sangat tidak saya ketahui, terlalu banyak hal yng bertentangan dengan pengetahuan saya selama ini hingga membuat saya tidak henti ketakutan..takut jika besok pagi saya tidak bangun lagi dan Allah menemui saya dalam kondisi marah karena dosa saya terlalu banyak. Setiap hari selama beberapa waktu itu, saya bangun dengan keringat dingin, takut kalo saya tidak bangun di kasur lagi tapi di kuburan..

Kadang saya berpikir, bagaimana jika surga dan neraka tak pernah ada? apa yang akan terjadi pada saya..jangan-jangan saya tidak pernah sadar diri karena tidak pernah merasa ada hukuman yang menanti saya didepan untuk semua kesalahan yang pernah saya lakukan..

Saya jadi ingat cerita teman saya si iad, yang mengalami hal yang sama setelah ia melahirkan. Baby bluesnya teman saya ini hadir dalam bentuk takut mati. takut jika ia harus meninggalkan anaknya yang masih kecil dan takut jika ia tidak mampu membesarkan anak2nya dengan baik sehingga jika ia mati tidak mampu mempertanggungjawabkan apapun. Pun, saya membaca postingan teman saya wanda tentang perjalanannya menemukan Allah dan merasa apa yang saya alami jauuuhhh sekali dengan apa yang ia alami. Saya iri ama perjalanan yang dilakukan wanda dan iri pada desi yang sudah pernah mengunjungi Allah dalam perjalanan hajinya..Saya tau bahwa setiap orang memiliki perjalanannya sendiri-sendiri bertenu Tuhannya dan begitupun saya..tapi saya merasa saya dan Dia berjarak..jarak yang mungkin saya sendiri menciptakanya. Jujur, saya ingin merasakan jatuh cinta padaNya seperti yang dirasakan wanda..bukan beriman semata-mata karena rasa takut saja..

Setiap kali saya punya masalah, saya meluapkan emosi saya dengan menonton film india paling sedih yang pernah saya tonton, Kal Hoo Na Hoo..tapi saya belum pernah sesegukan kalo sedang mengadu padaNya, hanya sebatas air mata mengalir saja..pun saya juga belum pernah sesegukan mengingat betapa banyak dosa saya..yang entah bagaimana caranya bisa dihapuskan..Dan makin malu saya mengingat betapa sering dan kuatnya Allah menjaga saya dari hal-hal buruk, melimpahi saya dengan nikmat-nikmat yang tak pernah bisa saya hitung namun saya masih saja menambah daftar dosa bukan pahala saya...

Hingga satu saat saya ingat postingannya wanda yang lain tentang memperbaiki pernikahan. Disitu saya akhirnya tau bahwa setiap orang pernah mengalami pertentangan seperti yang saya rasakan. Dari postingan itu saya belajar, bahwa saya harus memulai semua perbaikan sedikit demi sedikit. Dan kemudian saya memulainya dengan memperbaiki sholat saya..seperti yang disarankan wanda, saya berusaha sholat diawal waktu..dan masih harus sangat belajar untuk khusyu..saya berusaha menelpon Allah lebih sering...Saya ingin jatuh cinta..ingin merasakan rasa cinta yang menggebu-gebu seperti ketika aku jatuh cinta pada lawan jenis..

Hati saya masih seringkali kacau hingga saat ini..tapi kemudian saya juga ingat apa yang dikatakan oleh teman saya iad ketika ia mengalami kekacauan ini;
"pada akhirnya saya menyerah..saya akhirnya memilih untuk menyadari bahwa tidak ada satupun diantara kita yang hidup selamanya..jadi sebelum waktu saya tiba, saya harus mendorong diri saya berbuat baik sebanyak-banyaknya"

Alhamdulillah Allah masih mengirimkan rasa takut ini kepada saya..
mudah-mudahan keinginan saya untuk belajar jatuh cinta padaNya pun tak pernah surut. Begitupun semoga Ia juga terus menjaga saya dan memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki diri sampai waktunya bertemu denganNya.

dan Alhamdulillah  saya diberkati dengan banyak teman untuk berkaca, untuk mengukur diri dan untuk mengingat bahwa apa yang saya lakukan tidak ada seujung kukunya orang lain dalam hal beramal tapi dosa saya pasti jauh lebih banyak daripada dosa orang lain..



Senin, 06 Agustus 2012

Terlalu Sayang

Hampir jam setengah sebelas malam di depok dan adik saya, ade sudah tertidur pulas disebelah saya. Malam ini, malam terkahir saya di Jakarta dan saya putuskan untuk menginap di asrama mahasiswa UI untuk menemani dan lebih tepatnya mengurusi kebutuhan pindah asramanya si Ade sebelum saya pulang esok malam ke Pekanbaru.

Sebulan kami sekeluarga menghabiskan hari dengan harap cemas akan nasib dan masa depan adik saya ini. Harapan pertama kami agar dia lulus sebagai mahasiswa undangan di UGM tidak terkabulkan. Kami semua kecewa tapi pasti dia jauh lebih kecewa. Harap-harap cemas yang kedua muncul ketika periode pengumuman SNMPTN tiba dan kali ini kekecewaan yang kami hadapi jauh lebih besar dari sebelumnya saat nama si ade tidak muncul didaftar kelulusan. Hingga akhirnya namanya muncul di daftar mahasiswa yang lulus seleksi masuk Universitas Indonesia di Fakultas Hukum.

Jika boleh bercerita, maka kelulusan si Ade di FHUI adalah jalan yang dipilihkan Allah untuknya. Bagaimana tidak, dua kali ikut snmptn, UI tidak pernah menjadi pilihannya. Ia ingin kuliah di UGM bukan di UI, begitupun pilihan akan fakultas hukum, bukan keinginan utamanya, keinginan utama adik saya ini adalah menjadi akuntan.

Tapi begitulah, Allah menggoreskan namanya sebagai mahasiswa yang terdaftar lulus di kampus dan fakultas yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Sabtu minggu yang lalu, saya dan dia berangkat ke Jakarta untuk mengurusi segala sesuatu mengenai kuliahnya. Kami tidak pernah bepergian berdua saja sebelumnya. Saya berangkat dari Pekanbaru dan ia berangkat dari Padang untuk kemudian bertemu di cengkareng. Hampir seminggu kami tinggal bersama di apartement milik mahasiswa saya dan melakukan banyak hal bersama untuk kemudian membuat saya menyadari bahwa saya saat itu sedang menjadi ibu bagi seorang anak yang baru beranjak dewasa.

Dan ternyata memang tidak mudah. Dia dan saya berbeda zaman. Ade, adik saya ini, anak no 4 dikeluarga kami dengan status hampir menjadi bungsu. jaraknya dengan adik saya yang lain hampir 10 tahun. Ia biasa mendapatkan banyak kemudahan sehingga seringkali tidak memepedulikan banyak hal selain diri dan keinginannya sendiri. Begitupun ia adalah tipikal anak zaman sekarang yang jauh lebih ekspresif dan keras kepala. Ia akan lebih sering bertahan dulu dengan keinginannya setiap kali saya memberikan masukan, untuk apa saja; mulai dari pemilihan barang pribadi hingga pemilihan kos. Sepanjang urusan itu, adik saya ini seringkali berkata terserah namun pada akhirnya ia akan memilih pilihannya bukan saran saya.Begitupun ketika ia terkendala suatu masalah, ia cenderung menggantungkan diri pada saya; mulai dari atm yang tidak bisa dipakai hingga membeli seragam wajib ospek saat ia tidak bisa keluar dari asrama.

Tapi lama-lama saya pikir itu salah saya juga. Saya, orang yang ingin melihat ia mengepakkan sayapnya sejauh mungkin diangkasa luas sana, malah memberi jerat di kakinya agar ia tetap dapat terbang namun dalam jangkauan mata saya. Saya ingin ia mandiri dengan kuliah jauh dari rumah, ditempat yang bagus dan banyak orang baru, namun disatu sisi saya belum melepaskannya untuk benar-benar belajar mengurus dirinya sendiri dan mengambil keputusan-keputusan penting malah terlalu sering mengkhawatirkan keadaannya hingga kemudian membiarkan diri saya yang melakukan banyak hal untuknya, yang saya pikir biasa jika seorang kakak terlalu sayang pada adikknya.

Namun saya lupa, jika sesuatu yang bernama terlalu biasanya tidak baik. Begitu juga dengan terlalu sayang. Terlalu sayang membuat kita takut melihat orang yang kita sayangi terluka dan mengalami kesulitan padahal disetiap luka dan kesulitan yang datang itulah ia dan kita akan belajar banyak hal. Kekhawatiran kalau ia akan susah di rantau setelah saya pulang membuat saya memilih untuk membereskan urusannya dulu sebelum saya pulang, kekhawatiran jika urusan dia tidak akan beres atau kekhawatiran bahwa dia tidak akan bisa melakukan banyak hal sendirian membuat saya repot sendiri dan membuat ia terlena, padahal setelah ini, ia akan mengurus dirinya sendiri bukan saya lagi.

Ah, terlalu sayang ternyata juga tidak bagus ya...:)
Baiklah, saya akan mulai melepaskannya perlahan untuk bisa berjalan sendiri. ibarat anak bayi yang belajar berjalan, jika orang tuanya takut melepaskannya maka ia takkan pernah bisa belajar berjalan


So, my dearest little sister,
Fly as high as you want..try new things as many as you want too..there's no one can beat you for that but yourself ..

If you can walk through the long and windy road so far..i really sure that you can easily walk on another road..

Take care of yourself well..I'm proud of you

Jumat, 15 Juni 2012

Lebih Dari Sekedar Gelar Juara

Tidak seperti kebanyakan orang, saya termasuk orang yang tidak menyukai dan menggemari olah raga sepak bola. Serame apapun kehebohan event-event bola besar seperti piala dunia, piala asia atau yang sedang berlangsung hari ini, Euro, saya sama sekali tidak terpengaruh. Bagi saya, sepak bola itu membingungkan, satu bola kok ya diperebutkan. kenapa engga beli aja sendiri-sendiri trus dimainin?

Nyaris tidak ada faktor kuat yang mendorong saya untuk bisa menikmati nonton bola. Pertandingan bola dalam negri jarang yang berakhir happy ending seringnya berakhir rusuh. Pertandingan lawan tim luar lebih sering kalah daripada menang, Pemain bola dalam negri juga lebih banyak yang berasal dari luar..hmm...kalau sudah seperti ini, saya rasanya lebih memilih nonton pertandingan bulu tangkis saja.

Kemudian saya kenal dengan Kak deni,kakak kos yang rela begadang sendirian di ruang TV kosan kami menonton pertandingan MU. Baginya MU dan bola adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupannya. Saat kami makin akrabpun, saya masih saja tidak pernah tertarik menemaninya menonton tengah malam. Begitupun ketika kamar saya kebagian TV hibahan dari adek saya di Jakarta dan dijadikan markas buat nonton tengah malam oleh adek-adek kos, saya lebih memilih tidur ketika mereka semua teriak-teriak saat gawang dibobol.

Pun saya pernah memiliki kekasih seorang mantan pemain bola di sebuah klub di timur Indonesia sana. Saya sih tidak terlalu tahu tentang perjalanannya di klub itu, entah hanya jadi cadangan atau jadi pemain utama. Dan seorang pemain bola seperti dia pastilah juga pecinta bola.Namun, semasa saya menjadi kekasihnya, saya hanya duduk sebagai supporter bagi dia, belum sampai ke taraf pencinta bola; hanya membawakan jagung rebus, mengupasinya dan menunggu si penonton setia itu makan jagung sambil berteriak-teriak dan melupakan saya yang duduk disebelahnya. Sayanya? ga ngerti apa yang terjadi di TV.

Pandangan saya tentang bola mulai berubah ketika saya mengenal seorang perempuan yang kemudian saya ketahui menjadi admin di komunitas fans klub bola aremania untuk daerah sumatera di Kaskus. Saya punya banyak teman perempuan pencinta bola, tapi yang sampai ngadmin di sebuah komunitas bola, lokal pula menurut saya bukan hal yang biasa. Itu hal yang luar biasa. Karena perempuan menggilai bola biasanya karena pemainnya yang ganteng-ganteng, baru kemudian pindah ke teknik dan lain-lainnya. Bahkan tidak sedikit perempuan menggilai bola karena ingin dianggap gaul dan keren sehingga bisa dengan mudah lalu lalang didunia laki-laki.

Teman saya ini, kemudian sering memaksa saya untuk beberapa kali menemaninya nonton bareng di komunitas fans club Pekanbaru. Jadilah saya kemudian ikut-ikutan nonton tanpa mengerti bagaimana pertandingan berjalan..(masih seperti biasa:). Sebagai penonton pasif, saya hanya bisa terkaget-kaget kalo meja digebrak kalo gol gagal dicetak dan setiap kali kata-kata J**N**K itu bertebaran diudara. Teman saya dan kegilaannya pada aremania akhirnya menjadi racun dikepala saya..ring tone hapenya yang marsnya aremania, tanpa sadar sering saya senandungkan di sepanjang jalan ketika saya mengendarai motor, padahal aremania itu masih jauh dari pikiran saya apalagi Aremanya. Hinga saat ini saya masih tidak mengerti mengapa banyak ABG yang menggilai Dendi, Ridwan atau Sunarto..karena menurut saya mereka hanya seperti pria-pria biasa yang bermain bola.

Witing tresno jalaran soko kulino kata orang jawa..
Saya mungkin masih belum tergila-gila pada bola, tapi sedikit demi sedikit saya mulai jatuh cinta pada orang-orang yang membuat dunia disekitar bola itu menjadi jauh lebih menyenangkan dan tak jarang menjadi mencengangkan. Ketika saya bertanya pada teman saya itu, mengapa ia begitu getol membela klub lokal, sementara banyak orang begitu memuja-muja klub-klub luar negeri? ia menjawab karena semua orang yang pernah hidup di Malang pasti memiliki fase kecintaan dan jatuh cinta pada arema meskipun ia tidak lagi tinggal di Malang. Dari ceritanya saya mengetahui betapa kuatnya atmosfer bola melekat pada sebuah kota dan betapa tak terpisahkannya sebuah kota dan klub bolanya.

Dari situ saya banyak belajar, bahwa kecintaan itu bisa dibangun dan bisa ditumbuhkan meskipun akan ada saja orang yang meruntuhkannya. Bahwa sebuah klub bola bisa membangun banyak hal diluar permainannya sendiri. Ia bisa membangun masyarakat yang mencintai olahraga sehingga bisa bersikap sportif dan menjadi pendukung yang baik, bukan hanya sekedar penonton bola yang bisa bersorak ketika tim kebanggaannya menang dan melempari pemain dengan botol kosong ke tengah lapangan jika timnya kalah. Ia juga membangun perekonomian; mulai dari penjual minuman di stadion hingga mereka yang menjual kaos dengan nama tim mereka tercetak di punggung kaos itu.

Dan yang paling penting, olahraga dan klub seperti yang digilai teman saya ini, Arema, telah membangun banyak jaringan pertemanan dan persaudaraan. Tak peduli dimanapun mereka berdomisili saat ini, salam satu jiwanya arema tetap menyatukan mereka.

Hari ini didepan kelas, ketika salah satu mahasiswa saya bertanya apakah saya seorang penggemar bola, maka saya menjawab dengan jujur bahwa saya bukan seorang penggila bola, bahkan saya jarang menonton pertandingan bola. Pada mereka saya berkata jika saya ingin menonton bola, maka saya akan menonton liga dalam negri. Saat itu mereka kembali bertanya, apa enaknya nonton pertandingan klub bola dalam negri, maka saya menjawab :" bukankah seharusnya kita yang menjadi penonton di negeri kita sendiri? bukankah kita yang harusnya digaris paling depan membanggakan tim-tim yang mati-matian berjuang untuk membuat kita sebagai warga negara, sebagai penduduk dari dareah yang kita tinggali merasa bangga atas apa yang mereka raih?. lalu jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjadi penyemangat agar olahraga ini tidak hanya sekedar menjadi biang kerusuhan namn menjadi sumber kebanggaan? kalo bukan kita lalu siapa?"

Sampai hari ini saya masih seorang awam di olahraga ini, saya masih tidak mengerti mana yang offside, mengapa ada gol yang dianulir, mengapa seorang pemain bisa mendapat kartu merah atau kuning. Tapi, saya berjanji untuk belajar mengerti bahwa ada banyak hal yang jauh lebih penting dari sekedar gelar juara di lapangan..

salam satu jiwa..dari fansnya persipura yang ngefans karena pernah mencintai orang papua:)

Jumat, 08 Juni 2012

Mengambil Resiko

Saya suka kagum dengan orang-orang yang memiliki keberanian untuk mengambil resiko dalam kehidupan. Papa saya contohnya, beliau hidup dengan resiko disekitarnya. Dulu, awal menikah dengan mama saya, beliau memutuskan untuk keluar dari perusahaan BUMN dibidang kelistrikan dan memilih menjadi anak buah orang lain disebuah biro kontraktor listrik kecil. Ketika saya bertanya kepada beliau, mengapa beliau tidak bertahan saja di kantor tersebut, dalam pikiran saya setidaknya mungkin saat ini beliau pensiun sebagai salah satu dari jajaran bos yang ada, papa saya menjawab : " jika papa tidak keluar dari sana, mungkin papa tidak akan bisa dengan leluasa membuatkan kalian rumah yang layak dan pendidikan yang bagus ". Saya mangut-mangut saja saat itu. Setelah bertumbuh, saya jadi tahu resiko apa yang harus dihadapi papa dan kami semua. Ada saatnya kami semua harus berangkat sekolah dengan uang jajan sekedarnya karena uang proyek belum keluar sementara proyek baru membutuhkan banyak uang. Resiko lainnya yang diambil papa saya adalah menanggung kehidupan anak buahnya, yang kondisinya jauh-jauh lebih buruk dari kami, sekedar memberikan uang seratus-dua ratus ribu ke mereka untuk membeli beras atau membayar uang sekolah anak. Hingga bulan lalu, saat saya pulang ke Padang, saya masih sering melihat mereka sesekali datang dengan muka tanpa harapan dan pulang dengan muka berbinar-binar hanya karena uang seratus ribu. Resikonya lain yang kemudian baru saya sadari juga adalah, betapa banyaknya Allah mengirimkan kemudahan pada kami, anak-anak papa karena resiko yang diambil papa untuk selalu memudahkan orang lain

Tadi malam, bersama atiek, cepi dan mas jully teman-teman akrab saya di Pekanbaru, saya menemani cepi membeli oleh-oleh lempok durian yang akan diberikan Cepi ke sorang kolega yang berkunjung ke Pekanbaru. Lempok durian yang kami beli itu tidak dijual di toko oleh-oleh semacam megarasa, khadijah atau cik puan, ia hanya dijual di gerobak beroda milik seorang tukang durian di jalan riau. Bukan kali pertama saya kesana, sebelumnya saya dan atiek sudah pernah membeli untuk oleh-oleh ke Jawa. Lempok pinggir jalan itu jauh lebih murah dari yang di toko tapi jauhhhh lebih enak juga, karena duriannya berasal dari durian yang tidak habis terual di gerobaknya pada hari itu. Karena pertama kali beli dan belum tau rasanya, saya menanyakan sampel, tak disangka beliau memotong dua sebatang lempok ukuran 20 cm, separuhnya dikasih saya untuk dicoba. Saya kaget juga dengan keberanian si bapak memberikan sampel senilai 7500. Bandingkan dengan toko-toko sejenis yang mmberikan sampel seupil saja. Ketika selesai beli oleh-oleh waktu itu, saya dan atik mendapatkan bonus masing-masing sebatang lempok yang dijadikan sampel tadi.

Tadi malam, teman saya cepi itu, membeli 8 kotak lempok masing-masing seharga 25. Bonus yang diberikan si bapak penjual itu juga ga kira-kira. Kami berempat, bisa makan durian gratis. Memang bukan durian yang super-super enak, tapi tetap saja kalau terjual harganya diatas 20rb/buah. sebelum memakan durian, beliau menyuruh saya mencicipi rasanya, kalau tidak manis, batal. Padahalnya hanya durian gratis lo, si bapak memilih untuk tidak sembarangan ngasih durian ke orang lain. Malam itu, duriannya tinggal berapa buah saja saat sebuah mobil berenti dan sepasang suami istri turun. Beliau langsung mengatakan kalau duriannya tidak ada yang bagus, beliau menjanjikan besok hari akan lebih banyak yang bagus yang datang. Beliau mengambil resiko kehilangan beberapa puluh atau ratusan ribu malam itu, hal yang tidak umum dilakukan oleh pedagang lain.

Ternyata keberanian mengambil resiko itulah yang membuat beliau memiliki banyak langganan. Pelanggan yang membeli durian ditempat beliau tidak perlu merasa khawatir akan mendapatkan durian yang tidak berkualitas, kalaupun dapat yang buruk, bisa ditukarkan kembali. Dan malam itu, beliau kembali mengambil resiko dengan memberi kami masing-masing sebatang lempok..60 ribu baru saja hilang..tapi saya yakin akan segera berganti dengan beratus-ratus ribu..

Kalau bapak tukang durian itu seberani itu, berarti saya dan banyak orang juga pasti bisa :)

Selasa, 05 Juni 2012

When Destiny (not) Meet Our Choice

Ada masa dimana pilihan dan takdir tidak bisa bersatu seperti yang kita inginkan. Katanya Tiara lestari dibukunya, menikah itu adalah ketika pilihan dan takdir sejalan. Jika hanya salah satu, maka tidak akan ada pernikahan, yang ada hanyalah kata-kata mantan pacar, manta kekasih atau mantan tunangan. Untuk saya pribadi, sampai hari ini pilihan saya belum sesuai dengan takdir yang ditetapkan Sang Maha Pencipta, jadilah saya punya beberapa mantan..(sok laku ya).

Bagi saya, tidak mudah memang melepaskan diri dari sesuatu yang bernama masa lalu, ada saja caranya terkoneksi dengan mereka. Seperti kemaren, ketika saya berbicara dengan seorang teman akrab saya waktu di jogja dulu. Teman saya itu, sekarang bekerja di pertambangan batubara yang merupakan bidang pekerjaan salah satu mantan pacar saya. Jadilah, atas permintaan teman saya itu, saya kembali menghubungi dia untuk bisa mendapatkan informasi seputar pekerjaan bagi teman saya tersebut.

Ia salah satu orang yang paling lama pernah mengisi hati saya. Begitu lama dan istimewa. Saya memanggilnya dengan sebutan kangmas dan dia memanggil saya dengan diajeng, panggilan termanis yg pernah saya punya meski saya bukan orang Jawa. Ketika diterima bekerja ditambang itu, ia memilih Jogja sebagai point of hire agar setiap kali cuti kami bisa bertemu. Dengannya juga impian utk menetap di Jogja saya bangun, meskipun akhirnya harus kandas. Terakhir saya menghubungi mantan pacar saya itu hampir setahun yang lalu, setelah 3 tahun memutuskan komunikasi antara saya dan dia. 3 tahun ternyata bukan waktu yang singkat, ternyata cukup panjang hingga membuat kami berdua sudah saling melupakan suara yang dulu akrab ditelinga masing-masing. Bayangkan, dulu hampir beberapa kali dalam sehari kami saling berbicara ditelepon, dengan ditemani suara kereta api (waktu ia tinggal di Lampung) atau suara kresek-kresek karena sinyal yang jelek ketika ia bekerja di pedalaman Kalimantan.

Ada kecanggungan yang ketika harus berbicara lagi dengannya. Wajar saya rasa, mengingat kami dulu adalah teman bicara. Berbagai pertanyaanpun muncul dari dia; mulai dari kabar, apakah saya sudah membeli rumah atau belum, apakah saya akan segera sekolah hingga kapan saya akan menikah. Begitupun berbagai pertanyaan juga hadir dari saya, mulai dari kabar dia dan keluarganya, anaknya sudah bisa ngapain hingga bagaimana kondisi pekerjaannya. It has been years our frequently asked question not being asked to each other..as simple as "how is today?". Ketika hubungan terjalin, maka akan banyak hal biasa menjadi luar biasa dan ketika ia berakhir, maka akan banyak juga hal luar biasa itu menjadi kembali biasa..suka atau tidak suka. Begitupun dengan saya dan dia..masa pacaran beberapa tahun itu terkikis oleh masa berjarak yang tak sebentar. semuanya terasa asing kembali.

Dari nadanya bertanya kepada saya, semua terasa seakan-akan saya dan dia masih seperti dulu, termasuk semua hal yang harusnya ia ketahui dari saya, padahal semua hal tidak lagi sama. Tak jarang juga ia bersikap seakan dia mengenal saya dengan baik dan memeberikan beberapa penilaian yang seakan-akan kondisi dia sekarang tidak lebih baik dari dulu, ketika bersama saya atau kondisi saya sekarang tidak lebih baik daripada ketika saya dulu bersama dia..

Lalu, mengapa dia tidak memilih saya saja waktu itu? agar kami bisa saling mensupport dan membuat hidup kami masing-masing terlihat lebih baik satu sama lain? Ya itulah yang disebut tidak berjodoh. Berbagai cara yang saya upayakan malah berhasil setelah kami berpisah, padahal sebelumnya semua syarat yang dia ajukan telah dengan senang hati saya penuhi malah tidak membawa saya dan dia bersatu di pelaminan. Ia malah berdiri di pelaminannya dengan pengantin wanita yang lainnya. Ya begitulah jodoh, ketika pilihan saya bertemu dengan takdir yang dipilihkan Tuhan untuk saya..Dengannya, saya telah memilih hati untuk saya singgahi, saya telah memilih mimpi untuk saya bangun dan memilih tumbuh tua bersamanya..tapi ternyata Tuhan tidak menetapkan dia untuk saya dan sebaliknya, Tuhan memilihkan orang lain yang lebih cocok mendampinginya daripada saya.

Butuh tiga tahun bagi saya untuk bisa menerima bahwa apa yang saya dan dia alami adalah hal yang disebut tidak berjodoh tadi. Seperti halnya banyak orang yang mengakui bahwa mereka percaya bahwa jodoh adalah urusan Tuhan, sayapun juga begitu. Tapi ternyata butuh lbih dari sekedar percaya, yang kita butuhkan adalah keyakinan bahwa semua memang telah diatur olehNya dengan sebaik-baiknya.

Butuh 3 tahun bagi saya untuk memaafkan dia setelah hubungan kami berakhir, padahal mungkin bukan hanya dia saja yang butuh dimaafkan, saya juga. Karena hubungan melibatkan dua orang; tidak hanya dia tapi juga saya. 3 tahun memang bukan waktu yg tidak sebentar. Tapi setelah itu, saya lega, bahwa saya bisa mengakhiri semua dengan baik dan melangkahkan kaki dengan perasaan yang ringan..


Selasa, 15 Mei 2012

Like finding shoes




sumber foto :http://www.martinphelps.com/blog/wp-content/uploads/2010/06/grittleton_b2928sm.jpg

Dari tulisan disebuah majalah wanita : "Finding love is like finding shoes. People go after the good looking ones, but they end up choosing the one they feel comfortable with."

Setelah dipikir-pikir quote diatas cenderung lebih banyak benarnya daripada salahnya. Kalau saya beli sepatu, biasanya akan mencari yang "lucu" dulu. Lucu disini berarti yang tampilannya unik, meskipun harganya murah tapi tidak murahan, ada detil cantik yang tidak rame seperti belt, payet atau pita. Saya akan cenderung memilih sepatu kerja dengan tumit 5cm kebawah saja, kalau lebih, kasian sepatunya yang akan kesulitan menopang si tuan yang berbadan besar seperti saya. Saya lebih suka sepatu yang berujung runcing daripada yang bulat atau persegi, membuat kaki gemuk saya terlihat lebih ramping. Kalau dari segi bahan, saya suka yang mengkilap daripada yang tidak, saya lebih suka yang beludru karena mengkilap dan berkesan mahal daripada yang kulit keras biasa.

Selesai menemukan masing-masing sepatu yang menarik mata, entah itu karena ada pita, payet-payet kecil yang manis atau karena kemengkilapannya; maka tibalah saatnya mencoba. Seringkali sepatu cantik yang saya pilih tadi tidak muat masuk ke kaki saya yang besar itu atau membuat kaki saya yang ga putih-putih amat itu terlihat kusam. Satu-persatu sepatu dicoba, akhirnya si pencoba akan mulai putus asa. Tiba-tiba iseng meraih sepatu yang nampak didepan mata dan memasukkan kaki kedalamnya dan taraaaaa..tiba-tiba sepatu yang ga masuk kategori tadi malah enak sekali dipakai, tidak kesempitan tidak kelonggaran, nyaman diinjak. Untuk memastikannya, dibawalah si sepatu berjalan-jalan agak sebentar, terasa makin nyaman. Tanpa pikir panjang akhirnya sepatu yang tadi langsung dibungkus dan dibayar. Sesampai di rumah, sepatu itu dibuka dan diamat-amati, ia tidak berujung runcing, tidak mengkilap bahkan hanya tampil polos dengan kulit yang lunak. Warnanyapun hanya warna standar saja, tapi begitu ia dipasang di kaki, ternyata warna, ornament bahan tidak lagi penting.

Begitu juga nampaknya dengan pasangan. Saya, lebih suka pasangan yang lebih tinggi dari saya, berkulit gelap. Inginnya saya, ia lebih pintar dari saya dan akan lebih baik kalo ia lebih keras dari saya sehingga saya bisa bersandar kepadanya kelak dan pasti akan menyenangkan kalo ia memiliki penghasilan dan pendidikan yang juga jauh lebih tinggi dari saya sehingga ia tidak perlu berpikir bahwa saya akan merendahkan dirinya. Tapi sepanjang perjalanan asmara saya (cieee berasa banyak fans), hanya satu-satu dari semua kriteria itu yang terpenuhi, entah itu fisik, entah itu pendidikan atau entah itu penghasilan. Tapi diluar semua kriteria standar tadi, bagi saya ya tetap saja perasaan nyaman dan nyambung kalo berbicara itu jauh lebih penting. Nyambung memang sering berhubungan dengan pembicaraan dan kesukaan sementara nyaman berhubungan dengan penerimaan dari sikap-sikap. Bagi saya pribadi, keduanya akan jauh lebih menyenangkan jika digabungkan. Pembicaraan ringan akan menjadi awal bagi saya untuk merasakan apakah saya nyambung dengan seseorang. Setelah perasaann nyambung itu muncul, maka kenyamanan akan bisa dirasakan.

Pria ganteng luar biasa seperti nicholas saputra, idolah teman saya novetra, tidak akan menarik lagi jika ia tidak bisa diajak ngobrol dengan enak. Dari ngobrol jalan bisa berlanjut ke kehidupan sehari-hari. Dari situlah saya akan mengetahui apakah dia benar-benar pria yang saya inginkan atau tidak, dari c ara dia bersikap, dari cara dia berbicara dan dari hal-hal lain yang seringkali tidak terlihat oleh kasat mata; seperti apakah ia bisa dijadikan tempat untuk dimintai pendapat jika saya punya persoalan, apakah ia akan memarahi saya kalau saya salah, atau ia akan memberitahu saya dengan baik-baik, apakah ia akan menenangkan saya ketika saya menangis dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja atau ia malah akan menganggap saya cengeng.
Dan ketika semua pertanyaan saya tentang sudah terjawab..dan ketika semakin hari perasaan nyaman itu mengemuka, dari situ saya akan tau, bahwa hal-hal penting lainnya yang lazim disebut kriteria menjadi tidak penting lagi.



Itu cerita saya, bagaimana cerita kalian temans?

Yang udah berkunjung ke sini ..