Saya teringat, disuatu pagi dihari minggu saya menerima sms :
"ibu, kapan bisa menemani saya membeli kain untuk membuat kebaya wisuda?, saya tidak tahu harus bertanya dan mengajak siapa lagi..saya kan sudah tidak punya mama .."
hari itu, saya masih berumur 28 tahun dan belum menikah..tapi sms yang saya terima di hape saya membuat saya merasa menjadi lebih tua beberapa tahun dan membuat saya seakan sedang menjadi seorang ibu bagi seorang anak.
ketika Tuhan mengirim saya ke Kota ini untuk melanjutkan hidup, saya baru berumur 27 tahun 10 bulan, masih single dan masih terintimidasi dengan pertanyaan kapan menikah? kapan punya anak? dan lain-lain..Hidup single itu menyenangkan..selama tidak sering mendengar apa kata orang disekeliling meskipun kadang ad masanya rasa iri melihat orang lain jalan berduaan akan menyergap..rasa sepi melihat orang lain bercengkarama dengan keluarganya akan menghampiri.
Dan ternyata salah satu alasan mengapa Tuhan mengirimkan saya ke kota ini adalah untuk bertemu dengan anak saya tadi beserta teman-temannya yang akhirnya menjadi anak saya yang lainnya. kalau dihitung-hitung, saya punya hampir 60 anak pada semester itu, meski tidak semua dekat dengan saya, tapi keberadaan mereka membuat saya sejenak melupakan keruwetan kehidupan seorang lajang dan menikmati masa single itu. Saya bertemu orang-orang ini di kampus tempat saya mengajar..di kelas yang riuh, yang pertama kali kaki melangkah wajah penuh tetesan keringat karena grogi..Dilain hal, saya merasa bahwa anak-anak itu dikirimkan Tuhan agar saya tidak kesepian dan agar saya bisa belajar menjadi seorang ibu.
Ketika satu dua datang kekelas dengan muka murung, saya belajar untuk menjadi teman bercerita..saya belajar untuk menjadi pendengar yang baik dan belajar untuk menahan diri untuk tidak menggurui. Meski kadang apa yang mereka ceritakan seakan mengorek luka hati saya juga, tapi saya juga belajar untuk tidak menyamaratakan persepsi orang terhadap satu masalah. Ketika mereka menangis, saya belajar untuk mengusap airmata mereka, belajar untuk menghibur orang lain seakan-akan saya sedang belajar untuk membujuk anak -anak yang sedang merajuk dengan setangkai permen..
Ketika semester berlalu berganti akan kecemasan dan keputusaaan akan tugas akhir, saya belajar untuk membesarkan hati mereka, meyakinkan mereka bahwa mereka bisa melakukannya seperti saat orang tua menyemanngati anaknya yang sedang belajar jalan..kadang mereka akan sampai ke pelukan, kadang mereka terjatuh dipertengahan...dan ketika mereka jatuh itulah saya belajar untuk menjadi supporter yang baik yang tidak akan menyerah menyemangati mereka yang bahkan sudah ingin menyerah..
Ketika mereka mengajak saya nongkrong minum skotang semalaman di jalan sudirman, saya belajar untuk mengenal dunia yang berbeda dengan dunia saya ketika masih seumuran mereka dan darinya saya belajar untuk menikmati hidup dari berbagai sisi. Skotang yang kami minum harganya cuma 10 rb segelas, tapi cerita yang akan kami bagi melebihi gelas yang ada di meja kami malam itu..dan ketika waktu sekotengan semakin jarang, saya belajar memaklumi bahwa mereka mungkin sedang ingin menikmati dunia mereka sendiri
Ketika sms diatas saya terima, saya seperti sedang belajar bagaimana jika suatu hari nanti anak gadis saya wisuda, kain baju kebaya seperti apa yang akan saya pilihkan? kain apa yang cocok jadi bawahannya? seharian itu saya benar-benar memiliki anak-anak gadis..memilihkan baju, menemani mereka mencari penjahit hingga memilihkan sepatu, menemani mereka membeli pakaian dalam..just like what a mom used to do with her kids..
Dan ketika kemaren saya melihat betapa gagah dan cantiknya mereka dalam balutan jas dan kebaya dihari wisuda mereka..diantara kebahagiaan dan kesedihan saya, saya belajar untuk melepaskan mereka..karena akan ada saatnya nanti mereka tidak menjadi anak-anak saya lagi..mereka akan terus berlari mengejar mimpi mereka dan terbang hingga tinggi...mungkin suatu hari nanti kami tidak akan bertemu lagi tapi saya hanya berharap ketika kami semakin jauh, mereka masih mengingat saya dan saat mereka jatuh, mereka boleh menangis dipelukan saya kapan saja
Bagi saya, anak-anak itu adalah salah satu bagian terbaik dalam kehidupan saya..
mereka memang bukan anak kandung saya, yang terlahir dari rahim saya..
tapi mereka adalah anak-anak yang terlahir dari hati saya...
Anak-anak saya itu mengajarkan saya bahwa hidup itu tidak sepi dan saya tidak pernah sendiri
“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.” ― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky --
Senin, 31 Oktober 2011
Kamis, 22 September 2011
kata pengantar untuk tugas akhir-versi saya :)
Malam ini rumah saya kedatangan banyak mahasiswa. Mereka datang bukan karena rindu, tapi karena minta tanda tangan untuk TA mereka yang akan dijilid..lariiisss tanda tangannya. sebelum menandatangani TA itu, saya membolak balik 4 TA yang berbeda untuk melihta..apa lagi kalau bukan kata pengantar:) tapi ternyata kata pengantar versi mereka standar sekali..he he
Tiba-tiba saya jadi ingin membandingkannya dengan kata pengantar untuk thesis saya setahun yang lalu. Dan ternyata, saya memang mahasiswa yang sentimentil (pada waktu itu)..kata pengantar saya alamakjang panjangnya :)
jadi ingin membaginya buat banyak orang..kali2 aja terinspirasi untuk membuat kata pengantar yang pas untuk TA, Skripsi, Dll :)
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahhirrabilalamiin..Segala puji hanyalah Untuk Allah SWT,
dengan segala kuasaNyalah tesis yang berjudul : “Analisis Faktor Ekonomi,
Teknologi, Produk Digital dan Perilaku Sebagai Faktor Yang Mendorong
Keberlanjutan Pembajakan Digital” ini bisa terwujud. Shalawat beriring salam
hanyalah untuk Rasulullah Muhammad SAW, yang melaluinya wahyu untuk
membaca diturunkan, sehingga menuntun umatnya menjadi manusia-manusia
pembelajar.
Tesis ini merupakan bentuk kerja keras yang tidak akan selesai begitu saja
tanpa bimbingan, nasehat dan pertolongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
ijinkanlah saya sebagai penulis dalam kesempatan ini menghaturkan ucapan
terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. Supriyadi, M.Sc., sebagai pengelola program Magister Sains Ilmu
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, beserta jajaran pengelola program lainnya
yang telah memberikan banyak kontribusi demi terciptanya suasana belajar
yang sangat kondusif
2. Dr. Sony Warsono, MAFIS., pembimbing baik hati yang telah mendorong
saya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi dan dengan
kesabaran mengajar dan membimbing saya untuk hasil tesis yang lebih baik
3. Prof. Jogiyanto, HM., MBA., dan Suyanto, SE., MBA., yang telah menguji
tesis saya hingga lulus
4. Orang tua juara satu sedunia saya; Papa Forial Miad dan Mama Yurnelis yang
dengan kerja keras dan doa merekalah saya sampai di tahapan penting
kehidupan saya ini, untuk setiap tetesan keringatnya yang menjadi pembakar
semangat dan setiap doa adalah untuk masa depan saya yang lebih baik, yang
telah meyakinkan saya untuk tidak pernah menyerah hingga tesis ini terwujud.
Semoga Allah selalu memberikan umur yang panjang, melimpahkan rejeki
dan membalas kerja keras Papa dan Mama selalu
5. Saudara-Saudara saya di rumah; Kakak saya Hijria Nugraha, SS dan Uda ipar
Saya Dr-eng. Meifal Rusli beserta adil dan azzam untuk setiap nasehat,
dorongan, semangatnya serta perpanjangan nafas bulanan ☺..Adik-adik Saya
Yuli Ela Kemara, SST dan Alpha Carry Argus, Amd serta Dzaky thanks for
being my real savior..you’ve got what you want and I’ve got mine..:)..Nahlia
Pertiwi dan Mahmuda Al-Ayyubi untuk setiap oleh-oleh yang ditagih setiap
saya pulang..We might never be perfect for each other as brother and sisters,
but it’s perfect already as the way it is… Keluarga besar di Tanjung Pinang
serta Keluarga Besar di Padang Panjang untuk setiap doa dan dukungannya.
6. Dosen-dosen yang amazing, adorable and charming yang telah membuat ilmu
pengetahuan menjadi hal yang amat mempesona dan menyenangkan. Beliaubeliau
yang telah rela membagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman demi masa
depan peradaban yang lebih baik, menginspirasi saya melalui tiap sesi kuliah
dan tiap tugas yang diberikan. Semoga Allah membalas semua ilmu yang telah
diberikan sebagai amal shalih yang tidak pernah putus
7. Teman-teman “systemic” asyik, yang membuat kuliah sistem menjadi amat
menyenangkan. Terima kasih buat satu trimester yang menyenangkan dan
membuat masa tesis yang penuh tekanan itu menjadi lebih mudah, sangat
menyenangkan bisa melewati ini semua bersama-sama dan melewati masa
kelulusan bersama-sama pula. Duwi Agustina; untuk pertanyaan:”udah di acc
apa belom” yang bikin stress tapi juga bikin semangat, buat jemput antarnya
serta teman curhat yang baik, Eska Almuntaha; buat kelapangan hati,
pengertian, rumah yang menyenangkan, mobil yang bisa dipakai kapan saja
serta kesediaan berbagi Ibu dengan kami, Theresia Purbandari; untuk setiap
sms yang bertujuan untuk mengingatkan apa saja dan menyemangati apa saja,
Rilo Pambudi; the nicest man alive.. thanks for being a very nice brother to
me..I know you will make it and I’ll be waiting for that good news dan Zulfa
Devina Rahman; adik, teman dan rival perjuangan untuk banyak hal, thanks
for understanding in my bad time, I owe you much. Semoga kesuksesan akan
mengiringi setiap langkah kita dimasa yang akan datang.
8. Teman-teman September 08 yang amat menyenangkan; Kak Anny Hutagaol
untuk setiap semangat, perjalanan, curhat dan pengertian yang telah dibagi
serta untuk our amazing bromo journey, Mb Ratih, Mb Grace, Nunik untuk
selalu hadir memberikan dukungan dan semangat disaat-saat penting, Aan
untuk pelajaran kehidupan, bahwa sesulit apapun hidup harus terus dihadapi,
jangan pernah menyerah ya An, Mb Wiwin dan Mb Ulva untuk pertemanan
yang tulus dan apa adanya, Mb Yanti, Anca, Usqo, Khairul untuk pelajaran
tentang sportifitas dan menghormati perbedaan pandangan, Mb Sinar, Lidya,
Mb Nay, Orin, Sisil, Ajeng, Nina, Untuk pengalaman pertemanan yang penuh
warna, Pak Gendro (Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi bapak).
Kuliah tidak akan pernah sama tanpa kehadiran kalian.
9. Para senior ; Amy, Mb Vera, Mb Indri, Mas Rohmad, Mas Mawardin, Wibi,
Mb Nona, Ario, Mas Endra, Dian, Mb Eva, Bang Iwir, Mb Yeni, Mb Ninuk,
Mb Nining, Andi, Ana, Ayu, Meli, Bang Lutfi, Mb Inggrit, Karlina, Pak
Edwin (may you rest in peace) Terima kasih atas penerimaan yang baik
terhadap kami para junior. Tetap semangat bagi yang belum selesai tesisnya
dan semoga sukses selalu bagi yang telah selesai ☺
10. Para Junior; Wandi, Ella, Cindy, Arif, Da Henri, Agus, Melda, Mb Neni, Mb
Evi, Mita, Azwar, Pak Hermanus, Mas Anton, Puput
11. Mas dan Mbak pegawai MSI UGM tanpa terkecuali. Terima kasih atas
bantuan-bantuan yang selalu diberikan dalam keramahan
12. Izumi-san, Itoi Sensei, Yoko-san serta para Sensei di Kyushu University for
giving me the chance and trusting me. Thanks for letting me improving
myself...You’re the greatest Guru I’ve ever knew, teman-teman HLPO; Mb
Wida, Arum, Wulan, Ami, Titis, Linda, Widya, Mb Sonya, Unggul, Putra,
Andi, Bung Ady, Bung Ari untuk pengertian, dan kerjasama serta
persahabatan yang indah ini
13. Vetra, Uut, Ika, Yola dan Cupi untuk dorongan semangat yang tanpa henti,
untuk selalu mengerti dan tidak pernah menyerah mengerti saya dan untuk
persahabatan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata
14. Leli, Lili dan Nani for our many years unconditional friendship, for the love,
joy and support..means so much for me
15. Kak Deni; untuk sisterhood yang everlasting, ni Anne; untuk selalu
mengingatkan tentang perlunya mencintai diri sendiri Memiliki kalian berdua
membuat saya menjadi adik paling beruntung sedunia
16. The asputers; yang membuat kehidupan merantau menjadi amat
menyenangkan, yang membuat saat-saat tidak punya uang jadi terasa tidak
begitu menyedihkan. Terima kasih untuk Dian, Yunita, Laras, Kristin, Bembi,
Ajeng dan Afifah untuk persahabatan yang menyenangkan, Bu Nona, Mami
Ely, Cece, Nti, Diana, Ria, Ayu serta teman-teman lainnya di Asput 70
Pogung Kidul.
17. Lili & adik, Ni devvy yang telah membantu penyebaran kuisioner, Para
responden yang telah membantu kelancaran penelitian ini serta Arif Perdana
yang telah membantu mengolah data. Semoga Allah memudahkan kalian
disetiap kesulitan yang dihadapi seperti kalian telah memudahkan penelitian
saya
18. Pihak-pihak lain yang telah memberikan kontribusinya namun tidak bisa
disebutkan satu persatu
Tesis adalah kuliah kehidupan. Yang setiap babnya mengajarkan tentang
pembelajaran sebenarnya, pembelajaran tentang menghargai hasil karya orang
lain, tentang ketelitian dan kesabaran untuk hasil yang maksimal, tentang terus
berjalan walaupun habis terang, Pembelajaran untuk tidak menyerah sesulit
apapun keadaannya dan yang terpenting, pembelajaran melawan diri sendiri...
Akhir kata, Semoga Allah membalas setiap sumbangsih yang diberikan
dan memberkatinya dengan kemudahan dalam setiap langkah yang diambil.
Amin.
Yogyakarta, Maret 2010
Hesty Wulandari
see? saya memang sentimentil :)
Tiba-tiba saya jadi ingin membandingkannya dengan kata pengantar untuk thesis saya setahun yang lalu. Dan ternyata, saya memang mahasiswa yang sentimentil (pada waktu itu)..kata pengantar saya alamakjang panjangnya :)
jadi ingin membaginya buat banyak orang..kali2 aja terinspirasi untuk membuat kata pengantar yang pas untuk TA, Skripsi, Dll :)
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahhirrabilalamiin..Segala puji hanyalah Untuk Allah SWT,
dengan segala kuasaNyalah tesis yang berjudul : “Analisis Faktor Ekonomi,
Teknologi, Produk Digital dan Perilaku Sebagai Faktor Yang Mendorong
Keberlanjutan Pembajakan Digital” ini bisa terwujud. Shalawat beriring salam
hanyalah untuk Rasulullah Muhammad SAW, yang melaluinya wahyu untuk
membaca diturunkan, sehingga menuntun umatnya menjadi manusia-manusia
pembelajar.
Tesis ini merupakan bentuk kerja keras yang tidak akan selesai begitu saja
tanpa bimbingan, nasehat dan pertolongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
ijinkanlah saya sebagai penulis dalam kesempatan ini menghaturkan ucapan
terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. Supriyadi, M.Sc., sebagai pengelola program Magister Sains Ilmu
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, beserta jajaran pengelola program lainnya
yang telah memberikan banyak kontribusi demi terciptanya suasana belajar
yang sangat kondusif
2. Dr. Sony Warsono, MAFIS., pembimbing baik hati yang telah mendorong
saya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi dan dengan
kesabaran mengajar dan membimbing saya untuk hasil tesis yang lebih baik
3. Prof. Jogiyanto, HM., MBA., dan Suyanto, SE., MBA., yang telah menguji
tesis saya hingga lulus
4. Orang tua juara satu sedunia saya; Papa Forial Miad dan Mama Yurnelis yang
dengan kerja keras dan doa merekalah saya sampai di tahapan penting
kehidupan saya ini, untuk setiap tetesan keringatnya yang menjadi pembakar
semangat dan setiap doa adalah untuk masa depan saya yang lebih baik, yang
telah meyakinkan saya untuk tidak pernah menyerah hingga tesis ini terwujud.
Semoga Allah selalu memberikan umur yang panjang, melimpahkan rejeki
dan membalas kerja keras Papa dan Mama selalu
5. Saudara-Saudara saya di rumah; Kakak saya Hijria Nugraha, SS dan Uda ipar
Saya Dr-eng. Meifal Rusli beserta adil dan azzam untuk setiap nasehat,
dorongan, semangatnya serta perpanjangan nafas bulanan ☺..Adik-adik Saya
Yuli Ela Kemara, SST dan Alpha Carry Argus, Amd serta Dzaky thanks for
being my real savior..you’ve got what you want and I’ve got mine..:)..Nahlia
Pertiwi dan Mahmuda Al-Ayyubi untuk setiap oleh-oleh yang ditagih setiap
saya pulang..We might never be perfect for each other as brother and sisters,
but it’s perfect already as the way it is… Keluarga besar di Tanjung Pinang
serta Keluarga Besar di Padang Panjang untuk setiap doa dan dukungannya.
6. Dosen-dosen yang amazing, adorable and charming yang telah membuat ilmu
pengetahuan menjadi hal yang amat mempesona dan menyenangkan. Beliaubeliau
yang telah rela membagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman demi masa
depan peradaban yang lebih baik, menginspirasi saya melalui tiap sesi kuliah
dan tiap tugas yang diberikan. Semoga Allah membalas semua ilmu yang telah
diberikan sebagai amal shalih yang tidak pernah putus
7. Teman-teman “systemic” asyik, yang membuat kuliah sistem menjadi amat
menyenangkan. Terima kasih buat satu trimester yang menyenangkan dan
membuat masa tesis yang penuh tekanan itu menjadi lebih mudah, sangat
menyenangkan bisa melewati ini semua bersama-sama dan melewati masa
kelulusan bersama-sama pula. Duwi Agustina; untuk pertanyaan:”udah di acc
apa belom” yang bikin stress tapi juga bikin semangat, buat jemput antarnya
serta teman curhat yang baik, Eska Almuntaha; buat kelapangan hati,
pengertian, rumah yang menyenangkan, mobil yang bisa dipakai kapan saja
serta kesediaan berbagi Ibu dengan kami, Theresia Purbandari; untuk setiap
sms yang bertujuan untuk mengingatkan apa saja dan menyemangati apa saja,
Rilo Pambudi; the nicest man alive.. thanks for being a very nice brother to
me..I know you will make it and I’ll be waiting for that good news dan Zulfa
Devina Rahman; adik, teman dan rival perjuangan untuk banyak hal, thanks
for understanding in my bad time, I owe you much. Semoga kesuksesan akan
mengiringi setiap langkah kita dimasa yang akan datang.
8. Teman-teman September 08 yang amat menyenangkan; Kak Anny Hutagaol
untuk setiap semangat, perjalanan, curhat dan pengertian yang telah dibagi
serta untuk our amazing bromo journey, Mb Ratih, Mb Grace, Nunik untuk
selalu hadir memberikan dukungan dan semangat disaat-saat penting, Aan
untuk pelajaran kehidupan, bahwa sesulit apapun hidup harus terus dihadapi,
jangan pernah menyerah ya An, Mb Wiwin dan Mb Ulva untuk pertemanan
yang tulus dan apa adanya, Mb Yanti, Anca, Usqo, Khairul untuk pelajaran
tentang sportifitas dan menghormati perbedaan pandangan, Mb Sinar, Lidya,
Mb Nay, Orin, Sisil, Ajeng, Nina, Untuk pengalaman pertemanan yang penuh
warna, Pak Gendro (Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi bapak).
Kuliah tidak akan pernah sama tanpa kehadiran kalian.
9. Para senior ; Amy, Mb Vera, Mb Indri, Mas Rohmad, Mas Mawardin, Wibi,
Mb Nona, Ario, Mas Endra, Dian, Mb Eva, Bang Iwir, Mb Yeni, Mb Ninuk,
Mb Nining, Andi, Ana, Ayu, Meli, Bang Lutfi, Mb Inggrit, Karlina, Pak
Edwin (may you rest in peace) Terima kasih atas penerimaan yang baik
terhadap kami para junior. Tetap semangat bagi yang belum selesai tesisnya
dan semoga sukses selalu bagi yang telah selesai ☺
10. Para Junior; Wandi, Ella, Cindy, Arif, Da Henri, Agus, Melda, Mb Neni, Mb
Evi, Mita, Azwar, Pak Hermanus, Mas Anton, Puput
11. Mas dan Mbak pegawai MSI UGM tanpa terkecuali. Terima kasih atas
bantuan-bantuan yang selalu diberikan dalam keramahan
12. Izumi-san, Itoi Sensei, Yoko-san serta para Sensei di Kyushu University for
giving me the chance and trusting me. Thanks for letting me improving
myself...You’re the greatest Guru I’ve ever knew, teman-teman HLPO; Mb
Wida, Arum, Wulan, Ami, Titis, Linda, Widya, Mb Sonya, Unggul, Putra,
Andi, Bung Ady, Bung Ari untuk pengertian, dan kerjasama serta
persahabatan yang indah ini
13. Vetra, Uut, Ika, Yola dan Cupi untuk dorongan semangat yang tanpa henti,
untuk selalu mengerti dan tidak pernah menyerah mengerti saya dan untuk
persahabatan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata
14. Leli, Lili dan Nani for our many years unconditional friendship, for the love,
joy and support..means so much for me
15. Kak Deni; untuk sisterhood yang everlasting, ni Anne; untuk selalu
mengingatkan tentang perlunya mencintai diri sendiri Memiliki kalian berdua
membuat saya menjadi adik paling beruntung sedunia
16. The asputers; yang membuat kehidupan merantau menjadi amat
menyenangkan, yang membuat saat-saat tidak punya uang jadi terasa tidak
begitu menyedihkan. Terima kasih untuk Dian, Yunita, Laras, Kristin, Bembi,
Ajeng dan Afifah untuk persahabatan yang menyenangkan, Bu Nona, Mami
Ely, Cece, Nti, Diana, Ria, Ayu serta teman-teman lainnya di Asput 70
Pogung Kidul.
17. Lili & adik, Ni devvy yang telah membantu penyebaran kuisioner, Para
responden yang telah membantu kelancaran penelitian ini serta Arif Perdana
yang telah membantu mengolah data. Semoga Allah memudahkan kalian
disetiap kesulitan yang dihadapi seperti kalian telah memudahkan penelitian
saya
18. Pihak-pihak lain yang telah memberikan kontribusinya namun tidak bisa
disebutkan satu persatu
Tesis adalah kuliah kehidupan. Yang setiap babnya mengajarkan tentang
pembelajaran sebenarnya, pembelajaran tentang menghargai hasil karya orang
lain, tentang ketelitian dan kesabaran untuk hasil yang maksimal, tentang terus
berjalan walaupun habis terang, Pembelajaran untuk tidak menyerah sesulit
apapun keadaannya dan yang terpenting, pembelajaran melawan diri sendiri...
Akhir kata, Semoga Allah membalas setiap sumbangsih yang diberikan
dan memberkatinya dengan kemudahan dalam setiap langkah yang diambil.
Amin.
Yogyakarta, Maret 2010
Hesty Wulandari
see? saya memang sentimentil :)
Rabu, 14 September 2011
From A Friendship Into Relationship; Why Not ?
Setelah saya ingat-ingat, banyak sekali teman saya; baik teman sekolah atau teman kuliah yang akhirnya menikah dengan temannya sendiri. Di kelas saya sewaktu SMU saja, ada dua pasang teman yang menikah sekelas. Itu baru yang sekelas saja lo, belum termasuk yang menikah seangkatan, lebih banyak lagi. Begitu juga dengan seorang teman baik saya waktu kuliah yang akhirnya menikah dengan (lagi-lagi) teman sekelas kami yang dulu sering ia ejek-ejek :). Orang yang menikah dengan teman sendiri juga pernah dibahas dalam koran Kompas.
Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada yang salah dari hubungan istimewa yang dimulai dari pertemanan. Bahkan hubungan dari pertemanan memiliki potensi untuk awet ketika berubah format. Mungkin salah satunya karena periode pertemanan yang biasanya terjalin dalam waktu yang cukup lama sehingga memungkinkan kita lebih mudah untuk menerima keadaan seseorang yang akan menjadi pasangan kita. waktu pertemanan yang cukup lama juga memungkinkan kita untuk melihat banyak sisi dari orang lain; baik sisi positif ataupun negatif. Sisi positif seseorang merupakan hal yang mudah diterima sementara sisi negatif tentu saja memerlukan lebih banyak ruang dari hati untuk bisa memakluminya. Jika teman kita pelupa, maka ketika memutuskan untuk menjadikan ia pasangan tentu saja kita sudah mempertimbangkan hal ini sebelumnya sehingga tidak terlalu sulit lagi untuk beradaptasi.
Jika salah satu faktor yang menjadi pertimbangan untuk memilih seseorang menjadi pasangan kita adalah penerimaan keluarga; baik keluarga kita ataupun keluarga dia. Semakin lama kita berteman dengan seseorang, maka biasanya akan semakin besar kemungkinan kita untuk dikenal baik dikeluarganya si dia dan sebaliknya. Seperti saya yang mendapatkan banyak orang tua dan saudara-saudara tambahan karena banyak teman. Sepanjang tidak ada track record yang buruk dimata keluarga teman tadi, saya pikir langkah selanjutnya akan jauh lebih mudah karena sudah tidak ada yang perlu ditaklukkan secara berlebihan.
Hal berikutnya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangkan ketika akan memutuskan menjalin hubungan dengan seorang teman adalah banyak sumber valid yang bisa dimintai pendapat tentang calon pasangan. Yang jelas teman-teman yang berada dilingkaran pertemanan itu sendiri akan jadi narasumber yang pas. Mereka (teman-teman kita itu) juga mestinya juga akan menjadi penilai yang baik karena mereka juga sudah mengenal temannya cukup lama
Dengan segala kemudahan yang ada didepan mata bukan berarti hubungan yang dimulai dari pertemanan ini tak memiliki tantangan sama sekali. Tantangan terbesarnya justru memisahkan antara status teman dan status pasangan itu sendiri. Kebiasaan santai dan memperlakukan teman sama rata kemungkinan akan terbawa dalam hubungan dan berpotensi untuk menimbulkan kesalahpahaman. bagaimanapun, setelah mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan seseorang (meskipun awalnya teman), posisinya pasti berubah dari seorang teman (biasa) menjadi teman (istimewa) yang mau tidak mau akan mempengaruhi sudut pandang dan perasaan yang ada.
Selain itu banyak orang yang beralasan bahwa hubungan yang dimulai dari teman itu sulit untuk mendapatkan chemistrynya..lha, ini kan bukan percobaan kimia. yang namanya perasaan kan bukan seperti batu yang keras sehingga tidak bisa diotak atik sama sekali. lha wong pepatang jawa aja b ilang witing tresno jalaran soko kulino kok yo...jadi kenapa harus tidak yakin kalau rasa (chemistry) itu tidak bisa ditumbuhkan?
Tantangan lain yang tak kalah sulit adalah tetap berteman meskipun hubungan itu tidak berhasil sepenuhnya karena tak jarang pasangan yang berasal pertemanan sudah terlebih dahulu kehilangan teman-teman mereka ketika hubungan dimulai dan semakin kehilangan teman ketika hubungan ini tidak berjalan...
Kalau tidak ada masalah dengan hal-hal diatas, mengapa tidak mencobanya? :)
Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada yang salah dari hubungan istimewa yang dimulai dari pertemanan. Bahkan hubungan dari pertemanan memiliki potensi untuk awet ketika berubah format. Mungkin salah satunya karena periode pertemanan yang biasanya terjalin dalam waktu yang cukup lama sehingga memungkinkan kita lebih mudah untuk menerima keadaan seseorang yang akan menjadi pasangan kita. waktu pertemanan yang cukup lama juga memungkinkan kita untuk melihat banyak sisi dari orang lain; baik sisi positif ataupun negatif. Sisi positif seseorang merupakan hal yang mudah diterima sementara sisi negatif tentu saja memerlukan lebih banyak ruang dari hati untuk bisa memakluminya. Jika teman kita pelupa, maka ketika memutuskan untuk menjadikan ia pasangan tentu saja kita sudah mempertimbangkan hal ini sebelumnya sehingga tidak terlalu sulit lagi untuk beradaptasi.
Jika salah satu faktor yang menjadi pertimbangan untuk memilih seseorang menjadi pasangan kita adalah penerimaan keluarga; baik keluarga kita ataupun keluarga dia. Semakin lama kita berteman dengan seseorang, maka biasanya akan semakin besar kemungkinan kita untuk dikenal baik dikeluarganya si dia dan sebaliknya. Seperti saya yang mendapatkan banyak orang tua dan saudara-saudara tambahan karena banyak teman. Sepanjang tidak ada track record yang buruk dimata keluarga teman tadi, saya pikir langkah selanjutnya akan jauh lebih mudah karena sudah tidak ada yang perlu ditaklukkan secara berlebihan.
Hal berikutnya yang mungkin bisa dijadikan pertimbangkan ketika akan memutuskan menjalin hubungan dengan seorang teman adalah banyak sumber valid yang bisa dimintai pendapat tentang calon pasangan. Yang jelas teman-teman yang berada dilingkaran pertemanan itu sendiri akan jadi narasumber yang pas. Mereka (teman-teman kita itu) juga mestinya juga akan menjadi penilai yang baik karena mereka juga sudah mengenal temannya cukup lama
Dengan segala kemudahan yang ada didepan mata bukan berarti hubungan yang dimulai dari pertemanan ini tak memiliki tantangan sama sekali. Tantangan terbesarnya justru memisahkan antara status teman dan status pasangan itu sendiri. Kebiasaan santai dan memperlakukan teman sama rata kemungkinan akan terbawa dalam hubungan dan berpotensi untuk menimbulkan kesalahpahaman. bagaimanapun, setelah mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan seseorang (meskipun awalnya teman), posisinya pasti berubah dari seorang teman (biasa) menjadi teman (istimewa) yang mau tidak mau akan mempengaruhi sudut pandang dan perasaan yang ada.
Selain itu banyak orang yang beralasan bahwa hubungan yang dimulai dari teman itu sulit untuk mendapatkan chemistrynya..lha, ini kan bukan percobaan kimia. yang namanya perasaan kan bukan seperti batu yang keras sehingga tidak bisa diotak atik sama sekali. lha wong pepatang jawa aja b ilang witing tresno jalaran soko kulino kok yo...jadi kenapa harus tidak yakin kalau rasa (chemistry) itu tidak bisa ditumbuhkan?
Tantangan lain yang tak kalah sulit adalah tetap berteman meskipun hubungan itu tidak berhasil sepenuhnya karena tak jarang pasangan yang berasal pertemanan sudah terlebih dahulu kehilangan teman-teman mereka ketika hubungan dimulai dan semakin kehilangan teman ketika hubungan ini tidak berjalan...
Kalau tidak ada masalah dengan hal-hal diatas, mengapa tidak mencobanya? :)
Selasa, 13 September 2011
Cinta Pertama Anyone ?:)
malam ini, saya dan empat orang teman membahas tentang cinta pertama kami masing-masing saat sedang makan malam bersama. Seru juga ternyata pengalaman-pengalaman tentang cinta pertama, seseru perdebatan tentang defenisi apa siy cinta pertama itu, apa ia sama dengan pacar pertama atau cinta monyet atau beda sama sekali?
Salah seorang teman memberikan klasifikasi bahwa yang namanya cinta pertama tidak melulu sama dengan pacar pertama. Cinta pertama itu terjadi ketika kita jatuh hati pada seseorang yang kemudian membuat kita mengerti apa sebenarnya cinta itu; mulai dari deg-degan kalau mau ketemu tapi tetap aja selalu ingin ketemu, selalu ingin memperhatikan dan diperhatikan, dst dst. Sebagian orang mendapatkan cinta pertamanya pada pacar pertamanya atau mendapatkan cinta pertamanya pada saat ia berada pada fase cinta monyet. Jadi, cinta pertama, cinta monyet dan pacar pertama bisa saja sama tapi bisa juga tidak.
Seorang teman bercerita kalau cinta pertamanya dirasakan pada waktu duduk di kelas 5 SD, teman yang lainnya ada yang pas SMP dan saya ..hmm pas SMU. Cukup telat ya? kialo naksir-naksiran siy sebelum itu juga pernah, tapi seseorang yang membuat saya tahu tentang defenisi cinta itu saya temukan di bangku SMU. Pertama kali kenal saya takjub dengan suaranya yang amat keras, ketawanya juga amat keras bahkan tepuk tangannya lebih keras lagi. Dulu ia salah satu siswa yang amat rapi. Baju seragamnya ga pernah selebor, selalu masuk kedalam dengan ikat pinggang yang terlihat jelas terpasang. Dulu, ia tidak bisa mengetik di komputer. Pernah kami dikasih PR yang harus diketik komputer, punya dia huruf gede semua. he he
Sebenarnya lucu juga ya bisa jatuh cinta pada orang yang awalnya dinilai biasa begini. Sebenarnya dibalik ke"biasa"annya, pria ini memiliki bakat kepemimpinan yang bagus, murah hati dan teman debat yang asyik daerlin badannya bagus :). ia mulai terlihat tidak biasa saat kami sekelas menghabiskan liburan di kampungnya wali kelas yang dingin. Di kota yang sedingin itu, saya menemukan ia lari pagi hanya dengan celana pendek dan singlet..beuuuhhh keren abis :)
Sayangnya dia hanya cinta pertama saja..no more. Dan bahkan saya pernah kehilangan pertemanan saya dan dia selama empat tahun dan alhamdulillah bisa berbaikan dan jadi teman baik sampai sekarang meski sudah lama tak bertukar kabar. Ia bekerja di daerah, jadi pejabat, sudah menikah dengan perempuan cantik yang juga saya kenal baik. Waktu ia menikah, saya yang mengurus pengiriman souvenirnya dari Jogja meskipun tidak bisa datang langsung pada acaranya.
Heiii..tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki kan?
setidaknya saya senang dia menemukan orang yang tepat untuk mendampinginya
dan saya ikut bahagia melihat ia bahagia dengan kehidupannya saat ini
Ini ceritaku..bagaimana ceritamu ?
Salah seorang teman memberikan klasifikasi bahwa yang namanya cinta pertama tidak melulu sama dengan pacar pertama. Cinta pertama itu terjadi ketika kita jatuh hati pada seseorang yang kemudian membuat kita mengerti apa sebenarnya cinta itu; mulai dari deg-degan kalau mau ketemu tapi tetap aja selalu ingin ketemu, selalu ingin memperhatikan dan diperhatikan, dst dst. Sebagian orang mendapatkan cinta pertamanya pada pacar pertamanya atau mendapatkan cinta pertamanya pada saat ia berada pada fase cinta monyet. Jadi, cinta pertama, cinta monyet dan pacar pertama bisa saja sama tapi bisa juga tidak.
Seorang teman bercerita kalau cinta pertamanya dirasakan pada waktu duduk di kelas 5 SD, teman yang lainnya ada yang pas SMP dan saya ..hmm pas SMU. Cukup telat ya? kialo naksir-naksiran siy sebelum itu juga pernah, tapi seseorang yang membuat saya tahu tentang defenisi cinta itu saya temukan di bangku SMU. Pertama kali kenal saya takjub dengan suaranya yang amat keras, ketawanya juga amat keras bahkan tepuk tangannya lebih keras lagi. Dulu ia salah satu siswa yang amat rapi. Baju seragamnya ga pernah selebor, selalu masuk kedalam dengan ikat pinggang yang terlihat jelas terpasang. Dulu, ia tidak bisa mengetik di komputer. Pernah kami dikasih PR yang harus diketik komputer, punya dia huruf gede semua. he he
Sebenarnya lucu juga ya bisa jatuh cinta pada orang yang awalnya dinilai biasa begini. Sebenarnya dibalik ke"biasa"annya, pria ini memiliki bakat kepemimpinan yang bagus, murah hati dan teman debat yang asyik daerlin badannya bagus :). ia mulai terlihat tidak biasa saat kami sekelas menghabiskan liburan di kampungnya wali kelas yang dingin. Di kota yang sedingin itu, saya menemukan ia lari pagi hanya dengan celana pendek dan singlet..beuuuhhh keren abis :)
Sayangnya dia hanya cinta pertama saja..no more. Dan bahkan saya pernah kehilangan pertemanan saya dan dia selama empat tahun dan alhamdulillah bisa berbaikan dan jadi teman baik sampai sekarang meski sudah lama tak bertukar kabar. Ia bekerja di daerah, jadi pejabat, sudah menikah dengan perempuan cantik yang juga saya kenal baik. Waktu ia menikah, saya yang mengurus pengiriman souvenirnya dari Jogja meskipun tidak bisa datang langsung pada acaranya.
Heiii..tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki kan?
setidaknya saya senang dia menemukan orang yang tepat untuk mendampinginya
dan saya ikut bahagia melihat ia bahagia dengan kehidupannya saat ini
Ini ceritaku..bagaimana ceritamu ?
Kamis, 14 Juli 2011
Happy Birthday Mom
setelah merantau ke Jogja dan berhasil menghidupkan kehidupan sendiri untuk 4 tahun, rasanya gamang sekali ketika harus kembali mendekat ke rumah. Dulu ketika saya di Jogja, jadwal pulang sekali setahun adalah waktu yang saya tunggu, ga peduli titipan yang melebihi jatah bagasi untuk dicari, ga peduli harus jualan brownies agar bisa balik lagi ke Jogja. Ketika harus benar-benar pulang, saya galau..saya takut..
Saya pernah berkata pada mama saya ketika beliau menyuruh saya segera pulang setelah wisuda. saya katakan kalau saya takut jika saya pulang, beliau akan menjadi tidak sabar melihat hidup saya bergerak tidak secepat gerak hidup orang lain, tidak secepat gerak hidup teman-teman saya, anak-anaknya teman mama saya ataupun tidak seperti yang beliau inginkan. Saya takut sekali jika berdekatan dan mengalami fase seperti itu, beliau menjadi tidak bisa melihat kembali hal-hal baik dalam diri saya..seperti dulu...
It happened..
not as worst as before..but it worse enough for me
Di satu waktu, saya masih mendengar permintaan itu dari mama untuk saya..
permintaan yang sulit untuk saya penuhi...
hingga saya merasa begitu buruk dan tak berarti di mata beliau dan segala yang saya capai terasa sia-sia..
dan saya kehilangan hari-hari bersinar saya..
sibuk memikirkan mengapa begini mengapa begitu..
Diisatu film india tentang anak dyslexia yang saya tonton, saya menangis..
saya menangis di adegan saat ishaan masuk asrama dan menangis..dengan lagu yang menyayat hati..
lirik lagunya berbunyi :"apakah aku begitu buruk mama?"
dan membuat saya kembali berpikir, apakah saya harus bertubuh sempurna untuk mendapatkan cinta yang sama dengan cinta yang diberikan mama saya kepada saudara saya yang lainnya..?
Di suatu malam, saat saya pulang ke Padang
akhirnya saya menangis lagi
kali ini di depan beliau
mama saya
disaat beliau kembali menyampaikan permintaan itu
dengan cara beliau..yang tak pernah saya mengerti
dan dengan tangisan itu saya berbicara
dengan mulut yang bergetar dan airmata yang mengalir tanpa henti
mengatakan bahwa jika memang itu akan membuat beliau bangga terhadap saya, saya akan melakukannya..
meski harus membayar mahal untuk membeli sederetan suplemen yang bisa menyulap tubuh saya seperti yang beliau inginkan...
dan beliau menjawab..
"mama mengkhawatirkan kamu..kesehatan dan persyaratan untuk menjadi 100% pns"
"mama takut kamu ga bisa melaluinya nanti.."
sedu sedan itu masih berlanjut dalam pembicaraan ibu dan anak itu
dan saya merenung..
mungkin saya memang masih belum bisa memahami mama saya dengan baik
dan begitupun beliau, ada yang masih belum bisa beliau pahami dengan baik dari saya
mungkin beliau sebegitu sayangnya pada saya hingga tak bisa menyingkirkan kekhawatiran itu pada diri saya
dan mungkin saya juga masih belum paham bahasa cinta mama pada saya yang selama ini semua tersampaikan bukan dengan cara yang kami inginkan masing-masing..
ternyata masih banyak hal yang harus saya dan mama pelajari dalam hubungan mama dan anak perempuannya
"ma, saya memang masih gemuk, hingga hari ini..
tapi saya masih bisa dibanggakan..
saya bekerja, dengan pekerjaan yang dulu mama impikan untuk kakak saya..saya mewujudkannya..
gaji saya memang tidak tinggi ma, tapi saya masih bisa mentraktir mama sedikit kalau mama ke pekanbaru..
Saya belum menikah ma, tapi saya yakin saya akan menemukan dia suatu hari nanti..
saya bukan orang gendut yang hanya tinggal di rumah, menghabiskan hari didepan makanan dan tempat tidur
jadi, do not worry much about me mom..I'll live my life well:)"
Happy birthday mom..
I pray for your longer life, healthy and wealthy..
So we can fix our relationship and turn it into a frinedship
Then you can see reach my doctoral degree and feel proud of me
being beside me on my wedding
and taking care of your next grandchildren
Dear mom,
in many ways, we are so identical while in other ways, we are so different..
But you know mom, I love you more than my big body..
and i know that you love me that much too:
Saya pernah berkata pada mama saya ketika beliau menyuruh saya segera pulang setelah wisuda. saya katakan kalau saya takut jika saya pulang, beliau akan menjadi tidak sabar melihat hidup saya bergerak tidak secepat gerak hidup orang lain, tidak secepat gerak hidup teman-teman saya, anak-anaknya teman mama saya ataupun tidak seperti yang beliau inginkan. Saya takut sekali jika berdekatan dan mengalami fase seperti itu, beliau menjadi tidak bisa melihat kembali hal-hal baik dalam diri saya..seperti dulu...
It happened..
not as worst as before..but it worse enough for me
Di satu waktu, saya masih mendengar permintaan itu dari mama untuk saya..
permintaan yang sulit untuk saya penuhi...
hingga saya merasa begitu buruk dan tak berarti di mata beliau dan segala yang saya capai terasa sia-sia..
dan saya kehilangan hari-hari bersinar saya..
sibuk memikirkan mengapa begini mengapa begitu..
Diisatu film india tentang anak dyslexia yang saya tonton, saya menangis..
saya menangis di adegan saat ishaan masuk asrama dan menangis..dengan lagu yang menyayat hati..
lirik lagunya berbunyi :"apakah aku begitu buruk mama?"
dan membuat saya kembali berpikir, apakah saya harus bertubuh sempurna untuk mendapatkan cinta yang sama dengan cinta yang diberikan mama saya kepada saudara saya yang lainnya..?
Di suatu malam, saat saya pulang ke Padang
akhirnya saya menangis lagi
kali ini di depan beliau
mama saya
disaat beliau kembali menyampaikan permintaan itu
dengan cara beliau..yang tak pernah saya mengerti
dan dengan tangisan itu saya berbicara
dengan mulut yang bergetar dan airmata yang mengalir tanpa henti
mengatakan bahwa jika memang itu akan membuat beliau bangga terhadap saya, saya akan melakukannya..
meski harus membayar mahal untuk membeli sederetan suplemen yang bisa menyulap tubuh saya seperti yang beliau inginkan...
dan beliau menjawab..
"mama mengkhawatirkan kamu..kesehatan dan persyaratan untuk menjadi 100% pns"
"mama takut kamu ga bisa melaluinya nanti.."
sedu sedan itu masih berlanjut dalam pembicaraan ibu dan anak itu
dan saya merenung..
mungkin saya memang masih belum bisa memahami mama saya dengan baik
dan begitupun beliau, ada yang masih belum bisa beliau pahami dengan baik dari saya
mungkin beliau sebegitu sayangnya pada saya hingga tak bisa menyingkirkan kekhawatiran itu pada diri saya
dan mungkin saya juga masih belum paham bahasa cinta mama pada saya yang selama ini semua tersampaikan bukan dengan cara yang kami inginkan masing-masing..
ternyata masih banyak hal yang harus saya dan mama pelajari dalam hubungan mama dan anak perempuannya
"ma, saya memang masih gemuk, hingga hari ini..
tapi saya masih bisa dibanggakan..
saya bekerja, dengan pekerjaan yang dulu mama impikan untuk kakak saya..saya mewujudkannya..
gaji saya memang tidak tinggi ma, tapi saya masih bisa mentraktir mama sedikit kalau mama ke pekanbaru..
Saya belum menikah ma, tapi saya yakin saya akan menemukan dia suatu hari nanti..
saya bukan orang gendut yang hanya tinggal di rumah, menghabiskan hari didepan makanan dan tempat tidur
jadi, do not worry much about me mom..I'll live my life well:)"
Happy birthday mom..
I pray for your longer life, healthy and wealthy..
So we can fix our relationship and turn it into a frinedship
Then you can see reach my doctoral degree and feel proud of me
being beside me on my wedding
and taking care of your next grandchildren
Dear mom,
in many ways, we are so identical while in other ways, we are so different..
But you know mom, I love you more than my big body..
and i know that you love me that much too:
Jumat, 29 April 2011
Fisik, Suku, Pendidikan dan Pasangan hidup
Setelah beberapa kali mengalami yang namanya merasa-menemukan-orang-yang-tepat-namun-kemudian-menyadari-bukan-dia-orangnya...saya mulai menyadari kalau saya punya tiga hal yang amat sangat utama untuk tidak terpilih untuk memenangkan hati seorang pria..
Hal yang pertama jelaslah masalah fisik..hal yang kedua masalah suku dan yang ketiga masalah pendidikan
Masalah fisik sudah makanan sehari-hari..hampir khatamlah saya untuk urusan ini..saya termasuk kategori yang ga bisa dipajang..ga bisa dibanggakan untuk dibawa-bawa..Suatu kali dalam perjalanan pulang, seorang kenalan di mobil angkutan menawarkan saya untuk dijodohkan dengan daftar kenalannya..ia langsung menelpon saat itu juga dan menawarkan ke kenalannya untuk kenalan dengan saya :
"saya punya kenalan niy, dosen umurnya 28 tahun..kamu mau ga kenalan"
"badannya siy montok..tapi obat herbal kan ada di mana-mana "
si ibu menelpon dengan suara keras yang bisa dipastikan hampir semua orang di mobil itu bisa mendengarnya..saya mendadak ingin sembunyi saja..tapi baju kiriman si vetra semalam memukul kesadaran saya bahwa saya ikut andil dalam penolakan itu..dengan tidak menunjukkan kebanggaan menjadi orang besar :)..jujur..kalau sudah berhadapan dengan masalah relationship..saya kehilangan kepercayaan diri untuk bisa merasa sama dengan wanita-wanita lain..Besok saya akan pake bajunya jalan-jalan :)
Berikutnya saya perlu berjuang duia tahun lebih untuk bisa diterima disebuah keluarga jawa..dan akhirnya gagal..dalam mindset mereka (keluarga itu), yang namanya wanita minang itu suka mengatur, ga suka berbagi, pelit, pemarah dll...dan si ibu takutnya anaknya jadi tidak memikirkan keluarganya lagi kalo punya menantu seperti saya ...:) ya sudahlah..sampai hari ini saya tetap bangga jadi perempuan minang, yang mandiri tapi tidak serta merta melupakan bahwa saya butuh pria..bagi saya setiap pria dan wanita memiliki koneksi yang tak terkatakan..kadang ia timbul tanpa alasan..dan tanpa persyaratan latar belakang tapi banyak orang yang memilih untuk membuatnya sulit...Tidak semua keluarga lain suku keberatan menerima menantu dari lain suku..saya percaya itu
Yang belakangan ini yang mulai diperhitungkan adalah gelar kesarjanaan saya...
saya kuliah hingga tiga kali dengan tiga deret gelar yang bisa disandingkan dibelakang nama..mulai dari gelar S1, profesi hingga S2. tapi gelar itu bukan difungsikan untuk menjatuhkan harga diri seorang pria..Deretan gelar itu juga bukan alasan untuk sesuatu yang bernama prestise..itu perlambang sebuah perjuangan..lambang dari kecintaan terhadap ilmu pengetahuan serta persyaratan untuk sebuah pilihan profesi... Bagi saya gelar tidak selalu identik dengan kepintaran dan kemudian kemungkinan untuk merendahkan orang yang gelarnya tidak sebanyak itu.. dan saya masih belum ingin berhenti..
Dalam pemikiran saya, seorang wanita mestilah berpendidikan karena ditangannyalah pendidikan generasi berikutnya berada, ia juga mesti tangguh karena ketika sesuatu terjadi dengan keluarga, ia harus siap untuk berbagi posisi dengan patnernya namun yang paling penting dari itu semua..ia harus bisa berbesar hati..jika semua yang ia inginkan tidak ia dapatkan..
But I will not stop hoping and searching..
God just hiding him in somewhere and all i need to do is keep looking :)
cuma cerita ga jelas..
dah lama ga nulis
Hal yang pertama jelaslah masalah fisik..hal yang kedua masalah suku dan yang ketiga masalah pendidikan
Masalah fisik sudah makanan sehari-hari..hampir khatamlah saya untuk urusan ini..saya termasuk kategori yang ga bisa dipajang..ga bisa dibanggakan untuk dibawa-bawa..Suatu kali dalam perjalanan pulang, seorang kenalan di mobil angkutan menawarkan saya untuk dijodohkan dengan daftar kenalannya..ia langsung menelpon saat itu juga dan menawarkan ke kenalannya untuk kenalan dengan saya :
"saya punya kenalan niy, dosen umurnya 28 tahun..kamu mau ga kenalan"
"badannya siy montok..tapi obat herbal kan ada di mana-mana "
si ibu menelpon dengan suara keras yang bisa dipastikan hampir semua orang di mobil itu bisa mendengarnya..saya mendadak ingin sembunyi saja..tapi baju kiriman si vetra semalam memukul kesadaran saya bahwa saya ikut andil dalam penolakan itu..dengan tidak menunjukkan kebanggaan menjadi orang besar :)..jujur..kalau sudah berhadapan dengan masalah relationship..saya kehilangan kepercayaan diri untuk bisa merasa sama dengan wanita-wanita lain..Besok saya akan pake bajunya jalan-jalan :)
Berikutnya saya perlu berjuang duia tahun lebih untuk bisa diterima disebuah keluarga jawa..dan akhirnya gagal..dalam mindset mereka (keluarga itu), yang namanya wanita minang itu suka mengatur, ga suka berbagi, pelit, pemarah dll...dan si ibu takutnya anaknya jadi tidak memikirkan keluarganya lagi kalo punya menantu seperti saya ...:) ya sudahlah..sampai hari ini saya tetap bangga jadi perempuan minang, yang mandiri tapi tidak serta merta melupakan bahwa saya butuh pria..bagi saya setiap pria dan wanita memiliki koneksi yang tak terkatakan..kadang ia timbul tanpa alasan..dan tanpa persyaratan latar belakang tapi banyak orang yang memilih untuk membuatnya sulit...Tidak semua keluarga lain suku keberatan menerima menantu dari lain suku..saya percaya itu
Yang belakangan ini yang mulai diperhitungkan adalah gelar kesarjanaan saya...
saya kuliah hingga tiga kali dengan tiga deret gelar yang bisa disandingkan dibelakang nama..mulai dari gelar S1, profesi hingga S2. tapi gelar itu bukan difungsikan untuk menjatuhkan harga diri seorang pria..Deretan gelar itu juga bukan alasan untuk sesuatu yang bernama prestise..itu perlambang sebuah perjuangan..lambang dari kecintaan terhadap ilmu pengetahuan serta persyaratan untuk sebuah pilihan profesi... Bagi saya gelar tidak selalu identik dengan kepintaran dan kemudian kemungkinan untuk merendahkan orang yang gelarnya tidak sebanyak itu.. dan saya masih belum ingin berhenti..
Dalam pemikiran saya, seorang wanita mestilah berpendidikan karena ditangannyalah pendidikan generasi berikutnya berada, ia juga mesti tangguh karena ketika sesuatu terjadi dengan keluarga, ia harus siap untuk berbagi posisi dengan patnernya namun yang paling penting dari itu semua..ia harus bisa berbesar hati..jika semua yang ia inginkan tidak ia dapatkan..
But I will not stop hoping and searching..
God just hiding him in somewhere and all i need to do is keep looking :)
cuma cerita ga jelas..
dah lama ga nulis
Selasa, 08 Maret 2011
Belajar dari orang hebat jilid 3
Profesor Eddy Rasyid hanyalah salah satu contoh nyata bagaimana sebuah institusi mampu membentuk watak dan kepribadian yang hebat. Bahkan untuk karakteristik suatu suku bangsa yang tidak pernah mau terhimpit dibawah orang lain sekalipun. Harus saya akui bahwa tanah Jawa benar-benar membukakan mata saya tentang defenisi orang hebat itu sendiri. Hampir ditiap sudut kita bisa bertemu dengan banyak orang hebat dengan berbagai watak dan karakter. Ada yang sombongnya setengah mati sampai pengen nyambit pake sendal kalo ketemu. Tapi ya kita ga bisa buat apa-apa karena memang pada kenyataannya orangnya memang hebat dan pantas sombong. Tapi tidak sedikit pula yang benar-benar tidak kelihatan ”orang hebatnya”.
Ketika sempat bekerja di proyek kerjasama UGM dengan JICA, kantor saya berseberangan dengan kantor Rektor dan seringkali juga berurusan dengan kantor itu. Prof Sudjarwadi, rektor UGM itu orangnya benar-benar mencengangkan. Beliau tidak segan-segan mampir ke kantor kami dan berbincang dengan bos saya dan menyapa kami para kroco-kroco ini sementara ibu wakil rektornya setengah mati susah ditemui dan dihubungi. Bapak rektor itu selalu menyediakan waktunya (kalau beliau sedang berada di tempat) untuk setiap urusan yang melibatkan kantor saya dan kantor beliau, selalu menyempatkan diri menyambut setiap profesor Jepang yang berkunjung hingga mengundang kami makan siang atau berbincang di kantornya yang hangat dan staf-stafnya yang menyenangkan. Beliau juga tidak tampil wah seperti gambaran rektor yang ada di kepala saya. Paling sering saya melihat beliau dengan tampilan celana panjang dan baju kemeja putih, biasa saja, meskipun kita tak pernah tahu apa merek kemeja yang ia pakai.
Dan UGM benar-benar tempat yang tepat untuk memperluas sudut pandang saya tentang bagaimana seharusnya bersikap agar bisa menjadi orang hebat juga. Sewaktu kuliah PPAK, saya mengenal Dr Sony Warsono yang saat itu menjabat sebagai kepala program yang sedang saya ikuti. Orangnya amat sederhana, khas orang jawa kebanyakan. Berpakaian apa adanya dan kadang kala malah terkesan kurang memperhatikan penampilan. Tapi beliau benar-benar orang hebat yang hebat. Hal pertama yang selalu saya ingat tentang beliau adalah cara beliau memanggil kami para mahasiswa yang masih ingusan ini, yaitu dengan menggunakan kata panggilan panjenengan (yang biasanya digunakan untuk memanggil orang yang lebih tua dalam bahasa jawa halus) bukan sampeyan (yang biasanya dipakai untuk memanggil orang yang seumuran atau yang lebih muda dalam bahasa jawa sehari-hari). Saya merasa di wongke -istilah bahasa jawa untuk pengertian dimanusiakan atau dianggap manusia- dan kadang malah merasa sungkan, masa beliau yang lebih tua dan lebih hebat aja segitu sopannya sementara kita yang masih muda malah seenaknya. Hal berikutnya yang masih terekam kuat dalam ingatan saya adalah ketika beliau berkali-kali meminta maaf kepada saya dan teman-teman sekelas karena punya masalah dengan salah satu dosen yang mengajar kami dan beliau terlambat mengetahuinya. Dari situ saya mengerti kalau beliau adalah tipe pemimpin yang benar-benar mendengarkan suara arus bawah dan menghargai siapa saja yang berada disekitarnya. Beliau jugalah yang mendorong saya untuk terus melanjutkan kuliah ke jenjang master dan kemudian menjadi pembimbing dari thesis saya..sepanjang masa kuliah, saya memanggil beliau dengan nama Bapak yang lembut hatinya..
Pak Sony bukan satu-satunya orang hebat yang saya temui di UGM. Bapak-Bapak yang telah terlebih dahulu saya sebutkan nmanya diatas adalah orang-orang hebat yang sehari-hari wara-wiri di kampung UGM. Bapak Zaki Baridwan, kemudian menjadi salah satu idola saya. Meskipun saya hanya mendapat nilai C di mata kuliah teori akuntansi yang beliau ajarkan, mendapatkan 3 kali point nol dari 4 kali quiz yang beliau adakan dan hanya mampu stress dari jumat ke senin, beliau menunjukkan kepada saya dan teman-teman bahwa untuk menjadi orang hebat, setiap orang membutuhkan proses, kerja keras dan tempaan yang lama. Meskipun keras hati, beliau menunjukkan sikap kebapakannya dengan memberikan saya izin untuk tidak masuk ke kelas beliau saat adik saya menikah dan itu kemudian menjadi joke baru di kelas-kelas beliau berikutnya. Untuk orang ini, saya benar-benar menemukan seorang begawan yang sesungguhnya. Bahasanya rapi, bahasa inggrisnya yahud, kemampuan menulis artikelnya tidak diragukan lagi dan tentu saja pemahamannya terhadap ilmu akuntansi amat luar biasa. Beliau bahkan hapal satu persatu isi buku teori akuntansi yang kami pelajari tanpa melihatnya, sellau datang lebih awal dari mahasiswanya dan selalu tampil rapi dan berkelas. Setiap kali mengingat beliau, saya teringat wajah-wajah khas para mafia itali di film-film action. Beliau memiliki hidup yang amat teratur (menurut pandangan saya sih). Kami pernah diminta hadir kuliah jam 6 pagi. Ketika banyak yang mengeluh, beliau menjawab :"Jam segitu saya biasanya sudah selesai olahraga dan sarapan". Hmm..jadi tau kenapa beliau tidak mau turun menmui saya dengan baju tidur..karena baju tidur (mungkin) bukan untuk dipakai keluar kamar atau keluar rumah menemui tamu.
Jika Bapak Zaki Baridwan selalu tampil rapi, maka tidak jauh berbeda dengan Bapak Prof Jogiyanto Hartono juga demikian, tapi beliau tidak pernah memakai singlet didalam baju kemejanya. Kalau Profesor satunya amat serius, yang satu ini malah sering memberikan lelucon yang garing yang membuat kita tertawa bukan karena leluconnya tapi karena kegaringannya. Meskipun demikian, beliau merupakan salah satu orang hebat yang benar-benar menguasai banyak hal sekaligus; akuntansi, pasar modal, sistem informasi dan metodologi penelitian. Buku-buku yang beliau karang juga sudah banyak sekali dan selalu menjadi acuan bagi banyak orang.
*Untuk dosen-dosen saya yang amat inspiratif..it's always be an honored to know you all
still plan to be continued... dan kali ini silahkan menyimpulkan sendiri pelajaran yang bisa diambil..:)
Ketika sempat bekerja di proyek kerjasama UGM dengan JICA, kantor saya berseberangan dengan kantor Rektor dan seringkali juga berurusan dengan kantor itu. Prof Sudjarwadi, rektor UGM itu orangnya benar-benar mencengangkan. Beliau tidak segan-segan mampir ke kantor kami dan berbincang dengan bos saya dan menyapa kami para kroco-kroco ini sementara ibu wakil rektornya setengah mati susah ditemui dan dihubungi. Bapak rektor itu selalu menyediakan waktunya (kalau beliau sedang berada di tempat) untuk setiap urusan yang melibatkan kantor saya dan kantor beliau, selalu menyempatkan diri menyambut setiap profesor Jepang yang berkunjung hingga mengundang kami makan siang atau berbincang di kantornya yang hangat dan staf-stafnya yang menyenangkan. Beliau juga tidak tampil wah seperti gambaran rektor yang ada di kepala saya. Paling sering saya melihat beliau dengan tampilan celana panjang dan baju kemeja putih, biasa saja, meskipun kita tak pernah tahu apa merek kemeja yang ia pakai.
Dan UGM benar-benar tempat yang tepat untuk memperluas sudut pandang saya tentang bagaimana seharusnya bersikap agar bisa menjadi orang hebat juga. Sewaktu kuliah PPAK, saya mengenal Dr Sony Warsono yang saat itu menjabat sebagai kepala program yang sedang saya ikuti. Orangnya amat sederhana, khas orang jawa kebanyakan. Berpakaian apa adanya dan kadang kala malah terkesan kurang memperhatikan penampilan. Tapi beliau benar-benar orang hebat yang hebat. Hal pertama yang selalu saya ingat tentang beliau adalah cara beliau memanggil kami para mahasiswa yang masih ingusan ini, yaitu dengan menggunakan kata panggilan panjenengan (yang biasanya digunakan untuk memanggil orang yang lebih tua dalam bahasa jawa halus) bukan sampeyan (yang biasanya dipakai untuk memanggil orang yang seumuran atau yang lebih muda dalam bahasa jawa sehari-hari). Saya merasa di wongke -istilah bahasa jawa untuk pengertian dimanusiakan atau dianggap manusia- dan kadang malah merasa sungkan, masa beliau yang lebih tua dan lebih hebat aja segitu sopannya sementara kita yang masih muda malah seenaknya. Hal berikutnya yang masih terekam kuat dalam ingatan saya adalah ketika beliau berkali-kali meminta maaf kepada saya dan teman-teman sekelas karena punya masalah dengan salah satu dosen yang mengajar kami dan beliau terlambat mengetahuinya. Dari situ saya mengerti kalau beliau adalah tipe pemimpin yang benar-benar mendengarkan suara arus bawah dan menghargai siapa saja yang berada disekitarnya. Beliau jugalah yang mendorong saya untuk terus melanjutkan kuliah ke jenjang master dan kemudian menjadi pembimbing dari thesis saya..sepanjang masa kuliah, saya memanggil beliau dengan nama Bapak yang lembut hatinya..
Pak Sony bukan satu-satunya orang hebat yang saya temui di UGM. Bapak-Bapak yang telah terlebih dahulu saya sebutkan nmanya diatas adalah orang-orang hebat yang sehari-hari wara-wiri di kampung UGM. Bapak Zaki Baridwan, kemudian menjadi salah satu idola saya. Meskipun saya hanya mendapat nilai C di mata kuliah teori akuntansi yang beliau ajarkan, mendapatkan 3 kali point nol dari 4 kali quiz yang beliau adakan dan hanya mampu stress dari jumat ke senin, beliau menunjukkan kepada saya dan teman-teman bahwa untuk menjadi orang hebat, setiap orang membutuhkan proses, kerja keras dan tempaan yang lama. Meskipun keras hati, beliau menunjukkan sikap kebapakannya dengan memberikan saya izin untuk tidak masuk ke kelas beliau saat adik saya menikah dan itu kemudian menjadi joke baru di kelas-kelas beliau berikutnya. Untuk orang ini, saya benar-benar menemukan seorang begawan yang sesungguhnya. Bahasanya rapi, bahasa inggrisnya yahud, kemampuan menulis artikelnya tidak diragukan lagi dan tentu saja pemahamannya terhadap ilmu akuntansi amat luar biasa. Beliau bahkan hapal satu persatu isi buku teori akuntansi yang kami pelajari tanpa melihatnya, sellau datang lebih awal dari mahasiswanya dan selalu tampil rapi dan berkelas. Setiap kali mengingat beliau, saya teringat wajah-wajah khas para mafia itali di film-film action. Beliau memiliki hidup yang amat teratur (menurut pandangan saya sih). Kami pernah diminta hadir kuliah jam 6 pagi. Ketika banyak yang mengeluh, beliau menjawab :"Jam segitu saya biasanya sudah selesai olahraga dan sarapan". Hmm..jadi tau kenapa beliau tidak mau turun menmui saya dengan baju tidur..karena baju tidur (mungkin) bukan untuk dipakai keluar kamar atau keluar rumah menemui tamu.
Jika Bapak Zaki Baridwan selalu tampil rapi, maka tidak jauh berbeda dengan Bapak Prof Jogiyanto Hartono juga demikian, tapi beliau tidak pernah memakai singlet didalam baju kemejanya. Kalau Profesor satunya amat serius, yang satu ini malah sering memberikan lelucon yang garing yang membuat kita tertawa bukan karena leluconnya tapi karena kegaringannya. Meskipun demikian, beliau merupakan salah satu orang hebat yang benar-benar menguasai banyak hal sekaligus; akuntansi, pasar modal, sistem informasi dan metodologi penelitian. Buku-buku yang beliau karang juga sudah banyak sekali dan selalu menjadi acuan bagi banyak orang.
*Untuk dosen-dosen saya yang amat inspiratif..it's always be an honored to know you all
still plan to be continued... dan kali ini silahkan menyimpulkan sendiri pelajaran yang bisa diambil..:)
Langganan:
Postingan (Atom)