Alhamdulillah trimester dua berakhir sudah...
Semester yang penuh ketegangan dan penuh dengan pilihan beserta konsekuensinya. Selain beban kuliah yang lebih padat dibarengi dengan akhir masa proyek. Di semester ini saya belajar bahwa setiap keputusan yang kita ambil pasti ada konsekuensinya.
Pelajaran pertama dimulai ketika dua pekerjaan besar di kantor dibebankan kepada saya selaku koordinator. Pada saat yang bersamaan dengan ujian tengah semester, saya harus berada di jakarta untuk menunaikan kewajiban kantor. Konsekuensi yang harus saya terima adalah dosen yang bersangkutan tidak memberikan kesempatan buat ujian susulan. Saya dan pihak akademis telah berusaha keras mencari celah, tapi ternyata buntu..akhirnya saya hanya bisa menangis saja..membayangkan kemungkinan untuk mengulang di semester berikutnya, perpanjangan semester dan semakin lama membebani orang tua..Tapi saya tidak ingin membayangkan hal-hal buruk dulu. semoga bapak dosen itu tidak memberi saya nilai jelek sehingga mewajibkan saya untuk mengulang semester depan.
Yah begitulah konsekuensi dari kuliah sambil bekerja. Selain tidak lapang secara waktu, saya juga tidak lapang secara pilihan.Maka ketika pilihan sulit terjadi, itu berguna untuk mengajari saya tentang konsekuen dalam menjalankan pilihan.
Pelajaran berikutnya harus saya hadapi lagi ketika adek saya menikah beberapa pekan yang lalu. Entah mengapa tanggal pernikahan adek saya itu sama sekali ga bagus bagi saya. Pada saat yang bersamaan saya seharusnya mengikuti kuliah tambahan dengan pak Zaki berturut-turut selama tiga hari. Saya hopeless. Rencana pulang saya berantakan nyaris ga jadi.. Sekali lagi saya harus bilang ke diri saya bahwa inilah konsekuensi dari sebuah pilihan. Karena saya sudah memilih untuk melanjutkan kuliah dan orang tua saya sudah menyetujui pilihan yang sudah saya buat, maka konsekuensi yang mungin muncul pada hari pernikahan adek saya itu ya saya mungkin tidak bisa hadir. Tapi alhamdulillah ternyata Bapak profesor itu dibukakan mata hatinya. Mungkin karena ga tahan melihat tampang memelas saya selama kuliah berlangsung, salah satu jadwal tambahan dipindahkan pada hari yang sama sehingga saya bisa bolos satu hari saja. Alhamdulillah.
Pelajaran lain yang saya dapat disemester ini adalah untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja karebna saya tidak pernah tahu kapan kesempatan saya untuk berbuat baik akan berakhir. Di semester ini saya kehilangan dua teman sekaligus hanya dalam jangka waktu sebulan saja Pak Gendro dan Pak Edwin berpulang ke haribaanNya. Saya tidak terlalu dekat dengan pak Gendro, tapi saya cukup menyesal tidak terlalu sering berbincang dengan beliau sekedar berbagi cerita, mengurangi beban masalah yang beliau hadapi. Dengan pak Edwin saya sangat dekat. Beliau selalu saya antar pulang kalau saya sedang dipinjami motor. Pak Edwin sudah saya anggap seperti bapak saya sendiri. Beliau tempat saya bercerita, mencari motivasi bahkan menitipkan salam pada kecengan saya yang sekelas dengan beliau. Dari beliau saya bercermin bahwa orang yang tidak sempurna saja ( beliau menderita cacat kaki sehingga harus memakai tongkat) masih terus berjuang hingga titik penghabisan, lalu mengapa saya yang masih muda, alhamdulillah sehat dan sempurna secara fisik harus menyerah begitu saja. Tapi saya senang, karena saya melepas beliau dengan tenang dengan perasaan bahagia..Pada hari kepulangan beliau, saya mendapatkan satu pelajaran lagi..tentang kehidupan. Saya melihat istri beliau ada disana masih menyambut saya dengan senyuman meskipun setelah itu kami bertangisan. Saya baru melihat kedekatan hati diantara dua orang yang saling mencintai. Pak Edwin sangat beruntung, pada detik-detik sebelum berpulang, beliau masih didampingi dengan penuh cinta oleh istrinya. It's a love for a life time..
Dan hal terbaru yang saya pelajari di semester ini adalah belajar untuk melanjutkan dan meneruskan kehidupan saya sendiri. Beberapa peristiwa yang saya alami belakangan ini mengingatkan saya bahwa sayalah yang akan bertanggungjawab terhadap terhadap diri saya sendiri..bukan orang lain. bukan siapa-siapa. Jadi disemester ini saya mulai membangun independensi diri dan mulai belajar untuk membuka hati lagi..suit suit..ya disemester ini saya mulai jatuh cinta lagi...
Apapun yang saya alami selama satu semester ini saya bersyukur karena Allah memberikan saya kesempatan untuk mengalami ini....
Dan semester yang penuh pelajaran ini berakhir sudah..
Saatnya bersiap untuk memasuki chapter kehidupan selanjutnya...
“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.” ― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky --
Senin, 04 Mei 2009
Jumat, 24 April 2009
Semester II : Memahami Konsekuensi atas Setiap Keputusan
Alhamdulillah trimester dua berakhir sudah...
Semester yang penuh ketegangan dan penuh dengan pilihan beserta konsekuensinya. Selain beban kuliah yang lebih padat dibarengi dengan akhir masa proyek. Di semester ini saya belajar bahwa setiap keputusan yang kita ambil pasti ada konsekuensinya.
Pelajaran pertama dimulai ketika dua pekerjaan besar di kantor dibebankan kepada saya selaku koordinator. Pada saat yang bersamaan dengan ujian tengah semester, saya harus berada di jakarta untuk menunaikan kewajiban kantor. Konsekuensi yang harus saya terima adalah dosen yang bersangkutan tidak memberikan kesempatan buat ujian susulan. Saya dan pihak akademis telah berusaha keras mencari celah, tapi ternyata buntu..akhirnya saya hanya bisa menangis saja..membayangkan kemungkinan untuk mengulang di semester berikutnya, perpanjangan semester dan semakin lama membebani orang tua..Tapi saya tidak ingin membayangkan hal-hal buruk dulu. semoga bapak dosen itu tidak memberi saya nilai jelek sehingga mewajibkan saya untuk mengulang semester depan.
Yah begitulah konsekuensi dari kuliah sambil bekerja. Selain tidak lapang secara waktu, saya juga tidak lapang secara pilihan.Maka ketika pilihan sulit terjadi, itu berguna untuk mengajari saya tentang konsekuen dalam menjalankan pilihan.
Pelajaran berikutnya harus saya hadapi lagi ketika adek saya menikah beberapa pekan yang lalu. Entah mengapa tanggal pernikahan adek saya itu sama sekali ga bagus bagi saya. Pada saat yang bersamaan saya seharusnya mengikuti kuliah tambahan dengan pak Zaki berturut-turut selama tiga hari. Saya hopeless. Rencana pulang saya berantakan nyaris ga jadi.. Sekali lagi saya harus bilang ke diri saya bahwa inilah konsekuensi dari sebuah pilihan. Karena saya sudah memilih untuk melanjutkan kuliah dan orang tua saya sudah menyetujui pilihan yang sudah saya buat, maka konsekuensi yang mungin muncul pada hari pernikahan adek saya itu ya saya mungkin tidak bisa hadir. Tapi alhamdulillah ternyata Bapak profesor itu dibukakan mata hatinya. Mungkin karena ga tahan melihat tampang memelas saya selama kuliah berlangsung, salah satu jadwal tambahan dipindahkan pada hari yang sama sehingga saya bisa bolos satu hari saja. Alhamdulillah.
Pelajaran lain yang saya dapat disemester ini adalah untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja karebna saya tidak pernah tahu kapan kesempatan saya untuk berbuat baik akan berakhir. Di semester ini saya kehilangan dua teman sekaligus hanya dalam jangka waktu sebulan saja Pak Gendro dan Pak Edwin berpulang ke haribaanNya. Saya tidak terlalu dekat dengan pak Gendro, tapi saya cukup menyesal tidak terlalu sering berbincang dengan beliau sekedar berbagi cerita, mengurangi beban masalah yang beliau hadapi. Dengan pak Edwin saya sangat dekat. Beliau selalu saya antar pulang kalau saya sedang dipinjami motor. Pak Edwin sudah saya anggap seperti bapak saya sendiri. Beliau tempat saya bercerita, mencari motivasi bahkan menitipkan salam pada kecengan saya yang sekelas dengan beliau. Dari beliau saya bercermin bahwa orang yang tidak sempurna saja ( beliau menderita cacat kaki sehingga harus memakai tongkat) masih terus berjuang hingga titik penghabisan, lalu mengapa saya yang masih muda, alhamdulillah sehat dan sempurna secara fisik harus menyerah begitu saja. Tapi saya senang, karena saya melepas beliau dengan tenang dengan perasaan bahagia..Pada hari kepulangan beliau, saya mendapatkan satu pelajaran lagi..tentang kehidupan. Saya melihat istri beliau ada disana masih menyambut saya dengan senyuman meskipun setelah itu kami bertangisan. Saya baru melihat kedekatan hati diantara dua orang yang saling mencintai. Pak Edwin sangat beruntung, pada detik-detik sebelum berpulang, beliau masih didampingi dengan penuh cinta oleh istrinya. It's a love for a life time..
Dan hal terbaru yang saya pelajari di semester ini adalah belajar untuk melanjutkan dan meneruskan kehidupan saya sendiri. Beberapa peristiwa yang saya alami belakangan ini mengingatkan saya bahwa sayalah yang akan bertanggungjawab terhadap terhadap diri saya sendiri..bukan orang lain. bukan siapa-siapa. Jadi disemester ini saya mulai membangun independensi diri dan mulai belajar untuk membuka hati lagi..suit suit..ya disemester ini saya mulai jatuh cinta lagi...
Apapun yang saya alami selama satu semester ini saya bersyukur karena Allah memberikan saya kesempatan untuk mengalami ini....
Dan semester yang penuh pelajaran ini berakhir sudah..
Saatnya bersiap untuk memasuki chapter kehidupan selanjutnya...
Semester yang penuh ketegangan dan penuh dengan pilihan beserta konsekuensinya. Selain beban kuliah yang lebih padat dibarengi dengan akhir masa proyek. Di semester ini saya belajar bahwa setiap keputusan yang kita ambil pasti ada konsekuensinya.
Pelajaran pertama dimulai ketika dua pekerjaan besar di kantor dibebankan kepada saya selaku koordinator. Pada saat yang bersamaan dengan ujian tengah semester, saya harus berada di jakarta untuk menunaikan kewajiban kantor. Konsekuensi yang harus saya terima adalah dosen yang bersangkutan tidak memberikan kesempatan buat ujian susulan. Saya dan pihak akademis telah berusaha keras mencari celah, tapi ternyata buntu..akhirnya saya hanya bisa menangis saja..membayangkan kemungkinan untuk mengulang di semester berikutnya, perpanjangan semester dan semakin lama membebani orang tua..Tapi saya tidak ingin membayangkan hal-hal buruk dulu. semoga bapak dosen itu tidak memberi saya nilai jelek sehingga mewajibkan saya untuk mengulang semester depan.
Yah begitulah konsekuensi dari kuliah sambil bekerja. Selain tidak lapang secara waktu, saya juga tidak lapang secara pilihan.Maka ketika pilihan sulit terjadi, itu berguna untuk mengajari saya tentang konsekuen dalam menjalankan pilihan.
Pelajaran berikutnya harus saya hadapi lagi ketika adek saya menikah beberapa pekan yang lalu. Entah mengapa tanggal pernikahan adek saya itu sama sekali ga bagus bagi saya. Pada saat yang bersamaan saya seharusnya mengikuti kuliah tambahan dengan pak Zaki berturut-turut selama tiga hari. Saya hopeless. Rencana pulang saya berantakan nyaris ga jadi.. Sekali lagi saya harus bilang ke diri saya bahwa inilah konsekuensi dari sebuah pilihan. Karena saya sudah memilih untuk melanjutkan kuliah dan orang tua saya sudah menyetujui pilihan yang sudah saya buat, maka konsekuensi yang mungin muncul pada hari pernikahan adek saya itu ya saya mungkin tidak bisa hadir. Tapi alhamdulillah ternyata Bapak profesor itu dibukakan mata hatinya. Mungkin karena ga tahan melihat tampang memelas saya selama kuliah berlangsung, salah satu jadwal tambahan dipindahkan pada hari yang sama sehingga saya bisa bolos satu hari saja. Alhamdulillah.
Pelajaran lain yang saya dapat disemester ini adalah untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja karebna saya tidak pernah tahu kapan kesempatan saya untuk berbuat baik akan berakhir. Di semester ini saya kehilangan dua teman sekaligus hanya dalam jangka waktu sebulan saja Pak Gendro dan Pak Edwin berpulang ke haribaanNya. Saya tidak terlalu dekat dengan pak Gendro, tapi saya cukup menyesal tidak terlalu sering berbincang dengan beliau sekedar berbagi cerita, mengurangi beban masalah yang beliau hadapi. Dengan pak Edwin saya sangat dekat. Beliau selalu saya antar pulang kalau saya sedang dipinjami motor. Pak Edwin sudah saya anggap seperti bapak saya sendiri. Beliau tempat saya bercerita, mencari motivasi bahkan menitipkan salam pada kecengan saya yang sekelas dengan beliau. Dari beliau saya bercermin bahwa orang yang tidak sempurna saja ( beliau menderita cacat kaki sehingga harus memakai tongkat) masih terus berjuang hingga titik penghabisan, lalu mengapa saya yang masih muda, alhamdulillah sehat dan sempurna secara fisik harus menyerah begitu saja. Tapi saya senang, karena saya melepas beliau dengan tenang dengan perasaan bahagia..Pada hari kepulangan beliau, saya mendapatkan satu pelajaran lagi..tentang kehidupan. Saya melihat istri beliau ada disana masih menyambut saya dengan senyuman meskipun setelah itu kami bertangisan. Saya baru melihat kedekatan hati diantara dua orang yang saling mencintai. Pak Edwin sangat beruntung, pada detik-detik sebelum berpulang, beliau masih didampingi dengan penuh cinta oleh istrinya. It's a love for a life time..
Dan hal terbaru yang saya pelajari di semester ini adalah belajar untuk melanjutkan dan meneruskan kehidupan saya sendiri. Beberapa peristiwa yang saya alami belakangan ini mengingatkan saya bahwa sayalah yang akan bertanggungjawab terhadap terhadap diri saya sendiri..bukan orang lain. bukan siapa-siapa. Jadi disemester ini saya mulai membangun independensi diri dan mulai belajar untuk membuka hati lagi..suit suit..ya disemester ini saya mulai jatuh cinta lagi...
Apapun yang saya alami selama satu semester ini saya bersyukur karena Allah memberikan saya kesempatan untuk mengalami ini....
Dan semester yang penuh pelajaran ini berakhir sudah..
Saatnya bersiap untuk memasuki chapter kehidupan selanjutnya...
Jumat, 17 April 2009
dilangkahi...
Bagaimana rasanya dilangkahi?
Selama seminggu di rumah untuk menghadiri pernikahan adik saya yuli, pertanyaan itulah yang sering muncul dikepala saya dan dikepala orang-orang sekitar saya. Pertanyaan wajar untuk orang-orang yang hidup di lingkungan komunal.
Hmmmm
Tadinya seperti halnya kebanyakan hubungan kakak adik, saya juga tidak terlalu rela jika adik saya menikah duluan. Saya kan yang lebih tua, harusnya saya duluan yang menikah..terlebih lagi ketika mereka baru diperbolehkan menikah jika kakak perempuannya ipar saya telah menikah terlebih dahulu. Perasaan terbesar yang ada di hati saya adalah perasaan kalah dan cemburu. dua perasaan saja tapi cukup menyita energi. Dari dulu saya sering merasa kalah jika dibandingkan dengan kakak atau adik saya ini. Kalo cemburu? wajarlah jika cemburu itu hadir ketika kita melihat kehidupan orang lain jauh lebih menyenangkan daripada kehidupan kita..
Tapi itu sudah berlalu..hampir setahun lalu.
Karena ternyata proses yang dilalui adik saya jauh lebih rumit daripada yang saya bayangkan. hampir dua tahun setelah dia menyampaikan niatnya untuk menikah kepada saya, rencana itu baru terwujudkan. dan itu sudah cukup untuk menghilangkan semua kecemburuan dari hati saya.
Kadang saya pikir saya hanya kurang sabar menunggu giliran saya.
Kadang saya pikir saya hanya ketakutan jadi perawan tua
Kadang saya pikir saya hanya ketakutan jika saya harus menghabiskan sisa hidup saya sendirian
Kadang saya juga berpikir bahwa saya jauh lebih takut dengan fikiran orang terhadap diri saya sendiri..seakan akan merekalah yang memiliki jiwa dan raga saya.
Padahal
Allah itu Maha Tahu..Dia tahu kapan saya membutuhkan pendamping, Dia tahu kalau saya masih harus banyak belajar, belajar sabar, belajar mengatur keuangan, belajar membagi konsentrasi dan belajar bersyukur dan belajar mencintai diri saya sendiri.. sehingga ketika sang pendamping itu datang, saya akan menghargai dan mencintainya dengan segenap kesyukuran yang saya punya..
Jadi apa yang harus saya khawatirkan?
Rabu, 25 Maret 2009
sorry...
Persahabatan itu katanya seperti sandwich...
Terlalu banyak campuran yang kita letakkan diantara roti tersebut maka rasanya akan semakin tidak enak..
friends,
sorry if you think that i have put too many things between us..
and sorry for being too late for me to realized what was happened..
and sorry that I cannot be the true friend for you..
hopefully you can find another better me outside..whom you can count more than I am..
Thank you for being the best I ever had...
Let me just watching you all from the distance, so i hope, by that way I will not hurt anyone else anymore...
Regards,
Terlalu banyak campuran yang kita letakkan diantara roti tersebut maka rasanya akan semakin tidak enak..
friends,
sorry if you think that i have put too many things between us..
and sorry for being too late for me to realized what was happened..
and sorry that I cannot be the true friend for you..
hopefully you can find another better me outside..whom you can count more than I am..
Thank you for being the best I ever had...
Let me just watching you all from the distance, so i hope, by that way I will not hurt anyone else anymore...
Regards,
Jumat, 20 Maret 2009
Memiliki Kehilangan...
Setelah melewati minggu - minggu yang melelahkan, yang berlalu seiring berlalunya workshop kantor saya di Jakarta dan di Jogja serta acara simposium dan handover equipment ke LPPM dan Fakultas Teknik di UGM, minggu berikutnya, saya berhadapan dengan saat saat yang sangat emosional.
Dan ketika semua mulai berakhir..
Ternyata waktu berlalu begitu cepat.. tak terasa satu persatu para professor, anggota tim ahli kantor saya kembali ke Fukuoka yang kemudian dilanjutkan dengan kepulangan satu persatu anggota tim dari IMAQ (LPPMnya Kyushu University)lainnya. Rasanya baru kemaren saya mengurusi hotel mereka yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang, mengurusi mobil yang akan dipakai, jadwal meeting di fakultas Teknik, mengatur makan malam bersama setiap kali mereka akan pulang kembali ke Fukuoka. Dan rasanya juga baru kemaren saya dan teman-teman menantikan kedatangan mereka, terkagum-kagum dengan oleh-oleh yang selalu dikemas cantik walaupun isinya kadangkala tak beda jauh dengan bakpia atau kue bolu.
Para profesor itu, dengan caranya sendiri selalu berusaha menghargai pekerjaan saya, mendorong saya untuk terus bersemangat kuliah lagi dan mencari beasiswa untuk S3.
Hari terberat pertama jatuhnya Rabu lalu. Pada saat yang bersamaan dengan presentasi kuliah di kampus, kantor mengadakan farewell lunch dengan pihak UGM yang sebelumnya dibuka dengan farewell remarks oleh masing-masing kami. Walaupun tidak bisa ikut serta, tapi dari pagi saya sudah megharu biru.
Acara hari itu dilanjutkan dengan surprise party untuk Itoi sensei, Team Leader kantor saya yang pada hari itu berulang tahun.. a farewell birthday party.. Puncaknya jam 3 sore..ketika akhirnya beliau mengangkat kopernya dan mengatakan Mata ne yang artinya kira-kira sampai jumpa ( yang kalo saya tidak salah di gunakan untuk kemungkinan bertemu yang kecil sekali..) bukan Mata Ashita yang artinya kurang lebih sampai bertemu besok, atau sampai bertemu minggu depan, tahun depan..
Dan inilah waktu yang tepat tuk berpisah...

Hari terberat kedua jatuh jumat lalu, waktunya farewell dinner dengan my boss; Mr. Izumi..
Sebagai general planning officer yang berhubungan langsung soal pekerjaan dengan beliau selama satu setengah tahun ini, saya sudah merasakan banyak sekali pengalaman emosional dengan beliau. Bos saya ini tipe bos sejati, perfeksionis, galak, suka tiba –tiba berubah pikiran yang membuat saya kalang kabut, ya kurang lebih seperti Miranda di devil wears prada, cuma bedanya di memakai Polo bukan prada.
Tiga bulan pertama bekerja dengan beliau membuat saya mati kutu, kehilangan senyum dan hampir kehilangan teman.
But, there's an angel in devil's body
Ketika review pertama pekerjaan saya, disaat semua orang menyalahkan saya dan disaat saya hampir menyiapkan surat resign..saat itulah dia jadi malaikat penyelamat saya..mempercayai bahwa saya sudah berusaha dengan baik di pekerjaan ini dan memberi saya kesempatan untuk memperbaiki diri dan situasi bekerja
Mungkin sudah takdirnya saya untuk selalu dekat dengan orang-orang yang sulit..dan sudah takdirnya saya juga orang-orang sulit itu bisa dekat dengan saya. Selama bekerja dengannya dia masih lebih sering menunjukkan ke-devilan-nya dari pada ke-angle-annya. Tapi dengan cara itulah saya banyak belajar dan banyak memperoleh pengetahuan.
Puncaknya ketika saya memilih melanjutkan sekolah dan teteap meneruskan pekerjaan di kantor. Saya diberikan banyak kemudahan ( jam kerja yang fleksible, tugas-tugas yang tidak seberat sebelumnya), dukungan moril melalui pertanyaan, diskusi bahkan ide-ide untuk bahan thesis.
I'm gonna miss you sir.. a lot..
Dan hari ini waktunya perpisahan terakhir dengan orang Jepang di kantor kami. Yoko Tanaka namanya. posisinya di kantor kami adalah local coordinator. Diantara semua tim ahli dari jepang, dialah yang bahasa indonesianya paling bagus. Awalnya sih nothing special from her..juga tidak ada yang bisa membuat kita dekat..
Tapi lama-lama bu yoko bisa mencair juga seiring mencairnya situasi di kantor kami. Setelah itu, kami sering makan siang bareng, kadang-kadang jalan-jalan ke mall atau sesekali nonton.
Ternyata satu setengah tahun berlalu begitu cepat..dan selama satu setengah tahun itu pula hati saya sudah tertambat disini..di keluarga besar HLPO dengan semua suka dan dukanya..dengan tawa, tangis, stress dan persahabatan di dalamnya
Dan akhirnya saya tahu..
Saya tidak akan tahu bagaimana rasanya memiliki
kalau saya tidak pernah kehilangan......
and I will spend more tears this afternoon...
seiring lambaian tangan dan sosok tubuh yang perlahan menghilang...
Dan ketika semua mulai berakhir..
Ternyata waktu berlalu begitu cepat.. tak terasa satu persatu para professor, anggota tim ahli kantor saya kembali ke Fukuoka yang kemudian dilanjutkan dengan kepulangan satu persatu anggota tim dari IMAQ (LPPMnya Kyushu University)lainnya. Rasanya baru kemaren saya mengurusi hotel mereka yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang, mengurusi mobil yang akan dipakai, jadwal meeting di fakultas Teknik, mengatur makan malam bersama setiap kali mereka akan pulang kembali ke Fukuoka. Dan rasanya juga baru kemaren saya dan teman-teman menantikan kedatangan mereka, terkagum-kagum dengan oleh-oleh yang selalu dikemas cantik walaupun isinya kadangkala tak beda jauh dengan bakpia atau kue bolu.
Para profesor itu, dengan caranya sendiri selalu berusaha menghargai pekerjaan saya, mendorong saya untuk terus bersemangat kuliah lagi dan mencari beasiswa untuk S3.
Hari terberat pertama jatuhnya Rabu lalu. Pada saat yang bersamaan dengan presentasi kuliah di kampus, kantor mengadakan farewell lunch dengan pihak UGM yang sebelumnya dibuka dengan farewell remarks oleh masing-masing kami. Walaupun tidak bisa ikut serta, tapi dari pagi saya sudah megharu biru.
Dan inilah waktu yang tepat tuk berpisah...
Hari terberat kedua jatuh jumat lalu, waktunya farewell dinner dengan my boss; Mr. Izumi..
Sebagai general planning officer yang berhubungan langsung soal pekerjaan dengan beliau selama satu setengah tahun ini, saya sudah merasakan banyak sekali pengalaman emosional dengan beliau. Bos saya ini tipe bos sejati, perfeksionis, galak, suka tiba –tiba berubah pikiran yang membuat saya kalang kabut, ya kurang lebih seperti Miranda di devil wears prada, cuma bedanya di memakai Polo bukan prada.
Tiga bulan pertama bekerja dengan beliau membuat saya mati kutu, kehilangan senyum dan hampir kehilangan teman.
But, there's an angel in devil's body
Ketika review pertama pekerjaan saya, disaat semua orang menyalahkan saya dan disaat saya hampir menyiapkan surat resign..saat itulah dia jadi malaikat penyelamat saya..mempercayai bahwa saya sudah berusaha dengan baik di pekerjaan ini dan memberi saya kesempatan untuk memperbaiki diri dan situasi bekerja
Mungkin sudah takdirnya saya untuk selalu dekat dengan orang-orang yang sulit..dan sudah takdirnya saya juga orang-orang sulit itu bisa dekat dengan saya. Selama bekerja dengannya dia masih lebih sering menunjukkan ke-devilan-nya dari pada ke-angle-annya. Tapi dengan cara itulah saya banyak belajar dan banyak memperoleh pengetahuan.
Puncaknya ketika saya memilih melanjutkan sekolah dan teteap meneruskan pekerjaan di kantor. Saya diberikan banyak kemudahan ( jam kerja yang fleksible, tugas-tugas yang tidak seberat sebelumnya), dukungan moril melalui pertanyaan, diskusi bahkan ide-ide untuk bahan thesis.
I'm gonna miss you sir.. a lot..
Dan hari ini waktunya perpisahan terakhir dengan orang Jepang di kantor kami. Yoko Tanaka namanya. posisinya di kantor kami adalah local coordinator. Diantara semua tim ahli dari jepang, dialah yang bahasa indonesianya paling bagus. Awalnya sih nothing special from her..juga tidak ada yang bisa membuat kita dekat..
Tapi lama-lama bu yoko bisa mencair juga seiring mencairnya situasi di kantor kami. Setelah itu, kami sering makan siang bareng, kadang-kadang jalan-jalan ke mall atau sesekali nonton.
Ternyata satu setengah tahun berlalu begitu cepat..dan selama satu setengah tahun itu pula hati saya sudah tertambat disini..di keluarga besar HLPO dengan semua suka dan dukanya..dengan tawa, tangis, stress dan persahabatan di dalamnya
Dan akhirnya saya tahu..
Saya tidak akan tahu bagaimana rasanya memiliki
kalau saya tidak pernah kehilangan......
and I will spend more tears this afternoon...
seiring lambaian tangan dan sosok tubuh yang perlahan menghilang...
Kamis, 05 Maret 2009
Suka...
Saya suka sekali....
Es krim Stroberi
Pada dasarnya saya ga terlalu suka makan es krim dan makanan yang manis. Tapi es krim stroberi lengkap dengan selai stroberi yang asem manis itu menjadi sangat sempurna mengalah ketidak-terlalu-sukaannya saya..rasa asemnya stroberi bisa mengurangi rasa eneg yang ditimbulkan susu...Ditambah dengan traktiran es krim conello stroberi dari bu Yoko sore ini.
Ngomong-ngomong soal es krim, sampai saat ini es krim favorit saya masih di pegang oleh es krim kelenteng di padang. Rasa es susunya tidak terlalu pekat, malah cenderung soft jadi ga bikin bosan dan eneg,apalagi yang dengan potongan nangka..hmmmm yummy. Dulunya es ini di jual dengan kemasan plastik dengan harga yang bergantung pada tebalnya potongan es krim.
Pempek
Mungkin gara-gara berteman dengan Iad yang pernah lama tinggal di bengkulu dan setelah itu berteman dengan ika yang maminya tinggal di palembang sana yang mengakibatkan saya bisa kebagian pempek enak dengan jumlah banyak dan gratis pula. Dasar member klub gretongan.he he . gara-gara itu juga lidah saya menjadi lebih cerdas terhadap terhadap rasa pempek dan terutama rasa cukonya.
Sejauh ini saya memang termasuk penggila pempek..kalo di turutin bisa tiap hari makan pempek mulu..Lucunya, di Jogja saya hanya malam pempek di tiga tempat saja; mang tjek otji di jakal, pempek ulu bundar di mirota dan nyonya kamto (kadang2). Dari itu semua, pempek paling enak yang pernah saya makan ya masih pempek kiriman maminya ika dari palembang sana.
Makanan dengan sambal kacang
Ini adalah bagiannya pecel, gado-gado, lotek, ketoprak, batagor dan temen-temennya. Awalnya ketika saya sampai di jogja, rasanya aneh dan ga selera melihat menu nasi pecel tanpa mie pula, tidak ada kangkung, yang ada bayam. plus kalo melihat orang lain memakannya dengan telor asin, makin lengkaplah sudah penderitaan saya. Mungkin karena raga saya sedang berada di Jawa sementara hati dan lidah masih ada di sumatera. Di padang, lotek, pical ( begitu kamu menyebutnya), gado-gado disajikan dengan mie kuning dan bertemankan lontong atau ketupat bukan nasi.
Gado-gado dan lotek di Jogja disajikan dengan irisan tempe dan bakwan dan bumbu kacang yang diulek sesaat sebelum disajikan. Hal yang sama berlaku pada lotek dipadang, hanya saja dipadang loteknya tidak memakai potongan tempe dan bakwan tetapi memakai mie kuning. Sedangkan gado-gado padang lebih bercita rasa jawa timur daripada jawa tengah sekitanya. Bumbu gado-gado dimasak dengan santan terlebih dahulu dalam jumlah yang banyak..
Gorengan
Biasanya saya tidak terlalu menyukai makanan makanan yang sering saya buat seperti ikan bakar, brownies, ayam kecap dll. Tapi itu tidak berlaku untuk risoles, tahu isi dan bakwan. Saya berjualan risoles dan tahu isi cukup lama dilanjutkan dengan mencuri-curi jualan bakwan dan gorengan lainnya di jogja. Harga gorengan di jogja sangat murah, hanya setengah harga gorengan di padang, dengan ukuran dan rasa yang setengahnya pula. Tapi hal itu ternyata tidak menurunkan tingkat kesukaan saya terhadap makanan ini
Es krim Stroberi
Pada dasarnya saya ga terlalu suka makan es krim dan makanan yang manis. Tapi es krim stroberi lengkap dengan selai stroberi yang asem manis itu menjadi sangat sempurna mengalah ketidak-terlalu-sukaannya saya..rasa asemnya stroberi bisa mengurangi rasa eneg yang ditimbulkan susu...Ditambah dengan traktiran es krim conello stroberi dari bu Yoko sore ini.
Ngomong-ngomong soal es krim, sampai saat ini es krim favorit saya masih di pegang oleh es krim kelenteng di padang. Rasa es susunya tidak terlalu pekat, malah cenderung soft jadi ga bikin bosan dan eneg,apalagi yang dengan potongan nangka..hmmmm yummy. Dulunya es ini di jual dengan kemasan plastik dengan harga yang bergantung pada tebalnya potongan es krim.
Pempek
Mungkin gara-gara berteman dengan Iad yang pernah lama tinggal di bengkulu dan setelah itu berteman dengan ika yang maminya tinggal di palembang sana yang mengakibatkan saya bisa kebagian pempek enak dengan jumlah banyak dan gratis pula. Dasar member klub gretongan.he he . gara-gara itu juga lidah saya menjadi lebih cerdas terhadap terhadap rasa pempek dan terutama rasa cukonya.
Sejauh ini saya memang termasuk penggila pempek..kalo di turutin bisa tiap hari makan pempek mulu..Lucunya, di Jogja saya hanya malam pempek di tiga tempat saja; mang tjek otji di jakal, pempek ulu bundar di mirota dan nyonya kamto (kadang2). Dari itu semua, pempek paling enak yang pernah saya makan ya masih pempek kiriman maminya ika dari palembang sana.
Makanan dengan sambal kacang
Ini adalah bagiannya pecel, gado-gado, lotek, ketoprak, batagor dan temen-temennya. Awalnya ketika saya sampai di jogja, rasanya aneh dan ga selera melihat menu nasi pecel tanpa mie pula, tidak ada kangkung, yang ada bayam. plus kalo melihat orang lain memakannya dengan telor asin, makin lengkaplah sudah penderitaan saya. Mungkin karena raga saya sedang berada di Jawa sementara hati dan lidah masih ada di sumatera. Di padang, lotek, pical ( begitu kamu menyebutnya), gado-gado disajikan dengan mie kuning dan bertemankan lontong atau ketupat bukan nasi.
Gado-gado dan lotek di Jogja disajikan dengan irisan tempe dan bakwan dan bumbu kacang yang diulek sesaat sebelum disajikan. Hal yang sama berlaku pada lotek dipadang, hanya saja dipadang loteknya tidak memakai potongan tempe dan bakwan tetapi memakai mie kuning. Sedangkan gado-gado padang lebih bercita rasa jawa timur daripada jawa tengah sekitanya. Bumbu gado-gado dimasak dengan santan terlebih dahulu dalam jumlah yang banyak..
Gorengan
Biasanya saya tidak terlalu menyukai makanan makanan yang sering saya buat seperti ikan bakar, brownies, ayam kecap dll. Tapi itu tidak berlaku untuk risoles, tahu isi dan bakwan. Saya berjualan risoles dan tahu isi cukup lama dilanjutkan dengan mencuri-curi jualan bakwan dan gorengan lainnya di jogja. Harga gorengan di jogja sangat murah, hanya setengah harga gorengan di padang, dengan ukuran dan rasa yang setengahnya pula. Tapi hal itu ternyata tidak menurunkan tingkat kesukaan saya terhadap makanan ini
Jumat, 27 Februari 2009
Hate that I have to say goodbye...
Saya benci perpisahan ...bukan karena takut tidak bertemu lagi tapi lebih karena sulitnya mengatasi rasa kehilangan dan rasa kesepian akibat ditinggalkan. Ketika lulus SMU saya harus melepas dua teman dekat saya yang diterima di UI dan Unpad. walaupun masih ada teman saya yang lain, but it feels so different..seperti ada yang terenggut dari hati saya. Rasanya kurang lebih sama seperti ketika saya harus kehilangan sahabat pria terbaik yang saya punya karena salah paham..dan dia memilih pergi...
Saya benci perpisahan..bagi saya yang paling menyakitkan dari semua itu adalah proses penyembuhan hati yang telah terlanjur porak poranda. Saat dia berlalu dari hadapan, saat itulah saya sadari bahwa terlalu banyak hal indah yang pernah saya bayangkan sebelum akirnya saya sadari saya tidak bersiap untuk hal yang terburuk....
Terakhir kemudian saya mengantarkan Nana pulang ke medan. Nana adalah teman dekat terakhir saya di Jogja. Sebagai anak yang sejak SMP jauh dari orang tua..saya pikir Nana tidak akan meninggalkan saya sendiri disini... Saya mungkin bukan sahabat yang sangat baik bagi Nana, begitupun bagi saya dia bukan yang terdekat. Masih banyak hal yang sulit saya mengerti pada dirinya...ah..saya benci harus menahan sesak di dada dan mata yang panas...saya benci mengapa saya selalu menjadi orang yang ditinggalkan.
Dan ketika perpisahan itu terjadi, saya menyadari bahwa terlalu banyak waktu yang saya lewatkan begitu saja tanpa berusaha membuatnya menjadi istimewa...Pelukan ( yang semoga bukan yang terakhir ) di Bandara dan ucapan terima kasih telah menjadi temannya membuat saya tersadar bahwa hanya perlu telinga untuk mendengar..untuk bisa menjadi seorang sahabat...
Saya masih suka membaca sms perpisahan dari Nana dan Ika..dan masih suka sedih sampe sekarang...dan itulah mengapa saya masih saja tidak suka perpisahan bahkan sampe sekarang... I miss you Ka..I miss you Na..
Saya benci perpisahan..bagi saya yang paling menyakitkan dari semua itu adalah proses penyembuhan hati yang telah terlanjur porak poranda. Saat dia berlalu dari hadapan, saat itulah saya sadari bahwa terlalu banyak hal indah yang pernah saya bayangkan sebelum akirnya saya sadari saya tidak bersiap untuk hal yang terburuk....
Terakhir kemudian saya mengantarkan Nana pulang ke medan. Nana adalah teman dekat terakhir saya di Jogja. Sebagai anak yang sejak SMP jauh dari orang tua..saya pikir Nana tidak akan meninggalkan saya sendiri disini... Saya mungkin bukan sahabat yang sangat baik bagi Nana, begitupun bagi saya dia bukan yang terdekat. Masih banyak hal yang sulit saya mengerti pada dirinya...ah..saya benci harus menahan sesak di dada dan mata yang panas...saya benci mengapa saya selalu menjadi orang yang ditinggalkan.
Dan ketika perpisahan itu terjadi, saya menyadari bahwa terlalu banyak waktu yang saya lewatkan begitu saja tanpa berusaha membuatnya menjadi istimewa...Pelukan ( yang semoga bukan yang terakhir ) di Bandara dan ucapan terima kasih telah menjadi temannya membuat saya tersadar bahwa hanya perlu telinga untuk mendengar..untuk bisa menjadi seorang sahabat...
Saya masih suka membaca sms perpisahan dari Nana dan Ika..dan masih suka sedih sampe sekarang...dan itulah mengapa saya masih saja tidak suka perpisahan bahkan sampe sekarang... I miss you Ka..I miss you Na..
Langganan:
Postingan (Atom)