Jumat, 20 Maret 2015

They Say What??

Baru dua hari yang lalu saya pulang dari Tembilahan. Tembilahan adalah kota kecil di pinggir sungai Indragiri bagian hilir. Untuk mencapai Tembilahan, saya harus terguncang- guncang disepanjang jalan bergelombang dan seringkali jelek nan panjang. Bukan cerita tentang Tembilahannya yang akan saya posting kali ini, tapi tentang perbincangan saya dengan supir travel yang mengantar saya pulang. Lagi-lagi postingan ini ditulis karena abis baca postingannya mb ira tentang apa yang suka dibilang (dikomentari) orang ketika bertemu orang lain. 

Supir travelnya masih muda, umurnya sekitar. Sudah menikah dengan anak 4. Biasa saja siy dibagian yang itu. Yang luar biasa itu, masing-masing anak berasal dari ibu yang berbeda. Berarti kalau begitu si supir sudah menikah 4 kali dengan wanita yang berbeda. Tapi ternyata, dugaan saya salah. Si abang supir itu sudah menikah 6 kali:) Di jalan menuju rumah, dia bertanya kepada saya soal umur dan status. Saya sampaikan dengan jujur saja. Tapi kemudian saya menyesal juga. Karena pertanyaan dan jawaban yang ia lontarkan berikutnya benar-benar bikin saya ingin menabok mukanya. 

 
" Kok belum menikah juga kak? terlalu banyak memilih ya? awas lo nanti jadi perawan lapuk"

atau 
" Serius kakak belum menikah? kok badannya kaya wanita beranak empat?

atau 
"jangan terlalu sibuk kerja kak, pergilah jalan-jalan agar mata dan pikirannya terbuka"

dan yang paling parah 

" Pakai pemanis (susuk) dong kak biar laku..biar ga tua dan melapuk sendiri"

Ternyata selain menunggu, berada satu lokasi dengan orang yang tidak kita inginkan akan mebuat waktu terasa berjalan begitu lambat. hanya 20 menit jarak waktunya dari rumah penumpang terakhir sebelum saya menuju ke rumah terasa seperti seharian. Akhirnya saya memilih banyak diam atau mengalihkan pembicaraan saja, namun dalam hati tak berhenti gedumel, kok bisa ya orang-orang dengan gampangnya mengomentari hidup orang lain hanya karena merasa hidupnya sudah sesuai track; sekolah-lulus-kerja-nikah-punya anak-dst. 

Dalam kasus si abang ini, saya jadi merasa bahwa dia mungkin merasa diatas rata-rata soal pengalaman menikah, bahkan mungkin sudah teramat sangat khatam sehingga berhak memberikan pandangan (tanpa diminta) soal masalah orang lain dan sesuka hatinya pula. Tapi setelah banyak diam, saya jadi berpikir, ya wajarlah jika ia suka mengomentari hidup orang lain, karena ia punya banyak waktu sepanjang jalan untuk melihat, bertanya dan mengamati kehidupan orang lain. Sementara sebagian besar penumpangnya sibuk menghabiskan waktu mereka untuk beristirahat.


Ketika akhirnya mobil berhenti didepan rumah, saat itu juga saya merasa sangat bahagia dan lega. Benar kata quote diatas, sebagian orang perlu berlalu dari depan muka kita agar hari menjadi lebh cerah:)> 

Jadi, pelajaran hari itu adalah, jangan banyak ngobrol dengan supir travel..terutama jika ia memiliki aura menyebalkan. Dan jangan lupa berdoa sebelum berangkat, agar yang mengemudi mobil orangnya menyenangkan dan ga suka mengomentari orang lain:)

Selasa, 03 Maret 2015

Lose and Gain 2014

Sudah bulan ketiga di 2015 dan saya baru mulai kembali melihat-lihat blog ini. Kemaren, sehabis  menyempatkan diri untuk blog walking ke blognya Jeng Ocha , saya merasa mulai rindu menulis lagi. Apalagi beberapa postingan terakhirnya jeng ocha banyak yang berisi cerita sehari-hari yang mengena di hati. Btw, postingan terakhir yang saya punya ada di bulan Oktober 2014 dan nadanya masih sendu. Tahun 2014 nampaknya menyisakan terlalu banyak cerita luka di hati saya, meskipun sudah tidak ingin terlalu saya kenang tapi tetap muncul dalam tulisan.

Tapi ternyata, cerita luka memang selalu datang beriringan dengan cerita suka, meskipun tidak selalu berdekatan waktunya. Semua cerita tahun lalu mengingatkan saya pada ayat Al-Quran favorit saya; surat Al Insyirah; "Bahwa sesungguhnya setelah kesulitan selalu ada kemudahan.."

Awal. tahun lalu, sudah diisi dengan berbagai cobaan; mulai dari kehilangan motor hingga menjadi korban jambret, disusul kemudian dengan masalah keluarga yang cukup berat. Namun demikian, diantara masalah keluarga yang tak terbayangkan sebelumnya itu, kami mendapatkan berita gembira; adik saya yang no 4 mendapat beasiswa di kampusnya. Bukan hanya soal uang beasiswanya yang lumayan; yang membuat uang kuliahnya satu semester bisa dibayar sendiri, tapi lebih jauh kebahagiaan karena melihat perjuangannya bertahan untuk kulah dan berprestasi di tempat yang ia tidak sukai sebelumnya yang membuat kesedihan diawal tahun berangsur pupus.

Setelah memutuskan berhenti dari satu kegiatan yang pernah menjadi cerita besar dalam hidup saya, saya mengalami fase patah hati yang panjang yang membuat saya berputar dalam scene drama yang terus menerus. Tapi kemudian saya bertemu dengan beberapa orang dari lingkaran yang sama yang kemudian memberikan dukungan tanpa henti bagi penyembuhan hati saya. Setelahnya, saya jadi memiliki tempat untuk menertawakan hal-hal yang tidak penting, yang sebelumnya pernah saya tangisi berhari-hari. 

Another brighter side after long dark scene happened to me is another new opportunity. Saya  kemudian berkesempatan bergabung dalam sebuah ekspedisi bertemakan kuliner nusantara. Meski bukan posisi hebat, tapi posisi local fixer memungkinkan saya untuk bekerja dengan orang-orang hebat dibidang kuliner. Then I finally see where I supposed to be and whom I supposed work with..

Fase patah hati yang panjang itu membuat saya punya banyak energi yang bisa dilampiaskan pada banyak hal, dan syukurnya, pelampiasan tersebut tidak aneh-aneh. Dua kali pada tahun lalu saya akhirnya berkesempatan untuk mempresentasikan penelitian saya di dua konferensi dan dua paper lainnya lolos seleksi. Bukan sesuatu pencapaian yang sangat luar biasa sebenarnya untuk bisa dibanggakan. Mengingat ada banyak peneliti yang presentasi beberapa kali setiap bulannya, atau orang lain yang tiap sebentar berkeliling untuk diundang jadi pembicara kemana-kemana karena kehebatannya.

Melihat dan membaca semua cerita yang terjadi tahun lalu dan membandingkannya dengan apa yang kami dapati hari ini, saya hanya bisa takjub. Kesedihan, musibah dan patah hati pada akhirnya akan berlalu juga..hanya mungkin tidak semuanya berlalu secepat yang kita inginkan. Kadang kala ia butuh kesabaran dan waktu..

Afterall last year, I realized that I already lose many good thing, but  I gained many better things after that.
And I might say that I do proud of myself..
Not only about the achievement
but also about how I through this stormy year and try hard to dance in the rain




Selasa, 14 Oktober 2014

Tentang (Tidak) Memaafkan


Ketika putus dengan mantan terlama, Saya membutuhkan waktu kurang lebih 4 tahun untuk bisa kembali berkomunikasi dengannya. Bukan hanya betapa sulitnya memaafkan semua yang telah terjadi pada akhir cerita kami tapi juga karena begitu sulit bagi saya melupakan semuanya begitu saja. Empat tahun kemudian, setelah komunikasi dibuka kembali, ia (si mantan) berujar kalau ia sudah siap kalau saya tidak memaafkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan pada saya. Karena ia tahu bahwa ia luka yang ia torehkan di hati saya teramat dalam.. 

Selama ini, saya selalu berpikir setiap luka yang kita punya yang disebabkan oleh orang lain akan sembuh jika kita memaafkan semua yang telah terjadi, entah itu kejadiannya atau orang yang melakukan. Tapi kemudian, ketika mengalaminya sendiri, saya jadi tahu bahwa ternyata luka saya tidak pernah benar-benar sembuh karena sebuah kata memaafkan yang keluar dari mulut saya. Ternyata memaafkan memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi mungkin iapun tidak benar-benar sulit. Yang sulit itu adalah melupakan semua yang telah terjadi sehingga meskipun kata maaf dan berdamai dengan keadaan sudah terucap dari mulut, belum tentu disetujui oleh hati.

Hingga kemaren saya membaca postingannya pashatama tentang memaafkan. 

Lagi-lagi diawal membaca, saya berpikir bahwa saya akan diseret kedalam argumentasi yang sama dengan yang ada dalam pikiran saya selama ini, bahwa memaafkan akan menjadi obat bagi hati saya yang luka. Tapi ternyata saya salah. si mba shasy itu pada intinya menulis bahwa, its okay not to forgive someone or something for whatever the reason is..and.. Masa bodoh dengan energi positif yang tersumbat itu tadi. Kalau dengan tidak memaafkan membuat kamu merasa lebih baik, so what. Just walk away, do anything that will make you feel better. Thats what life is about.

Setelah membaca postingan itu, entah mengapa saya merasa sangat lega. 

Hampir 5 bulan saya terperangkap dalam situasi yang membingungkan karena perihal memaafkan. Hampir lima bulan juga hati saya tidak sembuh-sembuh karena luka yang ditorehkan oleh beberapa orang pada hati saya dan itu dalam. To be honest, saya belum mampu dan belum mau memaafkannya. Karena setiap kali saya melihat dan mendengar apapun terkait semua kejadian selama 5 bulan belakangan ini, luka saya berdarah lagi. Hampir selama itu pulalah saya dinasehati banyak orang untuk bisa memaafkan yang sudah terjadi. Mungkin karena bukan mereka yang mengalami, atau mungkin karena mereka telah mengalami

Well, actually everything is always easier when it is said than when it is done until it happened to you..

Saya masih belum bisa memaafkan orang-orang yang membuat saya berkali lipat terlihat lebih bodoh dimata banyak orang hanya karena saya tidak menguasai hal yg mereka kuasai. Saya masih belum bisa memaafkan dan melupakan semua scene yang menjatuhkan harga diri saya dimata banyak orang hanya karena saya tidak tahu dan saya tidak pernah lupa dan belum bisa memaafkan betapa sakitnya  hati saya ketika dipermalukan didepan banyak orang lewat sebuah forum hanya karena saya tidak sekeren orang setelah saya. 


Dan ternyata...
its ok not to forgive...
maybe its not to, its just not yet
But if I don't want to..

Then Its ok

as ok as to take sometime to heal my pain

Thanks a lot mba Sashy 
You made up my day..


Senin, 29 September 2014

Belajar Menghargai Makanan di Film Tabularasa

Mungkin jika kita bertanya kepada sekelompok orang di negara ini tenang siapa yang tidak suka masakan Padang, mungkin hanya beberapa dari sekian banyak orang yang ditanya yang akan mengangkat tangannya. Sebagai orang minang, tentu saja saya lahir dan besar dengan masakan minang, yang lebih dikenal dengan makanan Padang kalau diluar Sumbar.

Sebut saja sambalado, dari kecil saya sudah akrab dengan berbagai macam jenis sambalado khas minang seperti sambalado uok, sambalado mudo, sambalado matah sampai ke sambalado tanak. Bukan orang minang jika makan tanpa cabe. Selain sambalado, hampir setiap hari menu di rumah kami ada yang balado. Balado sendiri berbeda dengan sambalado. Balado artinya memakai cabe goreng; Ba ; memakai atau dengan atau diberi , Lado : cabe keriting; baik merah atau hijau. Jadi kalau menemukan menu ayam goreng balado di RM Padang, makan itu artinya ayam goreng yang memakai atau diberi cabe goreng. Menu utamanya adalah ayam goreng, cabenya sendiri adalah pelengkapnya. Sementara di sambalado, cabenya yang menjadi pusat perhatian, item seperti teri, pete atau jengkol adalah pelengkapnya. 

Siapa yang menyangka kalau masakan yang terlihat sederhana itu sebenarnya membutuhkan cara masak yang sangat tidak sederhana?. Dan saya mengetahuinya sedari kecil sewaktu "dipaksa" mama untuk belajar memasak; menggiling cabe, memeras santan, menanak nasi hingga belajar mengenali aroma cabe goreng. Saking tidak sederhananya proses membuat makanan balado, saya harus bolak balik ke kamar mandi merendam tangan saya yang kepanasan akibat menggiling cabe hingga bersin-bersin didepan kuali saat menggoreng cabe

Memori itu yang kemudian berputar di kepala saya saat saya menonton Film Tabularasa minggu lalu, film Indonesia pertama yang menjadikan makanan sebagai metafora dari nilai-nilai yang ada pada sepiring hidangan yang kita makan setiap harinya. 

Secara tidak langsung, film ini mengajarkan kita untuk lebih menghargai makanan yang biasa kita makan. Banyak penikmat masakan Padang yang mungkin tidak tahu bahwa untuk mendapatkan sebungkus nasi Padang yang panas mengepul dengan aroma daun pisang, kuah santan dan sambalado perlu sebuah proses panjang, seperti yang dilakukan oleh Amak, bangun dini hari, belanja ke pasar dan memilih bahan-bahan terbaik, duduk ber jam-jam didepan tungku berjelaga hingga ia bisa terhidang. Begitupun banyak orang yang tidak tahu bahwa ada banyak filosofi yang tersimpan dibalik sebuah hidangan.  Memasak rendang misalnya, memiliki filosofi kesabaran karena proses memasaknya yang lebih, hampir 4 jam. Selain lama, rendang harus dirasakan cara memasaknya, tidak boleh kurang atau berlebihan pengadukannya. Atau mungkin filosofi yang tersimpan dibalik pemilihan bahan baku yang harus cermat; lebih baik membeli yang bagus meskipun mahal daripada menang membeli yang murah tapi menurunkan mutu karena bagi orang Minang, Rasa itu no 1

Bukan hanya sarat nilai yang ternyata sering kita lewatkan dari hal-hal sederhana seperti yang saya ceritakan diatas, film Tabularasa juga mengajarkan kita bagaimana menghadapi hidup setelah menghadapi kegagalan, belajar untuk tidak menilai orang dari tampilan luarnya saja atau berdamai dengan masa lalu. Abaikan bahwa alur cerita dibagian awalnya berjalan sangat lambat atau proses masak memasaknya yang agak kurang banyak, film Tabularasa memang layak untuk ditonton karena aman untuk segala usia, tidak ada adegan yang membuat kita harus berpikir ulang untuk membawa anak-anak ke bioskop, pengambilan gambar untuk proses masak memasaknya keren sekali, sehingga sepanjang film perut tidak mampu menahan rasa lapar. Selain itu dialog yang menggunakan bahasa minangnya juga bagus, tidak dibuat-buat dan dialog dengan bahasa Papuanya mampu memancing tawa.

Hanya saja, film ini memiliki after effect yang tidak menyenangkan, yaitu rasa lapar dan rasa ingin makan nasi Padang yang tak tertahankan, sehingga tidak disarankan untuk menontonnya dalam keadaan perut kosong dan akan lebih baik jika posisi bioskop berdekatan dengan Rumah makan Padang:) 

Yang belum tau film Tabularasa, bisa cek trailernya dibawah ini




Rabu, 17 September 2014

Jadi Kapan Aku dan Kau bertemu di KUA?


Kadang, ada banyak orang juga yang merasa bahwa punya hubungan dalam hitungan tahunan akan menjamin mereka akan berakhir di pelaminan padahal masa depan bukan kita yang punya. Padahal, satu menit menjelang akad nikah, segala bayangan manis tentang seakan hidup mendatang dapat kutempuh denganmu bisa saja buyar hanya karena sepenggal cerita masa lalu

Kadang banyak orang tidak mengerti mengapa ada perempuan pada umur tertentu belum juga menikahdan malah terus mengejar sekolah dan karir. Dan tetap saja ada orang-orang yang tidak akan pernah bosan membicarakan dan bertanya, entah itu terang-terangan atau hanya sekedar bisik-bisik dibelakang. Bisik-bisik dan pertanyaan yang kemudian membuat banyak orang melakukan perubahan dalam dirinya hanya agar ia terlihat dimata lawan jenisnya.. 

Sama seperti yang dialami Suci, Mona dan Fira, ketiga tokoh utama dalam film Aku Kau dan KUA yang saya tonton siang tadi`

Suatu kali dimasa kuliah, saya jatuh cinta pada abang angkatan saya yang aktivis dakwah kampus. Ia menjadi magnet saya untuk kemudian belajar memakai rok, berjalan dengan lebih ayu dan berbicara dengan lebih santun. Saya teringat apa yang dikatakan oleh kakak tingkat lainnya saat itu kepada saya : " Untuk bisa mendapatkan suami yang shleh, maka kita harus jadi perempuan sholeh dulu. karena laki-laki baik-baik adalah untuk perempuan baik-baik" 
Saya langsung tertunduk dan tertusuk. Dalam waktu sekejap saya mentransformasi diri dalam balutan keanggunan seperti yang diinginkan oleh banyak laki-laki sholeh seperti abang itu. Dan ternyata, si abang itu tidak menikah dengan saya. saat itu saya merasa menjadi Mona, yang merasa bahwa dengan perubahan drastisnya, akan berdampak drastis pada masalah jodohnya

6 tahun yang lalu, saya hampir saja akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan dengan seorang pria, sayangnya sebuah cerita masa lalu dari si Pria itu membuyarkan segalanya. Saya fikir kehancuran hati saya pada saat itu mungkin hanya sedikit saja dibawah kehancuran hati Fira yang gagal menikah hanya beberapa saat sebelum akad gara-gara sepenggal cerita masa lalu dari calon suaminya. 

Setelah umur 25 dan 27 berlalu dan setelah bekerja menjadi dosen, pertanyaan "kapan menikah" atau "kapan menyusul?' menjadi langganan untuk saya jawab. Belum lagi tuduhan-tuduhan sepeti : "jangan terlalu memilih" atau "jangan sekolah tinggi-tinggi nanti laki-laki pada takut" atau " jangan terlalu sibuk berkarir" atau " mau nikah kapan lagi? ntar keburu tua"
Saya bisa merasakan perasaannya Suci, yang tidak henti diberondong oleh pertanyaan dan komentar serupa

 Dan saya rasa, ada banyak orang yang sudah atau akan menonton film ini merasakan perasaan seperti yang saya rasa. 

Jika tidak ada ayat Al-Quran di bagian pembuka dan penutup, mungkin akan banyak orang yang tidak paham bahwa ada syiar agama dalam film ini. Film Aku, Kau dan KUA dibuat sangat mengalir dan menghadirkan serta nilai-nilai keislaman dengan cara yang sangat halus. Film ini mengajak (bukan mengajarkan) orang-orang muda terutama untuk taaruf dan kemudian menikah (di KUA)  saja jika memang telah menemukan orang yang dirasa tepat. 

Bahasa syiar dan dakwah yang dipilih sangat mudah dicerna dan digambarkan dengan cara yang sederhana tanpa kehilangan makna. Seperti pada scene bagaimana Deon melakukan presentasi tentang dirinya diawal proses taaruf di rumah Fira serta bagaimana film ini menjawab beberapa pertanyaan yang seringkali ditanyakan orang seputar taaruf; apakah masih boleh bepergian berdua, apakah mungkin menikah tanpa pernah jatuh cinta terlebih dahulu pada pasangannya, dsb. Scene itu juga yang paling banyak mengundang tawa diantara para penonton bioskop siang ini.  

Selain itu, saya "jatuh cinta" pada akting para pemainnya juga sangat natural, adanya iklan dan bahasa kekinian yang diselipkan tanpa membuat kita mengernyitkan muka. Ada banyak sindiran yang membuat kita tertawa dan tertohok pada saat yang bersamaan. Semua terasa sangat dekat dengan keseharian (saya) kita. 

Tapi yang saya rasa patut diacungi jempol adalah  tokoh Pepi yang kocaknya menghidupkan film ini. Saya siy sibuk menebak-menebak bahwa aksen yang dipakai si Pepi adalah aksen Pekanbaru yang sedikit bias dengan aksen batak. Mungkin karena penulis bukunya orang pekanbaru? ya bisa jadi:)

Terus terang, saya sendiri sangat berterima kasih pada film ini karena telah mampu menggambarkan perasaan hati saya sebagai wanita lajang usia 30an yang masih ingin sekolah tapi juga mulai capek menjawab pertanyaan kapan nikah:). Saya pikir ada banyak wanita lain juga yang merasa pikiran dan keinginannya tersampaikan dengan baik lewat film ini, terutama jika setelahnya para pria yang duduk disebelah mereka di bioskop tadi siang berkata :'merit yuk?' setelah film usai, seperti yang saya dengar di pintu keluar:)





Rabu, 09 Juli 2014

9 Juli..

Tanggal 9 Juli 2014. Hari ini pemilihan umum dalam rangka memilih calon pemimpin Indonesia 5 tahun kedepan berlangsung. Setelah berhari-hari timeline dipenuhi oleh bermacam ragam berita, puja puji hingga caci maki calon presiden pilihan hati masing-masing kubu. Untuk pertama kalinya sejak saya boleh ikut pemilu, saya tidak bisa ikut memilih. Akibat dinas luar kota, saya ga sempat mengurus form A5. Hari ini saya nekat datang ke TPS dan kertas suara sudah habis. Jumlahnya tidak sesuai dan tidak mengantisipasi gelora masyarakat untuk menjadi bagian dari sejarah negara ini.

Tanggal 9 Juli 2014. Hari ulang tahun Akademi berbagi ke 4. Saya sudah ikut serta meramaikan timeline dengan cerita saya sendiri saat bergabung di akber chapter Pekanbaru. Ikut bergembira atas capaian umur dan jangkauan kota yang semakin banyak namun sekaligus sekelebat sedih menjalar karena hampir 3 minggu yang lalu saya mengundurkan diri jadi relawan akber di kota saya. So, pada ulang tahun yg ke 4 ini, saya (hanya pernah) menjadi bagian dari keluarga besar ini. 

Apa kesamaan pilpres kali ini dengan kegiataan volunterring seperti akademi berbagi?

Kesamaannya adalah keduanya adalah, ia lahir dari keinginan untuk melakukan dan mengalami perubahan.
Ada banyak orang yang menjadi relawan capres yg mereka dukung tanpa dibayar sepeserpun, malah sebaliknya menyumbang banyak tenaga, uang dan pikiran, mulai dari berkampanye dengan akun sendiri di media sosial, membuat lagu, video klip, hingga menyumbang uang . Banyak orang yang melakukan hal tersebut dengan sadar, semata-mata karena mereka ingin kehidupan yang lebih baik untuk anak cucu mereka kelak. Sama halnya dengan yg terjadi di akademi berbagi. Gerakan dimulai oleh satu-dua orang yang berpikir bahwa ada banyak kesempatan belajar yang seharusnya bisa dinikmati banyak orang. Tidak ada yg digaji dalam gerakan ini. Semua dibayar dengan sesuatu bernama rasa senang.

Tapi gerakan perubahan ternyata tidak mudah. Menjadi pendukung salah satu dari dua capres yang muncul ke permukaan tidaklah mudah. Apalagi jadi capresnya sendiri. Menjadi pendukung salah satu capres saja bisa menyebabkan kehilangan teman, apalagi menjadi presidennya. Tidak semua orang bisa melakukannya dan tidak semua orang yang bisa menjadi pemimpin mau mengambil resiko tersebut. Maka, yang dibutuhkan untuk membuat yang memiliki kemampuan jadi mau melakukan suatu langkah besar adalah dukungan..apapun bentuknya; diberitahu, diberi masukan bahkan kritik. Toh pemimpin bukan dewa. Iwan fals bilang, ia hanyalah manusia setengah dewa. Artinya, perlu setengah dewa lagi untuk menjadikannya sempurna

Di Akademi berbagi, setiap relawan diberikan atau bahkan harus diberikan kesempatan untuk menjadi pemimpin yang biasa disebut kepala sekolah, secara bergiliran. Agar masing-masing bisa melatih kemampuan kepemimpinan mereka masing-masing. Selain itu, pergantian posisi memungkinkan seseorang untuk bisa merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan pemimpin sebelumnya. Yah, kadang memang melihat dan berkomentar untuk sebuah permainan seperti main bola terasa begitu mudah, padahal jika menjadi pemain, kita belum tentu tahan. 

Disetiap gerakan untuk kebaikan, diperlukan cara-cara kebaikan pula, agar semua maksud bisa tersampaikan dengan baik dan bisa diterima dengan baik pula. Benang merah dari dua hal besar yang terjadi hari ini adalah siapapun yg kita pilih hari ini bisa menang dan juga bisa kalah. Tapi jika ia ditahbiskan jadi pemimpin, maka sudah selayaknya kita mulai belajar menghormati, bukan karena kita suka atau tidak pada sosoknya melainkan karena ia telah berani mengambil resiko atas hal besar yang kita sendiri belum tentu mampu melakukannya..


Selamat untuk perubahan di negeri kita..semoga menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik di masa yang akan datang

Selamat ulang tahun ke 4 akademi berbagi

Rabu, 25 Juni 2014

Mari mampir, makan dan berbincang di Kedai Ketjil

Malam ini saya singgah disebuah tempat makan baru bersama empat orang mahasiswa saya dulu. Tempat yang kami kunjungi ini bukan restoran, hanya sebuah dapur kecil portable diatas sebuah sepeda motor yang sekaligus gerobak. Di barat sana, orang menyebutnya food truck. 

Lagi-lagi kita memang harus berterima kasih pada teknologi, yang memungkinkan kita melihat dan meniru perkembangan dunia luar sana tanpa bergerak sedikitpun dari depan TV. Sejak berlangganan TV kabel hampir setengah tahun yang lalu, saya seringkali menghabiskan waktu didepan tayangan seputar makanan; mulai dari wisata kuliner, jelajah pasar hingga masak memasak. Dan ada satu tayangan berjudul eat street yang memperkaya saya dan (mungkin orang lain) dengan ide-ide menarik tentang berjualan makanan di jalanan Amerika dan Kanada. 

Mungkin itulah yang menginspirasi tempat makan yang saya datangi malam ini. Namanya Kedai Ketjil. Menurut saya siy, konsep kedai ketjil tidak sepenuhnya berupa food truckmelainkan gabungan dari food truck dan angkringan. Atau dengan kata lain, sebenarnya mereka mengusung angkringan dengan konsep modern. Makanan yang dijual tidak terlalu banyak macam; beberapa varian nasi ayam, finger food dan roti bakar, namun minumannya cukup beragam, mulai dari teh hingga squash. 

nasi ayam telur asin
Malam ini, di meja kami; saya dan empat orang mahasiswa saya ada empat varian nasi ayam; nasi ayam telor asin, cabe ijo, rica-rica dan goreng mentega. Kami juga memesan beberapa varian minuman ringan, yg saya ingat cuma lime squash dan sisanya saya lupa namanya dan berakhir dengan memesan setangkup roti bakar coklat keju.

Dari keempat varian nasi ayam itu, bagi saya, ayam cabe ijonya yang paling unggul. Rasanya segar, tidak seperti ayam cabe ijo rumah makan Padang. Jeruk nipisnya terasa sekali. Sementara itu, ayam telor asinnya kurang asin dan dibawah bayangan saya ttg sesuatu dengan telur asin. Saya tadi berharap telur asinnya akan sangat melimpah dan terasa kesat sehingga akan tidak perlu menambahkan apapun pada nasinya. tapi idenya cukup bagus. tidak terpikirkan sebelumnya. hanya mungkin perlu jam terbang pembuatnya saja. Ayam rica--ricanya sangat mirip ayam balado hanya lebih pedas dan ayam goreng menteganya sangat pucat:)

Lime squash mereka tidak dibuat dengan perasan jeruk nipis melainkan dengan memadukan minuman serbuk berperisa jeruk nipis dan soda dengan rasa jeruk nipis. Mereka juga memadukan minuman serbuk tersebut dengan soda rasa lain utk menghasilkan varian yang berbeda. Kreatif

Roti Bakar Coklat Keju
Last but not least, Roti bakar coklat keju mereka sangat amat dipujikan. Rotinya tebal dan empuk dibuat sendiri dengan standar rasa ala roti bakar kopitiam. Susu kental manis coklat dipakai untuk rasa coklat sangat melimpah dan keju yang banyak melelehkan hati dan lidah. 

Tapi sebenarnya, yang menjadi highlight untuk kedai ketjil ini adalah value yang mereka bawa. Saya membaca tulisan besar  "Mari mampir, makan dan berbincang" digerobak mereka. Hal yang sudah lama terlewatkan oleh banyak tempat nongkrong baru yang bermunculan di kota ini. Sejak gadget selalu berada digenggaman dan wifi ada disemua penjuru, kita mulai lupa rasanya berbincang dan berinteraksi ditempat makan. Tak jarang saya dan banyak orang duduk berhadapan tanpa bicara tapi saling mengirimkan mention di akun social media. What an Irony. 

Malam ini ketika datang kesana, saya dan teman-teman semeja menghabiskan malam kami dengan bercerita banyaaak sekali dan tertawa lepas berulang-ulang. bahkan untuk hal yang tidak lucu sekalipun..like never before

Sebelum pulang, si pemilik meminta komentar saya tentang kedai mereka dan kami berbincang cukup lama. Ia mendengarkan pendapat saya dengan seksama dan bahkan mencatatnya. Senang rasanya apa yang kita ketahui bisa menjadi bermanfaat bagi orang lain. Dan lebih menyenangkan lagi mengetahui bahwa apa yg kita katakan didengarkan, meski mungkin bukan hal hebat sekalipun

Makan malam untuk 5 orang malam ini menghabiskan isi kantomg kami 103ribu tapi nilai yang kami terima berkali lipatnya:)

Visit Kedai Ketjil (@kedaiketjilpku) di depan mesjid besar di jalan sumatra. Gerobak warna merah dengan beberapa meja dan bangku disekitarnya. Jangan lupa untuk menghabiskan waktu dan makanan dengan berbincang dengan orang disebelah anda..


Yang udah berkunjung ke sini ..