Minggu, 27 April 2014

Tentang Ambisi dan Target Hidup


Mengenal beberapa orang baru membuat saya semakin mengenal diri saya sendiri. Tapi ini tidak berlaku untuk semua hal kok, hanya beberapa, terutama terkait cara saya menikmati hidup.

Teman-teman terdekat saya seringkali gemes melihat cara saya menjalani sesuatu yang seringkali tanpa perencanaan dan target. Saya memang tipikal let it flow or enjoying thing as it is atau bahasa kerennya mengalir saja. Dan setelah saya amat-amati, dari banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, rata-rata terjadi tanpa diperkirakan dan direncanakan sebelumnya meskipun beberapa diantaranya pernah masuk dalam daftar keinginan saya. Satu-satunya mapping yg pernah saya buat tentang sebuah keinginan hanyalah dream map di kelas tiga pijar waktu LLD 2014 Akber kemaren. Selain tanpa rencana, saya suka bingung kalo ditanyain akan menjadi apa saya 5 atau 10 tahun dari sekarang. Saya juga suka bingung kalo ditanyain target hidup saya apa. Seringkali saya akan menjawab dengan jawaban yang terlalu luas, seperti menjadi istri yang baik, atau dosen yang baik dan sejenisnya tanpa ambisi dan target. Semua dibuat semampu saya saja atau mungkin tepatnya, sejauh mana saya ingin membuktikan kemampuan saya.
Sepertinya saya memang tidak dikaruniai dengan kelebihan bernama ambisi yang bisa menuntun saya menjalankan sesuatu dengan target-target yang jelas. Hanya beberapa hal tertentu saja yang saya lakukan dengan penuh perencanaan, sisanya saya lebih suka bermain wait and the see.what will be happened. Jikapun direncanakan dengan baik, maka saya pastikan hanya beberapa yang sesuai dengan perencanaan awal, sisanya ya tergantung kemana hidup akan membawa rencana itu. Dan seringkali saya tidak berhasil memaksa diri saya untuk memperbaiki rencana yang sudah jauh menyimpang itu. Alih alih menariknya kembali ke jalur semula, saya lebih memilih untuk menunggu kejutan apa yang menanti dibalik rencana itu. Lebih lucu lagi, melihat sifat saya yang lempeng ini, banyak orang yang kemudian malah menjadikan saya objek dari ambisi dan obsesi mereka. Mulai dari ambisi orang tua yang ingin melihat anaknya kurus hingga ambisi untuk memberntuk karakter tertentu karena melihat potensi yang saya punya. Tapi ya lagi-lagi saya mesti bilang, hanya sebagian yang berhasil, lebih sering siy gagal :).

Bukan hal yang bagus sebenarnya. Orang bilang hidup tanpa ambisi itu ibarat burung tanpa sayap, yang akan membatasi jelajah kita kata sebagian orang. Selain itu, ambisi akan menjadi jejak penentu kesuksesan seseorang karena orang yang menjalani hidupnya dengan ambisi akan mampu mencapai apa yang tidak dicapai oleh banyak orang. Hanya saja banyak orang yang salah kaprah menggunakan kata ambisi ini. Sebagian orang menggunakan kata-kata ini untuk membuat dirinya terlihat dan menutupi kesempatan orang lain. Sebagian menghalalkan segala cara agar apa yang ia inginkan tercapai meskipun pada saat bersamaan juga akan melukai orang lain. Jika ini menyangkut ambisi bersama, banyak orang yang kemudian menjadikannya sampul bagi ambisi pribadi yang kebetulan melibatkan orang lain untuk mencapainya. It's ok actually, siapa tau malah bisa menjadi pencapaian bersama, sayangnya banyak yang suka lupa bertanya dan menyamakan langkah terlebih dahulu agar kecepatan kaki menjadi sama ketika berjalan dan melupakan jasa orang lain ketika ia tercapai. 

Meskipun bukan hal yang benar-benar bagus, tapi menjadi orang yang hidupnya mengalir seperti saya tidak sepenuhnya buruk.  Setidaknya saya lebih mudah menerima kegagalan dan jarang berhubungan dengan stress jika tidak berhasil mencapai sesuatu. Saya malah akan stress jika dipaksa untuk mengikuti keinginan dan ambisi orang lain meski itu sukses. Soal pekerjaan misalnya, saya sudah mengikuti 7 kali tes pegawai negri dari berbagai departemen sebelum lulus di tes terakhir dan menjadi dosen. Dua tes diantaranya saya ikuti berturut-beturut dan masih saja tidak lulus. Sedih siy pastinya tapi ya paling cuma perlu sehari dua hari saja untuk meratap:), setelahnya saya malah jadi bisa belajar apa saja yang perlu dipersiapkan kalo mau tes lagi. Nothing to loose does work on me in proper way, dalam pengertian always do my best and let God do the rest. Waktu ditinggal menikah oleh pacar yang sudah 3 tahun membina hubungan, saya memang patah hati setengah mati. Waktu yg saya butuhkan untuk sembuh juga tidak bisa dibilang sebentar, hampir 1/2 masa pacaran kami. Tapi alhamdulillah saya tidak sampai dirawat di rumah sakit karena mogok makan. Padahal lumayan bangetlah kalo bisa mogok makan, setidaknya saya jadi lebih kurus. tapi ternyata engga tuh, sampe hari ini saya masih tetap saja besar:)

Mungkin inilah yang dimaksud dengan keseimbangan hidup, bahwa Tuhan menciptakan kita beserta karakter yang kita bawa untuk membuat perpaduan yang sempurna untuk melengkapi kehidupan banyak orang dan sebaliknya. Bahwa orang yang ambisius disekitar saya mengajarkan saya bahwa ada banyak hal penting dalam hidup perlu dikejar dan sebagian (atau mungkin semua?) membutuhkan perencanaan. Jika orang lain akan punya back up plan, maka saya mungkin akan menyarankan no back up plan or get lost untuk setiap rencana yang gagal..Karena orang yang lempeng dan mengalir seperti saya juga sebenarnya memberikan banyak pelajaran, bahwa apapun bisa terjadi pada hal yang kita rencanakan dan mungkin itu artinya kita hanya perlu menikmati saja semua yang terjadi. :)




Rabu, 23 April 2014

A Sibling's Journey Wish

Dear Mbok Venus,

Jika ada pertanyaan kuis yang berhadiah jalan-jalan bersama satu orang sahabat ke suatu tempat saya pasti bingung memilihnya. Saya punya beberapa sahabat dekat yang semuanya memberikan kontribusi penting dalam kehidupan saya, mulai dari jaman putih abu-abu hingga sekarang mereka sudah punya anak dua atau satu. Dulu, saya dan sahabat-sahabat saya di Asrama putri 70 selalu berandai-andai bahwa suatu hari nanti kami akan melakukan perjalanan seperti yang dilakukan oleh Carrie, Samantha, Charlotte dan Miranda dalam Sex and The City. Memiliki banyak teman perempuan sebaya disekeliling untuk tetap tertawa dan bahagia ketika umur semakin menua merupakan berkah yang luar biasa. Namun ternyata tetap sulit untuk mewujudkan perjalanan bersama mengingat dua diantaranya sudah menikah dan punya anak dan yang lainnya meski masih lajang tapi jam terbang amat padat. Jadi yaa, boro-boro ke Dubai,  untuk napak tilas kembali ke Jogja bersama-sama saja terlihat amat mustahil. 

Tadinya saya berharap boleh memilih lebih dari satu orang untuk diajak ke Resort World Sentosa jika memenangkan kuis ini, karena jujur Mbok, saya punya tiga kandidat yang kesemuanya punya peranan sangat penting dalam hidup saya hari ini, melebihi sekedar teman baik. Mereka selalu ada setiap fase kehidupan yang saya alami, mulai dari yang paling manis hingga paling pahit sekalipun. Tidak terhitung banyaknya kebaikan yang pernah saya terima dari mereka sehingga saya pikir inilah kesempatan untuk membalasnya. 

Hidup benar-benar soal pilihan ya Mbok, dan memilih satu diantara mereka bukan hal yang mudah bagi saya. Saya semakin bingung mau menulis apa di blog ini agar bisa mendapatkan kesempatan ini hingga dua hari yang lalu saya menerima pesan dari adik saya di Depok yang mengabari bahwa ia baru saja mendapatkan beasiswa dari ikatan alumni dari tempatnya kuliah saat ini. Saya sangat bahagia mbok, mengingat bahwa kami sekeluarga baru saja melewati masa sulit. Saya membalas pesannya dan menulis bahwa ia bisa bepergian ke satu tempat yang diinginkan selama masa kuliahnya dengan menabung dari uang beasiswa itu, syukur-syukur bisa mengajak saya:).  

Pesan singkat dari adik saya malam itu mengingatkan saya pada tweet Mbok dua tahun yg lalu tentang siapa yang terakhir kali menjadi teman perjalanan saya dan kemana tujuan kami. Saya membalas tweet itudan menjawab bahwa saya bersama adik saya itu sedang bertualang di Jakarta sambil menunggu jadwal pendafatran ulangnya sebagai mahasiswa baru di kampus UI Depok keluar. Waktu twit saya dibalas dan diritwit oleh mbok, saya kegirangan. Norak ya? biarin ah. twet yang direply atau di ritwit oleh selebtwit pada masa itu adalah prestasi mbok.  

my next journey;s mate

Tapi bukan twitmu Mbok yang ingin saya bahas tapi isi cerita dan teman perjalanan saya kala itu. Perjalanan keliling Jakarta waktu itu merupakan perjalanan pertama kami berdua sekaligus perjalanan pertama bersama saudara tanpa orang tua yang pernah dilakukan dilakukan dikeluarga kami Mbok. Soalnya kami berlima bersaudara nyaris tidak pernah bepergian bersama dan lebih sering memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu dan perjalanan bersama teman-teman kami selama ini.

Sebenarnya perjalanan kami di Jakarta tidak heboh kok Mbok, hanya turun naik komuter line saja untuk mengetahui beberapa jalur dan tempat penting di Jakarta. Sisanya kami dengan noraknya keluar masuk supermarket lucu membeli salad yang buah dan sayurannya belum pernah kami temui sebelumnya, mengunjungi pasar, mencoba makanan-makanan baru dan sisanya membeli kebutuhan kuliahnya. Tapi ternyata perjalanan tersebut menjadi salah satu perjalanan paling menyenangkan yang pernah saya punya. Tidak menyangka bahwa adik kecil saya yang keras kepala itu bisa menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Mungkin karena kami hanya pergi berdua dan saat itu ia dan saya harus bekerja sama memutuskan banyak hal tentang masa depannya. Selain itu Mbok, perjalanan itu juga membuat kami lebih sering berbicara satu sama lain seperti teman dan kakak adik. Moment yang sering kami lewatkan saat berada di rumah karena masing-masing kami sibuk dengan gadget dan dunia kami masing-masing.

Setelah perjalanan sederhana itu, hampir disetiap musim maskapai pesawat melakukan promo tiket, ia selalu sibuk mengirimkan informasi harga tiket pesawat dari Pekanbaru ke Jakarta dan sibuk bertanya kapan saya akan ke Jakarta. Sesekali ia juga bertanya dan mengajak saya untuk bisa pergi liburan bareng saya kemana saja di Indonesia. Sejak saat itu, saya berniat dalam hati untuk mengusahakan minimal satu kali dalam setahun mengunjunginya ke Depok hanya untuk menikmati our time as siblings yang mungkin luput kami nikmati dulu semasa kami tinggal serumah

Dear Mbok Venus, 
Saya mungkin masih bisa menyusun jadwal untuk mengunjungi teman-teman terbaik saya atau membuatkan janji dan bersama-sama menabung untuk bisa menjelmakan impian kami untuk melakukan perjalanan ala Sex And The City atau ala Arisan 2 anytime I want. Tapi kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu bersama saudara sendiri jauh lebih susah diwujudkan. Selain jarak Pekanbaru dan Depok yang cukup jauh, jadwal libur kampusnya dan jadwal libur kampus saya tidak pernah sama. Hanya ketika lebaranlah waktu kami bersama menjadi cukup panjang, itupun akan diselingi dengan urusan pribadi masing-masing

Orang yang akan saya ajak tentunya adik saya itu Mbok. Namanya Nahlia dan ia biasa dipanggil Ade. Tahun ini umurnya 20 tahun dan saya 32 tahun. ia mahasiswi semester 4 di FH UI. Beasiswa yang ia raih itu Mbok, merupakan pembuktiannya kepada saya dan kakak-kakaknya yang lain bahwa ia bertanggungjawab terhadap pilihan kuliahnya meskipun bukan pilihan utamanya. Saya tidak terlalu pandai mengatakan perasaan saya kepada saudara-saudara saya dan kami memang tidak terlalu biasa melakukannya. Kami 5 beradik dari keluarga minang yang tidak terbiasa mengatakan rindu, sayang dan kebanggaan kami pada satu sama lain secara langsung. saya memilih untuk mengatakan lewat tulisan di blog saya yang seringkali mereka tidak baca. maka  kesempatan untuk melakukan perjalanan dan menikmati hidup di Resort World Sentosa ini merupakan cara saya untuk mengatakan kepadanya bahwa saya bangga dengan semua kerja keras yang telah ia lakukan untuk membuat kami sekeluarga terutama saya, kakaknya bangga.

Dont worry much about apa yang akan kami nikmati disana Mbok. It will be our next precious time as siblings. Jika saya dan Ade bisa sangat girang dan norak saat menikmati perjalanan naik turun komuter line Depok- Jakarta, keluar masuk tempat-tempat yang tidak pernah kami coba selama di Jakarta, maka bisa kebayang kan Mbok, betapa noraknya kami nanti disana?. Kami pasti akan sangat sangat menikmati semua yang tersedia di Resort World Sentosa Mbok kecuali kolam renang yang cukup dalam, karena kami berdua tidak bisa berenang:)

Terima Kasih Sayembaranya Mbok..
Terima Kasih sudah boleh berbagi cerita dan mimpi


Love 
Hesty 

 


Kamis, 10 April 2014

Maybe I do change..But, who doesn't?

Selesai makan siang dan duduk didepan laptop. Siang ini saya tidak punya jadwal mengajar di kampus, jadi masih bisa menikmati jam santai di rumah sebelum absen sore. Sebuah pesan masuk di bbm saya, dari seorang teman kuliah. 

"sty, pernah kontak dengan teman kita si X ga belakangan ini?"
"udah ga pernah, tiap ditelpon g pernah diangkat. pdhal sebelum menikah dia ga gitu. 
People do change ya? "
' Yup, people change and so do their friends" 

Pembicaraan yang sudah lama tidak terjadi diantara teman lama. Setelah pindah ke Pekanbaru kemudian disusul dengan kepindahan orang tua saya ke Padang Panjang, praktis saya semakin jarang ke Padang. Waktu libur yang bisa saya gunakan utk pulang secara normal itu hanyalah setiap weekend. Dengan lama perjalanan menuju sumbar yg bersikar 5-8 jam, saya memiliki pilihan terbatas. Jika saya memutuskan untuk pulang ke Padang Panjang, maka saya tidak akan ke Padang dan sebaliknya. 

Setiap kali pulang ke Padang Panjang, maka saya akan mengambil alih pekerjaan rumah yg biasa dikerjakan ibu saya. Mulai dari beres-beres rumah hingga memasak. maklum, sejak pensiun dan memutuskan utk bertani di kampung, Bapak dan ibu saya tidak terlalu mengurusi rumah, masakpun hanya secukupnya utk berdua. Menu makanan berkisar dari telor dadar atau asam padeh. Sesekali beliau berdua makan diluar atau beli nasi bungkus satu berdua. Jadi ketika ada anaknya yg pulang, ritme normal dari rumah kami mulai teras. Rumah yg dibersihkan, piring yang dicuci dan makanan yg dimasak sesaat sebelum dimakan. Kalau saya memutuskan ke Padang, maka itu waktunya saya main bersama ponakan dan adik bungsu, menemani kakak saya belanja bahan risoles ke pasar atau sekedar ngajak ponakan mampir ke swalayan untuk membeli jajanan yang mereka inginkan. Sisanya ya..leyeh-leyeh saja:)

Saya semakin jarang bertemu teman-teman saya yang berada di padang ketika pulang. Dulu, ada teman saya yang suka ngajakin kumpul kalo ada yg pulang ke padang, sekarang iapun sudah pindah ke Jakarta. Pun, hampir semua teman saya di Padang sudah menikah dan punya anak. Membuat janji bertemu dengan yang sudah menikah sama sulitnya dengan membuat janji untuk bertemu dosen pembimbing dulu. Kalo temen saya perempuan, maka alasan anak bisa jadi yg utama. Jika yang satu bisa, maka yg lain susah dan begitu seterusnya. Kalau janjian dengan teman laki-laki yang sudah menikah akan lebih sulit lagi. Bisa-bisa menjadi sasaran kecemburuan istrinya, meski istrinya kenal sekalipun. 

Pertemanan antar daerah kini semakin mudah dengan adanya fasilitas grup chat dari ponsel pintar yang beredar di pasaran. tadinya saya berpikir bahwa grup pertemanan mobile akan mengeratkan hubungan kami semua dimana saja dan kapan saja. tapi ternyata tidak. Yang ada kami tumbuh jadi orang dewasa yg absurd. Ditambah lagi bahasa tulisan yang ga kenal nada, perasaan bahwa semua teman memahami karakter temannya dan satu persatu mulai saling membanggakan pencapaian mereka. Kami semua akhirnya terperangkap dalam lingkaran atas nama teman tapi tidak pernah merasakan perasaan yang sama saat kami berjumpa dan berteman beberapa tahun yang lalu. 

Ternyata jadi orang dewasa itu susah ya..karena setiap pencapaian hidup orang dewasa membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Bisa selesai S2 misalnya, membuat saya memulai karir jauh lebih lambat dari kebanyakan teman. Sementara itu teman saya yang menikah lebih dulu dari kami semua akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga dan melepaskan kesempatan untuk menjadi wanita karir agar ia bisa melihat anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan setiap pencapaian itu juga menuntut perubahan dari orangnya..


People do change..

Satu orang teman baik yang baru saja menikah akhir tahun lalu menjadi contoh dari pembicaraan kami siang ini. Ia, biasanya jarang tidak mengangkat telepon dari saya dan kawan-kawan dan sering juga menelpon kami hanya sekedar untuk bercerita. Sejak menikah, tidak satu kalipun telepon saya diangkat. Saya berpikir ia sibuk atau mungkin tidak enak dengan istrinya. Tapi setelah mendapatkan konfirmasi hari ini, saya jadi tau bahwa yang tidak diangkat teleponnya oleh kawan saya ini bukan hanya telepon saya, tapi hampir semua telepon dari kami, teman2 akrabnya yang perempuan. Saya kangen bisa berbicara dan saling memotivasi tapi mungkin ia juga ingin menjaga perasaan pasangannya. Saya kehilangan teman baik lagi..dulu, ketika teman baik saya yg lain memutuskan menikah, saya sangat mendukungnya. Tapi setelahnya, ia tidak pernah menghubungi saya lagi. Sesekali saya berhasil berbicara dengannya dan itupun hanya beberapa menit. Ia bilang, istrinya tidak bisa menerima semua pertemanannya dengan wanita..dan saya mengerti. 

Pun ternyata dianggap berubah oleh kebanyakan teman saya. Jarang mengangkat telpon dan membalas sms. Saya mengakuinya. Soalnya yang komplain itu teman-teman saya yang menjadi ibu rumah tangga atau baru memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Seringkali mereka menelpon dan sms saat saya sedang mengajar yang artinya hp dalam posisi silent. Dan seringnya ketika ditelepon balik, mereka yang sedang sibuk mengurus anak, menyiapkan makan suami atau mau pergi dengan keluarganya. 

It feels so funny seeing people complaint about things change in friendship while they actually didn't try to maintain their friendship when they have chance to do that.. 

Dulu, saya suka sekali menghabiskan waktu dan pulsa untuk menghubungi teman-teman saya, sekedar ber hahahihi, bergosip ringan atau bahkan menjadi teman curhat. Tapi seringkali juga saya mendapatkan jawaban kalau mereka lagi sibuk dengan kerjaan, lagi sibuk dengan suami, lagi sibuk dengan apa saja..then I slowly stop to ask how are them now..Dan ketika itu terjadi pada saya dan beberapa teman yang kemudian berhenti bertanya kabar, kami dianggap berubah. Saya tidak menyalahkan teman-teman saya yang berubah pun saya juga keberatan untuk disalahkan. Saat mereka ingin bicara saya justru sedang hectic dari satu kelas ke kelas yang lain.. dan giliran saya yang akan bicara, mereka malah sedang sibuk bercengkrama dengan suami/istri dan anak..

Maybe I do change.. but, who doesn't?
Well, Every people has their own limit..


Jadi, Ga usah komplain sering-seringlah tentang kehidupan setelah tamat kuliah atau setelah memutuskan untuk menikah. Ada banyak orang yang sebenarnya sibuk menyesuaikan diri dengan kondisi bahwa orang-orang disekitarnya berubah dan ia harus menerimanya, suka atau tidak suka. Dan yang paling pahit adalah..teman-teman kitapun berubah..bahkan yang paling dekat sekalipun. Setelah semua pencapaian dalam hidup melalui sekolah, pekerjaan dan rumah tangga, ada banyak prioritas yang bergeser. Dulunya semua teman di lingkaran kita adalah yang utama. Ia bisa saja menjadi prioritas cadangan. Setelah menikah misalnya, karena satu orang baru akan menjadi prioritas utama yang bisa menggantikan semua circle yang ada.

That what we called life..

Saya bilang ke teman saya itu bahwa mungkin kita memang harus memilih siapa yang akan berada di lingkaran hidup kita saat ini. Jadi jangan sedih jika tidak terpilih untuk menjadi bagian dari lingkaran hidupnya orang lain..

dan selalu saja banyak hal yang menjadi begitu mudah untuk dikatakan..
padahal saya sendiri tahu, bahwa ketika itu terjadi, saya pun tidak mudah menghadapainya

but at least..
I've tried:)

Rabu, 26 Maret 2014

Ketika Mimpi-Mimpi Diaminkan.. Cerita dari LLD 2014 Akademi Berbagi

Our Dream Board- Photo by Gallant YP

Pernahkan membayangkan sebelumnya bahwa suatu hari anda akan berada di suatu meja dengan 5 orang tidak pernah anda kenal sebelumnya dan kemudian mereka menjadi orang pertama yang mengaminkan mimpi yang anda tulis hari itu? Saya tidak pernah. Namun kemudian saya merasa beruntung sekali bisa mengalaminya. Siang itu, Ada 7 orang di meja yang sama dengan saya dan ada 190 an orang lainnya di meja lain yang berbeda yang bergantian membacakan mimpi mereka dan pada saat bersamaan ada beratus kali kata Amin terucap di udara. Seakan mimpi dan nyata itu sejengkal adanya..

Hari ini saya melihat postingan Yani di twitter tentang keinginannya untuk berkeliling Indonesia.Tweet ini ia buat untuk membalas tweet sebuah akun pencarian harga tiket pesawat yang mempromosikan keindahan Indonesia.  Saya kemudian membalas tweet tersebut dan mengingatkan Yani bahwa kami pernah mengaminkannya mimpinya untuk berjalan-jalan keliling Indonesia dan Dunia bersama kedua orang tuanya disuatu sesi bermimpi dikelas tiga pijar hampir 3 minggu yang lalu di salatiga. Saya terharu menuliskannya dan dia mungkin juga begitu. 

Saya dan Yani berkenalan disebuah meja yang bertuliskan nama kami dan enam orang lainnya sebagai satu kelompok dalam sebuah kelas tentang pengembangan diri sendiri yan
g dibawakan oleh orang-orang hebat pencapaian kerjanya sangat luar biasa di perusahaan riset kelas dunia. Hari itu, ada tiga sesi yang kami pelajari, mulai dari mengenal diri sendiri, bermimpi hingga memetakan perjalanan pencapaian mimpi tersebut. Sesi tersebut merupakan sesi hari kedua dari rangkaian 3 hari peningkatan kualitas saya dan 190an orang lainnya yang tergabung sebagai relawan dalam komunitas akademi berbagi yang tersebar di 34 kota diseluruh Indonesia. Acara tiga hari untuk masa depan yang lebih baik ini disebut dengan Local Leaders Day (LLD). Akademi Berbagi sendiri merupakan komunitas berbagi pengetahuan yang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan berbagai ilmu tanpa terikat ruang kelas dan waktu bahkan biaya. Saya sendiri bergabung di akademi berbagi Pekanbaru, yang baru berdiri September 2013 yang lalu.

Semua sesi disampaikan dengan sangat baik dan sangat menyenangkan. Tidak terbayangkan oleh saya berapa yang harus saya bayar jika saya mengikuti training semacam itu. Namun sesi yang paling saya berkesan bagi saya adalah sesi bermimpi. Ini bukan cerita tentang mimpi yang saya tulis, tapi cerita tentang dengan siapa mimpi tersebut saya bagi. 

Awalnya, masing-masing kami diminta untuk menceritakan mimpi kami kepada teman sebelah, yang selama acara disebut patner. Patner saya kemudian akan menuliskan mimpi yang diceritakan dan bergantian pula saya akan menuliskan mimpi Afif-patner saya selama hari itu. Setelah daftar mimpi tersebut selesai, kami kemudian diminta untuk bergantian membacakannya ke teman teman satu kelompok. Ada delapan orang yang bergantian membacakan mimpinya.

Hampir semua kami bermimpi untuk membahagiakan orang tua; entah dengan cara menghajikan, mengajak jalan-jalan atau membelikan rumah. Ada mimpi untuk berjalan-jalan keliling Indonesia bahkan ke luar negri, baik sendiri ataupun bersama orang tuanya . Ada yang bermimpi untuk mendirikan sekolah gratis bernuansa alam, ada yang ingin meraih piala oscar dan ada yang bercita-cita untuk sekolah lagi keluar negri seperti saya. Saya dan dua perempuan lainnya di kelompok itu juga menuliskan mimpi tentang finding our own Mr. Right and live happily ever after:). 

Tanpa disadari, ada banyak mipi yang serupa, ada banyak impian yang saya pkir hanya mimpi pribadi yang ternyata juga dimiliki oleh orang lain. Rasanya seperti menemukan teman bermimpi. Saat pembacaan mimpi tentang orang tua merupakan bagian paling emosional. Ada yang terbata-bata membacakannya dan ada pula yang membacakannya sambil menangis. Dan mata sayapun juga berkaca-kaca dan tak lama kemudian ikut menangis. Bagi sebagian orang mimpi itu bersifat pribadi, tidak untuk dipublikasikan. tapi hari itu, saya tidak menyesal membacakan mimpi-mimpi pribadi saya, begitupun saya rasa dengan semua orang yang ada di ruangan itu. Disetiap meja, saat setiap mimpi dibacakan, ada tujuh suara yang secara bersamaan dan terus menerus melafazkan amin.  Sampai kemudian kami sudah tidak lagi mengetahui mimpi siapa yang barusan kami aminkan. 

Siang itu saya tidak berhenti merinding.

Rasanya mimpi saya menjadi dekat dan mudah hanya karena dukungan 5 orang yang baru saya kenal hari itu lewat sepotong kata yang terdiri dari empat huruf AMIN.Tapi empat huruf dalam satu kata itu saya tahu persis diucapkan dengan tulus, bahkan sebagian ditambahkan dengan doa dan kata-kata penyemangat. Itulah yang membuat saya rasanya menyesal hanya menuliskan 7 saja mimpi yang saya punya. Saya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak lagi dukungan dan doa yang tulus untuk mimpi yang saya punya.

Lagi-lagi saya merasa beruntung telah menjadi satu dari 199 orang yang berkesempatan untuk diperbaiki kualitasnya. Dan saya merasa sangat jauh lebih beruntung karena saya bisa berbagi mimpi dengan teman-teman baru..meskipun saya tidak pernah mengenal mereka secara dekat sebelumnya.

Hari itu, saya dengan senang hati ikut mengaminkan sekian ratus mimpi yang terucap karena saya tahu bahwa ada beratus orang juga yang mengaminkan mimpi saya meski tidak semua pernah mendengarkannya.


Sabtu, 22 Maret 2014

Simply Life and Complicated Me

Beberapa kali menemukan gambar ini di akun Pathnya teman-teman saya. Kadang postingan sendiri kadang memposting ulang dari postingan temannya. Saya seringkali melihatnya sepintas lalu. membaca dan kemudian tersenyum. Tapi hari ini saya sendiri yang mempostingnya ke akun path saya.

Sedang menghadapi hari-hari yang berat belakangan ini. Mulai dari kejambretan tas ketika akan berangkat ke kampus dan kehilangan semua isinya. Sempat berada dalam fase shock hingga fase trauma pulang malam padahal kejadiannya siang hari. Terlalu banyak orang yang menganggap musibah saya sebagai kelucuan sehingga merasa berhak menertawakannya. Sebagian lagi sibuk berkomentar bahwa saya terlalu ceroboh, sudah seharusnya menikah dan tak sendiri atau saya kurang sedekah. Satu-satunya lelucon yang bisa saya terima ketika kehilangan motor dua bulan sebelumnya adalah dari bapak yang mengatakan bahwa yang mengambil motor saya sesungguhnya merugi karena sudah jelek. Dilanjutkan dengan kabut asap di Pekanbaru dan saya harus memperpanjang perjalanan saya dan terakhir cerita ttg masalah yg menimpa orang tua saya. Kekuatan saya runtuh sore ini..dalam beberapa karakter pesan yang dikirimkan oleh seorang teman.

I wish in life and in my life everything can be said as easy as the words above..
 setidaknya dengan bicara, ada banyak hal yang tersampaikan.. I've tried many times and Failed

Beberapa tahun yang lalu, ketika pertama kali masuk kerja dengan lingkungan yang sangat asing bagi saya, banyak hal menjadi sulit untuk dikatakan. Sebagian karena saya merasa takut melukai hati orang lain dan sebagian karena saya takut dinilai buruk. Alhasil kinerja saya memburuk. Saya merasa sudah bekerja dengan baik tapi menurut teman-teman sekantor saya tidak begitu. Alhasil masa percobaan saya ditambah 1 bulan. Hari itu, bos saya memanggil saya ke ruangannya dan mengatakan hasil penilaian teman-teman saya. Saya menangis. Merasa gagal. Tapi hari itu bos saya mengutakan saya dengan mengatakan bahwa saya hanya perlu memperbaiki diri sedikit lagi. Saya berterima kasih padanya. Hari itu ia menjelma bagai dewa dimata saya padahal adslinya beliau adalah salah satu sosok menakutkan di kantor.

Saya tidak suka dinilai orang apalagi dinilai buruk. well, everybody does. Lebih buruknya lagi, saya bisa sangat terpengaruh dengan segala penilaian dan penyampaian yang diutarakan orang lain tentang saya. Meski tidak semuanya benar dan meski tidak semuanya perlu didengar. Tapi saya tidak jago memilah dalam urusan ini. Saya rasa saya menuruni karakter yang sama dari ibu saya. Selain itu, sepertinya pengalaman sepanjang hidup saya yang dikelilingi oleh banyak orang sok tahu yg suka memberikan penilaian tentang fisik saya sesuka mereka tanpa mendengarkan jawaban saya mempengaruhi karakter saya sekarang.

Mungkin saya terlalu sering menempatkan orang lain pada posisi saya sehingga banyak hal diatas sana sering tidak saya lakukan.

Saya senang kalau ada yang mengatakan pada saya kalau dia rindu pada saya... tapi seringkali saya yang mengatakan kepada orang dan sebagian tidak menyukainya. Jadi saya hanya mengatakan ini kepada orang yang benar-benar menerima kalo saya merindukannya dan kemudian mengatakan hal yang sama. Saya takut jika saya mencoba mengatakannya lagi, maka akan semakin banyak orang yang bepikiran bahwa saya menggilai mereka (terutama jika ini lawan jenis) dan memilih pergi.

Saya sering berusaha menjelaskan kepada banyak orang siapa dan bagaimana saya..
sebagian akan mendengarkan secara serius dan mungkin akan mencari celah yang aman jika berurusan dengan saya, sebagian lagi tidak peduli dan sisanya akan berkata bahwa saya memiliki terlalu banyak alasan untuk bertahan menjadi diri saya saat ini.

Wanna have something? ask for it...
suatu kali di masa kejayaan pertemanan komunitas, saat saya dan teman-teman sering menghabiskan malam bersama, saya pernah meminta tolong dijemput karena hujan. Dan sambil tertawa-tawa, teman saya bilang kalau rumah saya kejauhan. Malam itu saya tidak kemana-mana. Tapi rasanya menyakitkan sekali mengetahui keesokan harinya bahwa teman saya yang rumahnya lebih jauh dari saya dijemput. dan saya kemudian mulai takut meminta..takut ditolak tepatnya


Lately i realized that i've treated people just like how i want them treat me..
but still, I forgot that they are not me and I couldn't pleased everyone

 Life supposed to be simple.. but I am the complicated one




Rabu, 19 Maret 2014

Bapak

http://www.happyfatherday2013.com
Jam 10 malam dan kakak saya baru selesai bercerita di telepon. Saya masih memulihkan diri setelah perjalanan panjang selama 11 hari ke Jawa dan telepon darinya barusan berhasil membuyarkan istirahat saya. Malam ini kami berbicara tentang situasi terkini yang dihadapi oleh orang tua kami. Sebelumnya saya dan saudara-saudara saya hanya mengetahui sedikit tentang masalah yang menimpa orang tua kami tapi belum mengetahui semua. Saya tidak bisa menceritakan dengan detil apa yang dialami orang tua saya. Yang jelas semua berurusan dengan pekerjaan bapak saya dengan pihak ketiga dan melibatkan sejumlah uang yang nilainya tidak kecil. Semenjak kejadian itumenimpa beliau, bapak  tidak berani mengangkat kepalanya. Beliau kehilangan sinar dan kharismanya, mungkin juga harga dirinya. Berbulan-bulan setelah peristiwa ini terjadi beliau berusaha menyembunyikan semua hanya agar ibu kami tidak mengetahuinya. Ibu saya menderita diabetes dan akan sangat mudah terpengaruh kadar gulanya oleh masalah-masalah seperti itu.

Malam ini saya jadi ingin menulis tentang Bapak. entah mengapa saya ingin menggunakan kata-kata itu dipostingan kali ini. Saya biasa memanggil beliau dengan sebutan papa dan menuliskan nama beliau di hp dengan sebutan papi. Sudah beberapa kali saya menulis tentang bapak dalam postingan blog saya. pengganti ungkapan saya yang tak terucapkan hanya karena saya dan saudara-saudara saya tidak terlalu pintar mengekspresikan rasa sayang dan bangga kami kepada beliau. Bahkan setelah kuliah jauh pun dan saya mulai membiasakan diri untuk mencium tangan dan memeluk beliau ketika pulangpun, bapak masih kikuk. Bertahun dalam masa tumbuh saya sebagai seorang anak, bapakpun jarang memuji saya didepan saya secara langsung.Beliau hanya akan berkomentar pendek seperti :"biasa saja" jika saya mendapat prestasi. Tapi saya tahu bahwa bapak akan menceitakan tentang kami anak-anaknya bergantian kepada orang lain. tergantung prestasi apa yang kami punya pada saat itu. setelah waktu berjalan tanpa henti, Bapak kemudian menjadi pria yang menjabat tangan pria-pria lain yang akan mengambil tanggung jawab atas anak-anak perempuan yang ia besarkan. dan kemudian menjadi kakek yang menyenangkan bagi keempat cucu laki-lakinya. dan kemudian beliau mulai bercerita tentang cucu-cucunya kepada orang lain.

Hingga hari ini, ketika masalah itu datang kepada keluarga kami, bapak masih tetap menjadi orang yang membanggakan dimata saya. Beliau tidak sempurna. Ada banyak kesalahan yang beliau punya termasuk yang sering saya rasakan dulu sebagai anak. Tapi melihat bapak saya menjadi lebih kurus dari yang biasa kami lihat, dengan kerutan disekitar mata yang semakin terlihat dan bintik hitam dikulit yang semakin banyak, saya merasa bahwa semua yang telah bapak lakukan untuk kami anak-anaknya tidak pernah salah.

Saya teringat ketika mengalami kecelakaan motor hampir tiga tahun yang lalu, bapak menelpon saya dengan nada khawatir yang jika didengar orang lain mungkin ditafsirkan marah. Beliau melarang saya untuk keluar malam lagi setelahnya. dasarnya saya bandel, hingga hari ini saya masih sering punya kegiatan hingga larut malam. Begitupun ketika motor saya hilang dua bulan yang lalu, bapak dengan entengnya bilang bahwa motor saya sudah jelek begitu ternyata masih disukai maling. saya lega karena tidak dimarahi.

Bertahun-tahun bapak membanting tulang sebagai kontraktor listrik rekanan PLN yang proyeknya tahun ini dengan bayaran tahun depan hanya agar kami bisa memiliki rumah yang layak untuk ditinggali dan bisa sekolah setinggi mungkin. Pada masa sulit, bapak akan mengajak kami hanya berkeliling kota dan membeli kacang rebus dan duduk di pantai. Jika masa senang tiba, beliau akan pulang ke rumah dengan aroma martabak mesir dan mie goreng yang disembunyikan di mobil. Sekali-sekali beliau membelikan kami makanan aneh-aneh yang beliau sendiri tidak ingin memakannya seperti ayam goreng KFC atau pizza hut hanya agar kami bisa ikut bercerita jika teman kami bercerita ttg hal tersebut.

Saya kemudian berpikir tentang maksud semua hal yang menimpa orang tua saya justru setelah mereka mulai pensiun. Somehow, kita mungkin memilih untuk tidak berhadapan dengan masalah-masalah yang tidak kita inginkan. siapa sih yang suka hidup dengan masalah. Apalagi masalah ini muncul justru disaat orang tuanya teman-teman saya sudah mulai slow down menikmati hidup, bergantian tiap sebentar mengunjungi anak-anaknya, pergi umrah setiap kali mereka ingin, atau membeli kendaraan baru. Hingga hari ini bapak dan ibu saya masih mencangkuli sawah dan ladang warisan di kampung kami untuk hidup menunggu kelapangan rezeki agar bisa dipanggil ke tanah suci dan masih memakai mobil pick up tua untuk menjemput saya ke jalan raya diluar kampung ketika pulang. Mungkin bukan kondisi terbaik yang ingin saya lihat sebagai anak, pun masalah yang dialami beliau belum berkurang sedikitpun tapi mungkin kondisi terbaik yang bisa beliau miliki.

 Jika teringat pada besarnya permasalahan yang harus diselesaikan oleh bapak, saya merasa tidak berarti apa-apa. Jika saya yang menjadi beliau, mungkin saya sudah melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Tapi beliau tidak. Bapak hanya berbicara lirih sekali ditelepon dengan kakak saya satu kali untuk mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Beliau masih berangkat ke sawah tiap pagi dan masih minum kopi di warung bersama para petani sebelum mulai bekerja. Bapak masih menjadi solusi banyak orang di kampung kami untuk permasalahan mereka meskipun beliau belum menemukan solusi untuk masalahnya sendiri

Seberat apapun masalahnya pak, kita akan lalui bersama-sama..
seperti dulu, saat bapak mengusahakan uang kuliah, tiket pesawat dan laptop agar saya bisa kuliah sebaik orang lain..

salam sayang dari Pekanbaru

Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami 

Senin, 24 Februari 2014

Ada Kebanggaan di Pekanbaru - On My Point Of View

Acara @Pekanwak yang bertajuk Ada Apa Di Pekanbaru baru saja selesai kemaren sore. Berminggu-minggu mengalami pasang surut sejak pertama kali acara ini diluncurkan, saya dan teman-teman akhirnya semua sampai apada puncaknya. Terlalu banyak cerita dibalik acara ini, baik untuk saya secara pribadi maupun saya dan teman-teman satu tim. Sebagai tim dan komunitas baru di kota ini, banyak yang meragukan kami, terlihat dari minimnya jumlah sponsor besar yang ikut serta mendanai kegiatan ini. Bolak balik ditolak akhirnya kami kebal juga. Begitupun ketika berhubungan dengan pembicara yang berasal dari Jakarta; beberapa kali saya berhadapan dengan penghubung yang menyepelekan keberadaan kami. Hal biasa yang harus mulai dibiasakan untuk diterima.

Ketika kemaren bekerja di area seminar yang jumlah peserta berbayarnya hanya sedikit, saya melihat betapa banyaknya orang-orang yang perhitungan untuk mendapatkan ilmu hanya karena pembicaranya orang lokal daerah ini. Padahal orang-orang yang berbagi ilmu didepan mereka kemaren memiliki kapasitas yang tidak bisa dipandang enteng. Ketika memanggil peserta untuk masuk ruangan setelah break, seorang peserta menjawab ogah-ogahan dan berkata bahwa dia hanya menunggu pembicara utama hadir. Saya kemudian berkata kepada peerta tersebut bahwa pembicara di sesi itu merupakan pembicara lokal yang oke punya dan dia tidak bereaksi. Sebaliknya, ruangan mendadak penuh ketika pembicara utama yang berasal dari Jakarta datang. Sebagian yang memenuhi ruangan datang karena mengidolakan pembicara ini dan sebagian karena gratis. Hmmm

Dua dari tiga pembicara seminar kisah sukses dibalik dunia virtual adalah orang lokal Pekanbaru; yang pertama itu namanya Bang Dedi Ariandi. Beliau seorang relawan apa saja yang arsitek. Istilah relawan apa saja ini saya gunakan karena bang Dedi tergabung dalam banyak sekali komunitas di Pekanbaru; baik sebagai relawan, konsultan hingga founder. Beliau juga salah satu orang penting yang berada dibalik pelestarian budaya Riau. Pembicara kedua bernama Dedy Ong. Koko-koko muda asli Pekanbaru tapi pekerjaan dalam web design dan web developer sudah meng Indonesia. Beliau pertama kali saya kenal secara tidak sengaja pada saat pameran komputer disebuah mall di Pekanbaru. Salah satu kliennya adalah Duo Endah n Ressa, yang lainnya entahlah, beliau saja mungkin tidak pernah hapal. Dua orang ini saya hargai dengan sepenuh hati untuk kekayaan pengetahuan dan pengalaman serta kerendahatian untuk berbagi ilmu dengan saya dan teman-teman dan mendukung acara kami tanpa pamrih. Mereka inilah yang memberikan warna dan paradoks pada kebanyakan karakter yang sering saya temui di kota ini.

Kota yang sedang berkembang seperti Pekanbaru seringkali berkiblat pada kota metropolitan seperti Jakarta sehingga sulit untuk mengapresiasi potensi lokal yang mereka punya. Padahal, orang-orang lokal potensial inilah yang harusnya didekati untuk diajak membangun kota ini dengan kemampuan yang mereka miliki. Pembicara utama yang kami undang tentu saja juga bukan pembicara sembarangan. Ia telah membangun citra diri dan berkarya dengan sepenuh hati makanya beliau layak untuk ditunggu. But, less appreciation for your local one? then how other people in another side of this country will appreciate you?

Sore hari, ketika acara Pekanwak mencapai ujungnya, saya berdiri disebelah roadmannya pembicara utama menikmati suguhan terakhir kebanggaan kami sebagai orang yang tergabung dalam tim ini.Ia enggan beranjak walaupun jadwal ke Bandara sudah didepan mata. Adalah Riau Rhythm Chamber Indonesia, group musik etnik Riau yang namanya saya kenal karena komunitas Akademi Berbagi Pekanbaru yang akan menutup hari yang indah di sore kemaren. Grup musik ini sudah melanglangbuana kemana-mana dan masih saja banyak orang Riau dan Pekanbaru termasuk saya yang tidak mengenal mereka. Pamornya masih sering kalah  dengan musisi populer dari Ibukota. Padahal, kemanapun mereka pergi, mereka membawa nama Riau dan Pekanbaru.

Sebelum lagu pertama dimainkan, Bang Rino, pimpinanannya RRCI membuka pertunjukan mereka dengan dukungan dan terima kasih kepada acara kami. Mata saya memanas dan hati saya bergetar. Saya memang terlalu sensitif untuk hal-hal seperti ini. Bagaimana tidak, ketika grup band lain meminta bayaran sekian juta untuk tampil di acara ini, RRCI memainkan empat karyanya dengan cuma-cuma. Ketika banyak orang meragukan kami dan acara ini, maka RRCI menjadi salah satu dari sedikit orang yang percaya itu. Merekalah salah satu kekuatan bagi saya dan teman-teman di Pekanwak untuk terus berjalan. Bang Rino dan RRCI sore itu telah menampar hati banyak orang di pelataran pustaka wilayah Soeman HS dengan kata pembuka yang hanya beberapa kalimat. Sesudahnya, ketika satu persatu alat musik berdentang, berdenting dan mengalun, saya kemudian larut dalam buaian musik ditingkahi tepuk tangan yang tak habis-habisnya. . Empat karya yang dimainkan sepenuh hati sore itu oleh rekan-rekan RRCI sudah lebih dari cukup untuk membangun rasa bangga yang meluap-luap terhadap kekayaan potensi kota ini.

Saya tidak sempat menyimak banyak potensi lokal lainnya yang mengisi acara Ada Apa Di Pekanbaru sepanjang hari itu karena bertugas di ruang seminar. Dan terima kasih saya dan teman-teman dari Pekanwak tentu saja tidak akan pernah cukup untuk bantuan yang kami terima dari semua yang sudah menunjukkan kepada Indonesia dan Dunia hal-hal positif dan potensi-potensi saja yang dimiliki oleh Pekanbaru. Masih banyak hal positif lain yang bisa digali dan ditemukan, hanya saja, perlu kerendahan hati untuk mulai belajar melihat dan terjun langsung ke lapangan mencari akar budaya kita sendiri, terlibat dalam pengembangan kota ini meskipun hanya dengan kontribusi yang kecil saja dan perlu menanamkan kebanggaan lebih untuk setiap potensi lokal yang kita temui.





Yang udah berkunjung ke sini ..