“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.” ― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky --
Selasa, 24 April 2012
Matahari Mulai Terbenam di Bali
Bali dan sunset memang tidak terpisahkan ya..mungkin karena Bali memiliki lansekap yang lengkap; mulai dari pantai-pantai cantik yang berjejer hingga bukit-bukit yang menjulang. Sunset di Bali merupakan keindahan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Bahkan saya rela melewatkan separuh pertunjukan tari kecak di Uluwatu agar bisa mengabadikan momen tersebut..
so enjoy the sunset moment:)
Sunset di Uluwatu
Sunset di Seminyak
Selasa, 10 April 2012
Bali 2- Garuda Wisnu Kencana
Sudah 3 kali ke Bali tapi baru kali ini saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki ke taman budaya Garuda Wisnu Kencana yang tersohor itu. Dari tanjung Benoa, perjalanannya agak berlawanan arah dan saya lupa berapa menit yang kami habiskan di jalan :). Tadinya saya pikir GWK itu ga lebih dari sebuah lapangan saja yg ada patung-patungnya..ternyata GWK lebih jauh berupa lansekap dengan undakan-undakan dan lapangan yang luas..kalo saya bilang sih, mirip kawasan Candi, cuma Candi jaman sekarang tanpa stupa. Untuk mencapai patung kepala garuda saja, kita harus menaiki puluhan anak tangga, kurang lebih seperti saat kita ingin memasuki kawasan stupa di candi Borobudur.
Seharusnya patung dikawasan GWK berbentuk Wisnu yang mengendarai garuda, namun karena belum selesai, yang baru ada hanya Patung kepala garuda dan kepala Dewa Wisnu saja. Kedua patung ini merupakan hasil karya pemahat Bali yang terkenal itu I Nyoman Nuarta dan sebenarnya belum taraf selesai. Melihat patung kepalanya saja sudah sebegitu besar, jadi membayangkan, betapa besarnya patung itu setelah digabungkan.
Tiket untuk masuk ke kawasan ini IDr 30k untuk turis domestik. Dari tempat ini, kita juga bisa menyaksikan pemandangan Bali dari atas, berjalan-jalan saja, membeli oleh-oleh atau bahkan melihat pertunjukan tari. Lagi-lagi saya harus mengacungi jempol pada kreativitas orang Bali dalam mengemas sesuatu hingga menjadi objek wisata yang (rasanya) ga lengkap jika tidak dikunjungi.
Bali 1- Tanjung Benoa
Sudah tiga kali saya ke Bali. Pertama kali saya menginjakkan kaki ke pulau ini tahun 2008 dalam tur dan gathering milis pembaca majalah Femina. Karena bersifat rangkaian acara, Bali yang saya nikmati sudah dalam bentuk paketan, paketan acara, jalan-jalannya dan belanjanya. Gathering milis Femina ini diikuti oleh peserta yang semuanya wanita, ya iyalah namanaya juga milis majalah wanita. Saking isi tur ini perempuan semua, banyak hal menarik di bali yang di lewatkan demi acara belanja..:)
Kali kedua saya ke bali tahun 2009 , dibayarin ama adek kelas waktu kuliah yang saat itu berkunjung ke Jogja.hmm betapa beruntungnya saya :). Si adik kelas saya ini bekerja di perusahaan kertas terkenal di Riau, yang sepanjang harinya hanya punya dua dunia, rumah dan kantor. jadilah liburan kita di Bali dihabiskan untuk menikmati Kuta apa adanya. Penginapan kami berlokasi di gang depan discovery mall, jadi selama beberapa hari di bali kami hanya keluar masuk Discovery mall untuk mengakses pantai di belakangnya, jalan kaki ampe bego sepanjang garis pantai kuta-seminyak, menikmati sunset dan turis-turis yang berlalu lalang jalan-jalan seputaran legian dan sesekali belanja.
Tahun ini kali ketiga saya ke Bali untuk acara Konferensi. Karena berkunjung ke Bali untuk berkonferensi berbonus jalan-jalan, maka selama konferensi berlangsung, saya menginapnya bukan di hotspot bali seperti Kuta dan Legian melainkan di daerah pusat perkantoran dan kampus di Renon. dari bandara Ngurah rai, perjalanan cukup jauh, ongkos taksinya saja sampai 80 rb.
Berbeda dengan kawasan Kuta dan legian, kawasan ini relatif sepi, tidak banyak bule yang berlalu lalang. Sepintas malah membuat kita tidak merasa sedang di Bali karena toko-toko yang ada bukan untuk penjualan souvenir melainkan toko barang-barang kebutuhan mahasiswa seperti baju dan tas ala Tanah Abang. Hal yang membuat kita sadar kalo saat itu sedang di bali ya saat melihat ada banyak sesajen dan patung-patung berkain kotak-kotak dengan kamboja di telainga dimana-mana.
Hal yang menyenangkan dari bermukin di denpasar selama di bali adalah kemudahan untuk mendapatkan makanan yang halal dengan harga yang bersahabat dan suasana yang lebih kalem dan sebaliknya kawasan ini cukup jauh dari pusat keramaian, hotel-hotel yang ada beberapa cukup mahal dengan standar biasa saja.
Selama tiga malam, saya menginap di hotel Nirwana Suite di Jalan Tukad Pakerisan yang dipesan lewat panitia seminar oleh teman saya. Rate per malamnya adalah IDR 375 k. nah hotel ini berstandar Indonesia sekali, maksudnya kamar yang luas dan lapang, kamar mandi tanpa bath up tapi ada air panasnya, hanya ada sabun mandi yang disediakan hotel, yang lain pakailah punya sendiri, tidak ada sendal kamar, wi-fi yg ada tapi ga dinyalain, hanya bisa diakses lewat komputer yang ada di ruangan sarapan, sarapannya dipesan sebelumnya dan masing-masing orang hanya boleh memesan satu menu. Tapi secara keseluruhan, hotel ini cukup homy, cuma perlu ongkos 10 rb naik taksi ke venue seminar di STIKOM Bali.

Konferensinya sendiri berlangsung dua hari dan biasanya setelah para pemakalah memperesentasikan papernya maka di hari berikutnya sudah banyak yang hilang untuk jalan-jalan..termasuk saya. Konferensi ini sebenarnya sudah dilengkapi paket wisata, tapi saya dan teman-teman tetap saja tertarik untuk mengeksplor Bali yang lainnya. Jadilah saya dan empat orang teman lain dari pekanbaru memutuskan untuk membuat trip kami sendiri dengan menyewa satu mobil berikut sopirnya. Rute wisata kami adalah : Tanjung benoa-Garuda Wisnu Kencana-Tanah lot-Kuta. Sopir yang kami sewa itu namanya Taufik, orang Makasar yang sudah lama merantau ke bali. Bli taufik ini sering dipakai oleh pegawai PU yang menginap di wisma PU Kuta. Beliau sangat saya rekomendasikan untuk di kontak jika sewaktu-waktu ada yang ke Bali dan butuh mobil serta supir.
Perjalanan pertama kami adalah ke Tanjung Benoa. kawasan pantai yang terkenal dengan wisata airnya. Namun sebelum sampai ke Tanjung Benoa, kawasan wisata olahraga air yang terkenal itu. Ada Banyak permainan yang bisa di coba disini, mulai dari parasailing, diving tanpa lisensi, banana boat, jetski. bagi yang ga bisa berenang dan takut tenggelam kaya saya, bisa dicoba paket berperahu ke tengah laut membeli makan ikan-ikan cantik dilanjutkan dengan berkunjung ke pulau penyu. Harga masing-masing paket rata-rata 100k dan untuk diving 400k.




Tanjung Benoa benar-benar mengesankan bagi saya..bukan karena olahraganya, tapi terlebih karena kawasannya yang emang benar-benar keren..pasir putih, laut biru hijau..langit biru dengan taburan parasut warna warni, perahu hingga yacht bertebaran di laut juga kawasan hotelnya juga elit-elit sepanjang jalan..kalau sudah begini kadang mimpi jadi orang kaya..haha

Kali kedua saya ke bali tahun 2009 , dibayarin ama adek kelas waktu kuliah yang saat itu berkunjung ke Jogja.hmm betapa beruntungnya saya :). Si adik kelas saya ini bekerja di perusahaan kertas terkenal di Riau, yang sepanjang harinya hanya punya dua dunia, rumah dan kantor. jadilah liburan kita di Bali dihabiskan untuk menikmati Kuta apa adanya. Penginapan kami berlokasi di gang depan discovery mall, jadi selama beberapa hari di bali kami hanya keluar masuk Discovery mall untuk mengakses pantai di belakangnya, jalan kaki ampe bego sepanjang garis pantai kuta-seminyak, menikmati sunset dan turis-turis yang berlalu lalang jalan-jalan seputaran legian dan sesekali belanja.
Tahun ini kali ketiga saya ke Bali untuk acara Konferensi. Karena berkunjung ke Bali untuk berkonferensi berbonus jalan-jalan, maka selama konferensi berlangsung, saya menginapnya bukan di hotspot bali seperti Kuta dan Legian melainkan di daerah pusat perkantoran dan kampus di Renon. dari bandara Ngurah rai, perjalanan cukup jauh, ongkos taksinya saja sampai 80 rb.
Berbeda dengan kawasan Kuta dan legian, kawasan ini relatif sepi, tidak banyak bule yang berlalu lalang. Sepintas malah membuat kita tidak merasa sedang di Bali karena toko-toko yang ada bukan untuk penjualan souvenir melainkan toko barang-barang kebutuhan mahasiswa seperti baju dan tas ala Tanah Abang. Hal yang membuat kita sadar kalo saat itu sedang di bali ya saat melihat ada banyak sesajen dan patung-patung berkain kotak-kotak dengan kamboja di telainga dimana-mana.
Hal yang menyenangkan dari bermukin di denpasar selama di bali adalah kemudahan untuk mendapatkan makanan yang halal dengan harga yang bersahabat dan suasana yang lebih kalem dan sebaliknya kawasan ini cukup jauh dari pusat keramaian, hotel-hotel yang ada beberapa cukup mahal dengan standar biasa saja.
Selama tiga malam, saya menginap di hotel Nirwana Suite di Jalan Tukad Pakerisan yang dipesan lewat panitia seminar oleh teman saya. Rate per malamnya adalah IDR 375 k. nah hotel ini berstandar Indonesia sekali, maksudnya kamar yang luas dan lapang, kamar mandi tanpa bath up tapi ada air panasnya, hanya ada sabun mandi yang disediakan hotel, yang lain pakailah punya sendiri, tidak ada sendal kamar, wi-fi yg ada tapi ga dinyalain, hanya bisa diakses lewat komputer yang ada di ruangan sarapan, sarapannya dipesan sebelumnya dan masing-masing orang hanya boleh memesan satu menu. Tapi secara keseluruhan, hotel ini cukup homy, cuma perlu ongkos 10 rb naik taksi ke venue seminar di STIKOM Bali.
Konferensinya sendiri berlangsung dua hari dan biasanya setelah para pemakalah memperesentasikan papernya maka di hari berikutnya sudah banyak yang hilang untuk jalan-jalan..termasuk saya. Konferensi ini sebenarnya sudah dilengkapi paket wisata, tapi saya dan teman-teman tetap saja tertarik untuk mengeksplor Bali yang lainnya. Jadilah saya dan empat orang teman lain dari pekanbaru memutuskan untuk membuat trip kami sendiri dengan menyewa satu mobil berikut sopirnya. Rute wisata kami adalah : Tanjung benoa-Garuda Wisnu Kencana-Tanah lot-Kuta. Sopir yang kami sewa itu namanya Taufik, orang Makasar yang sudah lama merantau ke bali. Bli taufik ini sering dipakai oleh pegawai PU yang menginap di wisma PU Kuta. Beliau sangat saya rekomendasikan untuk di kontak jika sewaktu-waktu ada yang ke Bali dan butuh mobil serta supir.
Perjalanan pertama kami adalah ke Tanjung Benoa. kawasan pantai yang terkenal dengan wisata airnya. Namun sebelum sampai ke Tanjung Benoa, kawasan wisata olahraga air yang terkenal itu. Ada Banyak permainan yang bisa di coba disini, mulai dari parasailing, diving tanpa lisensi, banana boat, jetski. bagi yang ga bisa berenang dan takut tenggelam kaya saya, bisa dicoba paket berperahu ke tengah laut membeli makan ikan-ikan cantik dilanjutkan dengan berkunjung ke pulau penyu. Harga masing-masing paket rata-rata 100k dan untuk diving 400k.
Tanjung Benoa benar-benar mengesankan bagi saya..bukan karena olahraganya, tapi terlebih karena kawasannya yang emang benar-benar keren..pasir putih, laut biru hijau..langit biru dengan taburan parasut warna warni, perahu hingga yacht bertebaran di laut juga kawasan hotelnya juga elit-elit sepanjang jalan..kalau sudah begini kadang mimpi jadi orang kaya..haha
Sabtu, 07 April 2012
A Little Gift
Photo source : thechiclife.com
Jika ada pertanyaan siapa orang yang aku hormati di dunia ini selain orang tua dan guru-guruku, maka aku pasti akan menyebutkan Kak Deni, kakak kosku waktu di Jogja dulu. 6tahun saling mengenal dengan sangat dekat, aku jadi paham bahwa yang namanya saudara itu tidak hanya soal hubungan darah. Aku dan kak Deni sama sekali tidak memiliki pertalian persaudaraan sebelumnya. Jika ada hal yang menghubungkan kami, maka itu pastilah rumah kos kami dulu di Pogung Kidul no 70 dan adiknya Lani, yang teman SMUku.
Bagaimana bisa aku tidak memilih Dia? Kak deniku itu sangat menghargai aku dan menghargai adalah bentuk kasih sayang yang lain. Memang tidak semua cerita hidupnya ia ceritakan kepadaku, tapi ia cukup senang jika aku mau mendengarkan ceritanya. Begitupun aku, adalah candu bagiku untuk berbicara dengannya lewat telepon barang 15, 20 menit, sesekali 1 jam hanya untuk berbagi cerita. Ia adalah mood boooster untuk menjalani dan menutup hari, tempatku berkaca bahwa hidup ini indah dan Tuhan itu Maha Baik.Tidak hanya itu, tak pernah sekalipun ia lupa untuk berterima kasih padaku untuk semua yang pernah aku kerjakan untuknya, dimakannya makanan yang aku buat dengan mimik muka seakan-akan itu adalah makanan terenak yang pernah ia jumpai, ia ikut girang kalau aku menemukan barang-barang lucu atau mendapatkan kesempatan-kesempatan baru dan ikut terharu ketika akhirnya aku menjadi dosen, seperti dirinya. Diperkenalkannya aku pada keluarganya yang lain dan pada orang-orang yang kami temui bersama seolah-olah aku adalah keluarganya sendiri. Aku jadi memiliki ibu baru, aku seperti mendapatkan tambahan kakak-kakak dari saudaranya dan bahkan mendapat tambahan om dan juga tante. Lain waktu, ia adalah salah satu dari orang-orang yang menjadi tempatku menangis jika sesekali waktu kesedihan mendatangiku. dari jauh, ia mengusap air mataku, membesarkan hati lewat kata-kata yang membukakan pikiranku akan suatu masalah. Tak pernah sekalipun ia mengingatkanku dengan nada tinggi dan caranya mengajarikupun sama sekali tidak menggurui
Bagaimana aku tidak terkagum-kagum padanya. Dibantunya aku menemukan jawaban-jawaban untuk pertanyaan tes seleksi masuk stasiun tv dengan pengetahuannya yang luas dan pada tes pengetahuan umum itu, akulah satu-satunya yang lolos diantara teman-temanku yang lain dan aku ingat kami berdua bersorak melihat papan pengumuman di lantai bawah Grha Sabha Pramana. Padanya, aku bisa bertanya apa saja yang aku ingin tahu dan sedikit sekali yang ia bisa jawab. bagiku ia adalah ensiklopedi tebal yang bisa berbicara.
Dan aku tidak akan pernah lupa kalau aku selalu girang kalau Kak Deni menelponku untuk bilang bahwa ia akan ke Jogja karena itu artinya kami akan menghabiskan waktu di kamar kosku untuk bercerita. Dengannya aku tidur dengan nyaman tanpa takut akan ada orang yang terganggu bila aku ngorok karena ia juga begitu. Pun aku tak pernah lupa waktu ia memberiku hadiah sepasang sepatu ketika aku diterima kerja dan digantinya kipas angin di kamarku yang rusak waktu ia dan Ibu berkunjung, dicukupkannya makanku, ditinggalkannya uang jajan kalau ia mau kembali pulang seakan-akan aku adik kandungnya. itulah sebabnya mengapa ia menjadi orang pertama yang kuberi tahu-selain keluargaku jika aku pulang ke Padang dan selalu berada di posisi teratas dalam agenda bertemu dengan orang-orang. Dan akan dipeluknya aku erat-erat dan diciumnya pipiku jika kami bertemu.
Meskipun tahun berlalu dan umur bertambah, tapi hubungan kami tetap seperti ini, bahkan lebih baik dari tahun ke tahun. Lewat sms dan telpon kami berbagi cerita, semangat dan doa..seakan-akan aku dan dia masih tinggal di satu rumah yang sama..seakan-akan langkah kakinya masih berbunyi diatas kamarku dulu..
Apa yang aku ceritakan hari ini hanya sepersekian dari semua rasa terimakasihku yang besar padanya, hadiah kecil di hari ulang tahun seorang kakak cantik berhati peri.
Selamat ulang tahun Kakakku..
Semoga selalu sehat dan dalam lindunganNya
Agar kita bisa mewujudkan impian kita berdua untuk bersekolah di benua biru
Banyak cinta untukmu
Kamis, 05 April 2012
Impossible is Nothing-Bali
Keterangan foto dari kiri ke kanan : Henry -Saya -Arif di acara KNSI 2012
Hampir sebulan yang lalu, saya baru kembali ke Pekanbaru dari trip panjang saya menjelajah tiga provinsi; bali, DIY dan DKI Jakarta.Akhirnya saya liburan juga.^_^. Perjalanan panjang ini diawali dengan tekad kuat untuk mengisi kembali hati saya dengan pelajaran dan hikmah baru. Dari tahun lalu, saya sudah meneguhkan tekad untuk menabung agar bisa berlibur. Tujuan utama saya sebenarnya adalah Jogjakarta, kota lain yang saya sebut sebagai kampung halaman saya, namun karena pikiran saya melompat-lompat, sempat beberapa kali destinasi dan jalur liburannya saya revisi karena masalah jumlah hari libur dan tentu saja masalah anggaran. Jujur saja, liburan keluar dari Pekanbaru terasa cukup berat, terutama jika daerah tujuan liburan saya ada di pulau jawa karena membutuhkan dua tiket pesawat sekali jalan. Jadilah untuk mewujudkan mimpi saya itu, saya ikut arisan yang tanggal terimanya pas saat liburan tiba di bulan Februari dan nominalnya cukuplah.
Mendekati jadwal liburan, lagi-lagi ada berapa revisi yang harus dilakukan. namun kali ini revisinya karena berita baik bahwa paper saya dinyatakan lulus untuk mengikuti konferensi Nasional Sistem informasi di Denpasar pas pada jadwal liburan tersebut. Alhamdulillah bisa ke Bali lagi dan alhamdulillah destinasi liburan jadi (tiba-tiba)bertambah meski itu artinya uang yang dibutuhkan juga bertambah.
Akhirnya tanggal 22 Februari kemaren, saya bertolak ke Denpasar dengan perasaan luar biasa senang. Akhirnya setelah 1,5 tahun pulang dari Jogja, saya naik pesawat lagi. Norak ya? biarin :P. Dulu ketika masih kuliah di Jawa, pesawat dan bandara adalah hal rutin yang menyenangkan, minimal sekali setahun pas lebaran saya pasti menginjakkan kaki di Bandara. Saya kehilangan rutinitas itu setelah berpindah ke Pekanbaru karena untuk pulang ke Padang dari Pekanbaru tidak ada lagi pesawat yang bisa ditumpangi, adanya pesawat roda empat yang jalan diatas aspal:)
Koneferensi Nasional (sambil Jalan-jalan) di Bali sebenarnya sesuatu yang cukup unpredictable dan Unbelieveable bagi saya karena paper saya dikirimkan pada hari terakhir deadline pengumpulan naskah. Padahal sudah sebulan sebelumnya teman saya Arif mengingatkan saya untuk mengirimkan paper tapi saya tidak pede.
Hampir tiga tahun yang lalu , Saya, Arif, Henri dan beberapa teman kuliah saya saat S2 merencanakan liburan pendek murah ke Bali karena tidak afdol rasanya sudah berada di jawa tapi tidak sampai Bali. Sebelumnya, selama kami di Jogja, sudah berbagai tempatmenarik di Jawa pernah kami datangi, mulai dari candi hingga pantai dan yang paling berkesan adalah saat mewujudkan rencana ke bromo
Meskipun saat konferensi tersebut bukanlah kali pertama saya menginjakkan kaki di Bali, tapi tetap saja rasanya tak percaya kalau saya, Arif dan Henri bisa menginjakkan kaki lagi bersamaan dan bertemu kembali setelah dua tahun kami berpisah selepas lulus kuliah. Apalagi kami semua terpisahkan jarak antara Pekanbaru-padang dan Pontianak. Kalau dipikir-pikir, benar juga apa yang dikatakan Lionel Messi dalam iklah produk olahraga terkenal itu, impossible is nothing dan benar juga katanya Andrea Hirata dalam sang pemimpi : "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu".
Kamis, 29 Maret 2012
(Lagi-lagi) Tentang Menikah
Tadinya saya mau posting cerita tentang liburan saya ke Bali, tapi entah mengapa pikiran saya malah berbicara lain setelah melihat postingan beberapa teman hari ini. Beberapa waktu lalu, saat saya dan teman-teman dekat saya yang perempuan berkumpul di Jakarta dan akhirnya bercerita panjang lebar tentang banyak hal dan tentu saja bercerita tentang jodoh. Saya berteman akrab dengan 4 orang perempuan waktu kami sama-sama ngekos di pogung-Jogjakarta. Kami berlima seumuran, beda-beda bulanan saja. Dari kami berlima, baru satu orang teman saya, Ika, yang menikah. Sisanya, kami berempat, sedang dalam proses wait n see..siapa, kapan dan dimana jodoh kami berada. Pembicaraan tentang jodoh memang tidak akan ada habisnya, pun sampai kita menemukan jodoh kita sendiri. Dalam lingkaran pertanyaan tak berujung di kehidupan, ia hanyalah salah satu masalah yang ketika terjawab akan merembet ke masalah lain.
Lalu siapa yang tidak ingin menikah? saya sendiri sangat ingin, apalagi di usia yang akan atau sudah kepala tiga, menikah seakan-akan menjadi keharusan. Tapi kenapa saya menjadi ingin menikah? apakah karena memang ingin menyempurnakan separuh agama seperti yang menjadi alasan orang-orang lain? atau semata-mata menjadikan alasan menyempurnakan separuh agama itu sebagai topeng untuk menikah? Apa bukan karena orang lain sudah menikah dan saya belum? atau karena orang lain sudah punya anak dan saya belum?
Saya tau persis rasanya sedih ditinggal menikah; dalam geng saya yang lain, dari empat orang perempuan yang ada, saya satu-satunya yang belum menikah. Dari geng kuliah saya juga begitu, saya yang masih wara-wiri sementara teman-teman saya sudah sibuk ngomongin anak. Belum lagi rasanya dilangkahi, saya sudah mengalaminya 3 tahun yang lalu saat adik saya mendahului saya menikah. Dan dari semua itu, faktor orang lainlah yang ternyata paling besar kontribusinya dalam kesedihan itu. Sejak teman saya yang menikah pertama hingga yang terakhir 2 tahun yang lalu, semua orang yang kenal kami berempat tidak henti-hentinya bertanya :"kapan nyusul?". Apalagi waktu adik saya menikah..wuiihhh pertanyaan begitu bahkan datang dari keluarga saya sendiri. Lha, saya mau jawab apa? dari jawaban sekenanya hingga senyum manis sudah saya jadikan senjata:).
Padahal yang berhak sedih karena belum menikah di dunia ini bukan hanya saya, bukan hanya teman-teman saya yang bertiga itu, ada banyak sekali wanita lajang di dunia ini, bahkan saya mengenal dosen saya waktu S1 dulu yang umurnya sudah hampir 60 tahun ini dan masih single, but she looks happy atau pasrah? Saya ga tau tapi yang terpenting saya melihat beliau baik-baik saja.
Saya paham sekali bahwa jodoh tidak turun dari langit, ia harus diusahakan, tapi bukan berarti itu menjadi alasan untuk berputus asa dan menilai buruk diri sendiri atau merasa tidak seberuntung yang lain dalam urusan asmara. Mungkin kata-kata belum jodoh ketika putus atau patah hati itu klise adanya tapi itu benar. Bayangkan jika kita menikah dengan orang yang salah hanya karena kita tidak ingin “ketinggalan kereta”. Yang penting usaha dan berdoa maksimal, setelah itu biarlah kita tunggu Allah memainkan bagianNya, tidak mungkin Allah tidak punya maksud untuk semua ini. Mungkin Allah sedang memberikan kita kesempatan seluas-luasnya dulu untuk mengerjakan apa yang kita suka; entah itu kerjaan, sekolah, kumpul bareng teman atau hal-hal lain yang akan sulit dilakukan ketika sudah menikah atau mungkin Allah sedang mempersiapkan orang yang tepat dan meminta kita lebih sabar sedikit saja..atau mungkin Allah ingin kita melakukan hal-hal dibawah ini :
• Pelesir sendiri dan melihat dunia dari sudut pandang Anda.
• Hidup sendiri, mandiri, dan belajar hal-hal yang “nyata”. Lihat bagaimana Anda menangani situasi tertentu.
• Buat teman-teman Anda sendiri dan miliki grup Anda sendiri.
• Putuskan apa yang Anda inginkan dari hidup Anda.
• Memiliki tabungan sendiri. Dapatkan karier impian Anda.
Sumber : http://lagihappening.blogspot.com/2012/03/hal-yang-perlu-dilakukan-sebelum.html
Belum menikah bukan alasan kawan untuk membuat dunia kita berhenti berputar. JIka orang terdekat kita menikah dan kita "ditinggalkan" pasti bikin sedih..lalu bagaimana jika itu kita? yang menikah dan "meninggalkan" teman atau orang terdekat kita? bukankah kita inginnya mereka bahagia mendengar kita menikah dan bukannya sedih?. Berbesar hatilah..Mama saya bilang : "biarlah mobil yang penuh berangkat duluan, biarlah kapal yang sudah penuh berlayar duluan..mudah-mudahan mobil atau kapal kita bisa berjalan setelahnya"..
*hanya pikiran selinas pas sedang waras*
Lalu siapa yang tidak ingin menikah? saya sendiri sangat ingin, apalagi di usia yang akan atau sudah kepala tiga, menikah seakan-akan menjadi keharusan. Tapi kenapa saya menjadi ingin menikah? apakah karena memang ingin menyempurnakan separuh agama seperti yang menjadi alasan orang-orang lain? atau semata-mata menjadikan alasan menyempurnakan separuh agama itu sebagai topeng untuk menikah? Apa bukan karena orang lain sudah menikah dan saya belum? atau karena orang lain sudah punya anak dan saya belum?
Saya tau persis rasanya sedih ditinggal menikah; dalam geng saya yang lain, dari empat orang perempuan yang ada, saya satu-satunya yang belum menikah. Dari geng kuliah saya juga begitu, saya yang masih wara-wiri sementara teman-teman saya sudah sibuk ngomongin anak. Belum lagi rasanya dilangkahi, saya sudah mengalaminya 3 tahun yang lalu saat adik saya mendahului saya menikah. Dan dari semua itu, faktor orang lainlah yang ternyata paling besar kontribusinya dalam kesedihan itu. Sejak teman saya yang menikah pertama hingga yang terakhir 2 tahun yang lalu, semua orang yang kenal kami berempat tidak henti-hentinya bertanya :"kapan nyusul?". Apalagi waktu adik saya menikah..wuiihhh pertanyaan begitu bahkan datang dari keluarga saya sendiri. Lha, saya mau jawab apa? dari jawaban sekenanya hingga senyum manis sudah saya jadikan senjata:).
Padahal yang berhak sedih karena belum menikah di dunia ini bukan hanya saya, bukan hanya teman-teman saya yang bertiga itu, ada banyak sekali wanita lajang di dunia ini, bahkan saya mengenal dosen saya waktu S1 dulu yang umurnya sudah hampir 60 tahun ini dan masih single, but she looks happy atau pasrah? Saya ga tau tapi yang terpenting saya melihat beliau baik-baik saja.
Saya paham sekali bahwa jodoh tidak turun dari langit, ia harus diusahakan, tapi bukan berarti itu menjadi alasan untuk berputus asa dan menilai buruk diri sendiri atau merasa tidak seberuntung yang lain dalam urusan asmara. Mungkin kata-kata belum jodoh ketika putus atau patah hati itu klise adanya tapi itu benar. Bayangkan jika kita menikah dengan orang yang salah hanya karena kita tidak ingin “ketinggalan kereta”. Yang penting usaha dan berdoa maksimal, setelah itu biarlah kita tunggu Allah memainkan bagianNya, tidak mungkin Allah tidak punya maksud untuk semua ini. Mungkin Allah sedang memberikan kita kesempatan seluas-luasnya dulu untuk mengerjakan apa yang kita suka; entah itu kerjaan, sekolah, kumpul bareng teman atau hal-hal lain yang akan sulit dilakukan ketika sudah menikah atau mungkin Allah sedang mempersiapkan orang yang tepat dan meminta kita lebih sabar sedikit saja..atau mungkin Allah ingin kita melakukan hal-hal dibawah ini :
• Pelesir sendiri dan melihat dunia dari sudut pandang Anda.
• Hidup sendiri, mandiri, dan belajar hal-hal yang “nyata”. Lihat bagaimana Anda menangani situasi tertentu.
• Buat teman-teman Anda sendiri dan miliki grup Anda sendiri.
• Putuskan apa yang Anda inginkan dari hidup Anda.
• Memiliki tabungan sendiri. Dapatkan karier impian Anda.
Sumber : http://lagihappening.blogspot.com/2012/03/hal-yang-perlu-dilakukan-sebelum.html
Belum menikah bukan alasan kawan untuk membuat dunia kita berhenti berputar. JIka orang terdekat kita menikah dan kita "ditinggalkan" pasti bikin sedih..lalu bagaimana jika itu kita? yang menikah dan "meninggalkan" teman atau orang terdekat kita? bukankah kita inginnya mereka bahagia mendengar kita menikah dan bukannya sedih?. Berbesar hatilah..Mama saya bilang : "biarlah mobil yang penuh berangkat duluan, biarlah kapal yang sudah penuh berlayar duluan..mudah-mudahan mobil atau kapal kita bisa berjalan setelahnya"..
*hanya pikiran selinas pas sedang waras*
Jumat, 03 Februari 2012
Gaji dan Orang Tua
Hampir satu setengah tahun saya bekerja dan rasanya saya masih baru mulai belajar mandiri, belum sampai ke tahap yang amat mandiri terutama mandiri dalam urusan finansial. Dalam 1,5 tahun bekerja ini, pendapatan saya tidak tinggi tapi alhamdulillah tidak kurang. Namun hal itu kadang yang membuat saya sering kecil hati. Gaji yang tidak berlebihan tapi cukup itu membuat saya tidak bisa untuk sering-sering mengirimkan uang pada orang tua saya. Ya setidaknya tidak sesering yang dilakukan adik atau kakak saya. Apalagi nominalnya, jauh lebih kecil dari yang mereka kirimkan. Ketika kadang saya mengutarakan kerisauan hati saya akan hal ini ke mama, beliau selalu bilang :
"yang penting bagi mama gaji kamu cukup untuk dirimu sendiri, dengan begitu, kamu sudah mengurangi beban mama".
Pernah suatu kali saya menceritakan keinginan saya untuk mencicil rumah kepada orang tua. Bekerja sebagai PNS bukan di kota sendiri membuat saya mulai memikirkan tentang kebutuhan untuk memiliki rumah sendiri. Rumah yang saya incar posisinya tidak jauh dari rumah kontrakan saya yang sekarang, tanahnya luas dengan bangunan standar. Untuk mendapatkannya, saya harus memiliki uang sejumlah hampir 35 juta dan membuka KPR senilai 80 juta. Soal KPRnya sih saya ga terlalu bingung, karena status cpns dan pns sangat dimudahkan oleh pihak bank penyedia KPR, yang saya bingungkan adalah yang 35 jt. Kalau saya membuka pinjaman lagi ke bank, maka gaji saya jadi bersisa sedikit sekali. Dan untuk kebingungan saya itu, papa saya bilang :
"kamu lihat dulu lah lokasinya, kalo cocok dan kamu suka, biar papa yg nyari 35 jtnya"
dan mama saya bilang:
" ntar kalo uang proyek papamu sudah cair semua, mudah-mudahan kami bisa membantu"
Dan saya akhirnya memutuskan untuk tidak jadi mengambil rumah. Saya malu sama orang tua saya dan hal itu yang akhirnya membuat saya merasa terlalu memaksakan diri. Bekerja membuat kita paham bahwa uang itu memang tidak mudah dicarinya dan begitu mudah untuk menghabiskannya. Selain itu, bekerja juga membuat kita mulai merasa malu untuk meminta kepada orang tua, mungkin sebenarnya lebih tepat kalau malu terlihat miskin.
Tapi sebenarnya tidak begitu dengan sudut pandang orang tua saya. Beliau sangat paham kalau karier dan pekerjaan saya masihlah seumur jagung dan saya masih memiliki banyak kebutuhan yang harus saya penuhi sehingga wajar kalau saya masih akan sering "terlihat miskin". Sebegitu pahamnya beliau hingga setiap kali mama mengunjungi saya dan adik ke Pekanbaru, beliau tidak pernah meminta dibelikan ini itu. Kalaupun sesekali saya mengajak makan atau mengajak jalan-jalan ke pasar bawah dan bertanya beliau mau dibelikan apa, beliau akan berulangkali bertanya apakah saya punya cukup uang atau tidak. Bagi orang tua, dengan bekerja ataupun memiliki penghasilan sendiri, saya sudah tidak lagi menjadi tanggungan beliau berdua, sehingga uang yang beliau berdua punya bisa dialokasikan kepada kedua adik saya yang masih sekolah.
Sesekalinya saya mau mengirimkan uang jajan kepada orang tua, maka beginilah dialognya :
Saya : "Mama lagi ada duit ga?"
mama : " kok nanya begitu?"
Saya : "Saya mau ngirimin mama uang jajan..tapi ga banyak"
Mama : "kok pake ngirimin mama duit? kamu masih ada uang? "
Saya : " kebetulan saya punya sedikit"
Mama : " benar kamu masih punya uang? kalau ga ada jangan memaksakan diri..bagi mama yang penting cukup untuk kamu"
*dan tiba-tiba saya jadi tercekat..*
Lain waktu saya menelpon papa menanyakan nomor rekening beliau, dan ketika diberitahu untuk apa saya meminta nomor rekening, beliau malah bilang begini :
" Kalau mau mengirim uang, jangan ke papa..untuk mama kalian aja..kalau papa masih kuat buat nyari uang, kalau mama kalian gajinya sudah tidak seberapa"
"kalau gt saya beliin papa pulsa aja ya?" ujar saya
" ga usah, pulsa papa masih cukup kok..kalau uang masih ada disimpan aja..kamu kan punya banyak keperluan.."
Dan saya menutup telepon siang itu dalam diam..tak terasa air mata saya mengalir dan rasa haru memenuhi dada saya..saya memang pantas malu kalau masih menyusahkan mereka..
"yang penting bagi mama gaji kamu cukup untuk dirimu sendiri, dengan begitu, kamu sudah mengurangi beban mama".
Pernah suatu kali saya menceritakan keinginan saya untuk mencicil rumah kepada orang tua. Bekerja sebagai PNS bukan di kota sendiri membuat saya mulai memikirkan tentang kebutuhan untuk memiliki rumah sendiri. Rumah yang saya incar posisinya tidak jauh dari rumah kontrakan saya yang sekarang, tanahnya luas dengan bangunan standar. Untuk mendapatkannya, saya harus memiliki uang sejumlah hampir 35 juta dan membuka KPR senilai 80 juta. Soal KPRnya sih saya ga terlalu bingung, karena status cpns dan pns sangat dimudahkan oleh pihak bank penyedia KPR, yang saya bingungkan adalah yang 35 jt. Kalau saya membuka pinjaman lagi ke bank, maka gaji saya jadi bersisa sedikit sekali. Dan untuk kebingungan saya itu, papa saya bilang :
"kamu lihat dulu lah lokasinya, kalo cocok dan kamu suka, biar papa yg nyari 35 jtnya"
dan mama saya bilang:
" ntar kalo uang proyek papamu sudah cair semua, mudah-mudahan kami bisa membantu"
Dan saya akhirnya memutuskan untuk tidak jadi mengambil rumah. Saya malu sama orang tua saya dan hal itu yang akhirnya membuat saya merasa terlalu memaksakan diri. Bekerja membuat kita paham bahwa uang itu memang tidak mudah dicarinya dan begitu mudah untuk menghabiskannya. Selain itu, bekerja juga membuat kita mulai merasa malu untuk meminta kepada orang tua, mungkin sebenarnya lebih tepat kalau malu terlihat miskin.
Tapi sebenarnya tidak begitu dengan sudut pandang orang tua saya. Beliau sangat paham kalau karier dan pekerjaan saya masihlah seumur jagung dan saya masih memiliki banyak kebutuhan yang harus saya penuhi sehingga wajar kalau saya masih akan sering "terlihat miskin". Sebegitu pahamnya beliau hingga setiap kali mama mengunjungi saya dan adik ke Pekanbaru, beliau tidak pernah meminta dibelikan ini itu. Kalaupun sesekali saya mengajak makan atau mengajak jalan-jalan ke pasar bawah dan bertanya beliau mau dibelikan apa, beliau akan berulangkali bertanya apakah saya punya cukup uang atau tidak. Bagi orang tua, dengan bekerja ataupun memiliki penghasilan sendiri, saya sudah tidak lagi menjadi tanggungan beliau berdua, sehingga uang yang beliau berdua punya bisa dialokasikan kepada kedua adik saya yang masih sekolah.
Sesekalinya saya mau mengirimkan uang jajan kepada orang tua, maka beginilah dialognya :
Saya : "Mama lagi ada duit ga?"
mama : " kok nanya begitu?"
Saya : "Saya mau ngirimin mama uang jajan..tapi ga banyak"
Mama : "kok pake ngirimin mama duit? kamu masih ada uang? "
Saya : " kebetulan saya punya sedikit"
Mama : " benar kamu masih punya uang? kalau ga ada jangan memaksakan diri..bagi mama yang penting cukup untuk kamu"
*dan tiba-tiba saya jadi tercekat..*
Lain waktu saya menelpon papa menanyakan nomor rekening beliau, dan ketika diberitahu untuk apa saya meminta nomor rekening, beliau malah bilang begini :
" Kalau mau mengirim uang, jangan ke papa..untuk mama kalian aja..kalau papa masih kuat buat nyari uang, kalau mama kalian gajinya sudah tidak seberapa"
"kalau gt saya beliin papa pulsa aja ya?" ujar saya
" ga usah, pulsa papa masih cukup kok..kalau uang masih ada disimpan aja..kamu kan punya banyak keperluan.."
Dan saya menutup telepon siang itu dalam diam..tak terasa air mata saya mengalir dan rasa haru memenuhi dada saya..saya memang pantas malu kalau masih menyusahkan mereka..
Langganan:
Postingan (Atom)