Sabtu, 07 April 2012

A Little Gift


Photo source : thechiclife.com

Jika ada pertanyaan siapa orang yang aku hormati di dunia ini selain orang tua dan guru-guruku, maka aku pasti akan menyebutkan Kak Deni, kakak kosku waktu di Jogja dulu. 6tahun saling mengenal dengan sangat dekat, aku jadi paham bahwa yang namanya saudara itu tidak hanya soal hubungan darah. Aku dan kak Deni sama sekali tidak memiliki pertalian persaudaraan sebelumnya. Jika ada hal yang menghubungkan kami, maka itu pastilah rumah kos kami dulu di Pogung Kidul no 70 dan adiknya Lani, yang teman SMUku.

Bagaimana bisa aku tidak memilih Dia? Kak deniku itu sangat menghargai aku dan menghargai adalah bentuk kasih sayang yang lain. Memang tidak semua cerita hidupnya ia ceritakan kepadaku, tapi ia cukup senang jika aku mau mendengarkan ceritanya. Begitupun aku, adalah candu bagiku untuk berbicara dengannya lewat telepon barang 15, 20 menit, sesekali 1 jam hanya untuk berbagi cerita. Ia adalah mood boooster untuk menjalani dan menutup hari, tempatku berkaca bahwa hidup ini indah dan Tuhan itu Maha Baik.Tidak hanya itu, tak pernah sekalipun ia lupa untuk berterima kasih padaku untuk semua yang pernah aku kerjakan untuknya, dimakannya makanan yang aku buat dengan mimik muka seakan-akan itu adalah makanan terenak yang pernah ia jumpai, ia ikut girang kalau aku menemukan barang-barang lucu atau mendapatkan kesempatan-kesempatan baru dan ikut terharu ketika akhirnya aku menjadi dosen, seperti dirinya. Diperkenalkannya aku pada keluarganya yang lain dan pada orang-orang yang kami temui bersama seolah-olah aku adalah keluarganya sendiri. Aku jadi memiliki ibu baru, aku seperti mendapatkan tambahan kakak-kakak dari saudaranya dan bahkan mendapat tambahan om dan juga tante. Lain waktu, ia adalah salah satu dari orang-orang yang menjadi tempatku menangis jika sesekali waktu kesedihan mendatangiku. dari jauh, ia mengusap air mataku, membesarkan hati lewat kata-kata yang membukakan pikiranku akan suatu masalah. Tak pernah sekalipun ia mengingatkanku dengan nada tinggi dan caranya mengajarikupun sama sekali tidak menggurui

Bagaimana aku tidak terkagum-kagum padanya. Dibantunya aku menemukan jawaban-jawaban untuk pertanyaan tes seleksi masuk stasiun tv dengan pengetahuannya yang luas dan pada tes pengetahuan umum itu, akulah satu-satunya yang lolos diantara teman-temanku yang lain dan aku ingat kami berdua bersorak melihat papan pengumuman di lantai bawah Grha Sabha Pramana. Padanya, aku bisa bertanya apa saja yang aku ingin tahu dan sedikit sekali yang ia bisa jawab. bagiku ia adalah ensiklopedi tebal yang bisa berbicara.

Dan aku tidak akan pernah lupa kalau aku selalu girang kalau Kak Deni menelponku untuk bilang bahwa ia akan ke Jogja karena itu artinya kami akan menghabiskan waktu di kamar kosku untuk bercerita. Dengannya aku tidur dengan nyaman tanpa takut akan ada orang yang terganggu bila aku ngorok karena ia juga begitu. Pun aku tak pernah lupa waktu ia memberiku hadiah sepasang sepatu ketika aku diterima kerja dan digantinya kipas angin di kamarku yang rusak waktu ia dan Ibu berkunjung, dicukupkannya makanku, ditinggalkannya uang jajan kalau ia mau kembali pulang seakan-akan aku adik kandungnya. itulah sebabnya mengapa ia menjadi orang pertama yang kuberi tahu-selain keluargaku jika aku pulang ke Padang dan selalu berada di posisi teratas dalam agenda bertemu dengan orang-orang. Dan akan dipeluknya aku erat-erat dan diciumnya pipiku jika kami bertemu.

Meskipun tahun berlalu dan umur bertambah, tapi hubungan kami tetap seperti ini, bahkan lebih baik dari tahun ke tahun. Lewat sms dan telpon kami berbagi cerita, semangat dan doa..seakan-akan aku dan dia masih tinggal di satu rumah yang sama..seakan-akan langkah kakinya masih berbunyi diatas kamarku dulu..

Apa yang aku ceritakan hari ini hanya sepersekian dari semua rasa terimakasihku yang besar padanya, hadiah kecil di hari ulang tahun seorang kakak cantik berhati peri.

Selamat ulang tahun Kakakku..
Semoga selalu sehat dan dalam lindunganNya
Agar kita bisa mewujudkan impian kita berdua untuk bersekolah di benua biru
Banyak cinta untukmu

Kamis, 05 April 2012

Impossible is Nothing-Bali


Keterangan foto dari kiri ke kanan : Henry -Saya -Arif di acara KNSI 2012


Hampir sebulan yang lalu, saya baru kembali ke Pekanbaru dari trip panjang saya menjelajah tiga provinsi; bali, DIY dan DKI Jakarta.Akhirnya saya liburan juga.^_^. Perjalanan panjang ini diawali dengan tekad kuat untuk mengisi kembali hati saya dengan pelajaran dan hikmah baru. Dari tahun lalu, saya sudah meneguhkan tekad untuk menabung agar bisa berlibur. Tujuan utama saya sebenarnya adalah Jogjakarta, kota lain yang saya sebut sebagai kampung halaman saya, namun karena pikiran saya melompat-lompat, sempat beberapa kali destinasi dan jalur liburannya saya revisi karena masalah jumlah hari libur dan tentu saja masalah anggaran. Jujur saja, liburan keluar dari Pekanbaru terasa cukup berat, terutama jika daerah tujuan liburan saya ada di pulau jawa karena membutuhkan dua tiket pesawat sekali jalan. Jadilah untuk mewujudkan mimpi saya itu, saya ikut arisan yang tanggal terimanya pas saat liburan tiba di bulan Februari dan nominalnya cukuplah.

Mendekati jadwal liburan, lagi-lagi ada berapa revisi yang harus dilakukan. namun kali ini revisinya karena berita baik bahwa paper saya dinyatakan lulus untuk mengikuti konferensi Nasional Sistem informasi di Denpasar pas pada jadwal liburan tersebut. Alhamdulillah bisa ke Bali lagi dan alhamdulillah destinasi liburan jadi (tiba-tiba)bertambah meski itu artinya uang yang dibutuhkan juga bertambah.

Akhirnya tanggal 22 Februari kemaren, saya bertolak ke Denpasar dengan perasaan luar biasa senang. Akhirnya setelah 1,5 tahun pulang dari Jogja, saya naik pesawat lagi. Norak ya? biarin :P. Dulu ketika masih kuliah di Jawa, pesawat dan bandara adalah hal rutin yang menyenangkan, minimal sekali setahun pas lebaran saya pasti menginjakkan kaki di Bandara. Saya kehilangan rutinitas itu setelah berpindah ke Pekanbaru karena untuk pulang ke Padang dari Pekanbaru tidak ada lagi pesawat yang bisa ditumpangi, adanya pesawat roda empat yang jalan diatas aspal:)

Koneferensi Nasional (sambil Jalan-jalan) di Bali sebenarnya sesuatu yang cukup unpredictable dan Unbelieveable bagi saya karena paper saya dikirimkan pada hari terakhir deadline pengumpulan naskah. Padahal sudah sebulan sebelumnya teman saya Arif mengingatkan saya untuk mengirimkan paper tapi saya tidak pede.

Hampir tiga tahun yang lalu , Saya, Arif, Henri dan beberapa teman kuliah saya saat S2 merencanakan liburan pendek murah ke Bali karena tidak afdol rasanya sudah berada di jawa tapi tidak sampai Bali. Sebelumnya, selama kami di Jogja, sudah berbagai tempatmenarik di Jawa pernah kami datangi, mulai dari candi hingga pantai dan yang paling berkesan adalah saat mewujudkan rencana ke bromo

Meskipun saat konferensi tersebut bukanlah kali pertama saya menginjakkan kaki di Bali, tapi tetap saja rasanya tak percaya kalau saya, Arif dan Henri bisa menginjakkan kaki lagi bersamaan dan bertemu kembali setelah dua tahun kami berpisah selepas lulus kuliah. Apalagi kami semua terpisahkan jarak antara Pekanbaru-padang dan Pontianak. Kalau dipikir-pikir, benar juga apa yang dikatakan Lionel Messi dalam iklah produk olahraga terkenal itu, impossible is nothing dan benar juga katanya Andrea Hirata dalam sang pemimpi : "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu".

Kamis, 29 Maret 2012

(Lagi-lagi) Tentang Menikah

Tadinya saya mau posting cerita tentang liburan saya ke Bali, tapi entah mengapa pikiran saya malah berbicara lain setelah melihat postingan beberapa teman hari ini. Beberapa waktu lalu, saat saya dan teman-teman dekat saya yang perempuan berkumpul di Jakarta dan akhirnya bercerita panjang lebar tentang banyak hal dan tentu saja bercerita tentang jodoh. Saya berteman akrab dengan 4 orang perempuan waktu kami sama-sama ngekos di pogung-Jogjakarta. Kami berlima seumuran, beda-beda bulanan saja. Dari kami berlima, baru satu orang teman saya, Ika, yang menikah. Sisanya, kami berempat, sedang dalam proses wait n see..siapa, kapan dan dimana jodoh kami berada. Pembicaraan tentang jodoh memang tidak akan ada habisnya, pun sampai kita menemukan jodoh kita sendiri. Dalam lingkaran pertanyaan tak berujung di kehidupan, ia hanyalah salah satu masalah yang ketika terjawab akan merembet ke masalah lain.

Lalu siapa yang tidak ingin menikah? saya sendiri sangat ingin, apalagi di usia yang akan atau sudah kepala tiga, menikah seakan-akan menjadi keharusan. Tapi kenapa saya menjadi ingin menikah? apakah karena memang ingin menyempurnakan separuh agama seperti yang menjadi alasan orang-orang lain? atau semata-mata menjadikan alasan menyempurnakan separuh agama itu sebagai topeng untuk menikah? Apa bukan karena orang lain sudah menikah dan saya belum? atau karena orang lain sudah punya anak dan saya belum?
Saya tau persis rasanya sedih ditinggal menikah; dalam geng saya yang lain, dari empat orang perempuan yang ada, saya satu-satunya yang belum menikah. Dari geng kuliah saya juga begitu, saya yang masih wara-wiri sementara teman-teman saya sudah sibuk ngomongin anak. Belum lagi rasanya dilangkahi, saya sudah mengalaminya 3 tahun yang lalu saat adik saya mendahului saya menikah. Dan dari semua itu, faktor orang lainlah yang ternyata paling besar kontribusinya dalam kesedihan itu. Sejak teman saya yang menikah pertama hingga yang terakhir 2 tahun yang lalu, semua orang yang kenal kami berempat tidak henti-hentinya bertanya :"kapan nyusul?". Apalagi waktu adik saya menikah..wuiihhh pertanyaan begitu bahkan datang dari keluarga saya sendiri. Lha, saya mau jawab apa? dari jawaban sekenanya hingga senyum manis sudah saya jadikan senjata:).
Padahal yang berhak sedih karena belum menikah di dunia ini bukan hanya saya, bukan hanya teman-teman saya yang bertiga itu, ada banyak sekali wanita lajang di dunia ini, bahkan saya mengenal dosen saya waktu S1 dulu yang umurnya sudah hampir 60 tahun ini dan masih single, but she looks happy atau pasrah? Saya ga tau tapi yang terpenting saya melihat beliau baik-baik saja.

Saya paham sekali bahwa jodoh tidak turun dari langit, ia harus diusahakan, tapi bukan berarti itu menjadi alasan untuk berputus asa dan menilai buruk diri sendiri atau merasa tidak seberuntung yang lain dalam urusan asmara. Mungkin kata-kata belum jodoh ketika putus atau patah hati itu klise adanya tapi itu benar. Bayangkan jika kita menikah dengan orang yang salah hanya karena kita tidak ingin “ketinggalan kereta”. Yang penting usaha dan berdoa maksimal, setelah itu biarlah kita tunggu Allah memainkan bagianNya, tidak mungkin Allah tidak punya maksud untuk semua ini. Mungkin Allah sedang memberikan kita kesempatan seluas-luasnya dulu untuk mengerjakan apa yang kita suka; entah itu kerjaan, sekolah, kumpul bareng teman atau hal-hal lain yang akan sulit dilakukan ketika sudah menikah atau mungkin Allah sedang mempersiapkan orang yang tepat dan meminta kita lebih sabar sedikit saja..atau mungkin Allah ingin kita melakukan hal-hal dibawah ini :
• Pelesir sendiri dan melihat dunia dari sudut pandang Anda.
• Hidup sendiri, mandiri, dan belajar hal-hal yang “nyata”. Lihat bagaimana Anda menangani situasi tertentu.
• Buat teman-teman Anda sendiri dan miliki grup Anda sendiri.
• Putuskan apa yang Anda inginkan dari hidup Anda.
• Memiliki tabungan sendiri. Dapatkan karier impian Anda.

Sumber : http://lagihappening.blogspot.com/2012/03/hal-yang-perlu-dilakukan-sebelum.html


Belum menikah bukan alasan kawan untuk membuat dunia kita berhenti berputar. JIka orang terdekat kita menikah dan kita "ditinggalkan" pasti bikin sedih..lalu bagaimana jika itu kita? yang menikah dan "meninggalkan" teman atau orang terdekat kita? bukankah kita inginnya mereka bahagia mendengar kita menikah dan bukannya sedih?. Berbesar hatilah..Mama saya bilang : "biarlah mobil yang penuh berangkat duluan, biarlah kapal yang sudah penuh berlayar duluan..mudah-mudahan mobil atau kapal kita bisa berjalan setelahnya"..


*hanya pikiran selinas pas sedang waras*

Jumat, 03 Februari 2012

Gaji dan Orang Tua

Hampir satu setengah tahun saya bekerja dan rasanya saya masih baru mulai belajar mandiri, belum sampai ke tahap yang amat mandiri terutama mandiri dalam urusan finansial. Dalam 1,5 tahun bekerja ini, pendapatan saya tidak tinggi tapi alhamdulillah tidak kurang. Namun hal itu kadang yang membuat saya sering kecil hati. Gaji yang tidak berlebihan tapi cukup itu membuat saya tidak bisa untuk sering-sering mengirimkan uang pada orang tua saya. Ya setidaknya tidak sesering yang dilakukan adik atau kakak saya. Apalagi nominalnya, jauh lebih kecil dari yang mereka kirimkan. Ketika kadang saya mengutarakan kerisauan hati saya akan hal ini ke mama, beliau selalu bilang :
"yang penting bagi mama gaji kamu cukup untuk dirimu sendiri, dengan begitu, kamu sudah mengurangi beban mama".

Pernah suatu kali saya menceritakan keinginan saya untuk mencicil rumah kepada orang tua. Bekerja sebagai PNS bukan di kota sendiri membuat saya mulai memikirkan tentang kebutuhan untuk memiliki rumah sendiri. Rumah yang saya incar posisinya tidak jauh dari rumah kontrakan saya yang sekarang, tanahnya luas dengan bangunan standar. Untuk mendapatkannya, saya harus memiliki uang sejumlah hampir 35 juta dan membuka KPR senilai 80 juta. Soal KPRnya sih saya ga terlalu bingung, karena status cpns dan pns sangat dimudahkan oleh pihak bank penyedia KPR, yang saya bingungkan adalah yang 35 jt. Kalau saya membuka pinjaman lagi ke bank, maka gaji saya jadi bersisa sedikit sekali. Dan untuk kebingungan saya itu, papa saya bilang :
"kamu lihat dulu lah lokasinya, kalo cocok dan kamu suka, biar papa yg nyari 35 jtnya"

dan mama saya bilang:
" ntar kalo uang proyek papamu sudah cair semua, mudah-mudahan kami bisa membantu"

Dan saya akhirnya memutuskan untuk tidak jadi mengambil rumah. Saya malu sama orang tua saya dan hal itu yang akhirnya membuat saya merasa terlalu memaksakan diri. Bekerja membuat kita paham bahwa uang itu memang tidak mudah dicarinya dan begitu mudah untuk menghabiskannya. Selain itu, bekerja juga membuat kita mulai merasa malu untuk meminta kepada orang tua, mungkin sebenarnya lebih tepat kalau malu terlihat miskin.

Tapi sebenarnya tidak begitu dengan sudut pandang orang tua saya. Beliau sangat paham kalau karier dan pekerjaan saya masihlah seumur jagung dan saya masih memiliki banyak kebutuhan yang harus saya penuhi sehingga wajar kalau saya masih akan sering "terlihat miskin". Sebegitu pahamnya beliau hingga setiap kali mama mengunjungi saya dan adik ke Pekanbaru, beliau tidak pernah meminta dibelikan ini itu. Kalaupun sesekali saya mengajak makan atau mengajak jalan-jalan ke pasar bawah dan bertanya beliau mau dibelikan apa, beliau akan berulangkali bertanya apakah saya punya cukup uang atau tidak. Bagi orang tua, dengan bekerja ataupun memiliki penghasilan sendiri, saya sudah tidak lagi menjadi tanggungan beliau berdua, sehingga uang yang beliau berdua punya bisa dialokasikan kepada kedua adik saya yang masih sekolah.

Sesekalinya saya mau mengirimkan uang jajan kepada orang tua, maka beginilah dialognya :

Saya : "Mama lagi ada duit ga?"
mama : " kok nanya begitu?"
Saya : "Saya mau ngirimin mama uang jajan..tapi ga banyak"
Mama : "kok pake ngirimin mama duit? kamu masih ada uang? "
Saya : " kebetulan saya punya sedikit"
Mama : " benar kamu masih punya uang? kalau ga ada jangan memaksakan diri..bagi mama yang penting cukup untuk kamu"

*dan tiba-tiba saya jadi tercekat..*

Lain waktu saya menelpon papa menanyakan nomor rekening beliau, dan ketika diberitahu untuk apa saya meminta nomor rekening, beliau malah bilang begini :

" Kalau mau mengirim uang, jangan ke papa..untuk mama kalian aja..kalau papa masih kuat buat nyari uang, kalau mama kalian gajinya sudah tidak seberapa"

"kalau gt saya beliin papa pulsa aja ya?" ujar saya

" ga usah, pulsa papa masih cukup kok..kalau uang masih ada disimpan aja..kamu kan punya banyak keperluan.."


Dan saya menutup telepon siang itu dalam diam..tak terasa air mata saya mengalir dan rasa haru memenuhi dada saya..saya memang pantas malu kalau masih menyusahkan mereka..

Kamis, 26 Januari 2012

Hp-Hp Saya

Entah mengapa saya seringkali tidak bersahabat dengan kepemilikan HP. Dalam beberapa tahun saya memiliki nomor handphone, beberapa kali pula ia kehilangan sarangnya. Bukan karena saya kelebihan duit lalu suka gonta ganti hp tapi lebih sering karena hilang, entah tercecer dimana, diambil siapa atau malah tidak bisa digunakan sama sekali. Kehilangan HP pertama yang cukup menyiksa batin saya adalah nokia 6300 warna hitam lungsuran dari papa. Hp ini hilang saat saya dan teman-teman sedang berdiskusi di ruang belajar di kampus sekitar 2 tahun yang lalu. Nyesek karena hp itu sangat amat menyenangkan untuk dipakai, suaranya bagus dan bisa internetan pula dan hilang pada saat saya lagi cekak-cekaknya jadi mahasiswa. Setelah itu saya menggantinya dengan Hp seri paling bawah. Yang orang-orang suka bilang kalo sebenarnya itu senter berhadiah HP.Ga papalah, yang penting bisa nelpon dan sms, lupakan sejenak apdet status dan lain-lain yang membutuhkan internet. Tapi ternyata HP semurah inipun tidak menyurutkan maling untuk mengambilnya. Sebulan setelah hp ini saya miliki, ia kembali diambil orang dari jok motor waktu saya joging sore di GSP.


Tapi seri paling menyedihkan dari kehilangan Hp ini terjadi bulan Oktober lalu, persis saat saya sedang diklat pra jabatan di balai diklta depag di Padang. kali ini yang hilang HP pertama yang saya beli dengan uang saya sendiri, dari gaji pertama saya, Xperia X8. Memang bukan hp baru, saya membelinya dalam kondisi sudah dipakai 1 bulan tapi masih bagus dan harganya turun jauh. Si X8 ini termasuk grup awal hp berbasis android, jadi ia cukup membuat saya merasa keren waktu memilikinya. tapi sayang kami ndak berjodoh lama, ia hilang tanpa pesan. setelah si X8 hilang, saya kembali memakai hp standar lagi, tapi kali ini yang dual sim card, biar kedua sim card yang saya punya bisa tetap dipakai meski hp cuma satu. Tapi lama-lama hp dual sim card memiliki kelemahan juga. Sim card yang satu akan langsung kehilangan sinyal ketika sim card yang lainnya dipakai sehingga banyak yang komplain kenapa saya susah sekali dihubungi.

Dan akhirnya saya melihat iklan hp android murah tapi tidak murahan... Samsung galaxy Y..dan saya langsung jatuh cinta. Sebulan yang lalu saya menemukan si hp ini second beberapa hari saja dengan harga yang pas dengan kantong saya.

Saya bukan kategori gadget freak, saya juga ga merasa perlu membeli barang keren-keren tapi tidak difungsikan dengan baik, tapi kehilangan X8 membuat saya(seperti) kehilangan kehidupan. Saya tidak bisa mengakses situs jejaring sosial saya setiap saat sehingga ketinggalan banyak perkembangan. hal ini diperparah oleh tidak adanya wi-fi dan jaringan internet gsm yang amat sangat lelet di kampus. Kehadiran si samsung galaxy Y ini benar-benar mengembalikan semangat hidup saya (lebay ya?).

Berbeda dengan hp android saya terdahulu, hp yang ini seri androidnya lebih tinggi, jadi saya bisa install whatssap buat chatting ama teman-teman kapan saja. Seri galaxy Y ini menggunakan kamera 2 mp. kecil memang tapi masih lebih baik daripada kamera VGA yang dimiliki oleh xperia X8. Dan hal yang lebih menyenangkan lagi, setelah saya mendownload beberapa fitur photography, hasil jepretannya jadi keren.






semua berawal dari HP sekecil ini lo...



Jadi, My dearest samsung galaxy Y, jangan pergi lagi sebelum waktunya kamu pensiun ya..biar saya bisa memoto lebih banyak lagi hal-hal menarik disekitar saya:)

Rabu, 11 Januari 2012

Cobaan mengajar

beberapa kali dalam dua minggu terakhir saya seperti mendapatkan teguran bahwa sesekali saya harus bersikap keras kepada orang lain dan tidak melulu menjadi orang yang hanya menyenangkan hati orang lain saja. Sesekali juga saya seharusnya mengeluarkan atau menunjukkan bahwa kadang saya juga bisa marah dan tersinggung seperti orang lain.

Seperti yang terjadi hari ini di kelas. Seorang mahasiswa meminta saya untuk melepaskan kemarahan saya kalau saya memang ingin marah pada mereka. Setidaknya akan membuat mereka (para mahasiswa) menjadi takut dan segan pada saya.

Saya menarik nafas panjang
Ucapan itu mengingatkan saya pada ucapan Adam, yang seringkali mengeluarkan kata-kata :"hesty yang biasa" setiap kali saya tidak menjawab debatnya.

Saya merasa serba salah
Jujur saja, saya sebenarnya bukan tipe orang yang amat sabar. sejujurnya saya malah amat sangat moody dan gampang tersinggung. teman-teman baik saya sudah mengetahui dengan baik karakteristik saya yang ini dan rata2 sudah cukup maklum dan teruji. Ketika menjadi dosen, saya memutuskan untuk menjadi orang yang jauh lebih sabar meskipun pada dasarnya saya tetap saja mudah terpengaruh terhadap penilaian orang lain, mudah kepikiran kalau ada masalah, mudah measang muka jutek kelas tinggi kalau lagi terganggu perasaannya.

Tapi ternyata itu semua tidak semudah yang saya kira, terutama tanggapan dari orang-orang yang menjadi objek pembelajaran kesabaran saya. Sebagian dari mereka mengganggap enteng, mengganggap remeh dan bahkan agak mulai kurang ajar serta kurang sopan meskipun tak sedikit pula yang menikmatinya.

Setiap dosen punya alasan sendiri mengapa mereka mengadopsi pola-pola tertentu dalam mengajar dan mengapa mereka bertindak dengan cara tertentu pula begitu pun saya. Pelajaran semasa bangku kuliah mengajarkan saya bahwa kelas yang menyenangkan akan menjadi alasan utama kita untuk tetap datang ke kampus. nah bagaimana bisa kelas akan menjadi tempat yang menyenangkan kalau dosennya sibuk marah-marah terus sepanjang hari? bagaimana mahasiswa bisa tenang di kelas kalau dosennya sibuk mencari-cari kelemahan mahasiswanya?. Alasan saya yang lainnya adalah karena saya ingin meneruskan kebaikan yang pernah saya dapatkan dari dosen-dosen saya yang pernah menjadikan ruang kuliah sebagai candu, sehingga setiap kali pertemuan terlewatkan maka setiap kali itu pula saya merasa ada yang belum lengkap.

Tapi mungkin saya seringkali lupa bahwa kepala yang sama hitam tidak menjamin kesamaan pemikiran dan persepsi akan suatu hal, begitu pun saya tidak bisa memaksa meereka untuk mengerti dan paham akan jalan pikiran saya..

Setidaknya saya sudah mencoba..kalau gagal, mungkin ini seperti halnya teori perusahaan, bahwa jika satu teori cocok untuk diterapkan pada suatu perusahaan maka ia belum tentu akan menghasilkan kecocokan yang sama jika diaplikasikan pada perusahaan lain..kalau berhasil? berarti cuma perlu maintenance saja..dan itu akan lebih sulit tapi bukan hal yang tidak mungkin

Minggu, 01 Januari 2012

Epilog - Dear Adam

so there i was..waiting for the airport shuttle bus in the middle of rain bring me to see him..Him..the one that being the addres of my 2 previous essay.

Hampir dua tahun lalu saya bertemu dengannya pertama kali di FX Jakarta. pertemuan yang terjadi setelah kami kenal kurang lebih 3 tahun lewat tulisan-tulisan yang muncul di layar yahoo messengger. jika ditanya kapan tepatnya saya mulai menyukainya, maka pertemuan pertama kami itulah jawabannya. Dia persis seperti yang saya kenal sepanjang percakapan saya di ym dan telpon, terutama sikap dan cara bicaranya. Saya pikir tadinya ia akan pergi begitu saja setelah kami bertemu. ketakutan yang wajar, karena ia seorang pria dan seorang pria (biasanya) visual dan saya tidak memenuhi kategori visual yang layak untuk itu.

Tapi ternyata dia tidak pergi begitu saja. kami masih menghabiskan beberapa jam untuk ngobrol hingga jalan dan nonton. pertemuan pertama yang berkesan. Sebegitu berkesannya bagi saya hingga setelahnya saya tiba-tiba menjadi seorang fans berat. Saya kemudian membombardirnya dengan segala perhatian yang berlebihan hingga ia jengah sendiri dan meminta saya untuk berhenti. Saya cuma menjawab :

" ya aku memang suka ama kamu..tapi tidak meminta kamu untuk melakukan hal yang sama kok.."

Di depan dia saya kehilangan urat malu. Saya jadi bebal. saya tetap saja merindu untuk terus mendengar suaranya setiap malam..selalu ada perang antara jari, hati dan kepala untuk memencet nomornya atau tidak yang sering berakhir dengan nada sambung diujung telepon. kalau beruntung, ia akan menjawab dengan menyenangkan dan akan lebih banyak saya yang bercerita daripada dia hingga ia sering mengeluarkan komentar :"semuanya tentang kamu!". Ah, dimatanya saya menjadi wanita yang egois dengan semua cerita saya padahal sebenarnya saya hanya bingung harus mengajukan pertanyaan yang bagaimana lagi padanya.

Minggu lalu, selama 2 hari menghabiskan waktu bersamanya, ia kembali mengajukan pertanyaan yang sama; "apa yang sebenarnya saya inginkan? benarkah saya siap untuk menjadi patnernya? atau saya hanya sekedar ingin menjadi pacarnya saja?". Kami berbincang serius cukup lama disebuah tangga didepan jalan setapak yang dilewati banyak orang. Akhirnya pembicaraan seperti itu terjadi juga..bukan yang pertama tapi ini yang pertama kalinya berlangsung live..di depan mata saya sendiri dan sayalah yang menjadi pemainnya. Saya (lagi-lagi) mencoba untuk mengatakan bahwa dia memang istimewa untuk saya. Dialah yang menjadi alasan mengapa saya ada di kota itu pada hari itu seperti halnya dialah yang menjadi alasan mengapa malam akan menjadi sangat berbeda jika tiada suaranya dipenutup hari. Lebih jauh, saya ingin bertanya mengapa saya tidak pernah menjadi pilihan hatinya..seperti yang lain, seperti wanita yang pernah ia pilih meski hanya kenal 1 bulan sementara pada saat yang sama saya sudah berdiri didekatnya selama satu tahun...tapi saya tidak mampu. Kepercayaan diri saya luruh. 2 hari cukup untuk melihat bahwa saya dan dia berada di dunia yang berbeda. Dia, pria metropolitan dengan gadget keren ditangan dan kehidupan sosial yang so-out-of-my-coverage-area dan saya dengan kehidupan kedaerahan yang normal-normal saja. but i just like him no matter how different we are and the word "like" not always need any reason..
Dan saya hanya bisa terdiam dan berkali-kali harus melihat ke arah yang berbeda agar dia tidak perlu melihat mata saya yang berkaca-kaca ketika ia menjelaskan mengapa saya tidak dipilih untuk menepati hatinya.Dia mengatakan kalau saya datang disaat yang salah sehingga semua hal yang saya lakukan untuknya jadi ikut salah. Tapi tak mengapa. Bagi saya, sesalah apapun situasinya tidak membuat dia kehilangan keistimewaannya di hati saya.Dan rupanya kami sama saja, pernah mengalami luka hati yang teramat dalam, namun luka saya lebih dahulu sembuh dari lukanya higga membuat ia kehilangan keinginan untuk jatuh cinta. Ia bicara cukup banyak tentang bagaimana ia melihat saya dalam hidupnya. Dimatanya, saya adalah seorang teman bicara yang menyenangkan, sehingga jika ia putuskan untuk menerima saya dihatinya akan ada kemungkinan kehilangan teman baik itu jika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang saya dan dia harapkan.Bisa saja sebenarnya dia berpura-pura mencintyai saya dan menerima pernyataan hati saya tapi ia tidak ingin menjadi orang yang akan menyakiti hati saya seperti perempuan perempuan lain yang pernah ia sakiti hatinya, hmmm..saya menarik nafas panjang dan menggumam dalam hati .. "bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? bagaimana jika kami ternyata bisa menjalaninya dengan baik?".


Perjalanan sore itu menuju angkot yang akan membawanya ke tempat menginap menjadi titik perpisahan kami. Setelah semua penjelasan panjang lebar dan berkali-kali menahan agar air mata saya tidak turun, kami berpisah. Malam itu saya harus kembali ke kota ini dan ia masih akan melanjutkan liburannya. Saya dan dia berjabatan tangan selayaknya seorang teman baik. Saya berbalik arah dan membiarkan airmata saya turun begitu saja. Saya (kembali) patah hati. Tapi seperti biasa, saya yakin akan bisa melewatinya. Ternyata semua hal menjadi absurd kalau sudah menyangkut hati. seberapapun seseorang mencoba menempatkan kita diposisi yang baik di kehidupannya tapi jika itu belum dihatinya, maka tetap saja ada perasaan sedih yang menyelinap. masih saja ada perih dihati, seperti yang pernah ditulis teman saya ve yang kurang lebih isinya seperti ini :" kadang jadi teman yang menyenangkan tidak enak juga..karena kita tidak akan terpilih untuk jadi lebih dari sekedar teman". Padahal seharusnya saya berterima kasih padanya. Dia tidak pernah menjauhi saya yang begitu tergila-gila padanya seperti halnya yang dilakukan teman sekelsa saya waktu SMU. Mestinya saya berterima kasih bahwa sampai hari ini saya masih bisa menikmati percakapan saya dengannya kapan saya mau. Saya sebenarnya tidak pernah benar-benar kehilangan dirinya, saya hanya tidak pernah benar-benar memiliki hatinya..

Dear Adam,
That 2 days opportunity has opened my eyes, to know you well, to see you closely and differently. to learn that we still have another important thing in life called friendship. To let me know that i might not have all the things that i want but still, i can enjoy some..so, Thank you so much for let me experiencing those heart beating, smile, laugh and tears during the time i spent with you.. I really hope that it's not an epilogue..but if it is so..i'll be fine and will only missing u sometimes :)

Yang udah berkunjung ke sini ..