Selasa, 27 Februari 2018

Masih ada 12 kali lagi

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau sekolah S3 akan menjadi perjalanan panjang nan emosional. Sebut saja soal deadline yang tak berujung, atau tugas-tugas yang tak berkesudahan. Jika satu deadline berlalu, maka hari berikutnya, seorang mahasiswa PhD harus siap untuk mengerjakan revisian (plus biasanya) ditambah dengan deadline baru. Dan itulah yang terjadi pada saya. Well, bukan ingin mengeluh, saya sadari kalau yang saya alami hari ini adalah sesuatu yang saya doakan dan perjuangkan mati-matian beberapa tahun yang lalu. hanya saja yaaa begitulah :)

Jumat lalu, sudah kali ketiga saya bimbingan. Sudah tiga kali juga saya berdiskusi dengan spv-spv saya tentang bab pertama dari 4 bab dokumen yang harus saya penuhi untuk ujian kandidat PhD nantinya. Rasanya saya makin bodoh saja. Saya memang bisa menulis, tapi dalam Bahasa Indonesia dan punya kemampuan menulis bahasa Inggris yang hanya agak sedikit (lumayan). Tapi ternyata, sampai disini, dan selama 6 bulan menjadi mahasiswa PhD, segala kemampuan menulis saya lenyap tak bersisa. 

Ternyata, sekolah di negeri orang memang tidak mudah. Salah satu yang paling sulit tentu saja bahasanya. Faktor yang lainnya tentu saja tak kalah banyaknya. Bagi saya, makanan tidak menjadi kendala karena saya bisa memasak. Yang jadi kendala adalah perubahan musim yang masih mengagetkan saya, cara kerja dan komunikasi dan adaptasi dengan load kerja yang tak mementu. Homesick masuk ga? Jelas. Sudah beberapa kali saya menangis tanpa sebab. 

Masalah bahasa ini memang tidak bisa dianggap remeh. Meskipun sudah les bahasa Inggris dari jaman teman-teman saya main kelereng sementara saya harus berangkat les naik angkot ke pusat kota sendirian, tetap saja ketika harus berhadapan dengan orang-orang yang bahasa Inggrisnya seperti air mengalir, lidah saya patah rasanya. Meskipun sebenarnya orang Indonesia berbahasa Inggris tidaklah buruk-buruk amat. Well, minimal jika dibandingkan dengan ketidakjelasan artikulasinyateman-teman saya dari China, Jepang atau dibandingkan dengan aksen-aksen yang tidak biasa dari teman-teman saya dari negara latin berbahasa Inggris. Setidaknya begitu kata supervisor atau profesor saya. 


Kembali ke urusan revisian tadi. Sudah tiga kali saya merevisi bab yang sedang saya kerjakan. Dan boro-boro bicara soal kesempurnaan,  sejauh ini, semuanya masih nampak mentah. Hari ini, akhirnya saya menemui Jonathan, salah seorang konsultan senior dari research support office untuk curhat tentang masalah ini. 

Setelah mendengar segala keluhan saya, Jon lalu bilang:

"kalau masih tiga kali itu biasa. Kalo udah 15 kali trus masih begini, itu baru masalah". 

Jon kemudian bercerita tentang seorang penulis best seller yang ia temui di Brisbane Writers Festival setahun yang lalu. Buku yang ia tulis adalah buku serius, tentang bagaimana otak yg rusak bisa diperbaiki. Menurut Jon, setiap chapter dari bukunya, mengalami revisi tak kurang dari 15 kali. Makanya angka 15 kali menjadi standar bagi Jon untuk sebuah tulisan yang bagus. 


"Untuk kamu ketahui, Selain menulis buku itu, beliau juga praktisi medis, konsultan, pengajar di Columbia University (yang kelas universitasnya ga main-main) dan aslinya adalah dari Kanada (yang bahasa bukan merupakan kendala baginya)" tambah Jon.

"kalau penulis sekelas dia dan tidak bermasalah dengan bahasa saja butuh 15 kali revisi agar bagus, maka 3 kali revisi yg kamu alami belum ada apa-apanya'

"kamu masih punya kesempatan 12 kali lagi untuk revisi" kata Jon sambil tersenyum lebar kepada saya. 


Well, those words were the best part of my two hours consultation today...
.


Jumat, 19 Januari 2018

Your Scholarship Does (not) Matter

Disclaimer: Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Perbedaan lokasi tentu saja bisa memberikan dampak yg berbeda pada fenomena yg sama. 


Siang tadi, saya bertemu dengan gerombolan rekan-rekan penerima beasiswa dari pemerintah negara ini di pusat kota. Dari jauh saya mendengar mereka berbicara bahasa Indonesia, namun ketika berpapasan mereka berlalu begitu saja, tanpa senyum dan sapa. Padahal senyum saya sudah tersungging. 


Ini bukan pertama kalinya saya mengalami hal seperti ini dengan sesama pelajar Indonesia disini. Meskipun tidak sedikit pelajar Indonesia yang akan membalas tersenyum saat saya berikan senyum. Somehow, saya dan beberapa teman merasa dan mengidentifikasi bahwa beberapa teman-teman penerima beasiswa tertentu kadang merasa kasta beasiswanya lebih tinggi dari penerima beasiswa lainnya. 



Padahal menurut saya, apapun beasiswa yg diterima dan darimanapun sumbernya, tujuannya akan sama saja, membawa perbaikan bagi negara sendiri. lagipula, tidak akan jadi masalah apapun merek beasiswa  sepanjang beasiswanya tidak terlambat dan tidak ada kabar. Begitupun, saya berpikir bahwa sebagai sesama penerima beasiswa, saya dan mahasiswa - mahasiswa asal Indonesia disini akan merasa sejajar saja satu sama lain, tapi ternyata, kenyataan berkata lain. Your scholarship does matter:). 


Sebagai penerima beasiswa yg baru diinisiasi beberapa tahun ini oleh kementrian tempat kampus saya bernaung, saya merasakan sekali kenapa beasiswa apa yg berada dibelakang saya menjadi sangat penting. Dan ternyata, tiap beasiswa punya kastanya sendiri yang saya susun berdasarkan popularitas, besaran allowance dan tingkat kelancaran pembayaran. Kasta ini juga sangat subjektif,karena disusun berdasarkan perasaan yang nulis juga. Berikut kasta-kasta dalam dunia perbeasiswaan mahasiswa Indonesia di Australia sini versi saya:

  1. Kasta tertinggi diduduki oleh penerima beasiswa dari pemerintah setempat. Teman-teman Indonesia yg menerima beasiswa ini biasanya datang bergerombolan dan dari awal, sudah dipenuhi fasilitas bahkan disambut dan dijamu oleh kampus. Fasilitasnya mulai dari kursus IELTS di tempat kursus yang bagus dan mahal di Jakarta atau Bali hingga sekolah TK gratis untuk yg bawa anak (aslinya mahal sekali). Saya juga paham tentang tingginyagengsinya beasiswa ini karena waktu kursus ielts,  waktunya berbarengan dengan kursusnya mereka. Teman-teman ini akan bersliweran dengan tas berlogo pemerintah negara donor sementara yg jelata seperti saya hanya memandang dengan tatapan iri karena beberapa kali melamar ga pernah lolos. Selain itu, beasiswa ini juga memberikan uang saku yang banyak. Total gajiannya sebulan bisa 1,5 kali gajian beasiswa saya. Trus, kalo ga bawa keluarga dapat fasilitas pulang sekali setahun. Ketinggian kasta beasiswa ini juga dapat dilihat dari pilihan tempat tinggal ( yang biasanya harganya diatas rata-rata pilihan tempat tinggal penerima beasiswa biasa, plus barang bermerk yg dimiliki. Gengsi penerima beasiswa ini menjadi tinggi karena (mungkin) teman-teman ini merasa sudah memenangkan persaingan yang sengit diantara para pelamar yang tiap tahunnya berjumlah ribuan. termasuk saya:)
  2. Kasta kedua adalah teman-teman penerima beasiswa yg sedang naik daun dan jor-joran diberikan pemerintah kita. Jumlah biaya hidupnya siy ga beda jauh ama beasiswa saya, tapi fasilitas dan kelancaran menang mereka. Lagipula, gengsinya juga tak kalah tinggi. Sebut saja beberapa artis muda yg juga ikut bersaing memenangkan kursi beasiswa ini. Belum lagi paketan kegiatan sebelum berangkat, persatuan alumni dkk yg menjadikan beasiswa ini WOW banget. Sebagai orang yang pernah gagal mendapatkan jatah kursi di beasiswa ini, saya paham kenapa penerima beasiswa ini juga stelannya tingi-tinggi:)
  3. Kasta ketiga adalah penerima beasiswa yang tidak umum, jarang terdengar namanya seperti beasiswa dr kementrian tertentu, atau bahkan beasiswa dari universitas di negara ini juga masuk kategori ini meskipun jumlah yang diterima kadang tak kalah besarnya dari kasta satu dan lebih besar dari kasta 2, tapi beasiswa di kasta ini biasanya ga lancar dan ga terkenal. Tapi penerima beassiwa ini adalah para pelajar-peelajar tangguh, yang bisa bertahan hidup berbulan-bulan saat beasiswa belum cair tanpa merengek-rengek. Sayangnya, kasta ini biasanya memiliki anggota yang sedikit. Saking tidak populernya beasiswa jenis ini, maka setiap kali ada yg bertanya, maka setiap kali itu pula penjelasannya akan panjang lebar. Nah, beasiswa saya adanya di kasta ini
Lalu, emang ngaruh ya beasiswa kita apa terhadap kehidupan kita disini? iya sih..terutama kehidupan sosial. Kalo kehidupan akademis mah masalah perjuangan masing-masing. 

Pengaruh yang pertama ada di seberapa sering kalian akan diajak kumpul-kumpul. Kumpul-kumpul dengan sesama orang Indonesia di negara lain akan selalu menyenangkan karena berbonus networking dan makanan. Nah, masalahnya adalah, seringkali undangannya hanyalah terbatas pada mahasiswa Indonesia penerima beasiswa A di kampus B, sehingga kasta terendah seperti saya jarang sekali bisa ikutan. Pertama jelas beasiswanya berbeda. Yang kedua, kalau mau bikin acara tandingan, kami-kami dikasta nomor 3 biasanya ga bisa karena jumlah kami yang sedikit. Di kota ini, penerima beasiswa yg sama dengan saya hanya ada 3 sementara beasiswa kasta 1 dan 2 bisa ratusan kaya wafer tango. Pernah, saya sampai merengek-rengek pada ketua perkumpulan mahasiswa Indonesia di kampus untuk ngadain gathering semua mahasiswa Indonesia di kampus kami tanpa membedakan suku, agama, ras dan beasiswa:)

Pengaruh kedua ada pada isi pembicaraan pada saat kumpul-kumpul; pada pertanyaan-pertanyaan tak berujung diseputar beasiswa, seperti :
"kok bisa beasiswanya belum cair? beda banget ya dengan beasiswa kami yang apa-apa dibayar dimuka"
sesekali gapapa..sering sering? sakitnya tuh disini.:)

Pengaruh ketiga sekaligus yang paling penting adalah pada tingkat kelancaran beasiswa. Beasiswa dari pemerintah yg jor-joran itu nyaris tidak pernah macet. Semua dibayar dimuka atau disediakan oleh beasiswanya, mulai dari tiket pesawat pas datang hingga biasa awal kedatangan. Lebih hebat lagi yang beasiswa dari pemerintah setempat, waduhhh, surga banget tuh. Baru datang aja teman-teman ini sudah bisa belanja belanji ke Direct Factory Outlet terdekat while in my beasiswa, segalanya (tiket, akomodasi, biaya awal) diusahakan sendiri dan baru terbayar tiga bulan kemudian. Boro-boro belanja barang branded, belanja di Kmart saja pake uang hutang. 

Pengaruh keempat ada di kemampuan bertahan hidup dan networking. Untuk yang ini, kasta saya jelas juaranya. Sebelum berangkat sekolah, saya sudah terhubung dengan teman-teman dari Indonesia yang sudah duluan di Brisbane, sehingga saya dapat akomodasi sementara yang murah dan bagus. Plus bisa makan nasi dan lauk pauk dari hari pertama datang.  Selain itu, karena ga punya gerombolan seperti kasta 1 dan 2, saya bisa bertahan sendirian, mengusahakan apa-apa sendiri sehingga akhirnya justru kenal lebih banyak orang dari berbagai kasta. Saya bertahan hidup dari kebaikan hati teman-teman saya yang beasiswanya alhamdulillah lancar, atau dari mereka yang juga merasakan hal yang sama dulunya. Hal seperti ini yg mungkin tidak dimiliki kebanyakan teman di kasta 1 dan 2. Setidaknya, seperti yang saya pernah dengar, ketka beasiswa mereka tertunda dalam hitungan minggu, langsung deh pada heboh. Apa jadinya kalau mereka menjadi penerima beasiswa di kementrian saya ya?


Jadi seberapa pentingnya bagi kita berangkat sekolah dengan beasiswa tertentu? tentu akan penting jika dipajang di socmed, untuk calon mertua, meyakinkan calon pasangan hidup atau HRD tempat kita akan melamar kerja nantinya sebagai penunjuk untuk pencapaian terbaik. But does your scholarship matter that most?
Nope, mau beasiswanya apa kek, mau lancar kek, mau tersendat keak, mau bergengsi kek, mau ga terkenal kek, saya mah bodo amat.

Diluar itu semua, bukan apa jenis beasiswa dan berapa besaran beasiswa yang diterima yang paling penting. Setiap orang memikul beban masing-masing ketika berangkat sekolah ke negara orang lain. Yang penting itu justru kesemmpatan untukdibayarin sekolahnya. Kesempatan sekolahnya yang mahal. Makanya banyak yg berjuang mati-matian lolos seleksi beassiwa biar bisa sekolah ditempat yang bagus. karena kalo bayar sendiri, ga sanggup. 

Dan yang lebih penting lagi itu adalah mendapatkan kesempatan untuk merasakan kemajuan di negeri orang untuk kemudian dibawa kembali untuk memajukan negeri sendiri yang lebih penting? bukankah apapun beasiswa yang diterima teman-teman kita itu bukanlah yang membedakan mereka dengan kita? bukankah itu yang sebenarnya menajdikan kita satu, karena apapun beasiswanya, sejatinya kita adalah pelajar Indonesia. isnt it?

Senin, 15 Januari 2018

Benci Tapi Rindu Negeri Sendiri di Negeri Orang :)

Tadi malam saya ikutan menyimak insta storynya @kartupos tentang bagaimana orang asing yang pernah tinggal di Indonesia jadi sedih banget kalo harus pindah atau balik ke negaranya. Yeah, as Indonesian, we might see our country as a never ending chaos and messy one. Butuh orang lain dulu yang melihat bagaimana "indahnya" negeri sendiri atau butuh "pergi jauh" dulu dari negara ini lalu tinggal di negara orang untuk tau apa yang dirindukan dari negara sendiri. Seperti yang saya alami. 6 Bulan di negeri yang amat maju dan terartur, saya jadi rindu ketidakteraturan negara sendiri, terutama untuk hal-hal dibawah ini :
  1. Harus saya akui bahwa kesemrawutan transporatsi publik di negara kita itu ngangeni. Setidaknya disetiap ketidakteraturan selalu ada jalan keluar yang menunggu. Plus, transportasi publik di Inodnesia umumnya tidak berjadwal dan penuh dengan takdir dan keberuntungan. Di ST Lucia, sub urb tempat saya tinggal, bis menuju pusat kota hanya ada 1 dan datang tiap 30 menit sekali di hari biasa dan 1 jam sekali di akhir pekan. Ketinggalan satu menit? ya selamat menunggu 30 menit or 1 jam berikutnya. Kalo di Indonesia, ketinggalan bis berarti bisa diselamatkan dengan ojek pangkalan, ojek online, taksi reguler, taksi online atau bahkan ojek sepeda atau becak. minimal minta tolong tetangga atau nebenglah. Plus, tidak ada angkutan umum yg bisa kita setop kapan aja dan dimana aja, semua ada tempat dan waktunya:)
  2. Ketidakteraturan penjual makanan kaki lima yang ngangenin. Ada banyak spot-spot menarik di kota Brisbane yang sebenarnya akan tambah menarik jika saja ada banyak penjual makanan bergerobak yang diperbolehkan nongkrong disana. Setiap kali melewati daerah riverside misalnya, saya selalu membayangkan bisa makan siomay, bakso, soto atau bubur ayam sambil memandangi Brisbane River . Belum lagi kalau harus menunggu bis datang dengan waktu yang lama, minimal saya ngarep ada tukang gorengan disebelah halte. Tapi sayang, semua hanya angan☺☺
  3. Kebayang kan kalo abis jogging trus makan bubur ayam dengan river view?

    atau duduk-duduk sore sambil bercengkrama dengan yang terkasih sambil minum kelapa muda?

    Atau duduk-duduk aja sambil makan gorengan?:)

  4. Di Indonesia, siapa aja boleh jualan makanan, asal enak dan bersih pasti laku. Kalo di Australia sini, penjual makanan harus pake ijin dan mengurus ijinnya sebenarnya tidak sulit kata teman saya yang sudah pernah bekerja di restoran dan buka katering. Yang sulit itu syarat2 utk mendapatkan izin, seperti jarak antara kompor dan tempat cuci piring minimal harus sekian meter. Belum lagi kalo harus berurusan dengan alergi, jadinya penjual harus mencantumkan semua bahan baku dan kemungkinan alergi sedetil mungkin. Disini jualan makanan beresiko besar, apalagi kalo yg makan punay alegri spesific seperti kacang, bisa2 fatal akibatnya kalo termakan dan penjual yang tidak memberitahu informasi tersebut bisa kena denda yang tidak sedikit. Di Indonesia, sepanjang ga ada yg keracunan mah aman. Lalu bagaimana dengan yang jualan makanan Indonesia yang sering saya beli? itu jualannya selundupan aka diam-diam. modalnya whatssap group aja denga resiko ditanggung masing-masing. Untungnya orang Indonesia perutnya kuat-kuat semua:)
  5. Hal terakhir yang saya rindukan adalah..WARUNG. Karena segalanya serba teratur dan serba ijin disini, maka tidak ada rumah-rumah yg buka warung kecil didepannya. jadi ga ada tuh ceritanya kalo telor abis trus lari ke warung buat beli sebiji. Beli telor disini minimal 6 butir dan di supermarket,  dan untuk bisa ke supermarket harus jalan kaki yang lumayan atau naik bis. Jadi sekali belanja ya untuk seminggu. Ga ada ceritanya kalo algi mandi ternyata shampo habis trus teriak minta tolong ama kakak/adik untuk belikan shampe satu sachet di warung:) btw juga, shampo sachetan juga kayanya ga ada:)
Semoga setelah beberapa tahun disinipun rasa cinta saya pada negeri saya sendiri tidak berkurang yaa.. Bagaimanapun, setelah terbiasa dengan keteraturan untuk sekian lama, pasti akan gamang jika membayangkan suasana yang benar-benar berbeda. Kalo demikian, saya bayangin makanan Indonesia yang enak-enak dan ojek aja ah:)
 

Rabu, 10 Januari 2018

So, I'm back :)

Banyak hal yang terjadi sejak postingan terakhir saya satu setengah tahun yang lalu. Yang pertama akhirnya saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Alhamdulillah. Setelah jatuh bangun, uang, air mata dan doa, akhirnya segala hal terkait sekolah menemukan titik terangnya di bulan Agustus 2016. Tapi ternyata, jalan menuju sekolah kembali dan di luar negri pula itu ga semudah yang saya bayangkan. segala perjuangan keras saya untuk mendapatkan beasiswa ternyata belum berakhir setelah beasiswanya berhasil didapatkan. 

Yang kedua, setahun setelah saya dinyatakan sebagai penerima beasiswa MORA dari Kementrian Agama. akhirnya saya menginjakkan kaki di negeri Kangguru. Rasanya seperti mimpi, mengingat segala kendala yang saya hadapi mulai dari aplikasi beassiwa hingga aplikasi visa. Seperti yang saya bilang di paragraf sebelumnya, perjalannan ini sungguh tidak mudah. Saya resmi diterima kampus saya sekarang pada bulan Maret dan baru mendapatkan surat resmi pengurusan visa menjelang akhir Juni, sebelum libur lebaran sementara 3 minggu setelahnya saya sudah harus berada di negara tujuan. Hectic yang seru. 

Yang ketiga, saya resmi menjadi mahasiswa S3. Yang artinya, hidup saya akan diisi oleh deadline dan stress yang tak berujung sehingga dampaknya, saya semakin sering jalan-jalan dan masak-masak:). Saya masih canggung dengan perubahan dari dosen jadi mahasiswa, dari yang biasa ngasih tugas jadi dikasih tugas. Dari yang biasa ngasih nilai jelek, sekarang jadi yang dinilai. dan dapat nilai yang jelek pula:) 


jadi, dan disinilah saya sekarang.
Di benua baru
6.300 km dari rumah 
dengan cerita baru tentang hidup di lingkungan baru 
dan tantangan-tantangan baru yang harus saya hadapi.


6 bulan disini saya merasa hal-hal baru yang saya alami dan perlu saya bagi lewat tulisan. Lagipula, dunia saya sekarang isinya hanya membaca dan menulis saja, tapi semua yang dibaca dan ditulis kelas berat semua:)
Jadi, saya pikir saya perlu menulis yang agak-agak ringan sedikit buat hiburan dan menjaga agar saya tetap waras:)


So, I'm back :)  


Minggu, 15 Mei 2016

Undangan Pernikahan

Tidak banyak yang tahu bahwa setiap kali undangan pernikahan saya terima, setiap kali itu pula hati saya berdesir pedih.

Dulu, ketika undangan itu datangnya dari geng teman-teman dekat semasa SMA dan kuliah, saya heboh dan bersemangat untuk menghadirinya.

Pernah, seorang teman menikah, saya bela-belain nyari kado yang lucu dan cukup di kantong saya, membungkusnya lalu mengetikkan quote-quote pernikahan di kertas wangi sebagai penyerta. Saya siy berharap hadiah itu cukup berguna bagi mereka meskipun ala kadarnya

Melewati masa umur 25, undangan pernikahan memberikan efek ganda pada saya; semangat tapi juga mulai khawatir. Akankah saya segera mengundang orang lain juga di pesta saya? Atau akankah saya akan menjadi objek pertanyaan kapan menikah semata?

Di umur 27, saya membuat undangan pernikahan dan juga memesan kebaya pernikahan di Jogja. Undangan dan kebaya itu dipesan untuk adik saya. Dan kemudian lebih banyak pertanyaan dan pernyataan yang terdengar. Semakin lama semakin menakutkan.

Umur 30an, undangan semakin sering diterima. Kali ini bukan lagi dari kolega semata, tapi juga dari mahasiswa-mahasiswa saya. Ternyata saya semakin tua dan mereka rasanya terlalu cepat menikah. Pada saat itu, undangan sudah harus diterima dengan besar hati.

Begitupun dengan dilangkahi oleh saudara kandung, dilangkahi menikah oleh adik kelas (dan bahkan) oleh murid yang dulu saya ajar, ditinggal menikah oleh mantan atau ditinggal menikah oleh teman, semua sudah harus mulai diterima dengan besar hati

Siapa tahu setelahnya Gusti Allah menyiapkan lelaki yang besar pula hatinya untuk semua kesabaran itu

Semoga begitu...

Minggu, 24 April 2016

Long Road To be a Student; Menghadapi Komentar yang Menyebalkan ..

gambar dari ignya Agoez Rahman, suaminya Dewi Sandra
.

Berhadapan dengan urusan sekolah dan masa depan memang membutuhkan ketahanan diri yang tinggi baik secara fisik ataupun mental. Selain karena prosesnya yang panjang, potensi kegagalan yang tinggi serta proses recovery yang kadangkala cukup lama, urusan masa depan ini juga seringkali dihubungkan oleh banyak orang dengan hal-hal yang kadang kala tidak perlu dihubungkan sama sekali.

Salah satu hal yang berat dari proses ini adalah bagaimana menyikapi berbagai pendapat dan komentar yang seringkali muncul tanpa diminta. Dan sayangnya, pendapat dan komentar tersebut lebih sering melemahkan daripada menguatkan. Apalagi jika yang ingin sekolah (lagi) itu adalah seorang dosen perempuan yang masih lajang seperti saya. Pendapat yang paling sering saya dengar adalah tentang semakin sulitnya perempuan yg bersekolah tinggi untuk mendapatkan jodoh. Banyak yang menyampaikannya dengan hati-hati namun lebih banyak lagi yang menyampaikannya dengan pilihan kata yg amat menyakitkan.

Seperti pengalaman saya beberapa hari yang lalu disebuah kantor. Saat itu saya sedang mengurusi sesuatu yg membutuhkan informasi pribadi. Kemudian, kepada petugasnya saya memberitahukan bahwa saya berumur 34, masih lajang dan berpenghasilan sekian. Setelah saya menyampaikan informasi tersebut, petugasnya berkomentar :

"Para dosen ini biasanya suka sekolah tinggi-tinggi ya sampe lupa menikah, seperti mbak kan?"

Lalu saya menjawab:

"Mbak, saya ga lupa untuk menikah. Saya malah ingin sekali menikah tapi jodoh saya belum datang".

Meskipun saya berusaha menjawabnya sehalus mungkin, tetap tidak mengurangi usaha mbak petugas itu untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yg lebih terkesan seperti tuduhan yang menyudutkan saya seperti saya terlalu pemilih, terlalu sibuk berkarir dan seterusnya.Saya sebenarnya tidak kaget lagi dengan pertanyaan dan tuduhan seperti ini, sudah terlalu sering saya menghadapinya. Yang saya sering membuat saya kaget adalah pertanyaan dan tuduhan itu keluar dari mulut orang yg bahkan tidak mengenal saya sama sekali.

Bahkan kadang yang harus diyakinkan tentang perempuan lajang umur 30an dan ingin sekolah ke Luar Negri dan dia akan baik-baik saja itu adalah orang-orang terdekat. Syukurnya, saya mempunyai support system yang cukup baik. Kakak saya menjadi bamper saya jika saya mulai diusik oleh keluarga besar tentang rencana ini. Yang paling sulit itu adalah menyakinkan ibu saya bahwa rancana sekolah saya juga adalah bentuk rencana masa depan lainnya yang ingin saya wujudkan.

Saya memahami bahwa hampir semua orang tua akan mengkhawatirkan anaknya berencana pergi dan menetap di daerah baru dan sendirian. Lebih jauh lagi, saya memahami kesedihan hatinya karena melihat saudara-saudara saya yang lainnya yang lebih muda sudah mendapatkan pasangan, sementara saya belum dan beliau harus terus menerus menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya. Belum lagi pikiran banyak orang termasuk dalam hal ini orang tua saya, bahwa para lajang dengan umur 30 an seperti saya terlalu santai dan cenderung tidak memikirkan tentang pernikahan.

Sayangnya, semakin tua seseorang, semakin banyak masalah yang ia pilih untuk disimpan sendiri saja karena membaginya pada orang lain mungkin akan menambah beban pikiran mereka saja. Seperti yang saya lakukan. Saya memilih tidak menceritakan perjuangan saya berkenalan dengan banyak pria, yang kemudian tapi berujung patah hati. Yang orang-orang tahu bahwa saya dan para lajang lainnya terlalu pemilih. Saya juga tidak perlu menceritakan pada banyak orang sedihnya tidak punya teman ketika pulang ke rumah, sehingga sebagian memilih untuk berlangganan tv kabel atau membeli banyak pulsa yg bisa dihabiskan tiap malam untuk berbicara dengan banyak orang yang seringkali terlalu sibuk untuk diajak bicara, hanya agar sepinya tidak terasa. Yang mereka tahu hanyalah saya dan lajang lainnya terlalu sibuk mengejar karir atau tidak bergaul.

Sebagian orang akan bilang kalo saya harusnya bersyukur masih lajang..Ya, saya bersyukur dengan status saya sekarang. Mungkin itulah yg akan memudahkan saya untuk meraih impian yg ada di depan mata saat ini. Jika saya sudah menikah dan punya anak, mungkin saya harus melupakan sebagian impian-impian saya, Hal yang bolak balik saya ingatkan kepada diri saya sendiri. Untuk bersyukur dan menerima kondisi yang saya miliki sekarang.

Sayangnya memang ada orang-orang yang diciptakan Allah untuk menguji hati orang lain. Orang-orang yang somehow suka lupa bahwa banyak orang yang juga ingin hidupnya senormal hidup mereka; Lulus kuliah, bekerja kemudian dilamar, menikah dan kemudian punya anak lalu hidup bahagia selamanya tanpa cela tapi bukankah ada bagian-bagian yang dirahasiakanNya kepada kita agar kita mengusahakan dulu sebaik-baiknya?

Hanya karena kita sudah melewati fase itu, lalu kita jadi punya lisensi untuk menteror orang lain dengan pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab?

Mungkin kita juga seringkali lupa bahwa orang yg hari ini menikah dan punya anak juga dulu suka sebel dengan pertanyaan serupa. Jika demikian, berhentilah menjadi penanya yg menyebalkan. Kalau tidak mampu, mungkin dikurangi sedikit demi sedikit. Itu sudah akan banyak membantu..

Minggu, 17 April 2016

Long Road To be a Student; About Support System

Having up and down along these three years because of something called scholarship application makes me understand that what i need for a big plan is a great support system.

Among my collagues in office, I'm the only one now who plan to continue my study abroad rather than thinking about reaching the next step of my personal life through marriage. Due to this case, I received many question about why I choose study than having husband or many simple statements (which is not simple at all) such as :
"having a phd will create difficulties for me to get a husband"
Or
"You supposed to think about having a baby than having a phd"

Those statements and questions are one of the hardest part of this plan. More people are taking on disagree side than agree to your plan while you actually not asking for their agreement.

Not only your colleagues will against you, sometimes, you need to against your close circle such as your parents, siblings or even your bestiest. It is much more difficult to consider what your close persons think than any other opinion.

Sometimes when i take a deep breath, I also wondering, is it too hard to people to be somebody's dream supporter? Is it difficult for them to understand that each person has different vision?

That is the reason why I choose to share my dream just to several people who will listen and support me through their wishes and pray instead of ask those annoying question. Because this scholarship journey is a very long and winding road, full of emotional things and demands a lot of energy. Having good and supported people around you when you have a tiring journey will mean a lot.

And if you cant have one, then be one..


Sabtu, 16 April 2016

Patiently Hoping for a Degree..Long road to be a student

Even before it is started, continuing my degree requires a very long and demanding road. That's why some people say that accronym of PhD stands for Patiently Hoping (for a) Degree than Philosophy Doctor.

Since three years ago, I decided to allocate time for gaining informations and preparing myself for making many abroad scholarship applications. Just like job application, scholarship applications will also give you some emotional pressures because some of them will be rejcted while some others will be gone with the wind.

My first application was sent to Australian Government Scholarship; AAS. It was succesfully rejected. I felt a little bit dissapointed but after re read it today, I know that my application was so far for excellent while there were thousand applications for only about hundred nominees.

On the next year, I tried to prepared the better ones. Unfortunately, my Toefl score below the line. I can only sent 2 applications; first to NZ aid scholarship and the second to ministry of religion. These scholarships much more affordable for my toefl score but still, mine were failed too.

I kept asking what was wrong about my application since both of them already fulfilled the requirements. Before sending my NZ application, i send my personal statements, my research proposal to some expert colleagues who already been experienced with study abroad and got some feedback. Then i was quite confidence and raised up my hope about that. Maybe they seeked for the excellent one rather than just a good one or maybe my time is not yet coming.

Failed will always be hurt no matter how hard you try to cheer up yourself. After two years and three application failing, I was thinking to give up. I'm thinking of continuing my study in some national leading universities. But one day, a forty something friend told me that I'm just too early too give up. Because even a forty something years old lecturer like her is fighting for a scholarship which most of them requires maximum age about 40years old.

Then, here I am now, preparing another applications after another rejections on the last two months..

I'm sure after doing more hardwork and pray, nothing is in vain






Jumat, 29 Januari 2016

Tentang Bunuh Diri (Dear Alex)

Dear Alex, 

Gue habis baca postingan blog lu tentang depresi dan bunuh diri. Well, sedih dan senang memang seringkali tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam episode 26 hari di Eropa yang seharusnya menyenangkanpun, ada terselip bahasan yang menyedihkan. Tapi gw seneng Lex dengan tulisan lu dan gw yakin ada banyak sekali yg membacanya sambil menahan tangis atau mungkin menangis sesegukan.

Gue sendiri alhamdulillah belum pernah punya keinginan buat bunuh diri Lex, bukan karena hidup gue sempurna Lex, tapi karena gw banyak takutnya:). Mo loncat dari jembatan, gw ga bisa berenang, trus takut ada buaya yang gigit. Gw juga takut kalo gw menyayat tangan gw, pembuluh venna gw kecil dan susah dicarinya. Jangankan buat bunuh diri, buat ngambil darah aja susahnya setengah mati. Yang jelas Lex, gw belom siap buat mati Lex, masih banyak dosa.

Hidup gw jauh dari sempurna Lex. Badan gw gede. Dari kecil sampai sekarang umur gw 33 tahun, gw masih berhadapan dengan ejekan dan cemoohan terkait ukuran. Semakin kesini ejekannya makin beragam dan makin banyak sangkut pautnya. Salah satunya dengan jodoh. Umur 33 masih lajang, salah satu alasannya menurut orang-orang bahkan ibu gue sendiri ya karena badan gw besar,  jadinya ga ada yg mau. 

Tapi mungkin bully terus menerus bahkan dari orang terdekat gue membuat gue pengen mati-matian nunjukin kalo gue patut diperhitungkan. Lucunya, itu juga yg membentuk gw menjadi orang yang selow, karena biasa dianggap ga mungkin mendapatkan sesuatu; jodoh atau kerjaan karena fisik yg ga oke. Mungkin akhirnya gue jadi orang yang kelewat kuat Lex yang boro-boro mikir bunuh diri, yang terjadi malah sibuk mencegah teman-teman dekat gue untuk bunuh diri. 

Gue ga pengen bunuh diri Lex,  masih banyak yang ingin gue alami dan gue raih. Tapi kadang terlintas juga dalam pikiran gue, ada ga ya yang bakal kehilangan gue kalo gw mati?, persis seperti pertanyaan elu. Karena jujur, gw takut kalo ga ada yg mengingat gue. Karena sebenarnya gue takut ga ada teman. Gue takut kesepian Lex. Makanya setiap hari gw daftar telpon hemat supaya gw punya teman ngobrol, supaya gue waras. Meskipun yaaa, lebih banyak telepon gue yang tidak diangkat daripada diangkat. Mungkin teman-teman gue sibuk Lex :(.

Lagipula Lex, di kampus gue ketemu banyak sekali mahasiswa yang butuh ditolong dan didengarkan untuk masalah hidup yang tidak mudah bagi mereka yang baru beranjak dewasa dan belum punya pengalaman. Jika gue bunuh diri Lex, gw akan malu sama mahasiswa gue plus, yang akan mendengarkan cerita mereka akan berkurang satu. 

Maka Lex, gue juga berpikir, kalo masih punya teman bicara ketika pulang dari kampus, meski cuma lewat sms, bbm atau wa, masih ada yg curhat ama gue di kampus, atau masih ada yg mau angkat telp gue,  itu artinya gue ga kesepian. Dan bagi gue, itu artinya gue masih berguna. Bukankah hakikatnya manusia seharusnya berguna bagi orang lain?

Makasih ya Lex sudah berbagi cerita 
semoga semakin banyak yang terbantu setelah baca tulisan lu.


postingan ini terinspirasi dari tulisannya Alexander Thian dihttp://amrazing.com/depression-suicidal-thoughts/

Selasa, 24 November 2015

Sesudah Kesulitan

Sore ini hujan. Ketika ibu kos saya wafat beberapa tahun yang lalu, teman-teman kos yg nasrani menyanyikan lagu seperti pelangi sehabis hujan. Kurang lebih maknanya setelah dukacita, Tuhan akan hadirkan sukacita. Meski bukan nasrani, saya juga percaya itu. Dalam Quran surat Al Insyirah, Allah mengatakan : "..sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.."

Dua bulan yg lalu, saya nyaris jadi korban penipuan di sebuah situs online dating. Saya memutuskan untuk mendaftar di situs itu setelah mulai merasa tidak aman dengan kelajangan saya.

Sebelumnya, saya baik-baik saja dengan status lajang, hingga saya mendapat gangguan dari orang-orang yang tidak saya harapkan.

Saya berkenalan dengan seorang pria di situs itu dan segalanya berjalan sangat normal. terlalu normal untuk dicurigai.

Ketika tau saya menjadi target penipuan, saya patah hati juga, cukup dalam ternyata meski kemudian ia juga sembuh dengan cepat. Pria itu menyenangkan dan terlalu menyenangkan meski untuk berbicara dan berkirim pesan padanya saya merasa seperti sedang tes bahasa inggris:)

Itu patah hati kelima saya di tahun ini. Sebelumnya saya putus dengan pasangan saya di awal tahun, gagal berangkat kursus ke eropa, dua kali aplikasi beasiswa saya gagal dan kemudian patah hati dengan pria yg bahkan belum pernah saya temui

minggu lalu saya kemudian mendapat kabar kalo skor test bahasa inggris saya akhirnya mencukupi utk bs melamar untuk beberapa beasiswa

Dan teman tempat menangis saya bilang, 
"aku pikir, pasti ada kontribusi pria itu pada kemampuan bahasa inggrismu"

dan saya kemudian juga berpikir begitu..

Ah, janjiNya memang tak pernah salah

Senin, 09 November 2015

Tentang Rejeki..

Kalau dipikir-pikir, rejeki Allah itu memang ga bertepi

barusan dapat telpon dari adik sepupu yg mengabarkan kalo dia diterima di PLN setelah dua tahun menganggur. 

Kakaknya dosen honorer di STAIN di kota mereka dan sedang menempuh S2 agar bs diangkat jd dosen tetap. Adiknya yg no 4 lulus tahun ini di brawijaya dan adiknya no 3 baru lulus kuliah. dan adiknya yg bungsu baru sma 

Bapaknya mereka bekerja sebagai penyuluh pertanian yang akan segera pensiun dengan pangkat tertinggi 3a

dan tepat di masa-masa kebutuhan keuangan keluarga mereka sedang memuncak dan pada saat itulah rejeki sepupu saya datang. Bukan pada saat yg diinginkan mereka tapi pada saat yang dibutuhkan. 

Diujung telpon sepupu saya itu bilang : 

"Kalau temannya bapak bertanya anaknya sudah kerja atau belum, beliau sekarang sudah bisa menjawabnya dengan bahagia."

Alhamdulillah
Tidak ada yg sia-sia dari usaha dan doa
Allah tidak pernah tidur

Jumat, 30 Oktober 2015

Doa Ibu

Habis telponan sejam lebih ke kampung dan berbicara panjang dengan ibu saya. Baru kali ini saya bisa bicara sambil ngakak-ngakak segitu lama dengan beliau.

Ibu saya biasanya menghabiskan waktu ditelpon dengan ceramah, nasehat dan lebih seringnya komplain ini itu kepada anaknya. 

Malam ini sebelum telepon ditutup, saya meminta beliau untuk mendoakan agar rencana sekolah saya secepatnya terealisasi dan urusan terkait itu dilancarkan. 

Setelah telepon ditutup, saya tak berhenti tersenyum. Lama kemudian saya teringat bahwa sebandel-bandelnya saya dan segitu seringnya saya dan ibu saya berantem karena berbeda pendapat, ekspektasi dan keinginan, jika ada hal-hal besar yg akan saya lalui, beliau tetap jadi orang no satu yg saya mintain doanya

karena saya tahu, 
Siapa saya hari ini, karena doa beliau agar saya kuliah di jurusan akuntansi di kota saya

Dan saya juga tahu bahwa kesempatan, pertolongan dan kemudahan yg sering saya terima kebanyakan asalnya dari doa beliau

Sudah berbicara dengan ibumu hari ini?


Senin, 26 Oktober 2015

Or maybe its just my own expectation...


Setelah tamat kuliah, bekerja dan kemudian menikah, how do we expect our relationship with some old friends? How do we want them to be? Do we want them to stay same as we know them on high school or college? 

Seorang teman kuliah yang minggu ini berada di Jakarta bercerita bahwa dia baru saja bertemu teman-teman kuliah kami dulu disana. Teman saya itu pergi ke Jakarta karena urusan pekerjaan dan beberapa teman di Jakarta sibuk mengajak berjumpa. Sayapun ditelepon oleh mereka ditengah kemacetan.  

I wish I were there at that time since I miss being around them

Sampai kemudian sorenya saya mendapatkan pesan di bbm bertubi-tubi dari si teman itu, bercerita tentang pertemuan mereka hari itu. Tentang teman kami yang sekarang jadi orang yang berbeda sejak tinggal di Jakarta, terutama gaya hidupnya. Tiba-tiba kehidupan kami-kami di daerah terasa sangat kuno dan biasa sehingga ia merasa out of our old friend’s league. Hmm.. saya sendiri jadi berpikir ulang untuk bertemu mereka saat ke Jakarta bulan depan. 

lalu saya jadi teringat postingannya kang adhitya mulya yang syarat hidup dan yang hedonic treadmill dan kemudian membuat saya berpikir, apa memang perubahan kemampuan finansial serta pencapaian hidup akan otomatis merubah hidup, atau  kita merubah diri kita karena kemampuan finansial  kita meningkat dan pencapaian hidup kita banyak?

Dan kemudian pertanyaan ini berujung pada pertanyaan pada diri sendiri: 

"Apakah teman saya ini masih orang yang sama dengan yang dulu biasa saya ajak naik bis untuk makan bakso di warung pinggir jalan di kota kami?"
“Ataukah ia mungkin orang yang sama dengan kelas yang berbeda?”

Saya sungguh tidak masalah dengan teman-teman saya yang suka membeli barang mahal. Saya tahu bahwa mereka mampu untuk itu dan lagipula itu uang mereka sendiri. Tapi,  saya juga paham dengan apa yang dirasakan teman saya tadi, bahwa pembicaraan reuni yang isinya tentang kemampuan; baik itu membeli barang, mencapai yang terbaik dalam pekerjaan, fasilitas terbaik yang sudah pernah kita coba are no longer fun anymore, terutama jika orang yang kita temui adalah teman lama yang kita kenal dulunya biasa saja dan karena itulah kita berteman dengannya, karena ia biasa saja. 

Or maybe its just my own expectation having the same old friends...
Karena sebenarnya yang kita rindukan dari teman-teman lama itu adalah obrolan yang membebaskan kita dari tuntutan yang kita terima di masa sekarang dan bisa dengan senang hati menertawakan keluguan, kebodohan kita di masa silam. 

Mungkin sebagian orang perlu membuktikan kepada banyak orang siapa dirinya sekarang, but to your old best friends, you don't need to do that.You can feel insecure to other people's achievement but trust me, when you around your best old friends, you will not need to feel that. Your old friends weren’t deal with who you are today, they already engaged with you long time ago, before you became very important person in your office, before your wore your expensive clothes. So, it supposed to be okay for them if your life not run well, also its not that important to them how much money you earned from your successful business. To them, as long as you are happy, they will be happy too. 

Because for these people, all you need to be is just be the old same you because some people just love their friends as they ever known them..








Minggu, 25 Oktober 2015

Cengeng

Tadi siang, saya berbalas-balasan pesan melalui aplikasi whatsap dengan seseorang yg sudah saya anggap seperti abang saya sendiri. Disitu saya menulis tentang keinginan saya untuk menikah dan meminta dia untuk mencarikan, jika ada pria dari kalangan pergaulannya yang ia kira mungkin akan cocok dengan saya. Saya kemudian bercerita tentang hal-hal yang membuat saya belakangan ini merasa tidak nyaman dengan status lajang saya. Salah satunya adalah gangguan dari pria-pria yang tidak lajang disekitar saya.

Kemudian ia menulis :

"Semoga niat baikmu berkeluarga segera diijabah ya. Aku doakan"

Dan saya membalasnya dengan ucapan terima kasih dengan airmata bercucuran. Untung saja ia tidak tahu. Isi pesan yang tidak seberapa panjang itu menguatkan saya dan memberikan dukungan yang saya perlukan meskipun mungkin abang itu belum tentu bisa mencarikan yang tepat untuk saya.

Dua minggu yang lalu, dengan hanya satu kalimat ditelepon yang saya sampaikan ke Ibu saya bahwa seseorang tidak jadi datang, pembicaraan berikutnya beralih menjadi tangis sesegukan, baik itu saya ataupun ibu saya dan semakin deras airmata saya mengalir ketika telpon berpindah dan ada suara bapak saya berbicara diujung sana 

"Bapak percaya kalau kamu bisa mengandalkan dirimu sendiri dan ini tidak seberapa untuk kamu lewati"


Ternyata belakangan ini saya memang lebih cengeng dari biasanya 
Mungkin karena faktor usia:)

Jumat, 16 Oktober 2015

Asisten Rumah Tangga

Sudah hampir tiga minggu saya hidup tanpa asisten rumah tangga.  Sudah tiga minggu itu pula saya tidak menerima pesanan cake pisang, brownies dan tidak berminat lagi membuat tuna rica-rica in jar. Selama itu, rumah kontrakan saya yang sepetak tidak selalu mengkilatt. Kadang ia rapi tapi lebih sering berantakan. 

Asisten saya, Sila, mengalami penyumbatan di ginjalnya sehingga harus di operasi. operasi tersebut mengharuskannya untuk istirahat total. Lucunya, dua minggu sebelum ia diketahui harus menjalani operasi, saya baru saja berbicara dengannya tentang rencana saya untuk mengurusi sekolah yang artinya akan mengurangi fokus saya pada bisnis kecil-kecilan saya. Setelah terdiam beberapa saat, sila memberitahu saya bahwa ia juga ingin mengurangi jam bekerja karena ingin menambah anak.

Hari pertama Sila selesai di operasi, saya datang menjenguknya dan berbicara tentang izin istirahat sampai ia sanggup bekerja kembali. Tapi kemudian ia memberitahu saya bahwa ia mungkin tidak akan kembali bekerja dengan saya. Saya hanya mengangguk-angguk saja.

Hari-hari berikutnya saya kemudian menyadari bahwa Sila dan anaknya Icha, yang selalu ikut saat dia bekerja sudah menjadi keluarga baru bagi saya. Rasanya ada sesuatu yang kosong di hati setiap jam 9 pagi menjelang dia motor merahnya tidak kunjung datang. Saya tiba-tiba merasa sendiri (lagi)

 Tiba-tiba saya merasa patah hati. Mungkin lebih tepatnya kehilangan. Bukan hanya kehilangan teman dan saudara tapi juga kehilangan perhatian, ada yang mempedulikan dan ada yang mengurusi. Tiba-tiba semuanya bukan lagi sekedar masalah apakah kamar saya rapi atau tidak, piring saya sudah dicuci atau belum, rumah saya beraroma kue atau tidak sekarang.

Akhirnya saya jadi tahu mengapa teman-teman saya yang ibu-ibu ribut sekali kalau ART mereka berhenti. Selain jadi semakin repot, saya yakin mereka pasti juga merasa kehilangan seperti saya. 

Tapi berhentinya Sila terus terang juga mengubah hari-hari saya

Sekarang saya jarang  tidur lagi setelah sholat subuh dan memilih untuk beres-beres rumah, menyapu atau mencuci piring. Karena terbiasa pulang ke rumah yang sudah rapi dan tertata, maka mau tidak mau sekarang standar kerapian saya ikut meningkat. saya semakin bisa menghargai hal-hal kecil yang biasa dilakukan Silla untuk saya karena sekarang saya harus melakukannya sendirian.

Pengeluaran bulanan saya berkurang tapi pengeluaran untuk laundry bertambah :)

Dan harusnya, 
Saya sudah bisa mulai untuk menata urusan dan prioritas pribadi saya 
 

Senin, 12 Oktober 2015

Just A Sentimental Lecturer

Akhir minggu ini saya merasa seperti dibawa kembali ke masa-masa awal karier saya sebagai dosen. Pertama karena salah satu mahasiswa saya menikah dan saya ikut jadi panitianya. Mahasiswa saya yang ini berada di angkatan pertama mahasiswa yang saya ajar. Jarak umur saya dengan mereka hanya 8 tahun saja, hamoir seumuran dengan Laras, Bembi, Ajeng, Kristin atau Afifah adik kos saya dulu. Di pestanya, saya kembali bertemu dengan teman-teman dekatnya yang juga amat dekat dengan saya. Rasanya seperti ruang kelas dipindahkan ke gedung tempat pesta berlangsung

Lalu keesokan harinya saya bertemu dengan para mantan mahasiswa saya diangkatan ketiga yang saya ajar di kampus yang sekarang di acara ospek jurusan. Mereka datang mewakili alumni untuk berbagi dengan adik-adik kelas tentang kuliah dan prospek kerjanya.

Hampir semua mahasiswa saya tersebut sudah mengalami transformasi kedewasaan. Yang pria terlihat makin mapan dengan jenggot dan kumis tipis. Kesejahteraan juga tak bisa dibohongi dari pipi dan perut mereka:). Sementara yang perempuan makin anggun, matang dan cantik, meski ada yang masih saja tidak bisa menghilangkan sisi-sisi ketomboian mereka. 

Mereka bertemu saya dengan berbagai cerita baru. Ada yang baru masuk kerja, ada yang sudah akan pindah kerja. Ada yang sedang pedekate, ada yang melamar dan ada yang baru saja putus cinta. Ada yang masih bertahan dengan orang lama setelah berkali-kali putus sambung, ada yang move on dari cerita lama dan ada yang masih sibuk mencari kemana harus menambatkan hati

Tapi tetap ada satu hal yang tidak berubah
Bagi mereka, saya masih tetap Ibu dosennya mereka
Yang mereka kenalkan kemana-mana sebagai dosen mereka 
meski ruang kelas sudah lama kami tinggalkan
dan sebagian selalu mengulang kalau mereka rindu berada di kelas saya
Yang tetap saja dipanggilnya Ibu bukan kakak, mba atau uni
Yang tetap saja dicium tangannya meski seragam kami sama
Dan belakangan makin santer godain saya dengan nanyain kapan saya menikah

Rasanya, 
Melihat mereka terbang tinggi dan hidup saat ini dengan cerita yang lebih baik dari sebelumnya 
dan bahkan dengan cerita yang jauh lebih baik dari cerita ibu dosennya 
saya hanya bisa menggumam dalam haru
Saya beruntung bisa jadi bagian dari itu

Dan pekerjaan ini
bernilai lebih banyak daripada gajinya sendiri
karena hal-hal yang tidak bisa diukur dengan uang

Dear Students, 
Its not you who lucky being my students
Its actually me, the luckiest woman whose opportunity being your teacher

*menghapus air mata*
I'm just a sentimental lecturer

Jumat, 09 Oktober 2015

Wedding Invitation and The Single Lady

This week, I got two wedding invitation and both of them came from my closest circle. One is my friend's sister and the other one came from my late student. This weekend became a very full wedding event every where, maybe because of the special dates 10-10-15 or because Iedul Adha has just passed already and months after that became good time for wedding celebration.

Having my organizing my two sister's wedding several years ago, I know that Its always nice to wonder how busy and stressful the preparation is. You have to organize family meeting, choose the catering, find the wedding tenant, create the invitation, and many big and small stuffs. And I really enjoyed it

but It was several years ago
 
Lately, I can't easily enjoy the before, on going and after wedding event held around me. 
Thus, I also can't enjoy being in wedding party for couple hours except on my very close person wedding.

Having someone invites me to his/her special occasion its actually makes me feel happy. Because I do happy when someone finally found his or her destiny and I wish i will have that privilege soon, especially when it is happened to people that I know well. I do sometimes envy, but still, my happines is much bigger than my envy. I almost have no reason not to happy when everyone's happy

If it is so, then why the wedding party became not necessarily my happy thing ?

Its because I just can't answer any question related to when will i get married nicely anymore. And its simply because I really don't know when the time for me happened exactly. I really don't and I cant stop people to ask me.

I already try to answer with :

" smiley face"
"I dont know, do you have any candidates for me?"
"My future husband is just lost in somewhere else, maybe he need time to find a way home"

and it comes with another non-stop statements and questions like :

"I'm not capable to find you a candidate, your education is just too high for a man"
"I'm not capable, why don't you ask your parents?"
 "Its hard to find someone fix to you, your appearance is not good looking"

*sigh*

then lately, I answered with :

"I don't know, may you just ask Allah?"
or asked them to send me a pray so that I can see my lifetime partner soon instead of keep asking and commenting my single life

Is it too much to ask?
 

 

Rabu, 07 Oktober 2015

Being Thirty Something

When I was on my 20, I will worry about will I get a good job or will someone asks me to go out with him only. But still, I didn't have to worry that much because I have a lot of not-official-someone to go out with. Also, I have a lot of girl friends to chit chat. even when I didn't have money because of jobless, I still can ask some to my parent. Life is easy and colorful at that time. 

I'm not saying that life in thirty something become black, grey and white and not colorful. But sometime it feels like you live to please everyone around you. You have to deal more about how to let people (and their opinion) come into your life. You have also need to think more about who you need to maintain your interaction with and whom you have to delete; permanent or temporary from your social media account, your messenger contact or even from your phone book. You have to wisely choose updates in social media timeline to be read. Your friends from many circles will or already married, so you will across the time from you were so envy seeing your best friend got married until you pass the time when you are the only one among your group who is not yet tie the knot. So, you have to understand that everything will not be the same since that day. 

And its getting harder when you are thirty-something and single. Your life will be fulfilled with not only that classic question; like when will you get married, but also some random questions which became relevant to your age; like why you still use motorbike instead of buying car, how much your salary is, what is your investments, etc and those question will be asked for you anywhere. 

Even If you met someone, you will find out that many people will happy. But you will also know that more people doubting you. Some of them will say that he is not fixed to your status; education or salary or family and some will say that he is not fix to your physical thingy; shorter, fatter or thinner. Some will say don't be too hurry after keep asking why you stay single. 

When you choose to focus on your career, education or your any other dream, some people will happily support you because they believe that career, pursuing another degree or travelling around the world should be enjoyed while you're single. But believe me, that there more people out there will tell you that your career, education or your hobbies will create further distance between you and your future husband because, according to their opinion, man will loose his confidence while facing a successful high education woman. 


Then I finally found out that being thirty something for me is more difficult than I ever thought but its give me many lessons learned. By this year, I will reach my 33. I am single, have a good and nice job, not having some certain amount of fixed and growth assets, plan to continue my degree soon. I already deal with those things; good or bad and learning, that being thirty something forced me to choose everything that fixed to me wisely. And the most important thing for me is, I stop trying to please everyone. Its better to save my energy for creating more happiness for someone that I supposed to please. She is me, My self and I


 

Rabu, 26 Agustus 2015

Terlalu Awal Untuk Menyerah,,,




Tidak ada kegagalan yang manis. Semuanya pahit, hampir tak tertelan

Dua aplikasi beasiswa dan satu aplikasi kursus singkat di luar negri saya ditolak tahun ini dan kesemua beritanya diterima pada waktu yang berdekatan. Saya patah hati. Bahkan patah hatinya lebih parah dari patah hati berpisah dari kekasih hati beberapa bulan sebelumnya. Patah hati yang sangat dalam hingga saya tidak mampu merasakan kesedihan yang juga tak kalah dalamnya ketika teman dekat saya menikah dan yang saya tahu hanyalah tanggal pernikahannya saja.

Sekolah lagi sudah menjadi target saya dalam duat tahun terakhir. Dalam dua tahun terakhir itu pulalah saya menyusun rencana dan persiapan; mulai dari menyusun proposal penelitian, membuat beberapa essay sesuai permintaan lembaga pemberi beasiswa, berkali-kali tes toefl agar angkanya merambat naik menuju 550 hingga berkali-kali mengontak para pembimbing agar dibuatkan surat rekomendasi. Beberapa diantaranya sukses dan lebih banyak yang gagal.  

Biasanya, saya akan angkat tangan dan mengibarkan bendera putih jika sudah seperti ini. Dan itulah yang terjadi selama hampir dua minggu setelah pengumuman-pengumuman itu. Tiba tiba saya kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa dan tidak tahu harus bagaimana dengan dengan rencana sekolah saya. Saya frustasi karena usaha (yang menurut saya maksimal) tidak mendapat balasan yang sesuai dengan keinginan saya. 

Dan frustasi saya mungkin saja akan terus berlanjut hingga hari ini jika saja sore itu adik saya, Yuli tidak berceletuk tentang rencana dan mimpinya untuk mengunjungi saya jika saya bersekolah di luar negri. 

Pada saat itu saya akhirnya tersadar
bahwa didalam impian saya ada impian orang lain yang ikut terbangun
dan masih terlalu awal untuk menyerah

Jadi, saya batal menyerah untuk mencoba aplikasi beasiswa lainnya tahun depan
Saya akan mulai lagi tes-tes bahasa inggris dan semoga kali ini tidak akan banyak mengulang
Saya akan memperbaiki proposal penelitian saya sehingga para calon supervisor sudi meliriknya 

Saya akan berjuang hingga batas maksimal yang saya punya
agar saya bisa berpetualan di pengalaman-pengalaman keilmuan yang amat luas 
serta menyambut keluarga saya nanti yang akan mengunjungi saya di luar negri

dan siapa tahu
menemukan pria bermata biru untuk dibawa pulang :)



Selasa, 23 Juni 2015

Teknologi dan Hal-hal Yang Berubah Disekitar Kita

Suatu kali di kelas presentasi, saya melihat foto saya ada di slide terakhir dari peresentasi grup yang maju hari ini. Foto tersebut yang pernah saya unggah di akun social media khusus foto yang saya punya . Rasanya aneh. Mungkin lebih tepatnya tidak nyaman .Hampir sepanjang 8,5 tahun masa studi saya, saya dan teman-teman nyaris tidak pernah melakukan hal-hal yang dilakukan mahasiswa generasi sekarang didepan kelas. Dosen-dosen kami dulu kebanyakan generasi lama yang memiliki banyak sekali batas dengan mahasiswanya. Beliau-beliau juga memiliki kharisma yang luar biasa, yang bahkan untuk menatap matanya saja saya dan teman-teman berani. Jadi, jangankan menampilkan foto beliau di tayangan presentasi, untuk berkonsultasi tentang bahan presentasinya saja kami tidak berani.

Lain waktu didalam rapat kantor,  saya melihat hampir tidak ada yang fokus membahas topik yang dibicarakan. Masing-masing peserta rapat lebih fokus pada layar sentuh gadget masing-masing, entah mengecek pesan atau hanya sekedar mengecek notifikasi komen-komen pada sebuah postingan. Belum lagi  bunyi dering telpon genggam yang tidak berhenti bersahutan. 

Sementara itu di media sosial pertemanan, satu postingan lucu-lucuan bisa berakhir dengan amat sangat serius. Sebuah pemikiran orang lain yang disadur bisa menjadi awal suatu debat kusir. Rasanya, selain menjadi areal untuk menjalin pertemanan, media sosial sudah berubah fungsi menjadi ruang debat terbuka dan bahkan etalase yang memungkinkan kita untuk bisa memamerkan apa saja yang kita mau; mulai dari  materi, pencapaian hingga status.

Banyak yang berubah disekitar saya setelah teknologi komunikasi dan informasi semakin berkembang. Selain hal-hal yang saya bilang diatas, hal lain yang juga sangat terasa adalah semakin menurunnya frekuensi untuk bisa bertemu dan ngobrol dengan banyak orang tanpa diganggu oleh gadget masing-masing. Rasanya banyak hal tidak penting menjadi sangat penting dan sebaliknya. Hal lain yang saya rasa berubah cukup drastis adalah hilangnya nilai-nilai yang harusnya tidak ikut hilang terbawa perkembangan teknologi.
Sedangkan di ranah teknologi lain, seperti media sosial misalnya, saya kadang masih suka merasa bingung tentang bagaimana penempatan yang sebenarnya. Bagi saya, akun -akun tersebut adalah milik pribadi meskipun sebenarnya banyak orang yang berpendapat bahwa akun media sosial merupakan wilayah publik. Masalahnya, jika dibahas tentang wilayah publik dan pribadi, maka bahasannya akan sangat panjang. Oleh karena itu, menurut saya, item-item yang berada di ranah pribadi harusnya tetap menjadi milik pribadi dan konsekuensinya, jika ingin digunakan ada etikanya Sama saja tata caranya dengan menggunakan atau meminjam barang pribadi milik orang lain. Ya minimal minta izin dulu lah. Jika tidak bisa dimintai izin, cantumkan nama pemiliknya. sederhana saja sebenarnya

Sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pintar saja, maka seharusnya kita, para penggunanya juga harus lebih pintar terutama dalam memilih mana yang seharusnya ikut berkembang seiring berkembangnya teknologi dan mana yang harus tetap dipertahankan.

Tapi lagi-lagi, mungkin ini hanya perasaan saya saja. Bagaimana menurut kalian temans?



Yang udah berkunjung ke sini ..